Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada September 5, 2006
Pernah saya ditanya orang Jepang : apa yang diucapkan orang Indonesia sebelum makan ? Maksudnya dia ingin mengetahui salam pembuka makan sebagaimana di Jepang : “itadakimasu”. Tradisi di Jepang adalah sebelum makan, mengucapkan “itadakimasu”. Kadang didahului dengan menyatukan kedua tangan dan membungkuk sedikit saat mengucapkan “itadakimasu”. Kalau diterjemahkan “selamat makan” tentunya jadi menggelikan. Catatan ini sebenarnya berawal dari diskusi hangat di milis ppi-jepang mengenai tradisi Jepang untuk mengucapkan “itadakimasu” sebelum makan. Ada seorang rekan yang berpendapat bahwa salam ini tidak tepat dilakukan/diucapkan oleh seorang muslim. Hal ini karena dia mendapat penjelasan dari teman Jepangnya, bahwa “itadakimasu” ini merupakan ungkapan terima kasih kepada dewa dalam Shinto. Apakah benar demikian ? Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas sisi akidah karena ini pasti akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan, tetapi lebih tertarik untuk mencoba memahami budaya Jepang : bagaimana asal-usul ucapan “itadakimasu” ini ?
- Dari situs wikipedia didapat penjelasan bahwa ucapan itadakimasu ini merupakan ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah bekerja keras dalam rantai proses hingga tersedianya hidangan itu. Yaitu kepada pak Tani yang telah menanam padi di sawah, kepada nelayan yang telah menangkap ikan, dan juga kepada ikan, sapi dan hewan lain yang telah “berkorban nyawa”, demi tersedianya santapan tersebut. Ini merupakan pengaruh ajaran shinto.
- Asal usul “itadakimasu” dari sisi etimologi bahasa. Kebetulan ada informasi dari Pak Indra dari situs 語源由来辞典 (kamus etimologi) http://gogen-allguide.com/i/itadakimasu.html Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia kira-kira sbb :
Itadakimasu ini adalah salam (aisatsu) yang diucapkan saat seseorang mulai makan maupun menerima barang. Etimologi/asal-usul nya adalah sbb. “itadaki” pada “itadakimasu” adalah bentuk conjunctive dari “itadaku”. Sebenarnya makna asli “itadaku” adalah menempatkan sesuatu di atas kepala, seperti halnya huruf 頂 (onyomi : “cho” kunyomi: “itadaki”) yang dipakai untuk menyatakan tempat tertinggi dari gunung atau kepala. Setelah abad pertengahan istilah “itadaku” ini mulai dipakai sebagai bentuk sopan (謙譲語/kenjogo/merendahkan diri) untuk kata “morau” (貰う/menerima). Hal ini dikarenakan saat seseorang menerima sesuatu dari orang yang hierarkhinya lebih tinggi (上位者/jouisha), barang yang diterima tersebut ditaruh di atas kepala. Kemudian, saat seseorang menerima barang dari “jouisha”, maupun saat makan makanan yang disajikan kepada sang Budha atau dewa agama Shinto, membuat gerakan seolah menaruh barang tsb. diatas kepala dan baru mulai makan, maka lahirlah kebiasaan memakai istilah “itadaku” sebagai bentuk sopan (kenjogo) dari “taberu” (食べる) dan “nomu” (飲む). Karena itu, tradisi Jepang saat mulai makan adalah dengan mengucapkan “itadakimasu”.
Di Indonesia, tiap orang memiliki cara sendiri-sendiri dalam mengucapkan salam sebelum makan. Muslim misalnya mengucapkan basmalah. Penganut agama Kristen mengucapkan doa sesuai dengan agama-nya. Demikian juga Hindu dan Buda. Jadi kesimpulan saya tidak ada terjemahan bahasa Indonesia yang tepat untuk “itadakimasu”.
Komentar:
Sepertinya gesture ini kita lihat terjadi juga saat seseorang bertukar kartu nama, atau menerima satu omiyage/gift. Biasanya saat terima barang/kartu itu mereka menerima dengan kedua tangan, dan diangkat sedikit sebagai bentuk penghormatan kepada yang memberi barang/kartu nama.
Ditulis dalam japanology | 5 Komentar »
Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada September 5, 2006
Jepang memakai huruf Kanji yang terdiri dari ribuan huruf, dan juga katakana, hiragana dan romawi sekaligus. Sedangkan di Indonesia memakai huruf romawi yang terdiri dari 26 huruf. Hal ini menyebabkan orang Indonesia mengalami kesulitan untuk mempelajari bahasa Jepang, karena kemampuan membaca kanji merupakan syarat mutlak yang pertama harus dipenuhi. Kamus Jepang-Indonesia tidak akan bermanfaat bagi orang Indonesia, karena terbentur pada masalah awal : tidak dapat membaca huruf kanji. Saat belajar bahasa Jepang dulu ada seorang teman mengajukan pertanyaan : mungkinkah kami menulis laporan memakai hiragana dan katakana saja ? Bagi orang Indonesia hal ini dianggap wajar dan lebih praktis. Tetapi ternyata tidak, kata sensei. Beliau menceritakan kalau pernah seseorang menulis paper memakai hiragana semua, tapi akhirnya tidak dapat dibaca oleh Jepang. Awalnya saya tidak faham dengan penjelasan sensei. Tapi baru kemudian saya tahu kalau itu terjadi karena perbedaan budaya huruf antara Jepang dan Indonesia. Huruf Romawi yang dipakai di Indonesia : satu huruf mewakili satu phoneme, dan tidak memiliki arti khusus. Lain halnya dengan huruf Kanji. Satu huruf mewakili satu makna. Apabila kita membaca tulisan Jepang dalam huruf Kanji, kita akan segera menangkap makna yang ingin disampaikan. Tetapi jika itu ditulis dengan hiragana, makna yang disampaikan kadang kabur kalau tidak membaca konteks kalimat tersebut. Misalnya saja “atsui” kalau ditulis hiragana hanya 3 huruf : あつい (a-tsu-i). Tetapi sebenarnya ada 3 jenis makna yang bisa difahami dari kata “atsui” tersebut :
1) atsui (暑い) berarti cuaca panas, lawan katanya : 寒い (“samui”)
2) atsui (熱い) berarti benda panas, lawan katanya :冷たい (“tsumetai”)
3) atsui (厚い) berarti tebal, lawan katanya : 薄い (“usui”)
Dalam percakapan kita akan dapat membedakan mana yang berarti panas dan tebal dari konteks maupun intonasinya. Atsui yang berarti “panas”, dibagian akhir “i” intonasinya akan menurun terhadap “tsu”, sedangkan yang berarti”tebal” intonasinya mendatar: “i” sama tinggi dengan “tsu”. Hal ini tidak mungkin diketahui kalau hanya ditulis dengan hiragana. Tetapi jika ditulis dalam huruf kanji, tidak akan terjadi kesalahan, karena ketiga makna tsb. dilambangkan dengan tiga huruf yang berbeda-beda. Karena satu huruf Kanji itu melambangkan makna, sedangkan satu huruf Romawi itu melambangkan fonem, biasanya buku berbahasa Jepang lebih tipis daripada buku berbahasa Inggris, karena satu huruf kanji kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akan menjadi beberapa huruf (lebih dari satu). Hal lain yang mendapat pengaruh dari perbedaan karakteristik ini adalah pada riset “text segmentation”. Segmentasi text berbasis huruf Kanji pada scene image memiliki dimensi kesulitan yang lebih rumit daripada yang berbasis huruf romawi [1].
Ada hal menarik yang terjadi dari perbedaan budaya huruf ini. Koran berbahasa Jepang, buku sastra Jepang letak sampul depannya berkebalikan dengan buku bahasa Inggris/Indonesia, jadi sepintas mirip Al Quran. Jadi kalau kita melanjutkan membaca dari halaman 1 ke 2 atau dari 2 ke 3, maka halaman akan kita buka ke kanan, sesuai arah jarum jam. Kalau huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri mendatar, maka huruf Jepang ditulis dari atas ke bawah vertikal. Dalam membaca buku sastra Jepang kita mulai dari sudut kanan atas, bergerak ke bawah, dan kalau sudah selesai kolom pertama kita akan berpindah ke lkolom berikutnya yang terletak di sebelah kirinya. Paling akhir terletak di kiri bawah. Karena itu saat naik kereta, kalau diperhatikan kadang orang melipat koran, lipatannya bukan mendatar seperti di Indonesia, melainkan lipatan vertikal, karena cara bacanya dari atas ke bawah, naik turun.
Referensi:
[1] A.S. Nugroho, S. Kuroyanagi, A. Iwata: An algorithm for locating characters in color image using stroke analysis neural network, Proc. of the 9th International Conference on Neural Information Processing (ICONIP’02), Vol.4, pp.2132-2136, November 18-22, 2002, Singapore
Ditulis dalam japanology | 3 Komentar »