Ada beberapa literatur menarik dan penting jika kita ingin belajar bahasa dan budaya Jepang
- Kamus Kanji : Andrew N. Nelson : Original Modern Readers Japanese English Character Dictionary: Classic Edition, Tuttle Pub, 2004
- Kamus bahasa Jepang-Indonesia : Matsunaga : Gendai Nihong go – Indonesia go Jiten, Daigaku shorin, 1984 (ISBN: 4475000300)
- Kamus bahasa Indonesia-Jepang : Matsunaga : Gendai Indonesia go Jiten, Daigaku shorin, 1994 (ISBN: 4475000289)
- Osamu Ikeno, Roger J. Davies, The Japanese Mind: Understanding Contemporary Culture, Tuttle Publishing, 2002 (0804832951)
Komentar :
Kamus-kamus di atas (2 & 3) dulu direkomendasikan sensei saya, saat masih belajar di Japan Foundation Jakarta (1989-1990). Kamus yang saat itu dijual di Indonesia & populer dipakai adalah tulisan Goro Taniguchi. Menurut sensei, kamus Goro Taniguchi ini kurang baik. Banyak hal-hal yang kurang tepat terjemahannya. Saat itu beliau merekomendasikan kamus no.2. Kamus no.3 baru terbit belakangan. Kamus no.3 ini saya rasa untuk konsumsi orang Jepang, atau orang yang bisa membaca kanji dengan baik, karena arti kata bahasa Indonesia itu dijelaskan memakai huruf dan bahasa Jepang. Kalau tidak bisa bahasa Jepang atau baca huruf kanji, kamus no.3 ini kurang bermanfaat. Sedangkan kamus no.2 cocok untuk foreigner. Kata-kata bahasa Jepang tertulis dalam roman alphabet (a-z), diikuti artinya dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan no.1 adalah kamus klasik Kanji, yang dulu disarankan oleh sensei agar kami bisa memilikinya. Kamus Nelson terbit tahun 1962, dan sepertinya masih yang terbaik hingga saat ini. Tiap huruf dijelaskan arti, cara baca dan contoh pemakaiannya dalam bahasa Inggris. Ada review mengenai posisi kamus ini dalam literatur linguistik bahasa Jepang yang dapat dibaca di http://www.kanjiclinic.com/langteachdict.htm Literatur no.4 ini menarik untuk memahami budaya Jepang. Selain itu masih ada beberapa literatur lain, tapi sayang tertinggal di lab. kampus.
Literatur no.4 sangat membantu ketika saya menyiapkan materi seminar di NIC kemarin. Sulit sekali mencari point-point yang bisa disampaikan. Saya usahakan agar tidak membuat penilaian, karena issue budaya bisa sensitif. Saya lebih suka mencari point-point yang kalau dibicarakan tidak akan menyinggung perasaan pendengarnya, tapi justru bisa merekatkan hati (交流). Tadinya saya pikir tugas ini mudah, tetapi ternyata sulit sekali, karena perbandingan itu harus membawa kita ke cerita yang menarik didengarkan baik orang Indonesia maupun orang Jepang, dan tidak akan membuat satu pihak tersinggung. Selain itu waktu yang dialokasikan juga singkat, maksimal 20 menit untuk speech dan 10 menit untuk tanya jawab. Pusing juga, dalam waktu 20 menit tema apa yang bisa saya ceritakan ? Kalau masalah riset, barangkali saya bisa karena sudah terbiasa dengan terminologinya. Tapi budaya ? Banyak terminologi yang tidak lazim dipakai untuk presentasi di bidang teknik. Saya harus baca banyak buku budaya dalam bahasa Jepang, agar terbiasa dengan terminologinya. Tapi apologi seperti ini sebenarnya tidak benar. Saya jadi ingat cerita pak Andi ES dulu. Beliau (atau temannya ya ?) kalau disuruh sensei presentasi sering mengeluh karena kesulitan bahasa. Kata sensei-nya : “Sebenarnya bukan bahasa yang jadi masalahmu, tapi kamu nggak punya materi untuk disampaikan. Itu masalah sebenarnya yang bikin kamu kesulitan presentasi.” Benar juga…he he he. Setelah ketemu materinya, saya buat rekaman bagian-bagian inti, dan saya dengarkan berulang-ulang di jalan agar saat mengucapkannya lancar. Kalau kalimat kunci sudah terpegang, dan sudah hafal di luar kepala, hati jadi tenang dan kita akan mudah mengembangkan diskusi dan presentasi. Saran di milis biotek cukup membantu. Katanya, “presentasi itu sebaiknya seperti rok mini : pendek sehingga orang tertarik dan tidak bosan (mengikutinya), tapi cukup panjang untuk mengcover bagian yang penting”. Ada-ada saja. Orang Indonesia sepertinya cukup trampil membuat kalimat-kalimat nakal seperti ini. Tugas kemarin ternyata memberikan hikmah, saya bisa belajar hal-hal baru tentang budaya Jepang, dan juga belajar bicara di depan publik. 勉強になりました.


