Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada September 15, 2006
Kemarin malam diajak Sindhu-kun makan malam di rumah Takagi-san di Nakagawa-ku. Sindhu cerita pengalamannya mengikuti seminar sejak Senin sampai Kamis (11-15 Sep’06). Setelah seminar dia harus membuat laporan untuk perusahaannya di Jakarta (Yamaha). Saya tanya bagaimana dia membuat catatan, apakah dengan merekam ? Ternyata tidak. Karena banyak kigyou himitsu (rahasia perusahaan), jadi seminar kemarin jelas ditulis : tidak diperkenankan membuat rekaman. Barangkali seminar-seminar yang diselenggarakan perusahaan sering ada ketentuan tsb. Agak beda dengan pengalaman saya saat mengikuti seminar-seminar di kalangan akademik. Kalau dalam seminar-seminar di dunia akademik, akhir-akhir ini saya sering lihat pemakaian tape untuk merekam suara, dan digital camera untuk membuat foto slide yang dipresentasikan. Tentunya hal ini dengan asumsi bahwa slide dan suara itu tidak dipakai untuk hal-hal yang melanggar etika dunia akademik.
Untuk merekam suara, dulu saya pernah memakai digital recorder ICD-SX20 produk Sony. Tetapi format filenya unik dan memerlukan software khusus yang hanya bisa diinstall di windows. Jadi harus dikonversikan ke MP3, agar bisa diputar di MP3 player, zaurus dan alat lain. Saat ini saya memakai ICR-S270RM, produk Sanyo. Kelebihannya adalah outputnya langsung dalam format MP3 dan bisa langsung dimasukkan ke USB port.
Ditulis dalam research, talk & seminars | Leave a Comment »
Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada September 15, 2006
Dua minggu terakhir saya mereview 2 paper. Biasanya kalau mereview paper, saya akan baca pertama-tama bagian introduction dan meneliti hal-hal sbb.
- mencari masalah apa yang akan dibahas oleh penulis (problem formulation), apakah problem itu diformulasikan dengan baik ?
- bagaimana sisi originality dari riset tersebut
Seterusnya langsung loncat ke bagian conclusion, dan mengecek apakah masalah tadi bisa terjawab dengan baik atau tidak. Ibaratnya kunci bisa masuk ke lubangnya apa nggak. Beberapa kali saya baca paper yang bagian conclusionnya terlalu banyak membahas hasil eksperimen, tanpa mengaitkannya dengan masalah yang diajukan di awal paper.
Kalau antara introduction dan conclusion sudah match, baru kemudian selanjutnya memeriksa bagian eksperimen & analisa : apakah eksperimen yang dilakukan itu memang mendukung alur cerita yang akan dibangun author dalam menjawab masalah yg dibahas di bagian awal. Terakhir, baru ditentukan apakah paper itu diterima, reject atau conditional acceptance.
Pengalaman saya, mereject paper itu sangat sulit. Sejauh ini saya hanya sekali saja pernah mereject paper. Selebihnya conditional acceptance. Untuk mereject, kita harus benar-benar memiliki dasar yang kuat untuk menolak argumen dalam paper tsb. Kalau kita sudah terlanjur mereject paper itu, dan kemudian ada klaim dari author yang ternyata mematahkan argumen kita, maka kredibilitas kita akan turun dan nilai kita di mata reviewer akan jatuh. Terutama bila hal ini karena ketidak hati-hatian kita dalam membaca paper itu, akan sangat memalukan.
Biasanya kalau paper itu tidak terlalu bagus dan banyak kelemahan, tetapi untuk merejectpun alasannya kurang kuat, maka status yang diberikan adalah conditional acceptance, tetapi dengan menulis kelemahan-kelemahan yang ada selengkap dan sedetail mungkin. Selanjutnya terserah pada editor, apakah paper itu ditolak atau conditional acceptance. Ada beberapa jurnal yang menetapkan kriteria “reject” untuk paper yang memerlukan proses revisi besar-besaran.
Ditulis dalam research | Leave a Comment »