Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Kurikulum Universitas di Jepang

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Oktober 27, 2006

— Tulisan ini salinan dari posting sebelumnya di blog lama
Pada saat mendirikan sebuah jurusan, universitas mengajukan permohonan kepada monbusho dengan melampirkan berbagai macam persyaratan, antara lain kurikulum,syllabus mata kuliah yang akan diajarkan dsb. Kurikulum tsb. dibuat oleh tim dosen yang akan mengajar di jurusan baru yang akan berdiri. Ini di tempat saya (swasta). Saya kurang tahu bagaimana kalau di perguruan tinggi negeri. Mungkin tidak jauh berbeda.

Saat ini di Jepang sedang populer “sertifikasi” (shikaku), untuk berbagai macam ketrampilan, yang menaikkan posisi tawar saat melamar pekerjaan. Salah satu faktor yang dipromosikan oleh jurusan yang baru berdiri adalah “shuutoku shikaku”. Sertifikasi apa saja yang bisa diperoleh oleh lulusan jurusan tsb. Misalnya kalau di meikodai, mahasiswa bisa memperoleh kesempatan mengambilsertifikat mengajar di SMA Teknik (kougyou koukou), engineer elektrokomunikasi dsb. Shikaku ini merupakan faktor daya pikat sebuah jurusan.

Ijin dari monbusho diperlukan oleh sebuah jurusan agar dapat menawarkan berbagai macam sertifikasi tsb. Dalam pertimbangannya monbusho akan mengevaluasi kurikulum, syllabus yang diajukan. Ijin pemberian sertifikasi diberikan jika mata kuliah yang diajarkan memang memungkinkan seseorang memiliki kemampuan dan ketrampilan yg. bersesuaian.

Karena faktor kurikulum ini mempengaruhi sertifikasi, sedangkan sertifikasi mempengaruhi daya tarik suatu jurusan, & dayatarik tsb. mempengaruhi mati hidupnya jurusan itu, maka pembuatan kurikulum ini merupakan salah satu agenda yang penting yang diperjuangkan dosen.

Saya rasa baik tidaknya pendidikan itu dapat dimonitor dari kontribusi dosen dan alumninya terhadap masyarakat umum, maupun dunia ilmiah. Tiap tahun, biasanya ada evaluasi data

  1. persentase lulusan yang diterima bekerja semakin besar persentase yang diterima bekerja, berarti kurikulum yang disiapkan di jurusan tsb. baik dan memenuhi kebutuhan perusahaan. Di homepage beberapa laboratory misalnya dicantumkan di mana alumninya memperoleh pekerjaan.
  2. rasio pendaftar terhadap kapasitas suatu jurusan semakin kecil rasio, berarti jurusan tsb. kurang diminati oleh masyarakat. Mungkin hal ini dipengaruhi dari rendahnya rasio alumni yang diterima bekerja.

Mengingat pentingnya faktor “lulusan yang diterima bekerja”, seorang dosen pembimbing turut bertanggung jawab dalam “mencarikan” pekerjaan bagi gakusei-nya. Untuk menangani itu biasanya diangkat seorang dosen yang bertugas sebagai “shuushoku-tantou” di suatu jurusan.

Kalau kontribusinya ke kalangan ilmiah, cara yang mudah, diukur dari volume publikasi dari suatu perguruan tinggi. Publikasi di sini adalah patent (untuk applied research), dan paper (untuk basic research). Dengan kata lain, berapa jumlah paper dan patent yang dihasilkan, dan berapa tingkat sitasi paper tsb. (inyou-suu) merupakan indikator kualitas research yang dilakukan.

Semakin tinggi frekuensi suatu paper being cited, berarti semakin besar impact dari paper tersebut di kalangan ilmiah. Di Jepang, hal ini dapat dilihat di NCR (National Citation Report) for Japan. Pada report ini dapat dilihat berapa tingkat volume publikasi dan inyou-suu tiap perguruan tinggi, secara rata-rata maupun per-jurusan. Detail mengenai hal ini, dapat dibaca di Masamitsu Negishi et al. Kennkyu hyouka, Maruzen publisher, 2001 (ISBN : 4621048902)

Hasil evaluasi ini merupakan feedback untuk perbaikan dan penyesuaian kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dan tantangan di masyarakat.

Source : posting di milis ppi-jt 11 Januari 2004, ngobrol dengan Pak Hario (ppi-chubu:#3421)

2 Tanggapan ke “Kurikulum Universitas di Jepang”

  1. anjar umami berkata

    thanks for your information

  2. adek berkata

    Mungkinkah kita mengadopsi kurikulum di jepang? Mungkin ada beberapa aspek yang dapat diambil, namun tetap berdasarkan karakteristik atau ciri khas pendidikan di Indonesia. Namun seperti apa sih karakter yang akan dikembangkan dalam pendidikan nasional kita? Katanya mendiknas yang baru akan mengarah ke sana. Kita tunggu kiprah Pak Nuh :)

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>