Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Arsip untuk Desember, 2006

Diproteksi: Catatan Kegiatan Mingguan 25-31 Desember 2006

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 25, 2006

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Ditulis dalam scheduler | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar

Benpi, jumlah penduduk Jepang,

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 21, 2006

Pagi ini kebetulan saya sempat melihat berita TV (NHK). Ada beberapa point yg kebetulan masih ingat :

  1. Sekitar 50 tahun lagi diperkirakan penduduk Jepang akan menjadi sekitar 90 juta. Hasil studi memperkirakan bahwa di tahun 2050, tingkat aging ratio (高齢化率) Jepang menduduki peringkat I. Saat itu diperkirakan jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas sekitar 39.6%. Kalau dibandingkan dengan prediksi yang dibuat pada tahun 2004 oleh PBB, dimana negara yg memiliki aging ratio adalah Italy (35.53%), Korea (34.54%), maka Jepang mungkin kelak akan menempati nomor wahid.
  2. Tidak ada kaitan antara colon cancer (大腸癌) dengan benpi (便秘 : susah buang air). Demikian kesimpulan yang dilaporkan oleh tim peneliti Ministry of Health, Labour and Welfare dari hasil pengamatan sekitar 60 ribu sampel. Sampel diambil dari penduduk di 6 daerah di Jepang, usia antara 40-69, dan dilakukan sejak tahun 1993. Orang yang mengalami benpi kadang bisa buang air sekali atau dua kali saja dalam seminggu. Sebaliknya mereka yang mudah buang air, frekuensinya bisa sampai 1 sampai 2 kali dalam sehari. Tetapi tidak ada perbedaan pada tingkat resiko terkena colon cancer. Temuan ini membantah kepercayaan awam selama ini bahwa benpi menyebabkan seseorang mudah terkena colon cancer.

Related Links :

  1. http://www.asahi.com/health/news/TKY200612200469.html
  2. http://www.asahi.com/health/news/TKY200612200287.html

Ditulis dalam living in Japan | 10 Komentar »

Perjalanan naik Kereta Malam di Indonesia

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 19, 2006

Kereta malam adalah pilihan favorit saya kalau melakukan perjalanan jauh, baik di Jepang maupun di Indonesia. Yang ingin saya tulis kali ini adalah kereta malam di Indonesia.

Biasanya kalau pergi ke Jakarta, saya sering naik kereta api Senja Utama. Kalau berangkat dari Stasiun Solo Balapan, sekitar pk.9 malam, biasanya sekitar pk.2 dini hari -kalau nggak salah- sampai di daerah Kroya. Saat itu kereta berhenti agak lama. Biasanya di lokasi tersebut banyak ibu-ibu yg membawa jagung rebus di bakulnya, menjajakan ke penumpang “Jagung..jagung..Mas…”.

Sering terfikir di benak saya: jam berapa mereka bangun dan merebus jagung itu ya ? Terus kalau laku dapat untung berapa, kalau nggak laku terus jagung itu dikemanakan ? Kalau dimakan sendiri alangkah sedihnya. Apa mereka nggak tidur ? Apa nggak kasihan anak-anaknya yg kalau masih kecil ditinggal mbok-nya cari nafkah di kedinginan malam ? Sepertinya mereka lebih memahami arti kata tawakkal daripada saya.

Kereta api di Indonesia sepertinya penuh kenangan ya ? Yang bikin kangen itu karena suasananya kayaknya nggak berubah sejak dulu. Nada alarm kalau kereta berangkat kayaknya nggak pernah berubah sejak saya masih kecil: “do mi re sol, sol re mi do”. Kalau udah nyampai di Jatinegara, melodi alarmnya berasal dari lagu “Di Jatinegara kita kan berpisah”.

Dulu saya kalau pulang dari Jakarta ke Solo, sering naik kereta ekonomi, dari stasiun Sabang. Saya senang naik kereta ini, karena situasinya kental Indonesiana. Di stasiun Sabang, sering terlihat pemandangan khas: orang-orang yg mengantar ayah-ibu atau kakek-neneknya pulang ke daerah. Biasanya mereka menitipkan orang tuanya itu ke penumpang yg duduk di sebelahnya. Kalau diperhatikan, sering terbersit kebahagiaan dan kebanggaan di wajah bapak-ibu yang sudah tua itu saat bercerita habis menengok anak cucu yang bekerja di Jakarta. Beliau bercerita dengan bangga tentang anak-anaknya yang sudah besar, dan bekerja di ibu kota, tentang cucu-cucunya yang lucu, yang ikut mengantar di stasiun mencium tangan kakek-neneknya yang pulang ke daerah.

Situasi di kereta ekonomi memang mirip pasar rakyat. Di sini ada tukang ngamen, tukang sulap, tukang semir sepatu, mas yg jualan kopi dalam plastik, majalah seribu tiga (tetapi isi majalahnya lain dengan sampulnya), jualan buku ramalan nasib, mujarobat, doa pelet, dan masih banyak lagi item menarik. Ada juga yang menawarkan mainan untuk anak-anak “sayang anak sayang anak…”. Jajanan khas yang ditawarkan biasanya tahu goreng dengan saus petis, buah kedondong, salak, dan berbagai macam jenis yang lain. Sebagian penumpang yang punya makanan lebih kadang ditawar-tawarkan ke teman-teman duduk, agar turut merasakan nikmatnya makan kue dalam perjalanan. Inilah keramahtamahan khas Indonesia yg rasanya nggak mungkin ditemukan di kereta kelas bisnis atau eksekutif. Itu alasan saya kenapa lebih suka pulang naik kereta ekonomi, karena saya dapat turut menghayati suasana tsb. Yang saya masih ingat di kereta ekonomi itu antara tempat duduk yang satu dengan yang di depannya sangat dekat, sehingga penumpang sering terpaksa beradu lutut. Biasanya saya mengalah, memilih tidur di bawah beralaskan koran.

Sayangnya terakhir saat saya di Indonesia, kondisi sudah banyak berubah. Banyak tukang peras berkedok pengamen membangunkan orang tidur, memaksa agar dikasih uang. Kalau dijawab nggak punya uang kecil, mereka berkilah : uang besar pun nggak apa apa. Kami ada kembaliannya. :(

Di Jepang, rutin tiap malam disiarkan 世界の車窓から “sekai no shasou kara” (dunia dari balik jendela kereta) pk.11.10-11.15 malam hari, yang mengulas perjalanan memakai kereta di tiap negara. Film singkat berdurasi lima menit ini seolah bercerita tentang dunia yang dilihatnya dari balik kereta, tentang keindahan alamnya, tentang masyarakatnya, tentang suasana stasiun yang dilewati. Ada nggak ya film mengenai romantika perjalanan memakai kereta api di Indonesia ?

next story : Perjalanan naik kereta malam di Jepang

Ditulis dalam Indonesiaku | 4 Komentar »

Menguak Misteri Otak dan Kecerdasan

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 18, 2006

Otak adalah bagian tubuh manusia yang telah lama mendapat perhatian dari para cendekiawan di masa lampau. Berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, psikologi, matematika, teknik dan lain-lain, dipakai untuk membedah dan menguak rahasia yang tersembunyi di dalam mesin molekuler berukuran 1500cm3 ini. Walau masih serba sedikit, berbagai temuan telah membantu kita untuk memahami bagaimana proses kerja otak dan kaitannya dengan aktifitas manusia.

「脳! 内なる不思議の世界へ」 (“Nou ! Uchinaru fushigi no sekai he”) dalam bahasa Indonesia berarti menelusuri misteri yang tersembunyi di dalam otak. Tema ini diangkat dalam eksibisi hasil riset terkini mengenai otak dan kecerdasan, yang diselenggarakan di empat tempat di Jepang: Tokyo, Nagasaki, Nagoya dan Osaka. Di Nagoya, acara ini diselenggarakan di Museum of Science, sejak 7 Oktober hingga 3 Desember 2006, bertepatan dengan musim gugur. Pada eksibisi ini dipertunjukkan hasil riset mengenai otak dan kecerdasan, dari pendekatan beberapa disiplin ilmu : biologi, kedokteran, teknik dan psikologi.

Saat masuk ke ruang pameran, pertama-tama yang terlihat adalah koleksi otak puluhan hewan. Koleksi ini ditata apik dalam kaca, dan luar biasa lengkap. Koleksi itu meliputi otak berbagai jenis hewan, mulai dari berbagai serangga, ikan, hiu, lumba-lumba, buaya, hingga hewan golongan tinggi monyet, harimau, unta dan berbagai jenis yang lain. Di antaranya ada yang hanya diperlihatkan otaknya saja. Selain itu ada juga hewan yang sudah dibedah dan ditampakkan sisi dalam tengkoraknya dimana otak terdapat. Tentu saja hewan ini sudah diproses, dan diawetkan, sehingga tidak kelihatan sebagai barang yang menjijikkan.

Salah satu sudut memperlihatkan koleksi sekitar seratus tengkorak monyet, yang dimiliki oleh Kyoto University. Koleksi ini merupakan hasil ketekunan mereka mengumpulkan berbagai jenis monyet, selama puluhan tahun

Setelah melihat berbagai jenis otak hewan, akhirnya tibalah pada bagian manusia. Otak yang dipertunjukkan bukan barang tiruan, melainkan dari manusia asli yang sudah mati dan diawetkan otaknya saja. Pada sudut ini setidaknya ada 3 yang menarik.

[bersambung]

Catatan :

  1. Sebenarnya tulisan ini akan lebih menarik jika dilengkapi dengan foto-foto.Tetapi terpaksa tidak dapat saya muat di sini, karena akan melanggar hak cipta.

Ditulis dalam research | 2 Komentar »

Diproteksi: Catatan Kegiatan Mingguan 18-24 Desember 2006

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 17, 2006

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Ditulis dalam scheduler | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar