Perjalanan naik Kereta Malam di Indonesia
Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 19, 2006
Kereta malam adalah pilihan favorit saya kalau melakukan perjalanan jauh, baik di Jepang maupun di Indonesia. Yang ingin saya tulis kali ini adalah kereta malam di Indonesia.
Biasanya kalau pergi ke Jakarta, saya sering naik kereta api Senja Utama. Kalau berangkat dari Stasiun Solo Balapan, sekitar pk.9 malam, biasanya sekitar pk.2 dini hari -kalau nggak salah- sampai di daerah Kroya. Saat itu kereta berhenti agak lama. Biasanya di lokasi tersebut banyak ibu-ibu yg membawa jagung rebus di bakulnya, menjajakan ke penumpang “Jagung..jagung..Mas…”.
Sering terfikir di benak saya: jam berapa mereka bangun dan merebus jagung itu ya ? Terus kalau laku dapat untung berapa, kalau nggak laku terus jagung itu dikemanakan ? Kalau dimakan sendiri alangkah sedihnya. Apa mereka nggak tidur ? Apa nggak kasihan anak-anaknya yg kalau masih kecil ditinggal mbok-nya cari nafkah di kedinginan malam ? Sepertinya mereka lebih memahami arti kata tawakkal daripada saya.
Kereta api di Indonesia sepertinya penuh kenangan ya ? Yang bikin kangen itu karena suasananya kayaknya nggak berubah sejak dulu. Nada alarm kalau kereta berangkat kayaknya nggak pernah berubah sejak saya masih kecil: “do mi re sol, sol re mi do”. Kalau udah nyampai di Jatinegara, melodi alarmnya berasal dari lagu “Di Jatinegara kita kan berpisah”.
Dulu saya kalau pulang dari Jakarta ke Solo, sering naik kereta ekonomi, dari stasiun Sabang. Saya senang naik kereta ini, karena situasinya kental Indonesiana. Di stasiun Sabang, sering terlihat pemandangan khas: orang-orang yg mengantar ayah-ibu atau kakek-neneknya pulang ke daerah. Biasanya mereka menitipkan orang tuanya itu ke penumpang yg duduk di sebelahnya. Kalau diperhatikan, sering terbersit kebahagiaan dan kebanggaan di wajah bapak-ibu yang sudah tua itu saat bercerita habis menengok anak cucu yang bekerja di Jakarta. Beliau bercerita dengan bangga tentang anak-anaknya yang sudah besar, dan bekerja di ibu kota, tentang cucu-cucunya yang lucu, yang ikut mengantar di stasiun mencium tangan kakek-neneknya yang pulang ke daerah.
Situasi di kereta ekonomi memang mirip pasar rakyat. Di sini ada tukang ngamen, tukang sulap, tukang semir sepatu, mas yg jualan kopi dalam plastik, majalah seribu tiga (tetapi isi majalahnya lain dengan sampulnya), jualan buku ramalan nasib, mujarobat, doa pelet, dan masih banyak lagi item menarik. Ada juga yang menawarkan mainan untuk anak-anak “sayang anak sayang anak…”. Jajanan khas yang ditawarkan biasanya tahu goreng dengan saus petis, buah kedondong, salak, dan berbagai macam jenis yang lain. Sebagian penumpang yang punya makanan lebih kadang ditawar-tawarkan ke teman-teman duduk, agar turut merasakan nikmatnya makan kue dalam perjalanan. Inilah keramahtamahan khas Indonesia yg rasanya nggak mungkin ditemukan di kereta kelas bisnis atau eksekutif. Itu alasan saya kenapa lebih suka pulang naik kereta ekonomi, karena saya dapat turut menghayati suasana tsb. Yang saya masih ingat di kereta ekonomi itu antara tempat duduk yang satu dengan yang di depannya sangat dekat, sehingga penumpang sering terpaksa beradu lutut. Biasanya saya mengalah, memilih tidur di bawah beralaskan koran.
Sayangnya terakhir saat saya di Indonesia, kondisi sudah banyak berubah. Banyak tukang peras berkedok pengamen membangunkan orang tidur, memaksa agar dikasih uang. Kalau dijawab nggak punya uang kecil, mereka berkilah : uang besar pun nggak apa apa. Kami ada kembaliannya.
Di Jepang, rutin tiap malam disiarkan 世界の車窓から “sekai no shasou kara” (dunia dari balik jendela kereta) pk.11.10-11.15 malam hari, yang mengulas perjalanan memakai kereta di tiap negara. Film singkat berdurasi lima menit ini seolah bercerita tentang dunia yang dilihatnya dari balik kereta, tentang keindahan alamnya, tentang masyarakatnya, tentang suasana stasiun yang dilewati. Ada nggak ya film mengenai romantika perjalanan memakai kereta api di Indonesia ?
next story : Perjalanan naik kereta malam di Jepang



murniramli berkata
Pak, kalau saya naik kereta business Jayabaya dari Jakarta ke Madiun, yang paling sering saya beli adalah nasi pecel plus debu, hehehe…
Tapi wuenaak….
Alhamdulillah belon pernah sakit perut.
Btw, mohon ijin blognya saya masukkan ke blogroll saya
Ainin Niswati berkata
Mana perjalanan naik kereta malam di Jepangnya. Kami tunggu ya tulisan lainnya.
yoto berkata
wuih pernah ke jepang ya? Kondisi di Jepang lumayan enak gak?(cuaca,dsb..) Kalau siswa Indonesia mengajukan beasiswa ke Jepang susah gak ya?
Ughi berkata
Saya sangat menyenangi kereta api sejak kecil, tapi hingga besar seperti ini keinginan saya ingin jadi anggota klub kereta api tidak tahu harus kemana. Bisa bantu ga ya masss ?