Sore ini saya membalas beberapa kartu tahun baru dari teman-teman Jepang. Semakin terasa kalau kemampuan kanji saya menurun jauh dibanding saat masih sekolah dulu. Kalau membaca sih, saya nggak masalah. Tapi begitu harus menulis, saya berulangkali harus mengetik terlebih dulu di komputer, untuk mencari kanji yang harus dipakai. Bentuk globalnya saya masih ingat, tetapi detailnya kadang suka lupa. Juga setelah saya perhatikan, kualitas tulisannya yang dulu sudah jelek, makin jelek aja. Barangkali kalau sekarang nulis surat cinta memakai bahasa Jepang, nggak akan diterima yah
Sepertinya wapro (word processor) memang membuat orang malas mengingat stroke-stroke Kanji, karena terlanjur dimanja oleh kanji-henkan (kana-kanji converter). Saat mengajar di kelas pun, saya memakai power point dan jarang menulis di papan tulis. Kebetulan mata kuliah yang saya ajarkan mengenai programming, jadi jarang ada keharusan menulis kata-kata dalam bahasa Jepang. Yo wis…wes ewes ewes, bablas kanjine
Dulu saat kecil, tulisan saya demikian jeleknya, sehingga oleh bapak, saya dihukum menulis peribahasa memakai huruf latin tebal tipis beratus-ratus kali. Terfikirnya kelak kalau Tika sudah besar dan belajar nulis, mungkin satu waktu saya harus memberi hukuman yang sama pada Tika agar tulisannya bagus. Tapi gimana mau kasih hukuman ke anak, kalau tulisan bapaknya sendiri kayak cacing stress.



