Arsip untuk Januari 15th, 2007
Diproteksi: Catatan Kegiatan Mingguan 15-21 January 2007
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 15, 2007
Ditulis dalam scheduler | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.
Tiket Pulang & Rute (updated)
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 15, 2007
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya Senin pagi (1/15) kami kirimkan fax ke MAX-A (c/o Irie-san), untuk mengubah tiket agar tidak lewat Jakarta, melainkan transit di Denpasar. Alhamdulillah, siangnya kami mendapat fax balasan, kalau rute diubah sbb.
- Kansai Airport – Denpasar Bali
- Tanggal : 30 Maret 2007
- Pesawat : GA-883
- Berangkat dari Kansai p.11.00 JST (09.00 WIB) , sampai di Denpasar Bali 16.55 WITA (15.55 WIB)
- Total lama perjalanan : 6 jam 55 menit
- Denpasar Bali-Jogjakarta
- Tanggal : 31 Maret 2007
- Pesawat : GA-253
- Berangkat dari Denpasar Bali pk. 13.00 WITA (12.00 WIB), sampai di Jogjakarta pk.13.10 WIB
- Total lama perjalanan : 1 jam 10 menit
Catatan rincian tiket
- Dewasa : tiket 37 ribu yen + fuel surcharge 8160 yen + airport tax 2650 yen = 47,810 yen (bagasi 40 kg)
- Anak: tiket 27,800 yen +fuel surcharge 8160 yen + airport tax 1330 yen = 37,290 yen (bagasi 40 kg, sama dg dewasa)
Ditulis dalam persiapan pulang | 4 Komentar »
Kimatsu Shiken (Ujian Akhir Semester)
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 15, 2007
Minggu-minggu ini adalah minggu ujian akhir di kampus (期末試験, kimatsu shiken). Hari Senin dan Jumat yad. adalah jadwal ujian akhir untuk mata kuliah saya : Struktur Data dan Algoritma I, untuk anak tingkat I (semester II). Semoga saja hasilnya nggak kayak waktu ujian mid kemarin (^^; Mata kuliah ini sebenarnya memerlukan jatah waktu 2 koma (1 koma : 90 menit, dibaca hitokoma. 2 koma dibaca futakoma), tetapi di jurusan saya, hanya dapat 1 koma. Padahal mereka baru saja belajar dasar pemrograman bahasa C selama 1 semester, dimana pointer dan structure cuma dibahas sekilas. Padahal untuk mengikuti kuliah saya, syaratnya sudah “mastering” kedua konsep itu. Jadi terpaksa saya mengulang konsep-konsep itu di awal kuliah, agar bisa memahami struktur data yang memakai structure dan pointer (connected list, tree). Sebenarnya kalau dapat jatah 2 koma, mungkin akan lebih leluasa dalam mendesain materi. Misalnya jam pertama untuk menjelaskan teori, sedangkan jam berikutnya untuk implementasi. Dengan keterbatasan yang ada, akhirnya waktu 1 koma itu saya pakai untuk menjelaskan konsep, dan tiap pertemuan saya beri PR programming & latihan yang harus disusun di akhir kuliah. Ujian mid saya adakan pada pertemuan ke-8. Salah satu soal saya buat open, maksudnya soal diberitahukan seminggu sebelumnya agar siswa bisa mencari tahu penjelasannya. Apa soalnya ?
Jelaskan bagaimana cara membuat queue memakai connected list. Apa kelebihan dan kekurangannya jika dibandingkan dengan implementasi queue memakai array ?
Hal ini tidak dijelaskan di kyoukasho (buku pegangan). Tetapi sebenarnya kalau siswa aktif mencari info di referensi pendamping, saya kira tidak akan sulit menemukan jawabnya.
Score akhir = 100 point, dimana 15 point dari score latihan dan PR, 35 point dari mid semester dan sisa 50 point dari ujian akhir. Saya sengaja tidak mengadakan ujian ulang. Karena tidak mungkin mata kuliah saya dipelajari dalam satu malam, melainkan perlu latihan bertahap dan berkesinambungan. Kegagalan saat ujian, berarti tidak memahami isi mata kuliah yang saya ajarkan. Lebih baik mengulang lagi mengikuti kuliah tsb. tahun depan.
Selain mata kuliah struktur data yang merupakan mata kuliah wajib, saya mengajar juga pengantar bioinformatika (pilihan) untuk anak tingkat III. Nilai saya tentukan berdasarkan mini-report yang dibuat tiap kali pertemuan, dan final report. Di akhir kuliah, saya minta agar siswa membuat laporan bertemakan datamining dan masa depan bioinformatika. Yang jadi point penilaian antara lain: (i) relevansi isi laporan dengan tema (ii) kemampuan menyarikan dan menyajikan informasi dari berbagai literatur (iii) ketajaman pendapat (kekritisan) siswa terhadap laporan yang dibuatnya. Mengenai point ketiga ini dikarenakan saya minta agar mereka mengemukakan pendapatnya terhadap tema yang dipilih. Point ini yang paling sulit. Tetapi hal ini perlu agar mereka terbiasa kritis terhadap satu masalah.
Ditulis dalam kuliah | Tinggalkan sebuah Komentar »
Lagu-lagu Anak Indonesia yang Edukatif : masih adakah ?
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 15, 2007
Beberapa hari belakangan ini, saya mengedit rekaman acara anak-anak NHK Okasan to issho. Saya membuat koleksi lagu-lagu anak yang disukai Tika, buat kenangan Tika nanti kalau sudah di Indonesia. Saya perhatikan, acara anak-anak di Jepang sangat bagus. Lagu-lagu yang diciptakan pun sangat kreatif dan mendidik. Banyak yang memakai giongo (擬音語, onomatopoeic word) . Misalnya suara anjing ditirukan “wan-wan-wan“, suara kucing ditirukan “nyaa-nyaa-nyaa“, suara hujan, dsb. Ini merangsang anak-anak untuk berimajinasi, seperti apa sih anjjing, seperti apa sih kucing, hujan, dsb. Kalau di Indonesia, saya jadi ingat lagu “tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting…”-nya Ibu Soed. Beliau sepertinya relatif sering memakai onomatopoeic yang sangat menarik bagi anak-anak. Lagu beliau yang lain adalah becak, burung ketilang, kupu-kupu, begitu catatan di wikipedia. Kata-kata sederhana, merangsang imajinasi yang indah dan menarik, tapi dijumpai dalam keseharian. Itu yang saya lihat adanya kesamaan tema lagu-lagu Ibu Soed dengan kebanyakan lagu anak-anak Jepang. Saya rasa lagu seperti inilah yang tepat bagi pendidikan anak. Seolah mereka berkata, “Lihatlah anakku keindahan alam di sekelilingmu, dengarlah anakku merdunya senandung alam di sekelilingmu.” Anak-anak dituntun agar memperhatikan dan awas terhadap alam di sekitarnya. Seingat saya hal-hal seperti ini sangat bagus untuk merangsang aktifitas sel saraf otak, sayang saya nggak ingat lagi dimana tertulisnya.
Setelah era keemasan lagu-lagu Chicha dan Adi Bing Slamet berakhir, rasanya saya jarang sekali mendengar lagu-lagu yang mendidik bagi anak. Suara Sherina memang sangat bagus, tetapi lagunya untuk konsumsi kelas akhir di SD (kelas 5,6) ke atas. Selain itu kata-kata yang dipakai juga terlalu berat untuk anak TK dan usia awal SD, padahal masa ini sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Kak Seto sepertinya tidak bikin lagu ya ? Beliau lebih konsentrasi pada sisi mendongeng untuk anak. Ria Enez dan Susan juga menghibur. Tetapi saya tidak temukan unsur edukatif-nya untuk anak. Hal-hal seperti ini dulu kurang begitu saya perhatikan. Tetapi setelah ada Tika, kebutuhan ini baru terasa benar. Masih adakah lagu-lagu anak Indonesia yang edukatif ?
Ditulis dalam Indonesiaku | 11 Komentar »
Mahalnya sebuah kepercayaan: belajar dari kasus Fujiya
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 15, 2007
Ibu Murni menulis dalam blog-nya di Jepang “Konsumen adalah Raja“. Memang demikian yang saya rasakan selama hidup di Jepang. Produsen berlomba-lomba memanjakan konsumen, dan menjaga kepercayaan konsumen terhadap brand-nya. Brand adalah jaminan mutu dan kepercayaan. Sekali terlibat kasus, akan berakibat serius dan berat untuk memulihkan kembali kepercayaan konsumen.
Salah satu berita besar di Jepang minggu yang lalu adalah ditemukannya pemakaian susu yang kedaluwarsa pada pembuatan krim sus di Fujiya, salah satu perusahaan kue besar di Jepang. Ribuan roti sus yang diproduksi ternyata tidak memenuhi standard kesehatan. Saat diperiksa, kadar bakteri yang terdapat di dalamnya cukup tinggi, lebih dari 10 kali batas yang diperkenankan oleh undang-undang. Kasus ini berdampak serius. Produksi Fujiya sementara dihentikan sampai ada kepastian keamanan proses produksinya. Pemeriksaan sedang dilakukan terhadap proses produksi di Fujiya. Sementara itu, seluruh franchise Fujiya (707 buah, tersebar di 38 propinsi) yang berada di Jepang juga diliburkan dan bagi karyawannya diberikan tunjangan. Di web-nya (http://www.fujiya-peko.co.jp/), Fujiya juga minta maaf kepada konsumen-nya atas kasus ini. Supermarket-supermarket di Jepang menghentikan penjualan produk Fujiya seperti candy, coklat, biskuit, walau produk ini tidak termasuk jenis yang dipermasalahkan. Di TV disiarkan wawancara dengan konsumen yang terlanjur nge-fan dengan produk Fujiya. Mereka sangat menyesalkan terjadinya hal ini, seolah merasa dikhianati. Di Jepang, hal yang paling diperhatikan oleh pelaku bisnis adalah kepercayaan konsumen. Kasus ini sangat serius, karena masyarakat Jepang sangat peka terhadap higienitas makanan yang dikonsumsinya. Sepertinya Fujiya akan melewati hari-hari berat untuk memulihkan kembali kepercayaan konsumen kepada produk-nya.
Links
Ditulis dalam living in Japan | 2 Komentar »