Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Mahalnya sebuah kepercayaan: belajar dari kasus Fujiya

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Januari 15, 2007

Ibu Murni menulis dalam blog-nya di Jepang “Konsumen adalah Raja“. Memang demikian yang saya rasakan selama hidup di Jepang. Produsen berlomba-lomba memanjakan konsumen, dan menjaga kepercayaan konsumen terhadap brand-nya. Brand adalah jaminan mutu dan kepercayaan. Sekali terlibat kasus, akan berakibat serius  dan berat untuk memulihkan kembali kepercayaan konsumen.

Salah satu berita besar di Jepang minggu yang lalu adalah ditemukannya pemakaian susu yang kedaluwarsa pada pembuatan krim sus di Fujiya, salah satu perusahaan kue besar di Jepang. Ribuan roti sus yang diproduksi ternyata tidak memenuhi standard kesehatan. Saat diperiksa, kadar bakteri yang terdapat di dalamnya cukup tinggi, lebih dari 10 kali batas yang diperkenankan oleh undang-undang. Kasus ini berdampak serius.  Produksi Fujiya sementara dihentikan sampai  ada kepastian keamanan proses produksinya.  Pemeriksaan sedang dilakukan terhadap proses produksi di Fujiya. Sementara itu, seluruh franchise Fujiya (707 buah, tersebar di 38 propinsi) yang berada di Jepang juga diliburkan dan bagi karyawannya diberikan tunjangan. Di web-nya (http://www.fujiya-peko.co.jp/), Fujiya juga minta maaf kepada konsumen-nya atas kasus ini. Supermarket-supermarket di Jepang menghentikan penjualan produk Fujiya seperti candy, coklat, biskuit, walau produk ini tidak termasuk jenis yang dipermasalahkan. Di TV disiarkan wawancara dengan konsumen yang terlanjur  nge-fan dengan produk Fujiya. Mereka sangat menyesalkan terjadinya hal ini, seolah merasa dikhianati. Di Jepang, hal yang paling diperhatikan oleh pelaku bisnis adalah kepercayaan konsumen.  Kasus ini sangat serius, karena masyarakat Jepang sangat peka terhadap higienitas makanan yang dikonsumsinya. Sepertinya Fujiya akan melewati hari-hari berat untuk memulihkan kembali kepercayaan konsumen kepada produk-nya.

Links

  1. http://www.asahi.com/english/Herald-asahi/TKY200701130156.html
  2. http://www.yomiuri.co.jp/atmoney/news/20070113i401.htm
  3. http://news.goo.ne.jp/article/yomiuri/nation/20070114i101-yol.html

2 Tanggapan ke “Mahalnya sebuah kepercayaan: belajar dari kasus Fujiya”

  1. [...] terkait: Mahalnya sebuah kepercayaan, Konsumen adalah [...]

  2. Emilia berkata

    Halo, salam kenal.

    PErihal peko chan yang menjadi icon bagi fujiya corp di jpg, apakah karakter tsb sudah di legalisasikan alias copyright nya Fujiya dari pertama kali miss peko itu lahir (1950) oleh fujiya jpg?
    Saya jadi ingat, dulu semasa saya kecil peko chan ini sempet hadir di indonesia (mungkin di sekitar thn 1989 – 1990′an) sebagai salah satu icon makanan agar2 produksi indonesia, apakah anda tahu?
    Yang bikin saya penasaran, apakah saat icon / maskot peko tsb masuk ke indonesia di masa lalu, harus membayar lisensi ke fujiya jpg?
    Lalu bagaimana dengan nasib fujiya+peko chan nya sekarang di jpg & cabang2nya di dunia, apakah sudah “mati”?

    Jika ada referensi artikel yg anda ketahui mengenai hal ini, mohon saya diberitahu.

    Terima kasih :)

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>