Malam ini saya dapat email dari Aldi, putera bang Lukman Hakim (Sekarang Waka LIPI). Dia tanya apakah saya masih ingat nggak. Waah, ingat dong. Dulu saya pernah tinggal serumah, atau lebih tepat satu pekarangan dengan keluarga bang Lukman Hakim, saat beliau menempuh studi doktoral di Todai (Tokyo University). April 1990, saat kami (sekitar 60 an karyasiswa OFP/STMDP-2) pertama kali mendarat di Tokyo dan diterima resmi di KBRI, yang mengantar kami ke rumah adalah bang Lukman juga, ditemani seorang wanita Jepang dari group Teman. Group Teman adalah kelompok volunteer orang Jepang yang membantu kehidupan pelajar Indonesia di Tokyo. Saya tidak tahu apakah group tsb. masih eksis sampai sekarang atau tidak.
Saya bersebelas orang tinggal di rumah yg disewakan orang Jepang, di bilangan Shibasaki Chofu-shi. Keluarga pak Lukman tinggal di bangunan terpisah, tetapi satu pekarangan dengan rumah yg kami tinggali. Saya satu kamar dengan Suharjo di lantai 1. Selain itu, yang tinggal di lantai tsb. adalah: Josaphat Tetuko tinggal di satu kamar, dan satu kamar lagi ditempati Fadilah Hasyim dan Rohadi Awaluddin. Di lantai atas, Agus Haryono satu kamar dengan Ismail Rahim, Tri Sonny Parentafossa satu kamar dengan Fajar Rahino, dan Edi Sulistyo satu kamar dengan Agung Imaduddin. Wah, nama-nama yg natsukashii. Apa lagi ya, yang ingat dari dulu ? Yang membedakan dengan saat sekarang adalah kalau dulu mau telpon ke Indonesia kami biasa antri di telpon umum. Hanya tempat tertentu saja yang bisa dipakai untuk international call. Karena biaya telpon sangat mahal, saya telpon ke keluarga sebulan sekali dan selebihnya lewat surat menyurat. Biasanya kami menghabiskan satu kartu telpon seharga 5 ribu yen untuk calling selama 30 menit ke Indonesia. 1 yen saat itu senilai kira-kira Rp 11,-. Kalau sekarang sudah nggak ada lagi kartu telpon seharga 5 ribu yen, karena maraknya pemalsuan kartu telpon. Hal lain yg saya masih ingat, dulu kalau mau beli kecap susahnya minta ampun. Kami harus jalan ke Shibuya, ke Seibu Depato kalau nggak salah. Kalau nggak salah Okachimachi juga ada yg jual kecap Indonesia. Akses berita juga tidak mudah sekarang. Internet belum populer sehingga kami harus pergi ke Asia Bunka Center, untuk membaca majalah Tempo. Itu saja kesan-kesan yg sementara ini masih teringat. Sebenarnya masih ada lagi, sih. Yaitu cerita-cerita seru saat kami hunting sampah yang bagus-bagus (TV, Radio, dsb). Tapi malu ah kalau diceritakan di sini. ha ha ha
Ada satu foto jadul kelas saya di Kokusai Gakuyukai Nihonggo Gakko (Thanks to Arief BW yang sangat rajin membuat dokumentasi segalanya tentang aktifitas kita). Yang lupa namanya saya tulis dengan “X”
Back : Suharjo, X, X, Hengky, Prima Oky, Heru Dwi Wahyono, Andi Utama, Yudi Candra, Fadilah Hasyim, Nurul Taufiqur Rahman
Front : Takama, Wahyo Shindu, Han-san, You-san, Sensei, Rin san (nggak yakin), Nandani, Arief B. Witarto
Jongkok depan : Anto

Wah, cerita Aldinya koq malah kelupaan. Aldi sekarang studi di Malaysia dan katanya mau main ke Jepang. Dulu waktu masih di Tokyo, Aldi masih kecil dan lincah banget (Bener nggak Aldi ? he he he…tapi itu tanda anak pintar lho). Kalau nggak salah Aldi masih usia TK. Kakaknya, si Ayu, udah lebih besar dikit. Yang saya ingat dari Aldi, waktu itu saya minum juice langsung dari botolnya, dan si Aldi protes “Koq gitu sih…nggak boleh Oom”. Wah, malu saya. Soalnya kelakuan saya nggak sesuai dg didikan keluarga bang Lukman.
Kalau lihat wajah Aldi sekarang, wah udah bikin pangling deh. Ganteng & udah cukup gede buat mikir pacar ya… he he he
Benkyo gambatte neh..Arudi-kun.