Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Maret 2007
    S S R K J S M
    « Feb   Apr »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Maret 3rd, 2007

Malam minggu, malam minggu…

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 3, 2007

Malam Mingguan bertiga di rumah, heater nggak menyala

“Malam minggu malam minggu….”, gitu Tika mulai bernyanyi sambil genjreng gitar. Hah ? Saya sama IneĀ  bengong. Kayaknya kami nggak pernah mengajarkan lagu itu kepada Tika. Jangan-jangan dia ingin menyanyikan lagu “Hari Minggu, hari Minggu, ke pasar ikan, dengan bapak dengan ibu, …”, tapi kepeleset “Malam Minggu, malam Minggu, ke pasar ikaan” :D

Ditulis dalam keluarga | Tinggalkan sebuah Komentar »

Antara Budaya Jepang dan Indonesia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 3, 2007

Di posting sebelumnya saya pernah membahas perbandingan budaya Jepang dan Indonesia. Kali ini tulisan saya membahas hal-hal yang tidak sempat dibahas dalam tulisan yang lalu. Sebenarnya hal ini berawal dari diskusi saya dengan seorang teman Jepang yang ingin belajar dan mengetahui budaya Indonesia. Point-point di bawah adalah hasil corat-coret dari obrolan tersebut.

  1. Menengok ke rumah sakit
    Jika ada seorang teman yang opname ke rumah sakit, kami sering janjian untuk menengok teman tsb. bersama-sama. Menengok orang sakit, dalam bahasa Jepang disebut omimai (catatan : jangan salah dengan omiai, yang berarti bertemu dengan seseorang yang diinginkan jadi jodohnya, nontoni kalau dalam bahasa Jawa). Biasanya saat menengok kami datang berombongan, belasan orang, dsb. Bagi orang Indonesia, hal ini wajar saja. Apalagi kami tinggal di luar negeri, yang kalau sakit dan opname, tidak ada keluarga lain yang dapat menengok kecuali teman-teman sendiri. Tetapi omimai dalam jumlah banyak ini terasa janggal bagi orang Jepang. Umumnya mereka kalau menengok teman yang rawat inap, datang dalam jumlah sedikit. Sekitar dua atau tiga orang. Di Jepang umumnya rumah sakit cukup keras menjaga agar suasana dalam rumah sakit tenang. Jam tengok juga diatur dengan ketat dan disiplin, agar pasien dapat istirahat dengan tenang, makan tidak terlambat, dsb.
  2. Menghadiri pesta pernikahan
    Di Indonesia, sangat lazim pesta pernikahan diselenggarakan dengan dihadiri ratusan atau kadang ribuan orang. Di Jepang tidak demikian. Yang diundang teman-teman terdekatnya saja, jadi bisa saja total yang diundang di bawah 100 orang. Saat saya menghadiri teman Jepang yang menikah, yang diundang seingat saya tidak sampai 100 orang, dan resepsi diselenggarakan di gereja. Setelah itu baru kemudian kami pindah ke ruang pesta. Nah, kalau pesta pernikahan di Indonesia tidak ada batasan yang jelas, siapa yang diundang dan siapa yang tidak diundang, di Jepang tidak demikian. Yang datang adalah mereka yang diundang saja. Saat hadir di resepsi, kami menyerahkan sumbangan dalam amplop yang didesain khusus. Amplop ini dapat dibeli di convenient store (Family Mart, Seven Eleven, dsb). Umumnya besar sumbangan per orang 30 ribu yen. Mengenai besarnya sumbangan ini biasanya disesuaikan dengan usia/karir yang menyumbang, kekerabatan atau kedekatan seseorang dengan pengantin, dsb.
  3. Menanyakan keluarga
    Umumnya orang Indonesia terbuka dalam menceritakan keluarganya, walau kepada kenalan baru. Berapa anaknya, sekolah dimana dsb. Tetapi di Jepang, masalah keluarga adalah masalah privasi. Sehingga tidak lazim kalau baru saja berkenalan kemudian saling menanyakan keluarga masing-masing. Hal yang sifatnya privasi seperti ini bisa terbuka diceritakan, kalau benar-benar sudah akrab sebagai teman.

Ditulis dalam japanology, living in Japan | 10 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.