Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Arsip untuk Maret 9th, 2007

Tarif Translasi

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Maret 9, 2007

Beberapa saat yll. saya mencari informasi tarif jasa translasi. Di milis ppi-jepang ada beberapa informasi dari teman yang ingin saya rangkumkan.

  1. Terjemahan buku biasanya dianggap borongan dan bukan dihitung per lembar. Pengalaman seorang teman yang menterjemahkan buku 50 halaman yang sifatnya non-teknis, honornya sekitar 100 ribu yen. Menurut ybs. tulisan di buku itu relatif besar dan bahasanya mudah.
  2. Kalau terjemahan yang dihitung perlembar, menurut ybs. tarifnya minimal 2000 yen.
  3. Teman yang lain pernah menterjemahkan komik, 1 volume sekitar Rp 300 ribu,-
  4. Kawan yang lain untuk alih bahasa Jepang ke Indonesia, per 200 kata minimal 2600 yen. Atau 1 kata dihitung 18 yen.
  5. Tarif standar yang ditetapkan Himpunan Penterjemah Indonesia :Rp 100 ribu,- per 1500 karakter (huruf, angka, tanda baca, spasi) hasil terjemahan.

BTW, ada kawan yang komentar “jauh-jauh sekolah ke Jepang koq cuma jadi penerjemah” :D He he he… Heran saya. Koq ada yang jalan fikirannya seperti itu yah ? Fikir saya tidak ada salahnya kan, kalau saya menerima order terjemahan. Kemampuan bahasa asing itu kalau tidak dipakai baik dalam praktek lisan maupun tulisan, lambat laun pasti akan menguap. Apalagi bahasa Jepang yang memerlukan penguasaan ribuan huruf. Kalau nggak dipakai, walau sudah lulus level 1 JLPT (Japanese Language Proficiency Test) sekalipun pasti lambat laun hilang juga. Kalau sudah begitu nggak ada gunanya sertifikat itu kecuali satu lembar kertas yang tak berarti. Sebenarnya dalam menterjemahkan itu, kita justru belajar dan mendapat banyak ilmu. Bukan hanya dari materi artikel yang diterjemahkan, tetapi kita bisa belajar keragaman pola kalimat yang dipakai di buku tersebut, gaya bahasa, kepiawaian mengemas kata dan banyak lagi. Naah, di sini ada kesempatan belajar, menambah ilmu, halal thoyyiban, dibayar lagi. Nggak nolak dong,..hehehe :D

Ditulis dalam nihongo | 7 Komentar »

Kerja Dini Hari

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Maret 9, 2007

Dinihari ini nama teman saya se-SMA dan penjaga gawang milis angkatan 89 Smansa (SMA 1 Surakarta). Tetapi yang saya maksud di sini bukan Dini kawan saya itu, melainkan dinihari yang berarti lewat tengah malam. Saat masih SMP dulu saya mulai punya kebiasaan belajar lewat tengah malam setelah sholat tahajud. Suasana yang sepi membuat enak untuk konsentrasi dan fokus pada materi yang dipelajari. Kebiasaan itu berlanjut sampai saat SMA, masa di mana saya sedang senang belajar. Obsesi saya saat itu bisa mengerjakan dua soal matematika serentak dengan dua tangan paralel, termotivasi dari legendanya Ir.Soetami dan Prof.Baiquni. Keduanya almamater SMA saya. Tetapi obsesi ini nggak berhasil tercapai, he he he.

Saat kuliah di bangku perguruan tinggi, entah kenapa kebiasaan ini sempat hilang, dan baru muncul lagi saat saya mengerjakan tugas akhir. Enak sekali lembur malam di kampus sembari mendengarkan lagu-lagu air supply. Kadang di lab. beberapa teman juga suka kerja malam hari, karena suasana siang yang ribut kurang kondusif untuk belajar. Saat studi S3, saya tinggal di dekat kampus. Naik sepeda sekitar 7 menit sampai. Untuk mengejar target riset yang harus dipenuhi, saya sering melewatkan malam di kampus. Kadang datang pk.12 malam, dan pulang esok harinya. Hal itu masih tidak masalah, karena kami masih berdua, dan Ine mengizinkan saya melewatkan malam di kampus.

Setelah Tika lahir, saya agak kesulitan mengatur waktu. Sebagian waktu harus saya sisihkan untuk bermain dengan Tika. Tika nggak bisa tidur kalau saya nggak ikutan tidur. Kalau udah begitu, biasanya saya nggak terbangun sampai pagi..he he he. Saat mengeluh ke Matsuo sensei beliau menyalahkan saya. “Kalau sudah sampai di rumah, jangan belajar. Nggak mungkin bisa”…hehehe. :D Pola Matsuo sensei: datang ke kampus pagi-pagi, pulang larut malam. Mungkin sekitar pk.8 pagi datang ke kampus, dan pulang ke rumah sekitar jam 10 malam. Hari Sabtu ke kampus. Jadi cukuplah waktu buat belajar.

Sebenarnya saya ingin juga bisa meniru pola beliau, tetapi situasi kerja sekarang tidak memungkinkan. Kalau kampus Matsuo sensei terletak di tengah kota, maka kampus saya terletak jauh dari rumah, satu jam perjalanan naik kereta dan bus. Bus terakhir berangkat dari kampus pk.21.20. Lewat jam itu sudah tidak ada lagi angkutan, suasana sunyi senyap, karena kampus terletak di daerah terpencil dikelilingi sawah. Jauhnya kampus dari rumah, membuat saya tidak dapat bebas pulang balik ke kampus. Beberapa kali saja saya pernah bermalam di kampus, saat ikut zemi-nya Hasegawa sensei. Diskusi mingguan di lab. beliau agak unik. Mulai diskusi jam 7 malam, selesainya lewat tengah malam. Kadang sampai pagi. Awalnya saat ikut zemi beliau terasa berat. Saya tidak menyukai diskusi lewat tengah malam, dan mengubah pola kebiasaan itu tidak mudah. Tapi setelah ikut beberapa kali, saya mulai enjoy juga. Gaya diskusi di zemi beliau menyenangkan. Sambil makan malam dan minum, kami mendiskusikan satu tema riset yang ternyata jadi obrolan menarik. Hasegawa sensei sangat pandai mengubah diskusi menjadi obrolan hangat dan menyenangkan. Jadi ingat bapak-bapak kalau ronda malam kan justru menyenangkan. Asal nggak ketemu si doi saja…hi hi hi :D

Masih belum kebayang bagaimana nanti pola hidup saya setelah kembali ke Jakarta. Dulu saat tinggal di Pamulang, saya berangkat dari rumah pk.5 pagi naik bus kantor. Pulang dari kantor jam 4 sore, sampai di rumah sekitar jam 7 malam, diteruskan dengan cuci baju, masak dsb. Selesai itu semua rasanya badan sudah penat, dan malam sudah larut. Entah kelak kalau pulang ke Indonesia dan tinggal di Depok, sepertinya saya harus belajar menyesuaikan lagi dengan pola kerja yang baru.

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »