Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Maret 2007
    S S R K J S M
    « Feb   Apr »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Maret 16th, 2007

Teknologi bagi Tuna Netra (diupdate 16 Maret 2007)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 16, 2007

[posting di milis SoftComputing : sc-ina@yahoogroups.com]
Dear all,
Mas Surya, Mas Yusril. Thanks atas reply-nya. Semoga kelak saat ke Yogya/ITS, saya diperbolehkan main ke lab.nya ya.
Pada posting ini saya mencoba mengangkat tema yang mungkin tidak terlalu populer di Indonesia: teknologi untuk mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Saya ikut di milis mitra-jaringan, yang anggotanya banyak berasal dari kalangan tuna netra. Kawan-kawan ini rata-rata memiliki kemauan yg tinggi untuk belajar. Para tuna netra ini bisa berkomunikasi lewat email, membaca web, dengan dibantu JAWS, software screen reader. Tetapi informasi yg mereka serap tentunya terbatas. Sering saya dengar presentasi dari peneliti di bidang computer vision, “80% informasi yg diterima orang berasal dari informasi visual”, maka gangguan pada indera penglihatan membuat banyak sekali porsi informasi yang hilang. Kesan saya, sepertinya di Indonesia perhatian peneliti terhadap teknologi yg dibutuhkan oleh kawan-kawan kita tsb. masih kurang. Di sini saya coba mengulas, teknologi apa yang sudah dikembangkan di Jepang, yang barangkali bisa sebagai ide awal jika kelak ada dari kita yang bekerja di bidang ini. Saya kutip dari paper saya beberapa tahun yll. yang mungkin sudah banyak informasi yg out of date. Silakan rekan-rekan memberikan masukannya
_______________________________________________________________

Anto Satriyo Nugroho, Dr.Eng
Email : asnugroho at gmail dot com
URL : http://asnugroho.net Tel. +62-21-316-9829
Center of Information & Communication Technology,
Agency for the Assessment and Application of Technology (PTIK-BPPT)
Jalan MH.Thamrin No.8 Jakarta, Indonesia 10340

_______________________________________

Teknologi bagi para tuna netra
oleh Anto Satriyo Nugroho

1. Pendahuluan
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam research | 34 Komentar »

Sambal dan Wasabi

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 16, 2007

Saat bongkar-bongkar file lama, saya temukan foto saat kami berkunjung ke perkebunan “wasabi”. Wasabi mungkin mirip dengan “sambal” kalau di Indonesia. Rasanya pedas, tetapi bukan di lidah, melainkan di hidung. Wasabi lazim dipakai di makanan Jepang, seperti sushi, soba, dsb. Kalau cabai mudah ditanam, maka wasabi kebalikannya, yaitu tidak bisa hidup kecuali di tempat yang airnya bersih dan dingin.

Ditulis dalam living in Japan | 4 Komentar »

“Mata kondo” : Menolak secara halus ala Jepang

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 16, 2007

Kemarin sore, saya dan Roni-san ngobrol bertiga dengan teman Jepang. Entah kenapa, tahu-tahu pembicaraan menyangkut ke perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia. Berikut yang saya ingat:

  1. “Mata kondo” (また今度)
    Kalimat ini dipakai untuk menolak secara halus sebuah ajakan. Misalnya kita diajak pergi ke satu tempat, tapi kita tidak mau ikut. Kalau ditolak terang-terangan khawatirnya akan melukai perasaan sang pengajak. Walau arti leksikalnya “lain kali saja”, tetapi ini adalah penolakan secara halus. Mungkin ini mirip dengan “sanes wekdal” dalam bahasa Jawa.
  2. Budaya Onsen
    Onsen (berendam di sumber air hangat) merupakan satu kenikmatan tersendiri bagi orang Jepang, dan obyek wisata yang diandalkan. Terutama di musim dingin, sering ada penawaran satu set “onsen, hotel dan dinner”. Tetapi bagi orang Indonesia, kadang agak sulit untuk mengikuti budaya ini. Saat masuk onsen, aturannya tidak boleh memakai baju sama sekali. Pakai celana renang pun tidak boleh. Umumnya orang Indonesia malu untuk tidak berpakaian di depan umum, walaupun sama-sama pria.
  3. Budaya Mandi
    Salah satu yang membuat onsen demikian populer di Jepang adalah kaitannya dengan budaya masuk ofuro (mandi dalam bak). Di Jepang, tiap malam seakan wajib hukumnya bagi orang Jepang untuk mandi dan berendam dalam bak air hangat. Saya ceritakan ke kawan Jepang tadi, kalau budaya berendam saat mandi tidak lazim di Indonesia. Umumnya di Indonesia, kami mandi dengan memakai gayung. Ada juga yang memasang shower dan bath tube di kamar mandinya, tetapi di Indonesia relatif sedikit.

Catatan tambahan ttg. Onsen:
Di bagian paling bawah posting ini, saya selipkan beberapa foto onsen (Rotenburo) di Seminar House nya Chukyo University (Aoki-Ko, Nagano). Foto pertama adalah saat kita masuk ke pemandian onsen. Pakaian diletakkan di kotak yang diletakkan pada rak (foto kedua). Foto ketiga adalah gambar onsen dari pintu masuk. Sebelum berendam di onsen, pengunjung harus mandi bersih dulu dengan shower dan sabun. Yang diatur rapi bertumpuk itu kursi dudukan untuk mandi (gambar keempat). Onsen terbagi dua : indoor yang mirip kolam renang di dalam ruangan, dan yang satu lagi outdoor (lihat gambar kelima). Pemandian air hangat outdoor inilah yang disebut Rotenburo (露天風呂) yang berarti bak mandi (ofuro) di alam terbuka. Sambil berendam, bisa melihat salju yang menutupi dedaunan (kalau musim dingin). Saat ke tempat tersebut, sayangnya bukan waktu musim dingin, sehingga tidak ada salju yang menutupi daun. Biasanya onsen di hotel dibuka pk.6-9 pagi dan 16-22 malam. Tips : kalau anda malu berendam bersama orang lain, pergilah ke onsen paling pagi. Biasanya masih sepi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam japanology | 3 Komentar »

Bahasa menunjukkan Usia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 16, 2007

Kalau pepatah berkata “bahasa menunjukkan bangsa”, barangkali sekarang perlu ditambah “bahasa menunjukkan usia”. Saya merasakan adanya perbedaan cara bertutur kata antara dua orang yang usianya jauh berbeda. Adik saya yg usianya terpaut cukup jauh (16 tahun) kalau berkirim email ke teman-temannya sering pakai bahasa gaul yang tak saya mengerti. Misalnya di friendsternya, tertulis “Yupp..Ak emg lg h0bi bgT nge-gYm c0z 5lAen bikin 5ehAT, jg bi5A bwT n0ngkr0ng giTzu…“. Ehm…Opo to Iki ? :D Apalagi maraknya SMS, membuat orang semakin sering membuat singkatan kata-kata bahasa Indonesia. Sangat kontras dengan bahasa yang dipakai pada posting di milis angkatan se-SMA saya. Istilah-istilah Jawa yang mungkin sekarang tidak lazim dipakai sering muncul : “selera andrawina-mu” (selera makan), “colut” (ngabur dari kelas), “kanthi seneng” (dengan senang hati), “pancen joss” (benar-benar sip deh), “mayar” (mudah/murah), “reca” (patung), “ngisik-isik” (mengelus sambil membersihkan) dsb. Istilah ini lazim dipakai saat kami masih sekolah, dan mungkin tidak difahami oleh adik saya karena sudah tidak dipakai lagi. Saya sering malas melanjutkan baca email, jika bahasa yang dipakai sulit difahami. Kalau bahasa tertulis, untuk lebih amannya saya cenderung sering memilih yang formal agar tidak mengundang salah tafsir. Tsumaranai kedo na-

Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.