Mencatat pengeluaran dan pemasukan kas rumah tangga (家計簿 “kakeibo”) adalah satu kebiasaan baru bagi saya, yang dilakukan sejak menikah th.2000 yll. Sebelumnya, saya hanya membuat klasifikasi sederhana : menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan, dan selebihnya dipakai untuk belanja sehari-hari. Istri sayalah yang membawa kebiasaan ini ke rumah tangga kami.
Dalam membuat pembukuan, kami membagi pos pengeluaran ke 7 item : (1) makan-minum/konsumsi (2) peralatan dan buku (3) komunikasi (4) transportasi (5) barang habis pakai (6) kesehatan (7) hiburan. Salah satu manfaat yang terasa dari kebiasaan ini adalah kami bisa memperkirakan berapa sebenarnya kebutuhan hidup dalam sebulan, berapa besarnya pengeluaran untuk konsumsi, berapa kemampuan kami dalam menabung. Informasi ini kami rasakan bermanfaat untuk merancang belanja terutama belanja besar, dan membuat planning ke depan.
Awalnya, dalam membuat catatan, saya tuliskan detail tiap item belanja. Misalnya telur 1 kg berapa yen (saat itu kami masih di Jepang), beras berapa yen, susu, dsb. Tetapi lama-lama saya tidak tahan untuk terlalu detail dalam mencatat pengeluaran. Sehingga, akhirnya catatan dibuat lebih sederhana. Misalnya: “belanja bahan makan di Seiyu ….. 2000 yen, baju Tika…. 2000 yen”, dsb., dan tidak perlu dirinci satu per satu.
Saat masih tinggal di Jepang, kebiasaan ini dapat kami pertahankan. Tidak ada masalah yang kami dapatkan dengan kebiasaan pencatatan ini, karena setiap belanja selalu ada nota pembeliannya. Kalau lupa minta nota, biasanya kami masih ingat apa saja belanja dalam satu dua hari terakhir.
Tetapi, hampir sebulan sejak kami pulang ke Indonesia kebiasaan ini terhenti. Kami belum sempat melakukannya. Penyebab pertamanya adalah frekuensi belanja yang sangat tinggi. Belanja kebutuhan kami semua mulai dari nol, sehingga piranti rumah tangga dan keperluan yang lain harus dibeli satu persatu dan kadang sering mendadak, tidak direncakan lebih dahulu. Penyebab kedua adalah seringkali kami tidak mendapat nota belanja. Dapat nota belanja sekalipun, seringkali hurufnya tertulis tipis atau bahkan kadang tidak dapat terbaca. Penyebab terakhir adalah kami jarang membuka komputer, demi menghemat pemakaian listrik. Saat di Jepang kakeibo kami buat memakai Excel, sehingga mengandalkan listrik yang saat di Jepang relatif tidak terasa terlalu mahal. Mau dicatat di media analog (kertas/buku), terbentur dengan sempitnya waktu.
Setelah lewat sebulan, saya sering jadi waswas. Saya sering bertanya-tanya sendiri, berapa sebenarnya pengeluaran rata-rata dalam sebulan ? tertutup nggak dengan penghasilan ? Kalau tidak cukup bagaimana ? Usaha apa yang harus saya lakukan ? Saya rasa jeda sebulan ini sudah cukup lama, dan sudah saatnya memulai lagi menulis kakeibo lagi.