Tgl. 30 Maret 2007, kami berangkat dari hotel Nikko yang berada di dalam Kansai Airport sekitar pk. 09.30 am. Ternyata di check in counter, deretan calon penumpang sangat panjang, dan kami berada di bagian ekor. Giliran kami tiba sekitar pk.10.30 am, dan petugas di counter sepertinya sudah khawatir juga, karena waktu boarding sudah tiba, tetapi masih ada beberapa penumpang yang belum selesai prosedur check-in nya. Bagasi kami overweight 20 kg. Sebenarnya kami sudah siap bayar, tetapi oleh petugas counter, kami dibebaskan. Alhamdulillah. Sambil berlari-lari, kami menuju ke bagian imigrasi. Oh ya, saat melewati pemeriksaan X-ray, kami minta agar Ine diperiksa manual dan tidak dilewatkan ke X-ray, karena sedang hamil muda. Di bagian imigrasi sebenarnya prosesnya cepat selesai. Tetapi karena di paspor saya dan Ine ada reentry yang multiple, untuk menghentikannya kami diminta menandatangani beberapa dokumen. Setelah itu kami
segera naik ke pesawat. Kursi kami di deretan belakang, didepannya keluarga Dr.H.Agus Zainal Arifin, ITS (Gus Ipin).
Selama di pesawat praktis Tika saya gendong terus menerus, karena tidak mau duduk sendiri di kursinya. Deru mesin pesawat dan goncangan-goncangan yang terasa saat melewati awan sepertinya menyebabkan Tika tidak merasa nyaman, dan memilih duduk di pangkuan saya.
Sesampainya di Denpasar, saya mendapat sedikit masalah dengan beacukai. Saat akan keluar, saya banyak mendapat pertanyaan mengenai barang yang saya bawa, kenapa sedemikian banyak (total ada 16 buah). Saya jawab bahwa kami pindah dari Jepang ke Indonesia setelah selesai dinas. Petugas tsb. minta agar saya menunjukkan surat bukti yang menjelaskan bahwa saya berada di Jepang dalam rangka dinas. Saya agakkaget juga, karena tidak menyangka mendapat pertanyaan tsb. Sebetulnya saya sudah mengumpulkan surat-surat penting (copy ijazah, dsb) dalam satu file, tetapi saya tidak ingat di kardus mana file tsb. berada. Beberapa kali kami menyusun ulang isi koper, sehingga isinya mengalami beberapa perubahan.
Saya jawab, bisa saja saya tunjukkan, tetapi saya perlu membongkar semua barang-barang dulu mencari keberadaan surat itu. Suasana saat itu dan udara Bali yang panas membuat tubuh merasa semakin gerah. Kebetulan saya masih simpan paspor dinas yang pertama saya pakai saat berangkat ke Jepang. Saya jawab ke staf tsb., bagaimana kalau bapak periksa paspor dinas saya ini saja ? Di situ jelas tertera status saya sebagai PNS, yang tentunya kalau berangkat ke LN sudah ada dasar penugasannya. Syukurlah dia percaya, dan kami pun bisa lewat.
Sesampai di Bali, Tika senang banget dengan bed-nya yang mentul-mentul (spring bed). Dia kegirangan meloncat-loncat di atas bed, sampai akhirnya terjatuh dengan kepala di bawah. Untung tangan saya masih sempat menahan kepalanya, sehingga tidak terjadi benturan keras. Pff…..
Hari berikutnya, 31 Maret 2007, kami tiba di Yogyakarta. Tidak ada hal yang istimewa selama penerbangan kecuali kami kena charge overweight. Total bagasi kami 140 kg, padahal jatah sesuai tiket adalah 120 kg, jadi overweight-nya 20 kg. Oleh Garuda, kami diberi toleransi 10 kg, sehingga yang harus dibayarkan adalah 10 kg, total sekitar Rp 90 ribu.
[bersambung]