Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • April 2007
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk April, 2007

Weekend di Solo

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 30, 2007

Hari kamis malam saya berangkat ke Solo naik kereta Argo Lawu. Kesan saya kereta eksekutif ini cukup bersih-terawat dan perjalanannya menyenangkan. Tika saat bicara di telpon selalu mengingatkan “balon”, karena saya sudah menjanjikan akan meniupkan balon sesudah sampai di Solo. Sekitar pk.5.30 pagi saya sampai di rumah. Tika keliatan senaaang banget, dan minta digendong terus. Waah, saya serasa jadi primadona.:D

Bapak-Ibu dan kami bertiga makan pagi ke warung soto triwindu, favorite keluarga kami untuk masakan soto. Pulangnya, kami mampir ke pasar nongko, untuk membeli rumput. Ine ingin agar space yang kosong di halaman belakang ditanami dg rumput jepang, agar jadi tempat main Tika.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam keluarga | 1 Komentar »

Kakeibo (Catatan Kas Rumah Tangga)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 26, 2007

Mencatat pengeluaran dan pemasukan kas rumah tangga (家計簿 “kakeibo”) adalah satu kebiasaan baru bagi saya, yang dilakukan sejak menikah th.2000 yll. Sebelumnya, saya hanya membuat klasifikasi sederhana : menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan, dan selebihnya dipakai untuk belanja sehari-hari. Istri sayalah yang membawa kebiasaan ini ke rumah tangga kami.

Dalam membuat pembukuan, kami membagi pos pengeluaran ke 7 item : (1) makan-minum/konsumsi (2) peralatan dan buku (3) komunikasi (4) transportasi (5) barang habis pakai (6) kesehatan (7) hiburan. Salah satu manfaat yang terasa dari kebiasaan ini adalah kami bisa memperkirakan berapa sebenarnya kebutuhan hidup dalam sebulan, berapa besarnya pengeluaran untuk konsumsi, berapa kemampuan kami dalam menabung. Informasi ini kami rasakan bermanfaat untuk merancang belanja terutama belanja besar, dan membuat planning ke depan.

Awalnya, dalam membuat catatan, saya tuliskan detail tiap item belanja. Misalnya telur 1 kg berapa yen (saat itu kami masih di Jepang), beras berapa yen, susu, dsb. Tetapi lama-lama saya tidak tahan untuk terlalu detail dalam mencatat pengeluaran. Sehingga, akhirnya catatan dibuat lebih sederhana. Misalnya: “belanja bahan makan di Seiyu ….. 2000 yen, baju Tika…. 2000 yen”, dsb., dan tidak perlu dirinci satu per satu.

Saat masih tinggal di Jepang, kebiasaan ini dapat kami pertahankan. Tidak ada masalah yang kami dapatkan dengan kebiasaan pencatatan ini, karena setiap belanja selalu ada nota pembeliannya. Kalau lupa minta nota, biasanya kami masih ingat apa saja belanja dalam satu dua hari terakhir.

Tetapi, hampir sebulan sejak kami pulang ke Indonesia kebiasaan ini terhenti. Kami belum sempat melakukannya. Penyebab pertamanya adalah frekuensi belanja yang sangat tinggi. Belanja kebutuhan kami semua mulai dari nol, sehingga piranti rumah tangga dan keperluan yang lain harus dibeli satu persatu dan kadang sering mendadak, tidak direncakan lebih dahulu. Penyebab kedua adalah seringkali kami tidak mendapat nota belanja. Dapat nota belanja sekalipun, seringkali hurufnya tertulis tipis atau bahkan kadang tidak dapat terbaca. Penyebab terakhir adalah kami jarang membuka komputer, demi menghemat pemakaian listrik. Saat di Jepang kakeibo kami buat memakai Excel, sehingga mengandalkan listrik yang saat di Jepang relatif tidak terasa terlalu mahal. Mau dicatat di media analog (kertas/buku), terbentur dengan sempitnya waktu.

Setelah lewat sebulan, saya sering jadi waswas. Saya sering bertanya-tanya sendiri, berapa sebenarnya pengeluaran rata-rata dalam sebulan ? tertutup nggak dengan penghasilan ? Kalau tidak cukup bagaimana ? Usaha apa yang harus saya lakukan ? Saya rasa jeda sebulan ini sudah cukup lama, dan sudah saatnya memulai lagi menulis kakeibo lagi.

Ditulis dalam keluarga | 7 Komentar »

Ketika hujan turun lebat

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 25, 2007

Sore ini hujan turun lebat di Jakarta, diiringi gelegar petir dan kilat. Rencana saya untuk cari makan sore di luar batal. Untung masih ada stock mie sedap buat makan malam.

Kalau hujan turun lebat begini, kasihan mereka yang berhujan-hujan menempuh perjalanan pulang, satu atau dua jam untuk sampai di rumah. Alangkah leganya kalau telah tiba di rumah, bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta, mandi air hangat, minum teh panas, bergurau bersama anak istri, melihat acara TV, sholat Maghrib berjamaah. Perjalanan berat menempuh hujan yang lebat itu, setelah terlewati, saya kira justru membuat saat-saat berkumpul kembali dengan keluarga menjadi demikian bermakna.

Lagu Chrisye “Selamat Jalan Kekasih” yg diputar teman sebelah, menyentuh hati saya, semakin menambah kerinduan untuk berkumpul kembali dengan Tika dan Ine. Ya Allah, peliharalah keluarga kami, dan satukanlah jiwa kami sekeluarga dengan kasih sayang-Mu.

resah rintik hujan
yang tak mungkin menemani
sunyinya malam ini
sejak dirimu jauh dari pelukan

selamat jalan kekasih
kejarlah cita-cita
jangan kau ragu tuk melangkah
demi masa depan
dan segala kemungkinan

jangan kau risaukan
airmata yang jatuh membasahiku
harusnya kau mengerti
sungguh besar artimu bagi hidupku

selamat jalan kekasih
kejarlah cita-cita
jangan kau ragu tuk melangkah
suatu hari nanti kita kan bersama lagi
bersama lagi
kita berdua

resah rintik hujan
yang tak henti menemani
sunyinya malam ini
sejak dirimu jauh dari pelukan

selamat jalan kekasih
kejarlah cita-cita
jangan kau ragu tuk melangkah
demi masa depan
dan segala kemungkinan

tiada yang harus kau ragukan
segalaku untukmu
walau kini kita berpisah
suatu hari nanti kita kan bersama lagi
bersama lagi
kita berdua

Ditulis dalam keluarga | 3 Komentar »

Perkembangan terbaru Tika

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 25, 2007

Pagi ini saya telpon sekitar setengah jam dengan Tika dan emaknya. Selama dua minggu ini ternyata banyak perkembangan yg sudah dicapai Tika.

  1. Minta digambarkan Miffy, mobil, oleh ibunya, dan Tika kemudian yang mewarnai nya. Tapi namanya anak dua setengah tahun, bukannya gambarnya diwarnai, melainkan diusek usek shg gambar aslinya nggak kelihatan …hihihi
  2. Hafalan lagu tambahan
    1. panjang umurnya
    2. pelangi-pelangi
    3. maigo-maigo no oneko chan
    4. ookina kuri no ki no shita de
  3. Ngejar-ngejar dan nggebukin semut, tapi takut thd lalat
  4. Kalau dipamitin lewat telpon,ngajak salim (salaman)
  5. Kalau ada penjual ayam lewat sambil teriak “ayaam ayaamm”, ditirukan oleh Tika “mayaa…mayaaa” :D

Ditulis dalam keluarga | 6 Komentar »

Foto-foto Tika, ibu dan bapak

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 24, 2007

Leaving Nagoya Station, diantar Asa-Alifa-Hani, 29 Maret 2007

Kansai Airport, 30 Maret 2007

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam keluarga | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dasi itu untuk apa ya ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 24, 2007

Saat masih mahasiswa dulu, saya sering membayangkan alangkah senangnya kalau setiap hari memakai jas dan dasi ke kantor. Gimana ya ? Rasanya penampilan jadi tambah rapi kalau pakai dasi, yang kurang ganteng kayak saya terdongkrak sedikit jadi ganteng, yang udah ganteng jadi kayak seleb……he he.
Setelah saya bekerja di Chukyo, masa-masa pertama saya selalu memakai jas dan dasi, karena menyesuaikan dengan lingkungan pekerjaan. Saya meniru kebiasaan sensei di kampus sebelumnya, yang rata-rata memakai kemeja, berdasi dan pakai jas. Tetapi lambat laun sering saya amati kalau tidak semua sensei di Chukyo demikian. Jarang saya lihat sensei yang memakai dasi. Banyak yang memakai kaos saja saat pergi ke kampus, mengajar dsb. Sepatu pun demikian juga. Banyak yang memakai sandal, walau bukan sandal jepit. Akhirnya lambat laun saya pun mengikuti kebiasaan tsb. dan ternyata memang lebih menyenangkan. Risih sekali kalau bekerja di lab. coding, ngotak-atik PC memakai dasi apalagi jas. Lebih enak memakai kaos, jeans (walau saya nggak punya jeans) dan bersandal.  Tetapi saya juga siapkan satu stel baju formal untuk berjaga-jaga kalau ada tamu yg datang ke lab.

Kalau mengikuti conference di Jepang, umumnya presenternya berpakaian formal. Jas dan dasi, atau setidaknya dasi tentu bertengger di bawah krah. Tetapi di international conference, tidak jarang saya mengikuti presentasi dimana penyajinya memakai baju kemeja biasa saja, tak berdasi. Saya pernah dengar dari teman yg mengikuti seminar di bidang fisika, banyak peserta yang tidak memakai baju formal bahkan hadir pun dengan celana pendek. Walau demikian diskusi tetap berjalan dengan menyenangkan dan tak terhambat dengan ketidakhadiran sang dasi. Kualitas presentasi tidak ada kaitannya dengan harga sang dasi.

Di Jakarta yang panas ini dasi justru membuat saya lebih gerah. Jadi untuk apa sebenarnya dasi ?

Ditulis dalam gado-gado | Tinggalkan sebuah Komentar »

Catatan Setting Ubuntu

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 24, 2007

Minggu yll. saya mengubah OS PC yang saya pakai dari windows XP ke Ubuntu. Berikut adalah catatan setting yang saya lakukan:

  1. Membuat .forward :  selain memforward ke diri sendiri, email juga saya forwardkan ke account di yahoo.com agar bisa diakses pakai web dari luar tempat kerja. Setelah itu jangan lupa : chmod go-w ~/.forward     Referensinya antara lain : 1
  2. emacs (default setting ubuntu, emacs tidak included didalamnya, jadi harus ditambahkan sendiri). Command : sudo apt-get install emacs21 emacs21-el emacs-goodies-el aspell-el ispell
  3. gcc
  4. To Do List (urut prioritas) :
    1. xgraph
    2. gnuplot
    3. latex
    4. nihonggo kankyo
    5. htttrack

Ditulis dalam linux, zaurus, iPod & komputer | 2 Komentar »

Perlengkapan Perang saya

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 23, 2007

Alhamdulillah hari ini saya beli kipas angin kecil melengkapi “perlengkapan perang” saya…he he

  1. Kasur lipat (warna merah hati…jangan salahkan saya dengan pilihan warna ini karena nggak milih sendiri, tapi nitip ke teman)
  2. lampu meja (kalau malam lampu mati, tapi listrik tetap menyala)
  3. kipas angin kecil (supaya nggak kepanasan, karena AC mati kalau malam)
  4. sandal, handuk, sabun, shampo, odol, sikat gigi, cotton bud, sisir (guntingan kukunya belum beli nih)
  5. sabun cuci
  6. kopi nescafe, teh instan
  7. mie sedap buat makan malam (pengin beli telor tapi nggak ada tempat menyimpan)
  8. tissue
  9. HP dan radio buat mengusir rasa sepi

Ditulis dalam keluarga | 2 Komentar »

Ulasan Artikel di Republika : Deteksi Golongan Darah memakai komputer (updated 23 April 2007)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 23, 2007

Di milis ppi-jepang dipostingkan artikel menarik mengenai karya ilmiah mahasiswa ITS yang dimuat di harian Republika (16 April 2007).

Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) menemukan cara mendeteksi golongan darah lewat komputer melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan temuan ini akan diikutkan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Universitas Negeri Lampung pada Juli mendatang.

“Selama ini, pemeriksaan atau penentuan golongan darah ditentukan berdasarkan proses pengenalan pola pembekuan setelah diberi reagen antigen,” ujar salah seorang penggagas cara baru itu, Bagus Arianandhika, di Surabaya, Senin.

Namun, katanya, pihaknya menawarkan cara baru melalui jaringan syaraf tiruan. Cara baru itu merupakan hasil karyanya bersama rekannya Achmad Fatkhur Rokhman, Arief Furqon, Agatha Septiandika Putri, dan Nanang Kurniawan.

“Hasil karya itu sudah kami pamerkan pada 14-15 April lalu dengan judul ‘Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan untuk Mendeteksi Golongan Darah Manusia dengan Menggunakan Pengolahan Citra’,” ungkapnya.

Dengan cara itu, katanya, penentuan golongan darah tidak lagi mengandalkan seorang ahli, tapi cukup memasukkan ke dalam tempat yang telah disediakan, kemudian dibaca dan hasilnya bisa diketahui.

Dari sisi aplikasi, saya rasa tema yang diangkat cukup menarik. Sebenarnya saya ingin membaca lebih detail deskripsi penelitian yang mereka lakukan, sayang artikel di harian tsb. terlalu pendek untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh. Berikut adalah beberapa catatan hal-hal yang ingin saya ketahui lebih lanjut.

  1. Seberapa jauh level originality riset ini ?Apakah originality-nya terletak pada sisi aplikasinya ataukah pada metode-nya ?
  2. Keunggulan apakah yang ingin dicapai dengan memakai metode komputasi ini terhadap cara konvensional memakai reagen ? Apakah dari sisi akurasi, sisi biaya, atau hal lain ?
  3. Seberapa jauh tingkat kesukaran masalah yang dipecahkan ? Apakah masalah tsb. linear ataukah non linear ? Akan menarik jika ada perbandingan akurasinya dengan metode lain seperti k-Nearest Neighbor Classifier, Support Vector Machine (SVM), dsb.
  4. Kalau sekiranya masalahnya sederhana dan golongan darah itu di feature space-nya linearly separable, saya rasa tidak perlu pemecahannya memakai metode yang kompleks/non linear.
    Barangkali two layer perceptron tanpa hidden layer cukup memadai. Terlebih lagi kalau datanya sedikit, mungkin tidak terlalu urgen memakai learning machine, karena justru akan menghabiskan effort untuk proses learning yang mungkin tidak diperlukan. Hasilnya biasanya tidak jauh beda dengan yang dicapai oleh metode yang lebih simpel yang tidak memakai fase pembelajaran, seperti misalnya k-nearest neighbor.
  5. Dalam proses mendesain sistemnya, perkiraaan saya titik berat permasalahannya bukan pada fase klasifikasi (yang dilakukan oleh neural network dsb), melainkan lebih kepada fase feature extraction-nya, yang sepertinya dilakukan dg mengolah data berupa citra (menilik judulnya “Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan untuk Mendeteksi Golongan Darah Manusia dengan Menggunakan Pengolahan Citra”). Metode apa yang dipakai ya, dalam fase ini ?
  6. Dalam riset sejenis di biomedical engineering, biasanya yang jadi pertanyaan adalah seberapa jauh keunggulan metode tsb. jika dibandingkan dengan akurasi yang dicapai scr. manual
    oleh expert/spesialis-nya ( man vs machine ). Kalau ada data mengenai hal ini, saya rasa akan membuat presentasi mereka makin menarik. Trend dalam pengembangan CAD (Computer Aided Diagnosis), tujuan yang ingin dicapai bukan bagaimana komputer menggantikan manusia, tetapi lebih ke arah bagaimana komputer (model komputasi yang dihasilkan) itu dapat meningkatkan akurasi dan mengurangi error analisa yang dilakukan oleh manusia. Saat saya mengikuti kolokium mengenai sejarah CAD (Computer Aided Diagnosis) di Jepang beberapa saat yll., ada satu ulasan menarik yang saya catat. Salah satu studi yg dilakukan menunjukkan bahwa ada perbedaan performa ntara radiologist senior vs dokter junior. Tetapi saat dokter junior tsb. memakai CAD sebagai alat bantu, tingkat performanya dapat terdongkrak signifikan, menyamai level yang dipakai oleh dokter senior. Hal ini menunjukkan bahwa komputer (baca CAD) dapat membantu mengatasi kelemahan dokter junior. Referensinya dapat dibaca di T. Kobayashi, X. W. Xu, H. MacMahon, C. E. Metz and K. Doi, “Effect of a computer-aided diagnosis scheme on radiologists performance in detection of lung nodules on radiographs,” Radiology 199, 843-848 (1996). (URL : http://radiology.rsnajnls.org/cgi/content/abstract/199/3/843 )

_________

Catatan Tambahan :

Saat pertanyaan pak Yudi saya sampaikan ke milis sc-ina@yahoogroups.com (23 April 2007), ada tanggapan dari Pak Riyanto ITS, yang merupakan dosen pembimbing tim ITS tsb.

Q : yudi:  (April 23rd, 2007 pada 8:52)
tanya dong pak Anto, deteksi golongan darahnya tetap
menggunakn antibodi-antigenya? apa tetap pakai darah gitu?
atau bener2 non invasif? sy kok nggak ngerti ya.
A:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Berkaitan dengan artikel di republika tentang deteksi
golongan darah memakai komputer. Kebetulan saya sebagai
dosen pembimbing dari mahasiswa tersebut. Sebenarnya yang
mereka lakukan adalah membuat mesin otomatisasi pengenalan
golongan darah. Darah tetap di tetesi anti reagent dan
diaduk secara otomatis oleh mesin kemudian darah dapat
dilihat menggumpal atau tidak menggumpal dengan kamera.
Dengan Neural network kita dapat mengenali darah itu
menggumpal atau tidak sehingga dapat dikenali golongan
darahnya. Semua proses dilakukan otomatis. Kita tinggal
memasukkan darah kita ditempatnya dan mesin secara otomatis
mengenali golongan darah.
Demikian penjelasan saya, terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Riyanto Sigit
Lab. Computer Vision and Pattern Recognition
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya-ITS
email: riyanto@eepis-its.edu

Ditulis dalam neuro, research | 9 Komentar »

Berapakah waktu tempuh dari rumah ke kantor ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 20, 2007

Semalam saya menginap di surau Qutubul Amin Arco dan paginya ziarah ke makam Guru saya. Setelah itu, sekitar pk.08.45 saya menengok rumah yg berada tidak jauh dari surau, tepatnya kompleks Bukit Rivaria Sawangan. Ojek dari surau ke rumah Rp 10 ribu, makan waktu sekitar 10 menit. Rumah saya alhamdulillah masih berdiri, walau nggak meyakinkan. Tembok di sana sini retak. Syukurlah bocorannya tidak terlalu parah. Lingkungannya sebenarnya menyenangkan, menurut saya. Jauh dari keramaian, jauh dari kebisingan, tapi sayangnya jauh juga dari kantor. Selesai urusan di Rivaria, saya berangkat ke kantor dan mencoba menghitung waktu yang diperlukan.

  1. Jalan kaki dari rumah ke pertigaan : 7 menit ( Rp 0,-)
  2. Angkot dari pertigaan sampai ke stasiun Depok : 30 menit (Rp 3000,-)
  3. Kereta api ekonomi dari stasiun Depok sampai ke stasiun Jakarta-Kota: 60 menit (Rp 1500,-)
  4. Trans-Jakarta/busway dari Jakarta-Kota sampai ke Bank Indonesia : 20 menit (Rp 3500,-)
  5. Jalan kaki dari Bank Indonesia ke BPPT : 5 menit (Rp 0,-)

Total waktu yang diperlukan : 122 menit, dibulatkan saja 120 menit atau 2 jam, dan ongkosnya Rp 8000,-. Tentunya 2 jam ini masih harus ditambah dengan waktu tunggu. Pagi tadi saya berangkat dari rumah sekitar pk. 09.30,  sampai di BPPT tepat pk.12 siang. Berarti waktu riilnya dua setengah jam (150 menit), atau dalam sehari, 5 jam akan habis di jalan. Sayang juga kalau seperempat dari umur habis di jalan dan tidak produktif, tapi ini bukan hal  yang aneh terjadi di Jakarta. Saat tinggal di Reni Jaya dulu (1995-1997), saya berangkat dari rumah pk.5 pagi, jam 05.30 naik bus jemputan, sekitar 07.15 sampai di kantor. Nggak jauh beda dengan kondisi kalau saya tinggal di Rivaria. Gimana ya men-siasatinya ?

Ditulis dalam Indonesiaku | 8 Komentar »

Adaptasi dengan kehidupan di Indonesia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 19, 2007

Welcome to the Jungle“, demikian kata beberapa teman kepada saya saat sampai di Indonesia. Kenapa jungle yah ? he he he :D Barangkali karena di Indonesia banyak hal-hal yang serba tidak teratur, tidak jelas, tidak bersih, tidak standar dsb. dibandingkan dengan di Jepang. Selama hari-hari pertama di Indonesia, “adaptasi” adalah masalah utama keluarga kami. Ringkasnya demikian :

  1. Kalau selama Jepang kami tidak pernah melihat lalat dan semut, begitu sampai di Solo, dua spesies imut :D ini selalu menemani keseharian kami. Sempat stress juga melihat banyaknya lalat yang menyerbu masuk ke rumah, begitu pintu dibuka. Makanan harus ditutup dengan tudung saji, selalu siap dengan sapu lidi penggebuk lalat. Untuk mengatasi semut, harus teliti, jangan sampai ada makanan tercecer di lantai.
  2. Kamar mandi yang basah. Bagi saya dan Ine, kamar mandi yang basah bukan masalah, tetapi ternyata tidak demikian halnya bagi Tika. Kalau diajak ke kamar mandi, Tika tidak mau menginjakkan kakinya di lantai yang basah. Kakinya selalu mencari pancatan ke kaki saya atau Ine. Sampai akhirnya kami belikan sandal jepit, baru Tika mau berdiri sendiri di kamar mandi memakai sandal itu. Kami agak heran juga. Padahal di Jepang, kamar mandi/furoba juga tidak kering. Barangkali saja karena kalau di Jepang, WC dan furoba terpisah, sehingga walau furoba basah, tetapi WC di apartemen Jepang tetap kering. Di rumah Solo, WC dan kamar mandi jadi satu, sehingga mungkin bagi Tika terasa jijik, masuk WC koq serba basah…hi hi hi :D
  3. Di Indonesia, standardisasi & informasi detail mengenai spesifikasi barang sepertinya kurang diperhatikan. Saat mau membeli pipa untuk kompor gas, saya tanya ke tokonya: yang ukuran diameternya sekian milimeter ada nggak. Eh, ternyata di toko tsb. tidak tahu menahu dengan ukuran diameternya (yang kalau di Jepang jelas merupakan issue penting). Penjualnya hanya bilang kalau pipanya bisa pakai yang ini dan itu, atau, pipa yang ini buatan negara X yang kualitasnya sangat bagus, dsb. Pengalaman serupa, adalah saat saya membeli alat elektronik di Solo. Jarang sekali ada katalog yang menjelaskan spesifikasi alat tsb. secara lengkap. Saya tanya berapa watt-nya, penjualnya tidak tahu, atau jawabnya serba kira-kira. (^^;
  4. Cuci baju di hari-hari pertama memakai tangan. Untung dapat hibah mesin cuci dari bapak-ibu, karena sudah jarang dipakai.
  5. Kulit Tika gatal-gatal cukup berat. Garuk sana garuk sini, menyedihkan sekali. Salep muhi bebi yang kami bawa ternyata tinggal sedikit. Oleh Rusma (teman SMA, dokter Spesialis Anak) disarankan memakai Calladine. Tetapi saat Rusma melihat sendiri kondisi Tika, obatnya diganti dengan yg lebih kuat, karena Calladine kurang manjur (Terima kasih untuk Rusma-Andut). Alhamdulillah sekarang sudah agak mendingan. Saya nitip ke mas Wawan dan mbak Murni, agar dibelikan salep yg kami pakai di Jepang untuk jaga-jaga (terima kasih atas bantuan mas Wawan-mbak Puji & mbak Murni)
  6. Dulu saat masih di Chukyo, lab. saya di Jepang sekitar 50 m2 dengan sekitar 15 PC. Sedangkan di sini 2×2 m dengan 1 PC. Tapi hal ini bukan masalah, toh badan saya kurang dari 2m. Juga komputer ini hanya saya pakai untuk internet, nulis report dan coding saja. Kalau untuk eksperimen saya ditawari memakai cluster PC di lantai 4. Jadi minimal requirement untuk melakukan riset sudah terpenuhi. Yang belum saya ketahui adalah seberapa jauh akses library kantor ke jurnal-jurnal yg saya perlukan.
  7. Di Jepang dulu memakai thunderbird dan emacs+mew untuk email-emailan. Di sini sementara masih pakai pine, karena emacs tidak terinstall di server. Untuk editornya pakai vi saja, karena tidak ada keharusan ngetik huruf Kanji.

Kalau membaca item-item di atas, sepertinya koq banyak yang menyedihkan ya ? he he he. Saya rasa tidak semua ceritanya serba negatif. Yang positif & menyenangkan banyak juga, hanya saja belum semuanya kami temukan. Yang sudah “ketemu”, misalnya:

  1. Kalau di Jepang anak-anak tidak boleh teriak terlalu keras, atau loncat-loncat di lantai, karena akan mengganggu tetangga sebelah/bawah, di Indonesia hal tsb. bukan masalah. Tika bisa bebas teriak, loncat-loncat di lantai, ruang bermain yang jauh lebih luas daripada di Jepang.
  2. Cita rasa buah yang beraneka ragam (semangka, mangga, durian, pepaya, rambutan, srikaya, dsb)
  3. Selera kuliner terpenuhi : sup buntut, sup kambing, tongseng, bakso lapangan tembak senayan, gudeg, pecel, gurameh goreng. Tidak pusing-pusing memeriksa bahan makanan mengandung butaniku (daging babi) atau nggak. :D
  4. Kemana-mana tidak pusing mencari tempat sholat. Cuci kaki saat wudlu tidak perlu was-was menaikkan kaki ke wastafel, karena sudah ada tempat khusus.
  5. Ke dokter tidak pusing masalah bahasa, tidak pusing mencari tempat sholat. Di Solo kami memeriksakan kandungan ke bu Dokter Sulis (duh..nama lengkapnya koq lupa). Di tempat prakteknya malah ada musholla…hal yang tidak pernah ada di Jepang :D
  6. Naik dokar saat di Manahan. Tika senang banget karena bisa lihat kuda dari dekat.
  7. Lari-lari pagi (bareng dengan mas Andut & Rusma) terus minum sari kacang hijau
  8. Saat masih mahasiswa di Jepang, karena rumah saya dekat dengan lab. saya bisa kerja sepanjang harian. Tetapi setelah kerja di Chukyo yang letaknya jauh dari rumah, jam kerja saya di lab. jadi berkurang : 10 to 8. Setelah di BPPT, alhamdulillah bisa seven-eleven lagi…hehehe. :D
  9. apa lagi ya ?

Masalah utama kami saat ini adalah frekuensi bertemu antara saya dengan Tika-Ine yang mungkin baru bisa 2 minggu sekali, itupun hanya dua tiga hari. Padahal di Jepang, tiap hari saya bisa pulang ke rumah. Sementara hal ini kami atasi dengan sering nelpon memakai fren yg murah meriah (Rp seribu) Sebenarnya masih ada satu lagi: masalah kemacetan transportasi jalan di Jakarta. Tetapi alhamdulillah, hal itu sementara ini sudah terpecahkan. Bahkan benar-benar dalam “sekejap mata”, saya sudah sampai di kantor dan bekerja, seperti kisah-kisah ajaib yang terdapat di cerita Seribu Satu Malam. Jadi mestinya “Welcome to the Jungle” kurang tepat, dan diganti dg “Welcome to negeri seribu satu malam“…..he he :D

Ditulis dalam Indonesiaku, keluarga | 4 Komentar »

Mencari tikar

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 17, 2007

Siang ini saya jalan ke Sarinah, mencari tikar buat alas tidur. Koq tikar sih ? Semalam awalnya saya mau tidur di dua kursi yang dijadikan satu. Tetapi ternyata total panjangnya lebih pendek daripada tinggi badan saya, sehingga kalau mau di situ saya harus tidur melengkung. Daripada nggak nyenyak karena kaki nggak bisa slonjor (lurus), akhirnya saya memilih tidur di lantai saja beralas karpet. Kalau masalah keras-nya sih tidak terlalu mengganggu. Kalau ke surau saya biasa tidur beralas sajadah atau tikar saja. Tapi yang agak kowaii ada 2 : tikus dan kutu/serangga (Jepang : “dani“). Agar terhindar dari “ancaman pertama”, saya memilih tidur di ruang mas Dwi yang tertutup. Tapi ini tidak menyelamatkan dari “ancaman kedua”. Itu kenapa saya mencari tikar. :)
Ternyata sulit banget menemukan tikar plastik yang kalau di Jepang biasa dipakai untuk hanami-an. Akhirnya saya cari ke lantai yg menjual souvenir kerajinan tradisional. Di sana akhirnya saya temukan yang saya cari : tikar lipat ! Yattaa ! Tetapi saat saya periksa, harganya lumayan mahal juga, Rp 180 ribu. Jadi sementara masih pending dulu. Barangkali ada tikar yg lebih murah.(^^;

Yang berkesan hari ini :

  1. Kalau jalan kaki jangan cepat-cepat. Di Jepang jalan cepat mungkin hal yang biasa, tapi di Jakarta jadi terasa aneh..hi hi  :D
  2. SMS dari Ine : “Wkt jemur kaos mas, tika pegang kaos biru samb omg punya bpk. Trus nyebut maas..Maas…

Ditulis dalam gado-gado, keluarga | 1 Komentar »

Kembali Aktif di BPPT

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 16, 2007

Senin pagi (16 April 2007) saya kembali aktif di kantor BPPT (Jalan MH Thamrin 8 Jakarta), setelah 2 minggu berbenah-benah di Solo. Pagi-pagi saya tiba di Stasiun Gambir sekitar pk.06.15 am WIB, naik kereta Argo Dwi Pangga dari Solo Balapan, dan langsung menuju ke kantor naik ojek (Rp 10 ribu). Saat berangkat kemarin hati rasanya berat, meninggalkan Ine dan Tika di Solo. Awalnya saya tawarkan Ine dan Tika barangkali ingin ikut ngantar ke stasiun terus melambaikan tangan saat saya berangkat. Wah jadi mirip dg lagunya Didi Kempot dong :D

Ning Stasiun Balapan Kutho Solo sing dadi kenangan Kowe karo aku Naliko ngeterke lungamu

Ning Stasiun Balapan Rasane koyo wong kelangan Kowe ninggal aku Ra kroso netes eluh ning pipiku

Dha ah … dhadhah sayang Dhah … slamat jalan

Janji lungo mung sedhelo Jare sewulan ra ono Pamitmu naliko semono Ning stasiun Balapan Solo

Janji lungo mung sedhelo Malah tanpo kirim warto Lali opo pancen nglali Yen eling mbok enggal bali

Ning Stasiun Balapan Kutho Solo sing dadi kenangan

Ning Stasiun Balapan Rasane koyo wong kelangan

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam keluarga | 5 Komentar »

Dari Kansai Airport ke AdiSucipto Jogja

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 13, 2007

Tgl. 30 Maret 2007, kami berangkat dari hotel Nikko yang berada di dalam Kansai Airport sekitar pk. 09.30 am. Ternyata di check in counter, deretan calon penumpang sangat panjang, dan kami berada di bagian ekor. Giliran kami tiba sekitar pk.10.30 am, dan petugas di counter sepertinya sudah khawatir juga, karena waktu boarding sudah tiba, tetapi masih ada beberapa penumpang yang belum selesai prosedur check-in nya. Bagasi kami overweight 20 kg. Sebenarnya kami sudah siap bayar, tetapi oleh petugas counter, kami dibebaskan. Alhamdulillah. Sambil berlari-lari, kami menuju ke bagian imigrasi. Oh ya, saat melewati pemeriksaan X-ray, kami minta agar Ine diperiksa manual dan tidak dilewatkan ke X-ray, karena sedang hamil muda. Di bagian imigrasi sebenarnya prosesnya cepat selesai. Tetapi karena di paspor saya dan Ine ada reentry yang multiple, untuk menghentikannya kami diminta menandatangani beberapa dokumen. Setelah itu kami
segera naik ke pesawat. Kursi kami di deretan belakang, didepannya keluarga Dr.H.Agus Zainal Arifin, ITS (Gus Ipin).

Selama di pesawat praktis Tika saya gendong terus menerus, karena tidak mau duduk sendiri di kursinya. Deru mesin pesawat dan goncangan-goncangan yang terasa saat melewati awan sepertinya menyebabkan Tika tidak merasa nyaman, dan memilih duduk di pangkuan saya.

Sesampainya di Denpasar, saya mendapat sedikit masalah dengan beacukai. Saat akan keluar, saya banyak mendapat pertanyaan mengenai barang yang saya bawa, kenapa sedemikian banyak (total ada 16 buah). Saya jawab bahwa kami pindah dari Jepang ke Indonesia setelah selesai dinas. Petugas tsb. minta agar saya menunjukkan surat bukti yang menjelaskan bahwa saya berada di Jepang dalam rangka dinas. Saya agakkaget juga, karena tidak menyangka mendapat pertanyaan tsb. Sebetulnya saya sudah mengumpulkan surat-surat penting (copy ijazah, dsb) dalam satu file, tetapi saya tidak ingat di kardus mana file tsb. berada. Beberapa kali kami menyusun ulang isi koper, sehingga isinya mengalami beberapa perubahan.

Saya jawab, bisa saja saya tunjukkan, tetapi saya perlu membongkar semua barang-barang dulu mencari keberadaan surat itu. Suasana saat itu dan udara Bali yang panas membuat tubuh merasa semakin gerah. Kebetulan saya masih simpan paspor dinas yang pertama saya pakai saat berangkat ke Jepang. Saya jawab ke staf tsb., bagaimana kalau bapak periksa paspor dinas saya ini saja ? Di situ jelas tertera status saya sebagai PNS, yang tentunya kalau berangkat ke LN sudah ada dasar penugasannya. Syukurlah dia percaya, dan kami pun bisa lewat.

Sesampai di Bali, Tika senang banget dengan bed-nya yang mentul-mentul (spring bed). Dia kegirangan meloncat-loncat di atas bed, sampai akhirnya terjatuh dengan kepala di bawah. Untung tangan saya masih sempat menahan kepalanya, sehingga tidak terjadi benturan keras. Pff…..

Hari berikutnya, 31 Maret 2007, kami tiba di Yogyakarta. Tidak ada hal yang istimewa selama penerbangan kecuali kami kena charge overweight. Total bagasi kami 140 kg, padahal jatah sesuai tiket adalah 120 kg, jadi overweight-nya 20 kg. Oleh Garuda, kami diberi toleransi 10 kg, sehingga yang harus dibayarkan adalah 10 kg, total sekitar Rp 90 ribu.
[bersambung]

Ditulis dalam keluarga | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.