Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Oktober 2007
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Oktober, 2007

Ingat anak saat sedang bekerja

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 30, 2007

Malam ini terkantuk-kantuk meneruskan kerjaan di kantor, tapi pikiran melayang ke Tika dan emaknya. Kangen banget rasanya. Apalagi tadi dapat cerita dari Ine, kalau Tika tertidur sambil membawa majalah “Mother and Baby”. Sepertinya Tika asyik melihat-lihat gambar bayi di majalah tsb. dan kemudian tertidur. :-)

Tapi yang namanya bekerja memang butuh pengorbanan, harus pisah anak istri sementara, demi mencari nafkah. Bagi saya rasanya berat, tetapi kalau dibandingkan dengan pengalaman seorang kawan saya, mungkin perasaan saya ini tidak ada artinya. Yang dialaminya jauh lebih berat.

Kawan tsb. malam sebelumnya dia masih menyusui anak semata wayangnya, tetapi esoknya terpaksa ditinggal berangkat ke Jepang selama dua setengah tahun untuk studi lanjut S2. Sampai di Jepang, dia melewati perjuangan berat, berderai air mata kalau teringat anaknya, sementara di lab. dia jatuh bangun dalam eksperimen, kena tegur sana-sini oleh professor pembimbingnya. Belum lagi perasaan sedih seorang ibu yang dialaminya karena terpaksa berpisah dengan anak yang masih disusuinya. Setelah melihat beratnya perjuangan Ine untuk menyapih Tika (istilahnya: saling menyakiti baik ibu maupun anak), saya baru bisa memahami betapa berat tantangan yang dialami kawan saya tsb. Syukurlah kini mereka telah berkumpul kembali dan menikmati kehangatan kebersamaan dalam keluarga.

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Siapa ya ? Kok rasanya kita pernah ketemu…

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 30, 2007

Siang tadi di halte bis, seorang bapak datang dan duduk di sebelah saya. Lama nggak ngomong, tapi beliau menatap saya dan bertanya, “Siapa ya, rasanya saya koq pernah melihat anda”. Saya kaget karena punya perasaan yang sama. “Iya ya. Rasanya saya pernah ketemu bapak juga. Apakah bapak ini pak Suparman ?” (Pak Suparman itu teman di Nagoya tempo dulu, dan wajah beliau agak-agak mirip dengan pak Suparman). “Bukan”, sahut beliau. Saya bilang “Nama saya Anto, pak. Kerja di BPPT”. “Oalah, pantesan. Saya Kaseno”. Wah, ganti saya yang kaget. “Oo, Pak Kaseno, ya. Dulu kita kan ketemu saat kongres PPI Jepang di Gifu”. Akhirnya nyambung deh.
Pak Kaseno dulu studi S2-S3 di Nokodai tahun 94-99, dan sempat menjadi kandidat ketua PPI Jepang di Kongres PPI yang diselenggarakan di Gifu (97). Kongres tsb. diorganisir oleh Anang Sedyohutomo dan berhasil dengan sukses. Yang terpilih sebagai ketua saat itu adalah mas Witjaksono (Nokodai, Faperta UGM), dan beliau menjabat ketua PPI Jepang periode 97-99. Pak Kaseno saat itu kalau nggak salah duduk sebagai wakilnya, sedangkan saya saat itu diminta menjadi webmaster menggantikan mas LT. Handoko. Natsukashii….nama-nama lama yang dulu sering saya baca di milis PPI Jepang. Siang tadi kami akhirnya terlibat pembicaraan asyik, karena kami duduk bersebelahan.

Bertemu dengan kenalan lama secara tak terduga itu satu kejutan yang menyenangkan. Siapa kiranya yang berikutnya ketemu dengan cara ini yah ? :D

Note: Sebelum Pak Kaseno, teman lama yang saya ketemu dengan cara begini adalah Kustejo -teman sekelas di SMA- saat kami sedang belanja di hypermart SGM Solo. Pertemuan pertama sejak kami lulus SMA 18 tahun yll. :D

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Syahdu-nya Barzanji

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 28, 2007

Sore-sore ba’da Asar Ine dan Tika pergi ke tetangga sebelah rumah yang menyelenggarakan aqiqah atas kelahiran puteranya. Kebiasaan di kampung kami, pengajian dihadiri oleh ibu-ibu, dan selain ceramah, membaca Al Qur’an, juga sering diisi dengan menyenandungkan pujian. Kali ini diisi dengan pembacaan barzanji. Rasanya terharu mendengarnya. Syahdu. Taslim. Apalagi udara agak sejuk seperti ini. Jadi ingat masa-masa syahdu saat syukuran selesainya suluk (khalwat/i’tiqaf) di surau. Kami menyenandungkan barzanji, dan ketika tiba di bagian pujian kepada baginda Nabi SAW, semua berdiri melantunkan bait-bait pujian. Pertama kali saat ikut barzanji, air mata tak tertahan keluar. Rindu kami padamu ya Rasul.

Yaa Nabi Salaamun ‘alaika
Yaa Rasul Salaamun ‘alaika
Yaa Habib Salaamun ‘alaika
Salawaatu’llah ‘alaika

Ashraqa’l badru ‘alaina
Fakhtafat minhu’l buduru
Mithla husnika maa ra’aina
Qattu yaa wajhas-suruuri

Anta shamsun anta badrun
Anta nuurun fawqa nuuri
Anta Iksiirun wa ghaali
Anta misbaahu’s-suduuri

Yaa habibii yaa Muhammad
Yaa ‘arusa’l khaafiqayni
Yaa muayyad yaa mumajjad
Yaa imama’l qiblataini

Man ra’aa wajhaaka yas’ad
Yaa kariim al-waalidaini
Hawdhuka’s-saafi’l mubarrad
Wirdunaa yaum an nushuuri

‘aalim-us-sirri wa akhfaa
Mustajiibud-da’awaati
Rabbi farhamnaa jamii’a
Bijamii’is-saalihaati

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Siap-siap jadi suami siaga

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 28, 2007

Kandungan Ine sudah memasuki minggu ke-35. Tak terasa waktu kelahiran sudah semakin dekat. Kontraksi sudah sering terasa. Rencananya minggu depan, atau dua minggu lagi, saya mau ambil cuti besar 3 bulan, agar bisa lebih lama jaga di Solo. Saya tetap kerja di Jakarta, tetapi seminggu mungkin cuma dua-tiga hari an, dan sisa waktunya di Solo, naik pangkat  jadi suami siaga :-)   Maklum di rumah cuma ada Ine dan Tika, sedangkan Tika sedang aktif-aktifnya (ngomong buanyaak banget, emoh bobok, joged dan nyanyi sepanjang hari, ngobrak-abrik rumah, minta ganti-ganti DVD dari miki ke spongebob, ultraman cosmos, dst). Dengan cuti, bolong-bolong ketidakhadiran saya di kantor Insya Allah scr. administratif tidak dipermasalahkan.  Pekerjaan bisa saya lanjutkan dari rumah. Semoga saja semua lancar dan selamat dengan lindungan-Nya. Amin. 

Ditulis dalam keluarga | 7 Komentar »

37 tahun

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 28, 2007

Seminggu yll. alhamdulillah usia saya genap 37 tahun. Ine membuatkan nasi kuning dan suwir ayam. Ibu membawakan teh hangat (dalam ceret), dan mie. Ulang tahun kali ini tanpa kopi, untuk menghindari naiknya tensi…he he he

Ditulis dalam keluarga | 6 Komentar »

Es putar !!!

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 28, 2007

Sore ini tadi alhamdulillah keinginan saya terkabul. Merasakan lagi nikmatnya es putar. Kebetulan sempat saya foto nih. Selain es itu sendiri, isi yg lain : nangka dan tape ketan. Humm…..lezaat :D dan murah. Satu gelas Rp 2500,- (30 yen)

Ditulis dalam Indonesiaku | 2 Komentar »

Menjelaskan riset dengan bahasa sederhana itu sulit

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 27, 2007

Saat rapat CNS-ATM kemarin, saya disentil pak Sulis. “To, aku nggak faham tulisan-tulisanmu. Mbok kamu bikin dalam bahasa yang populer gitu lho, biar bisa diikuti orang lain”. He he he. Sebenarnya saya juga sudah berusaha menulis riset saya dengan bahasa populer dan dikirim ke milis kantor. Tapi adakalanya yang saya kirimkan cuma abstrak paper saja, shg. sangat teknis. Gomen nasai, pak.

Menjelaskan riset dengan bahasa yang sederhana memang sulit. Kebetulan riset saya banyak berkaitan dengan komputasi sisi teori (pattern recognition), sehingga sulit untuk dijelaskan dengan bahasa yg sederhana walaupun bukan hal yang mustahil. Yang enak itu kalau riset yang sifatnya aplikatif. Orang bisa lebih mudah mencerna-nya. Apalagi kalau ada demo-nya seperti robot, misalnya. Wah, tanpa cerita sekalipun, orang akan berkerumun melihat robot yang bergerak tsb.

Saat di Chukyo University, saya mengalami kesulitan yang sama dalam membuat pamflet untuk  mengenalkan riset yang saya lakukan ke anak-anak bachelor semester 4. Mereka lebih banyak berkumpul di lab. yang memiliki sesuatu untuk dipertunjukkan. “Ugoku mono ga areba, hito ga kurundesuyo !” (kalau ada sesuatu yang bergerak, orang pasti datang ke tempat kita) kata Hirana sensei. 

Tetapi ada juga professor yang berusaha menjelaskan riset yang sulit dalam bidang matematika dengan gambar.  Beliau cerita, saat masih kuliah dulu setiap presentasi selalu ditanya oleh pembimbingnya “E ni suru no wa dekinain desuka ne ?”  Bisa nggak ya, presentasimu ini kamu sampaikan dalam gambar (karikatur) ? Mungkin ini sejalan dengan peribahasa 百聞一見に如かず (hyakubun ikken ni shikazu) : melihat itu mengalahkan 100 kali mendengar.

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tika ikut ibu pengajian

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 27, 2007

Sabtu sore, Ibu ke pengajian. Tika mau ikut, karena kalau di rumah nggak ada teman main. Bapak sedang cemberut baca buku. :-)

Naah, bagus nduk. Kalau mau pengajian memang pakai kerudung. Tapi yang dibawa koq jidohanbaiki (vending machine) ? Mestinya Al Quran dong :-)

Ditulis dalam keluarga | Tinggalkan sebuah Komentar »

Hujan dan payung

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Masih seputar hujan. Tahun 2002, saat gakkai (conference) ke Singapura, saya kelupaan membawa payung. Benar-benar lupa, kalau negara yang saya kunjungi itu negara tropis. Ternyata kekhawatiran saya benar. Saat jalan-jalan di Orchad road, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Sangat deras, sehingga terpaksa saya berteduh di mal. Sayang tidak ada ojek payung di sana. Saya muter-muter mal tsb. untuk beli payung. Mungkin nasib yang kurang baik, sehingga nggak ada satupun toko yang jual payung. Karena menyerah, saya balik ke depan dan tanya ke mbak-mbak yang di information counter. “Mbak, di sini ada yang jual payung nggak ?” “Nggak ada, mas. Tapi kalau mau, boleh beli payung saya”. Apaboleh buat, terpaksa saya beli payung mbak itu. Tapi ternyata payung si mbak itu warnanya pinku, benar-benar jreng ! Dengan gambar hello kitty di sana sini. Malu sebenarnya, masak saya jalan-jalan pakai payung warna pink. Entar dikira hombreng. Tapi karena nggak ada alternatif lain, terpaksa payung itu saya beli juga, dan saya pakai sampai ke hotel. Selamat sampai hotel, saya nggak berani keluar kemana-mana pakai payung itu. Saya kasih liat ke teman-teman lab. mereka ketawa semua. Iya sih, mana ada cowok pakai payung pink menyala. Tapi ada juga manfaatnya sekarang. Soalnya Tika rupanya senang banget dengan payung itu.

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Chaos & Fractal

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Siang tadi sempat ngobrol dengan mas Purwoadi dan mas Witjak di kantin, sambil makan siang. Topiknya adalah bagaimana konsep yang sulit itu bisa dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan menarik. Mas Pur cerita, saat kuliah di Perancis ada satu professor yang pandai membawakan materi, sedemikian hingga para siswa-nya manggut-manggut mengerti, dan merasa bahwa mudah bagi mereka menghitung/mengimplementasikannya. Tetapi begitu sampai di rumah, saat dicoba sendiri, ternyata busyeet…sulitnya minta ampun. :D

Satu topik yang menarik adalah bagaimana konsep fractal bisa dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Cerita mas Pur, dosennya memberi misal dengan cara memutarkan piring. Kau lihat, kalau kita perhatikan, dari sisi terluar sampai ke dalam, ke dalam, dan ke dalaam lagi, bentuknya akan sama. Itulah fractal :D   Bagaimana dengan chaos ? Kata mas Pur, chaos itu fenomena yang sepintas acak, tetapi keacakan itu sebenarnya bisa dijelaskan, karena berasal dari pengaruh perubahan nilai sebuah variabel.

Benar nggak ya penjelasan di atas ?  Kang Acep Purqon kalau membaca posting ini mohon pencerahannya ya :-)

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ame ame…hujan hujan…

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Ame adalah kata Jepang untuk hujan. Selain “ame” ada pula istilah “doshaburi”, yaitu hujan lebat, sebagaimana yang mengguyur Jakarta belakangan ini. Demikian juga di Solo, hujan turun sangat lebat. Alhamdulillah. Hujan ini membuat udara yang sebelumnya panas buanget menjadi sejuk (di rumah Solo, suhu ruangan kadang hampir 34 C).

Siang tadi saat keluar kantor, ternyata masih sedikit gerimis. Segera saya kembangkan payung. Saat mengembangkan payung, saya jadi teringat obrolan dengan teman-teman dulu, saat kami masih belajar bahasa Jepang di Japan Foundation (Summit Mas Jakarta). Katanya, bagi cowok mendingan basah-basah berhujan-hujan daripada bawa payung ! ha ha ha :D Rupanya bawa payung itu menurunkan gengsi cowok. Saat itu kami masih berusia sekitar 20. Entah bagaimana anak-anak muda sekarang. Masihkah mereka berpaham demikian ? Semoga saja tidak. Hanya saja, tadi saat di jalan memang jarang saya lihat orang yang membawa payung, baik pria maupun wanita. Sudah sakti semua rupanya.

Sampai di depan Ratu Plaza, saya lihat banyak anak-anak, ibu-ibu dan ada juga kaum lelaki yang membawa payung sambil menawarkan kalau-kalau ada orang yang mau dipayungi. Ojek payung : itu profesi yang muncul saat hujan lebat seperti ini. Berapa tarif-nya ya ? Sayang saya tadi lupa menanyakannya, karena saya bawa payung sendiri, jadi nggak pakai jasa mereka. Di antaranya, terlihat ada beberapa anak perempuan mungkin masih usia SD, berlari-lari berbasah-basah mencari orang yang mau memakai payung mereka. Muramkah mereka ? Oh ternyata tidak. Wajahnya ceria berseri-seri. Sepertinya berhujan-hujan seperti ini sangat menyenangkan bagi mereka. Kalau hujan, saya selalu terbayang, alangkah nikmatnya kalau saat ini berada di rumah, berkumpul bersama keluarga. Usai hujan biasanya terdengar “kung-kong kung-kong” suara katak. Suara katak itu mengisi keheningan suasana, menggantikan derunya kendaraan yang berlalu lalang tiap hari. Sayang sekarang sepertinya populasi katak terdesak oleh berkembangnya perumahan, sehingga suara katak mungkin tidak terdengar lagi di rumah kami. Saat masih kecil dulu, kalau hujan telah reda, kami berlari-lari mengejar laron, menangkapi-nya dan mengumpulkannya. Tapi entah kenapa ya, koq sekarang saya jarang melihat laron lagi. Padahal saya pengin mengajak Tika lari-lari menangkap laron, agar tidak terlalu asyik melihat ultraman di TV.

Tapi hujan bisa juga membawa kesan melankolik, misalnya bagi mereka yang patah hati, seperti yang diungkapkan dalam lagu Minang ini :

Hujan, jikala hujan hati den ibo.
Takana maso kisah nan lamo, maso sapayuang kito baduo
Hujan, mimpi den paneh manganduang hujan
Kironya mimpi manjadi nyato, kasiah tajalin, putuih jadinyo

Ternyata hujan bisa membawa berbagai makna dan suasana, yah

Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mencari toko bahan makan Jepang di Jakarta

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 25, 2007

Informasi dari ibu-ibu teman Ine di Nagoya :

  1. Udon mudah ditemui di restoran Jepang di Jakarta.
  2. Soyu bisa diperoleh di Carrefour, Hero dan supermarket besar yang lain. Kikkoman ada tetapi dengan nama “soy souce”.
  3. Dashi bisa diperoleh di Daiso Kelapa Gading. Daiso juga menjual berbagai produk Jepang yang lain.
  4. Di Cikini ada restoran Jepang yang menyediakan makanan tradisional Jepang dengan “harga terjangkau” (terjangkau oleh siapa ya ? he he he). Dikatakan kalau rasa makanan di restoran tersebut asli Jepang tanpa disesuaikan dengan lidah Indonesia. Katanya juga, ikan yang dipakai untuk sashimi diimpor dari Jepang.
  5. Restoran sushi banyak terdapat di Jakarta. Diantaranya “ichiban sushi” lagi terkenal.
  6. Di daerah blok m ada beberapa supermarket khusus makanan jepang. Salah satu diantaranya “Papaya”, kalau dari arah sudirman di pertigaan blok M plaza belok ke kiri. Selain Papaya ada juga “Kamome”, di pertigaan belok kanan.
  7. Di atas Papaya ada juga “Daiso”, tapi kecil dan tidak selengkap yang berada di Mall Artha Kelapa Gading. Kalau di Jepang barang-barang di “Daiso” serba 100 yen, di “Daiso” Indonesia, harga barangnya Rp 17 ribu-an.
  8. Di Wijaya Grand Center (dekat blok A dan blok M dan Darmawangsa Square Jakarta Selatan) ada supermarket “Cosmo”. Ikan khusus untuk sashimi dan sushi yang dijual di sini sangat bagus kualitasnya
  9. Maccha : pesan saja green tea frappucino di Starbucks …hiks…mahalnya (^^;

Terima kasih kepada ibu-ibu (bu Teni, bu Devi dan bu Novi) yang telah memberikan informasi demikian lengkapnya, sehingga bapak-nya Tika tidak bingung harus kemana kalau mencari bahan makanan Jepang. Yang bingung adalah uangnya..he he he :D

Ditulis dalam gado-gado, Indonesiaku, japanology | 38 Komentar »

Tipe soal ujian

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 24, 2007

Beberapa kali saya mengadakan ujian bagi mahasiswa, baik saat mengajar di Jepang maupun di Indonesia. Tipe-tipe soal saya sbb.

  1. Soalnya tidak terlalu sulit, tetapi jumlahnya dibuat banyak, dan harus diselesaikan dalam waktu yang relatif pendek. Soal itu jelas bisa diselesaikan dalam waktu yang diberikan, tetapi dengan syarat konsentrasi penuh dan harus cepat. Dengan begitu, nggak ada kesempatan untuk mencontek teman sebelah.
  2. Salah satu soal dibocorkan seminggu sebelumnya, tetapi levelnya dibuat sangat sulit. Mahasiswa diminta untuk mencari jawabannya baik lewat diskusi teman, buku referensi pendukung dsb. Tujuan saya dengan tipe soal semacam ini adalah membantu siswa agar mendapat nilai baik (setidaknya satu soal bisa dijawab benar), tetapi tetap ada perjuangan yang harus dibayar.
  3. Tugas membuat laporan atas satu tema tertentu. Tema besarnya saya tentukan, dan selanjutnya saya bebaskan mencari sendiri yang tema spesifik yang mereka sukai , bisa dari jurnal atau bisa juga dari buku teks maupun sumber di internet. Laporan yang dibuat terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, mereka saya minta meringkas materi yang dipilih. Bagian kedua, saya tugaskan mereka mengkritisi materi tsb. Masing-masing satu lembar A4. Sasaran yang ingin saya capai agar siswa terpacu untuk berfikir kritis, tidak sekedar menerima mentah-mentah, tulisan atau pendapat orang lain. Benar tidaknya pendapat mereka bukan hal yang terlalu saya pentingkan. Yang dinilai adalah seberapa “menarik” mereka mampu mengkritisi masalah tsb.

Yang jelas saya tidak ingin membuat ujian berupa multiple choice. Harus essay. Yang repot adalah jika kelasnya besar. Beban berat bagi saya untuk mengoreksi hasil ujian mereka. Resiko sih ya…..(^^;
BTW, seorang kawan hari ini cerita kalau siswanya minta “Pak, ujiannya jangan dibuat yang soal cerita dong”. Teman saya berfikir keras, mengingat-ingat “soal cerita” itu apa artinya ya ? (Kawan tsb. dari S1 sampai S3 sekolah di AS, jadi lama meninggalkan Indonesia). Baru kemudian doi ingat kalau yg dimaksud adalah “essay”. Hahahaha…..lamaa sekali nggak ketemu istilah itu: “soal cerita”. Rupanya istilah ini masih dipakai ya di Indonesia ? Natsukashii naa :D   Istilah jadul lain spt. “di-straap” apa masih dipakai ya di Indonesia ?

Ditulis dalam kuliah | 1 Komentar »

Karaoke yuuk

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 24, 2007

Saya diajak mas Andut untuk bareng-bareng karaoke di Solo, akhir pekan ini. Di Solo karaoke untuk keluarga katanya ada dua : Juke box dan NAV. Keduanya terletak di daerah Mesen. Kalau nggak salah, tarifnya Rp 35 ribu per jam. Tarif ini katanya berdasarkan ruang: begitu sistem di Indonesia. Kalau di Jepang ada dua soalnya, berdasarkan ruang, atau berdasarkan banyaknya orang.

Juke box ? Kata Ine, dia sempat melihat Juke box di Solo Square. Bentuknya bener-bener BOX ! Bukan sekedear nama. Tempatnya sempit, hanya cukup untuk dua orang duduk berdampingan. Mirip tempat untuk bikin pas foto di Jepang, atau mungkin tempat bikin purikura. ha ha ha ha….Nggak kebayang deh ! Saya  berdua dengan mas Andut duduk berdesak-desak, dan nyanyi keras-keras di tempat yang sesempit itu. Mirip burung dalam sangkar, ditutup, dan didengar kicaunya, RTFL  :D Tapi sepertinya nggak mungkin deh tempatnya sesempit itu, soalnya ajakannya bersama keluarga ramai-ramai. Tempatnya mestinya lebih luas. Wah, mulai dari sekarang harus ngumpulin lagu dulu, biar nggak bengong ngabisin waktu.

Ditulis dalam keluarga | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tawaran pekerjaan baru

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 23, 2007

Kemarin saya ditelpon mas Husni (Dr.Husni Fahmi) mengenai penawaran untuk membantu Kominfo di bidang BIO-ID. Sore-nya saya dikontak bu Henrietta dari Kominfo agar mengirimkan CV. Awalnya saya dengar sebagai “BIO-IT” dan saya fikir ini berkaitan dengan biomedical engineering, atau bioinformatics. Ternyata setelah saya konfirmasikan ke mas Husni, yang benar adalah BIO-ID, bukan BIO-IT. BIO-ID itu adalah Bio-identification. Mungkin lebih tepatnya adalah biometrics.

Sebenarnya saya berminat untuk memulai riset di bidang biometrics, tapi tangan dan waktu saya sangat terbatas dan tidak mungkin menghandle riset itu. Kegiatan saya di kantor saat ini diarahkan ke Datamining. Walau ada interseksinya dengan biometrics di bagian pattern recognition-nya, tetapi tetap saja perlu pendalaman khusus agar bisa berkiprah di biometrics (terutama masalah feature extraction).

Kadang suka “ngiri” ke sahabat saya : mas Rahmat (Dr.Rahmat Widyanto @ UI) yang punya pasukan elit mahasiswa dari UI untuk mewujudkan ide-ide riset cemerlang beliau. Saya yang bekerja di LPND tentu saja serba terbatas dan tidak memiliki “pasukan” untuk membantu merealisasikan ide tsb. sehingga semua harus saya tangani sendiri. Beberapa kali saya mendapat email dari mahasiswa yang ingin konsultasi. Saya baru terfikir untuk menawarkan kesempatan supervisi riset (kolaborasi), agar para mahasiswa tsb. dapat membantu riset yang saya tidak sempat terlibat langsung di dalamnya. Dulu mas Warsito pernah merintis supervisi riset lewat internet bagi mahasiswa Indonesia. Saya saat itu masih tinggal di Jepang dan ikut mendaftarkan diri. Sayang tidak ada kejelasan kelanjutannya.

Ditulis dalam catatan kerja, research | 5 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.