16 dan 17 Oktober kemarin, akhirnya Tika dan Ine dapat berliburan juga ke Yogya, setelah proses renovasi rumah Solo selesai. Sesampai di Yogya, Tika merayakan ulang tahun sekali lagi bersama kakak-kakaknya (puteranya bu De Rita). Kami tidak bermalam di rumah eyang kakung (papanya Ine), karena kondisi pasca gempa yang belum memungkinkan.
Keesokan harinya (17 Oktober), kami bertiga ziarah ke makam Mama. Almarhumah Mama wafat tiga tahun yll. sebulan sebelum Tika lahir. Sebenarnya saat itu Mama telah bersiap-siap ke Nagoya, bersama Ibu Solo, untuk menemani Ine melahirkan. Tetapi akhirnya rencana tsb. tidak dapat terlaksana, karena Mama sudah dipanggil ke hadirat-Nya karena sakit. Yang menurun ke Tika dari Mama, sepertinya logat Banyumasannya
Akhir-akhir ini kalau mengucapkan kata ”kaya” (=seperti), misalnya pada “kaya itu ya….”, Tika melafalkannya sbg. “kayaq”.
Siangnya, kami jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza yang terletak di jalan Adisucipto. Plazanya sangat besar dan megah. Tujuan pertama adalah gerai Starbucks ! Sejak pulang ke tanah air, Ine sudah lama sekali ingin merasakan kembali maccha (抹茶), teh kesukaannya di Jepang. Warnanya hijau, kental dan aromanya harum dan citarasanya lezaat.
Maccha proses pembuatannya agak lain dengan teh hijau (ryokucha). Proses pembuatannya menurut penjelasan di wikipedia, setelah daunnya diuapi (steam), dikeringkan, dan dihaluskan menjadi serbuk. Komponen selain daun seperti misalnya urat daun diambil, sehingga diperoleh serbuk yang murni. Selanjutnya dihaluskan lagi dengan mortar. Macha di Jepang biasa dipakai dalam upacara minum teh. Di Jepang maccha dijual dalam bentuk teh instan, atau adakalanya juga dalam bentuk kue maupun es krim (HaagenDazs). Di Indonesia selama ini kami tidak pernah temukan maccha. Naah, kebetulan belum lama ini Starbuck ngeluarin green tea frappucino alias maccha (gelas kanan pada foto di bawah). Alhamdulillah kami bisa merasakannya kembali. Tika pun kelihatan senang banget dengan maccha maupun kue-nya. Tapi ini sesekali saja. Harganya mahaal banget buat kantong saya -sekitar Rp 33 ribu untuk ukuran medium- jadi nggak berani sering-sering ke sini. Kecuali kalau sudah seperti Oom Gun baru saya berani sering ke sini
Kali ini sekedar mengobati kerinduan akan makanan Jepang. Oh ya, walaupun ukurannya medium, ternyata kalau buat kami ukurannya cukup besar. Kalau di Jepang ukuran seperti ini barangkali L ya ? Suasana di dalam starbuck sama sebagaimana halnya di Starbuck Jepang. Barangkali karena sudah standard yah ? Di Jawa Tengah, sepertinya Starbuck hanya buka satu tempat, di Plaza ini saja.


Setelah itu kami ke Carefour. Tika senang banget karena dapat naik kereta yang berbentuk mobil. Kata mbak Diah di Carefour dapat ditemukan bumbu-bumbu masakan Jepang, cukup lengkap buat membuat Odeng. Tapi setelah keliling ke sana kemari, kami tidak temukan bumbu yang dimaksud. Sebenarnya kami pengin beli misoshiru, dan kalau ada maccha instan
Barangkali kelak kami perlu tanya lebih detail ke mbak Diah.
