Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Oktober 2007
    S S R K J S M
    « Sep   Nov »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Oktober 26th, 2007

Hujan dan payung

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Masih seputar hujan. Tahun 2002, saat gakkai (conference) ke Singapura, saya kelupaan membawa payung. Benar-benar lupa, kalau negara yang saya kunjungi itu negara tropis. Ternyata kekhawatiran saya benar. Saat jalan-jalan di Orchad road, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Sangat deras, sehingga terpaksa saya berteduh di mal. Sayang tidak ada ojek payung di sana. Saya muter-muter mal tsb. untuk beli payung. Mungkin nasib yang kurang baik, sehingga nggak ada satupun toko yang jual payung. Karena menyerah, saya balik ke depan dan tanya ke mbak-mbak yang di information counter. “Mbak, di sini ada yang jual payung nggak ?” “Nggak ada, mas. Tapi kalau mau, boleh beli payung saya”. Apaboleh buat, terpaksa saya beli payung mbak itu. Tapi ternyata payung si mbak itu warnanya pinku, benar-benar jreng ! Dengan gambar hello kitty di sana sini. Malu sebenarnya, masak saya jalan-jalan pakai payung warna pink. Entar dikira hombreng. Tapi karena nggak ada alternatif lain, terpaksa payung itu saya beli juga, dan saya pakai sampai ke hotel. Selamat sampai hotel, saya nggak berani keluar kemana-mana pakai payung itu. Saya kasih liat ke teman-teman lab. mereka ketawa semua. Iya sih, mana ada cowok pakai payung pink menyala. Tapi ada juga manfaatnya sekarang. Soalnya Tika rupanya senang banget dengan payung itu.

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Chaos & Fractal

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Siang tadi sempat ngobrol dengan mas Purwoadi dan mas Witjak di kantin, sambil makan siang. Topiknya adalah bagaimana konsep yang sulit itu bisa dijelaskan dengan bahasa yang sederhana dan menarik. Mas Pur cerita, saat kuliah di Perancis ada satu professor yang pandai membawakan materi, sedemikian hingga para siswa-nya manggut-manggut mengerti, dan merasa bahwa mudah bagi mereka menghitung/mengimplementasikannya. Tetapi begitu sampai di rumah, saat dicoba sendiri, ternyata busyeet…sulitnya minta ampun. :D

Satu topik yang menarik adalah bagaimana konsep fractal bisa dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Cerita mas Pur, dosennya memberi misal dengan cara memutarkan piring. Kau lihat, kalau kita perhatikan, dari sisi terluar sampai ke dalam, ke dalam, dan ke dalaam lagi, bentuknya akan sama. Itulah fractal :D   Bagaimana dengan chaos ? Kata mas Pur, chaos itu fenomena yang sepintas acak, tetapi keacakan itu sebenarnya bisa dijelaskan, karena berasal dari pengaruh perubahan nilai sebuah variabel.

Benar nggak ya penjelasan di atas ?  Kang Acep Purqon kalau membaca posting ini mohon pencerahannya ya :-)

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ame ame…hujan hujan…

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 26, 2007

Ame adalah kata Jepang untuk hujan. Selain “ame” ada pula istilah “doshaburi”, yaitu hujan lebat, sebagaimana yang mengguyur Jakarta belakangan ini. Demikian juga di Solo, hujan turun sangat lebat. Alhamdulillah. Hujan ini membuat udara yang sebelumnya panas buanget menjadi sejuk (di rumah Solo, suhu ruangan kadang hampir 34 C).

Siang tadi saat keluar kantor, ternyata masih sedikit gerimis. Segera saya kembangkan payung. Saat mengembangkan payung, saya jadi teringat obrolan dengan teman-teman dulu, saat kami masih belajar bahasa Jepang di Japan Foundation (Summit Mas Jakarta). Katanya, bagi cowok mendingan basah-basah berhujan-hujan daripada bawa payung ! ha ha ha :D Rupanya bawa payung itu menurunkan gengsi cowok. Saat itu kami masih berusia sekitar 20. Entah bagaimana anak-anak muda sekarang. Masihkah mereka berpaham demikian ? Semoga saja tidak. Hanya saja, tadi saat di jalan memang jarang saya lihat orang yang membawa payung, baik pria maupun wanita. Sudah sakti semua rupanya.

Sampai di depan Ratu Plaza, saya lihat banyak anak-anak, ibu-ibu dan ada juga kaum lelaki yang membawa payung sambil menawarkan kalau-kalau ada orang yang mau dipayungi. Ojek payung : itu profesi yang muncul saat hujan lebat seperti ini. Berapa tarif-nya ya ? Sayang saya tadi lupa menanyakannya, karena saya bawa payung sendiri, jadi nggak pakai jasa mereka. Di antaranya, terlihat ada beberapa anak perempuan mungkin masih usia SD, berlari-lari berbasah-basah mencari orang yang mau memakai payung mereka. Muramkah mereka ? Oh ternyata tidak. Wajahnya ceria berseri-seri. Sepertinya berhujan-hujan seperti ini sangat menyenangkan bagi mereka. Kalau hujan, saya selalu terbayang, alangkah nikmatnya kalau saat ini berada di rumah, berkumpul bersama keluarga. Usai hujan biasanya terdengar “kung-kong kung-kong” suara katak. Suara katak itu mengisi keheningan suasana, menggantikan derunya kendaraan yang berlalu lalang tiap hari. Sayang sekarang sepertinya populasi katak terdesak oleh berkembangnya perumahan, sehingga suara katak mungkin tidak terdengar lagi di rumah kami. Saat masih kecil dulu, kalau hujan telah reda, kami berlari-lari mengejar laron, menangkapi-nya dan mengumpulkannya. Tapi entah kenapa ya, koq sekarang saya jarang melihat laron lagi. Padahal saya pengin mengajak Tika lari-lari menangkap laron, agar tidak terlalu asyik melihat ultraman di TV.

Tapi hujan bisa juga membawa kesan melankolik, misalnya bagi mereka yang patah hati, seperti yang diungkapkan dalam lagu Minang ini :

Hujan, jikala hujan hati den ibo.
Takana maso kisah nan lamo, maso sapayuang kito baduo
Hujan, mimpi den paneh manganduang hujan
Kironya mimpi manjadi nyato, kasiah tajalin, putuih jadinyo

Ternyata hujan bisa membawa berbagai makna dan suasana, yah

Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.