Menjelaskan riset dengan bahasa sederhana itu sulit
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Oktober 27, 2007
Saat rapat CNS-ATM kemarin, saya disentil pak Sulis. “To, aku nggak faham tulisan-tulisanmu. Mbok kamu bikin dalam bahasa yang populer gitu lho, biar bisa diikuti orang lain”. He he he. Sebenarnya saya juga sudah berusaha menulis riset saya dengan bahasa populer dan dikirim ke milis kantor. Tapi adakalanya yang saya kirimkan cuma abstrak paper saja, shg. sangat teknis. Gomen nasai, pak.
Menjelaskan riset dengan bahasa yang sederhana memang sulit. Kebetulan riset saya banyak berkaitan dengan komputasi sisi teori (pattern recognition), sehingga sulit untuk dijelaskan dengan bahasa yg sederhana walaupun bukan hal yang mustahil. Yang enak itu kalau riset yang sifatnya aplikatif. Orang bisa lebih mudah mencerna-nya. Apalagi kalau ada demo-nya seperti robot, misalnya. Wah, tanpa cerita sekalipun, orang akan berkerumun melihat robot yang bergerak tsb.
Saat di Chukyo University, saya mengalami kesulitan yang sama dalam membuat pamflet untuk mengenalkan riset yang saya lakukan ke anak-anak bachelor semester 4. Mereka lebih banyak berkumpul di lab. yang memiliki sesuatu untuk dipertunjukkan. “Ugoku mono ga areba, hito ga kurundesuyo !” (kalau ada sesuatu yang bergerak, orang pasti datang ke tempat kita) kata Hirana sensei.
Tetapi ada juga professor yang berusaha menjelaskan riset yang sulit dalam bidang matematika dengan gambar. Beliau cerita, saat masih kuliah dulu setiap presentasi selalu ditanya oleh pembimbingnya “E ni suru no wa dekinain desuka ne ?” Bisa nggak ya, presentasimu ini kamu sampaikan dalam gambar (karikatur) ? Mungkin ini sejalan dengan peribahasa 百聞一見に如かず (hyakubun ikken ni shikazu) : melihat itu mengalahkan 100 kali mendengar.