Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Arsip untuk November 10th, 2007

Pengalaman pertama naik Lion Air

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada November 10, 2007

Kemarin pertama kali saya memakai Lion Air untuk pulang ke Solo dari Jakarta. Kebetulan ada tiket promo, sehingga bisa dapat murah, sekitar Rp 300 ribu an. Berangkat dari St.Gambir, saya agak was-was. Uang di dompet cuma sekitar Rp 170 ribu, sedangkan saldo ATM sekitar Rp 100 ribu, sehingga tidak bisa diambil. Praktis uang yang bisa dipakai hanya yang di dompet. Terpaksa saya bawa yen, dengan harapan bisa ditukar nantinya di bandara. Setelah beli donat pesanan Tika dan mengganti jadwal kereta yg sudah terlanjur dibeli, dengan uang mepet, saya berangkat dari Gambir pakai bis Damri Bandara, Rp 15 ribu. Sampai di Cengkareng, turun di terminal IA. Saya tengok sana-sini mencari money changer. Ternyata di terminal itu tidak ada money changer, dan harus ke terminal II yang jauh amat. Ya sudah, apa boleh buat, saya harus berangkat dengan sisa rupiah yang ada. Sampai di dalam, saya mengikuti petunjuk di panel, bahwa check in untuk Lion Air ke Solo adalah di counter no.9. Tetapi sampai di sana, ternyata informasi yang tampil di panel tadi nggak benar. Di atas tiap counter ada tulisan “Jawa & Bali”, “Sumatera”, “Kalimantan”, dst. Ternyata informasi itulah yang benar, sehingga saya terpaksa pindah dan antre lagi ke counter 16. Setelah check in saya diarahkan untuk ke gate A3. Uang di dompet tinggal sekitar Rp 30 ribu,- Buat makan siang juga nggak bisa, dan di dalam ternyata tidak ada yang jual aqua. Duuh…nasiib…nasiib.

Sampai di dalam, saya agak bingung. Informasi yang tertulis di Panel menunjukkan kalau penerbangan Lion ke Solo harus lewat gate A4. Koq nggak sesuai dengan yang di boarding pass, ya ? Setelah tanya ke petugas, ternyata yang harus diikuti adalah yang tertulis di boarding pass. Duh..aduuh….negeriku. Mengapa koq ngasih informasi sepenting ini sampai salah-salah lho. Atau barangkali memang orang Indonesia jarang memperhatikan informasi di panel, sehingga dua kali informasi yang ditampilkan itu keliru sekalipun dipandang tidak perlu dikoreksi. Mungkin bagi orang Indonesia tidak bermasalah. Tetapi saya bayangkan kalau ada orang Jepang yang bermaksud memakai jasa penerbangan domestik lewat terminal ini, tentu mereka akan bingung dan menggerutu. Malah mungkin was-was. Maksud hati mau ke Surakarta, ternyata terdampar di Bengkulu, gara-gara mengikuti informasi salah yang tampil di panel. Sepertinya memberikan informasi yang lengkap dan teliti memang belum menjadi budaya kita.

Setelah mendekati jadwal boarding, saya masuk ke ruang tunggu. Alhamdulillah di sana disediakan air minum gratis buat penumpang Lion & Wings air. Lega rasanya, setelah 3 jam kehausan akhirnya tenggorokan saya terbasahi juga. Pesawat akhirnya terbang juga setelah terlambat sekitar 10 menit. Agak khawatir juga karena cuaca kurang bagus. Langit masih mendung. Saat pesawat siap-siap take off, di belakang saya terdengar nada panggil HP. Aduuh…brengsek bener nih orang.  Sejak tadi sudah diingatkan oleh pramugari agar HP dimatikan, dan peringatan itu diulang-ulang, tapi tetap saja dia cuek, sedang baca koran. Penumpang seperti inilah yang pernah disindirkan oleh kakak saya yang kerja jadi awak kabin. Dia paling jengkel kalau melihat penumpang sibuk baca koran saat dijelaskan cara pemakaian alat dalam kondisi darurat. Akhirnya saat terjadi kecelakaan atau kondisi darurat, penumpang seperti itulah yang membuat masalah, karena dalam kondisi panik tidak mengetahui bagaimana memakai alat-alat yang disediakan. Sok pintar, tidak mengetahui bahwa masa-masa kritis saat penerbangan adalah saat tinggal landas, dan terutama saat landing. Saya tegur ybs. “Pak, matikan HP nya, Pak. Bahaya itu !”. Dia akhirnya mematikan, tanpa berkata satu apapun.

Naah, selama penerbangan ada satu hal yang menarik bagi saya. Di kantong depan saya, selain majalah-majalah penerbangan, diselipkan juga satu buklet kecil doa dalam perjalanan, yang disiapkan untuk 5 agama : Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Waah, ini baru kejutan. Nggak pernah saya temukan buklet semacam ini di penerbangan lain, baik yang di Jepang maupun negara lain. :D

Mendekati akhir perjalanan, pesawat mulai turun dan pelan-pelan menuju ke bandara Adisucipto Solo. Ini adalah masa-masa yang paling kritis dan beresiko dalam perjalanan udara. Ada kejadian yang menjengkelkan lagi. Begitu pesawat menyentuhkan roda di landasan, dan mulai mengurangi kecepatan, orang yang duduk di belakang saya tadi langsung menyalakan HP. Langsung, saya teriak : Pak…jangan dinyalakan dulu. Masih bahaya nih !” Saya benar-benar jengkel. Goblog  bener ini orang ! Sok aksi bener, nggak mau ketinggalan barang satu detik untuk standby dengan HP nya, tanpa peduli keselamatan penumpang yang lain. Apa dia nggak pernah dengar ya, kalau hal seperti itu sangat mengganggu proses pendaratan pesawat. Kalau nggak pernah dengar, setidaknya kan sudah diingatkan oleh pramugari untuk tidak menyalakan HP selama di penerbangan. Resiko mengundang kecelakaan sangat tinggi. Apa sih susahnya mengikuti aturan ? Toh menunggu dengan sabar barang tiga menit hingga pesawat benar-benar berhenti kan tidak akan mengurangi hartanya walau satu rupiah sekalipun ! Apalagi tadi dia nyalakan saat pesawat baru saja menyentuh landasan. Setelah pesawat mendarat dengan selamat dan masih jalan, banyak nada HP mulai dinyalakan. Hmm…inilah karakter orang Indonesia. Serba nggak sabar untuk menyalakan HP-nya. Buat apa sih buru-buru ? Entahlah. Saya nggak tahu jawabannya.

Ditulis dalam potret Indonesiaku | 8 Komentar »