Sore ini sekitar pk.16.30, hujan lebat disertai angin kencang kembali menerpa Solo. Langit gelap, kilat menyambar-nyambar dan guntur menggelegar. Tak berapa lama, listrik padam. Tika sudah mulai ngantuk, dan tidur di ruang tengah (foto kanan). Untung sebelumnya, kami sudah mengantisipasi padamnya listrik, sehingga ember sudah terisi air penuh. Air yang semula berasal dari pompa listrik, saya ubah ke PAM, tetapi entah kenapa air koq tidak mengalir. Wah, berabe nih. Jadi air di ember kami pakai berhemat-hemat untuk wudlu, dan mandi. Saya kontak ke teman di Banyuanyar, katanya listrik padam juga. Sepertinya pemadaman ini merata ke berbagai daerah di Solo.
Saat hujan sudah agak reda, saya pergi ke warung untuk membeli lilin dan korek api. Waah, rasanya seperti kembali ke 30 tahun yll. saat kami pertama kali menempati kompleks ini (1978). Listrik saat itu belum masuk ke perumahan, sehingga lilin dan teplok jadi alat penerangan utama. Kadang geli rasanya kalau membayangkan sebelumnya kami bertahun-tahun tinggal di Jepang yang hampir tidak pernah ada pemadaman listrik, dan sekarang kami harus menyalakan lilin karena listrik padam. Begitu lilin menyala, rasanya nyaman. Listrik yang padam, membuat suasana kompleks jadi sepi dan hening. Enak rasanya, cuma saja saya nggak bisa mengerjakan tugas.
Tika kemudian bangun dan takjub melihat rumahnya yang hanya diterangi sebatang lilin. Agar tidak sepi, saya ambil gitar dan kami nyanyikan berbagai lagu anak-anak. Tika ternyata terhibur dan berjoget ria walaupun hanya diterangi lilin. Nggak kalah sama Dewi Persik…hahahaha.
Sekitar pk.19.30 akhirnya listrik kembali menyala.Tapi seperti sebelumnya, separuh kompleks masih padam. Berarti benar dugaan kami, bahwa saluran listrik di kompleks ini terbagi dua. Rumah bapak-ibu termasuk yang masih padam hingga saat ini (21.00). Katanya ada trafo yang meledak, sehingga saluran listrik di area tsb. masih belum bisa dipulihkan.