Hari ke-5 Alya : periksa bilirubin, vaksinasi
Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 11, 2007
Senin pagi, saya menemani Tika ke sekolah. Awalnya Tika ogah-ogahan ke sekolah, setelah seminggu “cuti”. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya mau juga, dengan diantar bapak & eyangkakung. Usai sekolah, kami berempat (Anto-Ine-Tika-Alya) ke RS PKU Muhammadiyah, tempat prakteknya tante Rusma. Sampai di RS, Alya diperiksa dr.Rusma, Sp.A. Katanya memang Alya agak kuning, sampai ke paha. Lewat pengamatan visual, dokter memperkirakan level kuning Alya: kremer 4 (bagaimana ejaan kremer yang benar ya ?). Cara mengeceknya mirip cara mengecek mukumi (bengkak) bagi ibu hamil. Kulit bayi ditekan dengan jari, dan dilihat perubahan warna kulit yang ditekan : putih atau kuning. Kami diminta untuk periksa lab. untuk mengetahui bilirubin Alya. Sekitar 1 jam setelah darah diambil dan diperiksa, hasilnya keluar sbb.
Bilirubin total : 8.1 mg/dl (direk: 1.1 mg/dl, indirek: 7.0 mg/dl)
Selanjutnya kami konsultasikan ke dr.Rusma, dan mendapat penjelasan lengkap yang kami rekam agar bisa dipelajari pelan-pelan di rumah. Rangkumannya adalah sbb.
1. Perkembangan nilai bilirubin
Perkembangan nilai bilirubin Alya menunjukkan hasil yang menggembirakan. Untuk bayi yang kuning, batas maksimal bilirubin pada hari ke-5 adalah 20, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut (Ref. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Edisi I, Ikatan Dokter Indonesia, 2004, p.299).
Sebagai referensi, nilai bilirubin Alya pada saat dilahirkan adalah 10.03 mg/dl (Direk: 0.44 mg/dl, Indirek: 9.59 mg/dl). Sedangkan hari kedua, setelah dilakukan penyinaran 24 jam, menjadi 9.8 mg/dl (Direk: 0.41 mg/dl, Indirek: 9.39 mg/dl). Karena hari ke-5 sudah jauh dari batas maksimal, berarti kondisi Alya sudah baik, dan tidak perlu dikhawatirkan. Selanjutnya cukup berjemur sekitar 30 menit pada interval 7.00-9.00 am agar mendapat sinar ultraviolet dari matahari.
2. Mengapa bayi menjadi kuning ?
Hemoglobin (salah satu jenis protein darah yang bertugas mengangkut oksigen) pada sel darah merah (Eritrosit) pada saat bayi berada dalam kandungan umurnya 9 hari, dan sesudah lahir 120 hari. Setelah cukup umur, maka eritrosit akan pecah, dan menghasilkan bilirubin. Ada dua jenis bilirubin : indirek dan direk. Bilirubin direk (terkonjugasi) sifatnya larut dalam air, sedangkan bilirubin indirek tidak larut dalam air. Bilirubin indirek kalau sudah dikonjugasi oleh organ hati akan berubah menjadi direk, yang selanjutnya disalurkan keluar. Tetapi fungsi hati pada anak yang baru lahir biasanya belum sempurna, sehingga belum mampu bekerja optimal untuk mengubah bilirubin indirek agar menjadi direk. Hal inilah yang menyebabkan bayi menjadi kuning. Ada dua jenis kuning : normal dan abnormal. Kuning normal (Ikterus neonatus fisiologis), adalah gejala normal pada bayi yang baru lahir karena fungsi hati yang belum matang. Sedangkan kuning abnormal (Ikterus neonatus patologis) dikarenakan faktor penyakit atau infeksi.
Dalam kondisi kuning normal (Ikterus neonatus fisiologis), kadar bilirubin indirek lebih banyak daripada direk, karena yang direk seharusnya sudah bisa dikeluarkan lewat urine dsb. Tetapi kalau kadar direknya yang lebih banyak daripada kadar indirek, berarti dicurigai ada penyumbatan yang menyebabkan bilirubin direknya tidak dapat dikeluarkan. Kalau melihat kadar bilirubin Alya, sejak hari pertama kadar bilirubin indireknya jauh lebih besar dibandingkan bilirubin direk (hari I: 9.55 vs 0.44. hari II: 9.39 vs 0.41, hari III: 7 vs 0.01).
Selanjutnya, perkembangan pada hari-hari berikutnya, anak yang mengalami gejala kuning abnormal (Ikterus neonatus patologis), kadar bilirubin direk maupun indirek meningkat semuanya. Sedangkan untuk kategori kuning normal, yang tinggi cuma indirek. Hasil periksa bilirubin Alya memperlihatkan bhw. yang tinggi hanya indirek, sedangkan bilirubin direk-nya tetap kecil. Dengan demikian, Insya Allah gejala kuning pada Alya sifatnya normal (ikterus neonatus fisiologis). Semoga cepat sembuh ya Nduk.
3. Vaksinasi
Selanjutnya Alya langsung mendapat vaksinasi : Polio dan Hepatitis 1 (Hepatitis B). Jadwal vaksinasi berikutnya :
- BCG: 10 Januari 2008
- Hepatitis 2 : 10 Januari 2008
- DPT1+ Polio 2 : 5 Februari 2008
- DPT2+ Polio 3 : 5 April 2008
- DPT3 + Polio 4: 5 Juni 2008
- Hepatitis 2: 5 Juni 2008
- Campak: usia 9 bulan (sekitar 5 September 2008)
Catatan tambahan :
Beberapa kali saya dan keluarga berobat ke dokter di Indonesia, sering tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Seringkali dokter hanya memberi resep, tapi tidak menjelaskan secara lengkap dan detail, mengapa obat itu diberikan. Padahal saat berobat dan konsultasi kami menginginkan agar ada kesempatan berdialog, sehingga dapat memperoleh deskripsi lengkap mengenai:
- Mengapa suatu penyakit bisa muncul
- Apa jenis terapi/obat untuk mengobati penyakit tsb
- Mengapa terapi/obat itu yang dipilih oleh dokter
- Apakah ada side effectnya dan bagaimana mengatasinya
- Fase apa sajakah yang akan dialami pada tahap berikutnya
- dll.
Dengan kata lain, kami tidak ingin dibiarkan dalam ketidaktahuan dan serba nrimo/pasrah saja. Lain halnya dengan saat kami tinggal di Jepang. Saat ke dokter, kami mendapat penjelasan lengkap bagaikan kuliah, mengenai riwayat penyakit, terapi dan tahap-tahap kedepannya. Terapi yang diberikan pun selalu dikonsultasikan ke pasien, lengkap dengan efek sampingnya. Saat menebus obat ke apotik, kami diberikan satu lembar yang menjelaskan detail kandungan zat kimianya, khasiat, cara pakai dan efek samping dari tiap obat yang diberikan. Komunikasi seperti inilah yang kami harapkan dapat diperoleh juga di Indonesia.
Alhamdulillah kami kemarin mendapat penjelasan yang lengkap dari dr.Rusma mengenai gejala kuning yang tampak pada Alya, sehingga kami merasa puas dan lega.
u/ Tante Rusma: Kami sekeluarga matur nuwun banget. Semoga Allah SWT membalasnya dengan hasanah berlipat ganda.




yudi berkata
Ini klasik, health care failure. Andai dibayar sama seperti sistem di Jepang (tidak tergantung jumlah pasien, gaji tetap dan stabil, dll) dokter di indonesia juga akan berlaku sama – sy pikir. Bukan karena dokter yang materialistis, tapi secara general sulit (impossible mungkin) mendapat pelayanan yang sama seperti di Jepang, dengan sistem pembiayaan seperti di Indonesia. Di Amerika pun, layanan kesehatannya tidak sebaik di Jepang (dari segi apapun, kecuali anggaran). Heatlh care itu salah satu point paling expensive di kehidupan negara. 70% lebih rumah sakit di Jepang pun tidak pernah break even point – selalu merugi.
Bisa dibayangkan, pak Anto yang membayar spesialis pun masih mendapat pelayanan sub-standard – apalagi yang bisa diharapkan oleh yang tidak punya uang untuk pelayanan kesehatan?
Solusi satunya2 naikan porsi GNP untuk health – mengurangi out of the pocket untuk layanan kesehatan. Solusi yang amat sulit buat negara (amat) miskin seperti Indonesia.
Pandangan yang pesimistis, tapi ini apa adanya.
salam. yd
Liliek berkata
Layanan kesehatan yg baik dr dokter khususnya untuk konsultasi tsb apakah karena “murah” nya beaya periksasehingga enggan menjelsakan secara rinci atau karena ketidak bisaan dokter menjelaskan ? atau menganggap kemapuan pasies/klien sangat rendah untuk bisa memahami informasi tentang dunia medis?
Padahal pendidikan kepada pasien sudah menjadi satu hal yang juga di kedepankan bahkan juga di kedokteran veteriner, salah satu point tugas dokter hewan adalah pendidikan kepada klien (tugas teknis dokter hewan). Tidak kah hal tersebut termasuk tugas teknis dokter manusia?
yudi berkata
@Liliek
Idealnya memang gitu. Semua dokter sewaktu lulus punya ide yang sama:memberikan pelayanan yang maksimal. Kan ada sumpah hippocratesnya..
Realitasnya berbicara berbeda.
Sebabnya?
bermacam2.
Tapi, yang saya komen, sistemnya harus benar dan feasible agar ini tidak terjadi. Di negara2 yang HDI (human development index)nya tinggi sistemnya sudah bener.
Konsultasi tidak bisa hanya asal ngomong. Hampir impossible mendapat pelayanan seperti House MD (di film seri House MD) tanpa ada dokter yang pendidikan dan aktualitas yang berkualitas. Dibelakangnya ada pendidikan terus menerus yang sekian tahun, berapa jurnal medis yang dia baca, konfrensi kedokteran yang dia ikuti, langganan internet dll. Sayangnya, di Indonesia ini sulit diperoleh oleh dokter tanpa beban, minimal bayar dengan nominal wajar. Ini yang jarang terlihat. Rata2 di negara maju, ini bisa diakses dengan nyaman dan gratis oleh dokter. Tuntutan konsultasi dan kualitas pelayanan pun bisa di penuhi dengan mudah.
Ini yang tidak terjadi di Indonesia. Dan bukan bidang medis/kedokteran juga – hampir semua bidang. Di sistem dosen/guru juga sama. Mereka underpaid. Gimana bisa mengajar dengan tenang, selagi mereka pusing untuk beli beras.
Sistem harus diciptakan agar ada insentif (baca: bukan uang) pelayanan kedokteran lebih baik. Dibidang manapun, selama masih underapreciate dan kalo ada salah dituntut milyaran, mereka akan melakukan sama (Kompas.Redaksi Yth.Jumat lalu?).
salam
Anom berkata
Di Jepun juga tergantung deh kayaknya Mas Anto, cuma memang masih banyakan dokter yang mau memberi penjelasan dibanding dengan dokter yang pasang mode cool (berani mereka begitu, biasanya perlahan-lahan pasiennya gak dateng lagi). Kemampuan berkomunikasi kita pun mempengaruhi mood mereka (maklum, lain maqomnya kita dengan Anto-sensei neh, he he he). Hanya memang secara umum, kalo para pelayan kesehatan di Indonesia mau berbesar hati, ya… sebisa mungkin lebih berempati dengan masyarakat bodoh seperti saya.
Andaikan para petinggi dan pelaksana pemerintahan negara kita masih memiliki nurani untuk melayani…. saaaaa…
Danyang Beton berkata
Nimbrung juga nih…. anaku lahir 23 okt 08, terlihat di matanya sputih anak lain, ketika ditanyakan ke bidan puskesmas disuruh njemur (kaya cucian..yahh). Juga kami coba tanya ke rekan-rekan (ada yang dosen, perawat…) jawabannya sama.
Tiga minggu kemudian kami bawa anak kami ke salah satu RSU swasta besar di Wilayah Kabupaten Kebumen (sengaja ndak sebut nama). Memang pelayanannya lumayan. Tapi keppuasan tentang Informasi tentang keadaan anak kami kurang terpenuhi….hanya jawaban ya dan tidak yang kami terima. padahal yang menangani adalah dokter spesialis anak.
Kami berbiaya cekak… tidak seperti Anda bisa berkesempatan berobat ke Jepang…..juga ingin anak saya sehat, paling tidak tahu apa keadaan anak saya sedikit jelas.
kadang kami berpikiran macam-macam, tetapi kami hilangkan, lebih baik mikir anak saya… ya tohhh…
Anto Satriyo Nugroho berkata
%Danyang Beton
Saya turut prihatin mendengar kasusnya. Semoga saja segera sembuh. Oh ya, saya tidak berkesempatan berobat ke Jepang, juga. Sama-sama, pak. Saya juga PNS yang berbiaya cekak. Dulu kami memang tinggal di Jepang, tapi sejak 2007 kami sudah di Indonesia.
Alya kami bawa ke dokter spesialis anak yang bagus, sahabat saya waktu masih di SMA. Kriteria “bagus” bagi kami, selain keahliannya, juga terutama kemampuan dan kemauannya dalam berkomunikasi dengan pasien. Banyak dokter spesialis, yang tidak mau banyak bicara (memberikan informasi) dengan pasien ttg kasusnya. Padahal kami tidak mau kalau sekedar mendapat obat, tanpa penjelasan/informasi bagaimana sebenarnya penyakit yang diderita anak kami. Obat juga diberikan kalau memang diperlukan saja.
Alhamdulillah kami puas dg dokter tsb. dan sampai sekarang kalau ada apa-apa larinya ke dokter yg sama.
almira tiara azzahra berkata
ikutan share……sebetulnya dokter yang paling baek adalah diri kita sendiri ( termasuk ke anak sendiri ). biasa kita umek tindakan pasca terjangkit penyakit…????? kenapa kita tidak care waktu sehat, kan preventif better than curatif, sedia payung sebelum hujan or etc…..Btw bersih pangkal sehat dan kita harus peduli kepada anak kita saat dia sehat dan berupaya jangan sampai sakit……….
icha berkata
ikutan share juga nih…
kalu masalah dokter gimana banyaknya kita mengeluarkan biaya(baca:uang)makin banyak yah bisa dipastikan makin banyak pula penjelasan yang akan diberikan tapi..
jangan harap puas…
bahkan kita akan semakin bingung maklum dokter juga kan hanya menerka dan sifatnya by experience..
ya tho..?