Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Arsip untuk Februari 9th, 2008

Penulisan gelar yang bikin repot

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Februari 9, 2008

Tradisi penulisan gelar berlainan di tiap negara. Jepang misalnya, tidak ada kebiasaan mencantumkan gelar dalam kehidupan sehari-hari, kecuali dalam lingkungan akademis. Itu pun dibatasi pada penulisan CV, nama penulis pada buku, dan beberapa kesempatan tertentu saja. Lain Jepang, lain Indonesia. Di Indonesia, gelar sah-sah saja -malah jadi semacam tradisi- dipakai di SIM, KTP, mengisi formulir, dsb. Cara penulisannya pun bermacam-macam. Yang umum adalah mencantumkan semua gelar yang pernah diperoleh, mulai dari S1 s/d S3. Dengan cara tsb. nama saya akan ditulis sbg. “Dr. Anto Satriyo Nugroho, B.Eng, M.Eng”. Walau penulisan ini lazim, tetapi saya pribadi merasa risih karena terlalu panjang. Biasanya saya tulis “Dr. Anto Satriyo Nugroho”, atau “Anto Satriyo Nugroho, Dr.Eng”. Cukup gelar terakhir saja. Saya tidak memakai “PhD”, melainkan “Dr.Eng”, karena memang gelar yang diberikan di ijazah S3 versi bahasa Inggris eksplisit tertulis “Doctor of Engineering”. Setahu saya, gelar inilah yang lazim diberikan kepada lulusan dari Jepang (untuk fak.teknik, tentunya), walaupun ada juga yang memberikan gelar “PhD”, atau “PhD in bidangspesialisasinya“. Mengacu aturan pemerintah, kalau di Indonesia yang dipakai adalah yang tertulis di ijazah. Ada juga kebiasaan untuk mencantumkan gelar S2 disamping S3, untuk membedakan dengan mereka yang langsung meraih gelar S3 tanpa S2. Dengan begitu, penulisan di atas menjadi “Dr. Anto Satriyo Nugroho, M.Eng”. Atau kalau tidak ingin disalahtafsirkan dengan “dokter”, lebih baik untuk doktor ditulis sebagai “DR”.

Penulisan gelar kadang menimbulkan konsekuensi administratif yang merepotkan. Saat mengurus akta kelahiran Alya, setelah jadi ternyata nama saya tercantum di akta dengan gelar S2. Penyebabnya aturan penulisan nama mengharuskan nama orang tua tercantum di akta kelahiran anak mengacu kepada buku nikah. Padahal saat saya menikah tahun 2000 dulu saya baru lulus S2. Repotnya, nama saya tercantum dengan gelar S2 tsb. di buku nikah. Dulu tidak terfikir bahwa hal tsb. akan berimplikasi panjang, mungkin sampai seumur hidup. Saya tanyakan, kenapa koq yang dijadikan acuan justru buku nikah, bukannya KTP yang jelas lebih uptodate. Kata petugas, memang peraturan yang mengharuskan demikian, yang jadi referensi adalah buku nikah. Sebenarnya ada option untuk tidak mencantumkan gelar di akta kelahiran anak, dan untuk itu hanya perlu tanda tangan saja. Kesalahan saya yang kurang teliti dan tidak mengambil option tsb., sehingga nama yang tercantum di akta Alya, sebenarnya kurang pas.

Pengalaman di atas membuat saya berhati-hati saat nama akan dicantumkan pada kartu identitas, dsb. Saya sering minta agar nama ditulis lengkap tanpa gelar. Sering ada pertanyaan “Koq gelar nggak ditulis ? Kan sudah capek-capek untuk meraihnya”. Ya memang untuk meraihnya capek sih, tetapi tidak lantas saya harus memakainya dalam setiap kesempatan kan ? Kalau untuk urusan pekerjaan, saya tetap memakainya menyesuaikan dengan tradisi di Indonesia. Tetapi kalau untuk hal-hal pribadi, lebih baik tidak saya cantumkan.

Ditulis dalam Indonesiaku | 8 Komentar »

Bakmi Pak Dul Kampung Baru

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Februari 9, 2008

Semalam setelah imunisasi Alya di klinik tante Rusma, kami makan malam di warung bakmi Pak Dul yang terletak di sebelahnya. Warung ini cukup terkenal. Kalau anda minta diantar ke “warung bakmi pak Dul Kampung Baru”, saya rasa sopir taksi di Solo akan tahu kemana harus mengantar anda. Harga makanan relatif murah: Rp 12500,- s/d Rp 15000,-. Sambil menikmati hidangan, ada iringan musik di luar yang suaranya cukup memikat. Semalam kami pesan nasi goreng, bakmi, dan selat. Rasanya ? Aduuuh…luar biasa deh, sulit untuk diceritakan. he he he :D

Ditulis dalam Indonesiaku | 1 Komentar »