Tika sampai sekarang sangat sulit makan telur dan sayur. Sudah bermacam cara dicoba, bermacam teori dipraktekkan, konsultasi ahli gizi sejak di Jepang pun sudah dilakukan. Tetapi hasilnya nihil. Saya juga bersalah sih sebenarnya, mengajak Tika senda gurau tentang telur lewat nyanyian, sehingga Tika keterusan nggak suka telur. Lagunya mirip lagu “Macam rasa”. “Siapa tahu apa rasa gula. Manis manis manis itu rasanya !”. Naah, lagu itu saya modifikasi jadi “Siapa tahu apa rasa telur. Bau bau bau, aku tak suka”. Awalnya sih buat bergurau sama Tika, tapi keterusan rupanya. Tika sangat senang dengan lagu yang saya buat itu, dan repotnya nggak mau makan telur sama sekali. “Bau”, gitu katanya. Wah, bapak jadi merasa berdosa nih.
Sore tadi, akhirnya dikasih peringatan sama ibunya, “Tika ayo makan telur dan sayur. Kalau nggak mau makan telur, Tika tidur di dapur aja, ya”. Tika akhirnya mau juga makan telur, tapi sambil nyletuk “Ibu, kalau nanti Tika marah, ibu tidur di dapur ya ?” hahahaha…koq bisa ya dibalik gitu. Jawab ibu: “Iya, ibu tidur di dapur, tapi adik Alya juga tidur di dapur. Tika di dalam rumah sendiri saja mau ?” “hihihi…nggak mau, bu”, kata Tika sambil nyengir. Terus nyletuk lagi “Ibu pingsan aja yaa….”. Waduh, masak ibunya disuruh pingsan. Lha wong kemarin saja, saat ibu saat tertidur dan sulit dibangunkan, Tika nangis mingsek-mingsek (terisak-isak), apalagi kalau ibunya pingsan