Sore ini saat baca-baca email di milis BISC (Berkeley Initiative in Soft Computing), saya temukan satu link menarik, yaitu “The Computer Science Conference Ranking Website” [1]. Di web tersebut dibuat peringkat tiap conference berdasarkan estimasi dampaknya terhadap perkembangan computer science (EIC: Estimated Impact of Conference). Mereka menentukan weight untuk faktor-faktor berikut
- CP: 30% – citation of papers
- RR: 30% – quality of referees’ reports
- RS: 25% – availability of resources to students by the conference (funds for travel, fees, hotel)
- JA: 10% – conference papers accepted/appeared in reputable journals after the conference
- IN: 5% indexing
Sebagaimana halnya pertimbangan IF (Impact Factor) dalam pengiriman jurnal, EIC merupakan hal yang dipertimbangkan juga dalam pengiriman paper ke conference. Semakin bagus EIC score sebuah conference, seharusnya, sistem review-nya juga lebih bagus, sehingga menjadi jaminan kualitas paper yang dimuat dalam proceeding yang diterbitkan. Apalagi dalam bidang komputasi, publikasi dalam conference sudah diterima sebagai publikasi formal dan adakalanya lebih prestisius daripada jurnal [2].
Sayangnya biaya keikutsertaan dalam international conference ini sangat mahal, bagi kantong ilmuwan di Indonesia. Misalnya, untuk IJCNN 2008 (International Joint Conference on Neural Networks 2008), ongkos registrasi sekitar 475-575 USD. Ongkos hotel sekitar HK$1000 (l.k. Rp 1 juta/malam). Tiket pesawat Indonesia-Hongkong pp. misalnya Rp 4 juta. Berarti setidaknya diperlukan biaya Rp 10 juta untuk keikutsertaan dalam seminar tsb. Belum lagi kalau lokasinya berada di Eropa, atau US, yang memerlukan biaya lebih mahal lagi.
Saat saya mengelola lab. sendiri di Chukyo University (2003-2007), saya merasakan betul betapa mahalnya ongkos untuk mengikuti international conference. Tanpa mendapatkan grant, akan berat bagi seorang peneliti untuk mempublikasikan risetnya pada event berskala internasional. Untungnya di Jepang sering diselenggarakan seminar internasional yang berkualitas bagus, sehingga ongkos transportasi bisa dipangkas.
Pendapat saya, bagi peneliti di Indonesia kalau ingin berkiprah dan tetap eksis di kancah internasional, dengan keterbatasan dana riset, salah satu jalan keluarnya adalah mengurangi publikasi di international conference dan anggaran yang ada dipakai untuk mempublikasikan lewat jurnal ilmiah internasional. Berarti kita harus siap bertarung ide mati-matian memperebutkan slot publikasi paper yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan conference.
Kesulitan dalam hal publikasi inilah yang menjadi salah satu penyebab kenapa penelitian mengenai komputasi yang dilakukan di Indonesia sepintas kurang terlihat kiprahnya di kancah internasional. Pernah saya dengar ada rekan yang berpandangan sinis, bahwa Indonesia adalah “kuburan bagi para peneliti”, karena saat di LN mereka berprestasi, tetapi setelah sampai di Indonesia tidak terdengar lagi suaranya. Pendapat ini kurang bijak, karena bagaimanapun juga hidup sebagai peneliti di Indonesia tidak mudah [3]. Mereka harus berjuang mati-matian agar bisa survive hidup, menyekolahkan anak, mengepulkan dapur, baru kemudian melanjutkan risetnya.
Bagaimana solusinya menurut anda ?
Referensi:
- Computer Science Conference Ranking http://www.cs-conference-ranking.org/home.html
- Online or Invisible , Steve Lawrence, Nature, Volume 411, Number 6837, p. 521, 2001.
http://citeseer.ist.psu.edu/online-nature01/ - Science is Fun but doing science in Indonesia is not funny at all, Arief B.Witarto, perspektif berita iptek 13 Juni 2007



