Saat mengajar di SGU kemarin, seorang siswa saya memanggil dengan nama “pak Asnu”. Hah ? Ternyata dia tahu nama saya asnu dari kakak-kakak kelasnya (yg tahun lalu saya ajar juga). Wah, berabe juga, namaku koq diganti jadi begitu. Saya diketawain Ine “Hahahaha. untung bukan huruf n atau s nya yang hilang”
Waktu di Jepang dulu, di Iwata lab. (saat saya masih student) saya dipanggil “Anto”. Mereka sudah tahu kalau saya tidak punya family name, dan panggilan saya memang Anto. Tetapi saat menulis paper, mau nggak mau saya harus memakai family name. Akhirnya “nugroho” jadi family name saya. Di beberapa paper yang mencantumkan paper saya sebagai referensi, mereka tulis “Nugroho proposed …”.
Karena dalam berbagai kesempatan saya harus menulis dalam katakana, nama saya menjadi “ANTO SATORIYO NUGUROHO”. Waktu saya memiliki lab. sendiri di Chukyo Daigaku, pak Dekan (Prof.Hasegawa) menyarankan agar saya konsisten dengan satu nama saja, agar tidak menyulitkan administrasi. Karena kadang-kadang saya pakai nama “ANTO”, kadang “NUGUROHO”. Akhirnya saya putuskan agar nama “resmi” saya NUGUROHO. Tetapi kata Hasegawa sensei, “NUGUROHO” itu agak sulit dilafalkan. Saya disarankan pakai “NUGOROHO” yang mudah dilafalkan oleh lidah Jepang. Yo wis. Akhirnya namaku jadi NUGOROHO. Kakko warui kedo