Corat-coret Anto S. Nugroho

Paper survey, Trip Report, Summary

Arsip untuk Desember 8th, 2008

Latihan presentasi 3 menit

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 8, 2008

Dalam mata kuliah “Research Methodology”, saya berikan tugas ke mahasiswa saya di SGU untuk merancang presentasi 3 menit mengenai tema penelitian yang disajikan di salah satu jurnal, atau boleh juga mempresentasikan proposal penelitian tugas akhir mereka. Angka “3″ ini berasal dari kalimatnya Toriwaki sensei, yang mungkin boleh dibilang peneliti paling senior bidang Medical Image Processing di Jepang. Kata beliau, “penelitian yang baik adalah yang bisa dipresentasikan dalam 3 menit”. Dalam waktu pendek itu tentu saja tidak perlu mengulas detail metode maupun eksperimennya, tetapi yang penting esensi dari penelitian itu harus tersampaikan. Ini merupakan tantangan tersendiri, karena pemilihan kata, pemilihan slide, pemilihan bagian yang ditampilkan tidak boleh sembarangan. Presentasi harus pendek, berkesan, dan menggambarkan bahwa ybs. mengerjakan sesuatu yang menarik dan signifikan. Ketrampilan ini banyak terasa manfaatnya, misalnya saat ada kunjungan tamu ke lab. yang ingin mendapatkan gambaran singkat mengenai kegiatan penelitian yang dilakukan ybs.

Adapun untuk penilaian, saya coba serahkan ke siswa yang lain untuk menilai temannya yang melakukan presentasi, dan nanti nilai akhir adalah rata-rata dari nilai yang mereka berikan. Saya percaya bahwa siswa-siswa saya adalah calon engineer, yang  dapat dipercaya dan mampu bersikap obyektif dalam memberikan nilai tsb.

Ditulis dalam kuliah | 5 Komentar »

Yorugata dalam kehidupan laboratorium

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 8, 2008

Yorugata artinya “tipe malam”. Istilah ini sering kami pakai untuk menyebut mereka yang lebih menyukai bekerja di malam hari daripada di siang hari. Saat masih student dulu saya, saya lebih sering bekerja sesuai dengan pola normal, yaitu siang hari, tetapi tidak jarang juga saya bekerja lewat tengah malam. Kerja malam hari seperti demikian, dalam bahasa Jepang disebut juga “tetsuya”.  Agar bisa tetsuya, saya perlu tidur agak awal, dan tengah malam kemudian bangun, bersepeda ke kampus, melewatkan malam sunyi di lab.  Kebetulan dari rumah ke kampus kalau naik sepeda cuma makan waktu 5 menit.  Suasana malam yang sepi sangat enak buat belajar dan berkonsentrasi. Untung istri saya dulu mengizinkan saya demikian. Oh ya, biasanya kalau datang tengah malam, ada beberapa teman yang menginap di lab. Hal seperti ini lazim ditemui di lab. perguruan tinggi di Jepang. Sensei pun banyak juga yang melewatkan malam di lab. Pernah juga saat melewatkan malam di kampus,  tiba-tiba sempai (senior) mengajak saya masuk ke ruang seminar, untuk diskusi berdua di tengah malam. Gila ! Tapi saya bisa memahami perasaannya sih. Dia demikian excited saat menemukan model matematika pergerakan mata yang dikaitkan nantinya dengan upaya pembangunan metode feature extraction untuk huruf. Walaupun agak ngantuk-ngantuk dan nggak begitu faham dengan apa yang dia ceritakan, tetapi saya berusaha konsentrasi juga dengan penjelasan si abang :D

Belajar memang memerlukan pengkondisian. Suasana lingkungan harus diciptakan, diubah sedemikian rupa sehingga enak dipakai untuk konsentrasi. Itu sebabnya suasana lab. di Jepang banyak yang tidak mirip kantor, melainkan tempat tinggal. Ada bed, ada TV, komik, kompor, almari es, papan catur, raket…(eits..koq kebanyakan alat hiburan yah ?), disamping buku-buku, PC, dsb. Barangkali karena terlalu nyaman, teman-teman saya di lab. dulu sering masak mie, dsb. Sensei langsung mengirim email peringatan: “minasan, kenkyuushitsu wa kenkyuu wo suru tokoro desu. Ryouri wo tsukuru tameno tokoro dewa arimasen” (anak-anak, laboratorium adalah tempat melakukan penelitian, bukan tempat memasak makanan)…hahahaha :D   Langsung deh, habis itu esoknya kami tidak pernah lagi membuat mie di lab.

Lain lab. lain pula culture-nya. Saat saya masih bekerja di Chukyo University, saya sering membantu prof.Hasegawa dalam seminar lab. Karena padatnya jadwal sensei, dan banyaknya mahasiswa yang dibimbing dalam laboratoriumnya, seminar baru mulai setelah pk.7 malam, dan biasanya baru selesai esok pagi-nya. Selama seminar, anak-anak dan sensei tetap semangat mengikuti diskusi yang dilakukan. Mungkin juga karena pandainya Hasegawa sensei dalam memancing diskusi, sehingga topik yang menurut saya kurang menarik, bisa didiskusikan dari berbagai sisi, kemana harus dikembangkan, apa yang harus dilakukan, sehingga saya bisa juga menemukan sisi-sisi mana yang menarik dari tema tsb. Pelajaran yang saya catat adalah sesederhana apa pun tema yang disajikan, kalau kita pandai mengemasnya, atau menemukan sudut pandang yang tepat dalam membahasnya, maka tema itu akan menjadi menarik. Tentu saja ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, serta insting yang terlatih oleh akumulasi pengalaman bertahun-tahun.

Sementara ini saya belum terfikir untuk mencari kesempatan melakukan penelitian (postdoct atau short term visit) di Jepang. Saya masih ingin menseriusi niat mengembangkan riset datamining di kantor. Tetapi kalau lah ada kesempatan untuk ke Jepang,  ada dua hal yang tidak ingin saya lewatkan: (1) menikmati cafe au lait di mister donat (2) melewatkan malam di lab. ditemani minuman kocha-kaden (milk tea)

NB:
Bu Is Helianti, peneliti BPPT yang menyelesaikan studi di Jepang pernah membuat tulisan menarik mengenai perbedaan pola kerja lab. antara peneliti di Jepang dan peneliti di Jerman. Silakan klik ke sini untuk membaca tulisan beliau.

Ditulis dalam living in Japan | 2 Komentar »

Techo

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 8, 2008

Waktu masih tinggal di Jepang, saya dan teman-teman lazim banget memiliki techo, buku diary yang dipakai untuk mencatat agenda2 penting. Harganya juga nggak mahal, sekitar 300-400 yen di seikyo (koperasi). Dulu kalau sedang seminar, meeting atau menghadap professor, sangat lazim bagi kami untuk mengeluarkan techo, dan menuliskan jadwal kapan bisa menghadap beliau lagi, kapan ada pertemuan rutin lagi, dsb.Tetapi di Indonesia saya koq jarang melihat mahasiswa memiliki techo yah ? Atau mungkin mereka mencatat agenda2 di notebooknya ? Dari beberapa kali percobaan, techo yang paling tepat bagi saya adalah versi analog (buku) dan kecil. Tulisan di kertas bagi saya lebih mengandung makna daripada tulisan digital di notebook. Dari tulisan di kertas, kadang saya bisa teringat ingatan-ingatan lama. Dalam hal ini saya enggan mengikuti judul tulisan Negroponte “Being digital”..he he he. :D

Ditulis dalam gado-gado | 1 Komentar »

Sepiring berdua

Ditulis oleh Anto Satriyo Nugroho di/pada Desember 8, 2008

Minggu malam, saya geli sendiri melihat tingkah Alya yang tidak bisa menahan diam begitu melihat kakaknya menyantap indomie. Kesukaan mereka adalah indomie rasa soto, dibikin berkuah. “Mie kuah”, begitu kata Tika. Kalau lauknya mie kuah, Tika bisa makan sendiri dengan lahap. Adiknya pun nggak mau kalah, dia juga turut makan, sepiring berdua dengan kakaknya. Sebenarnya sih terlalu sering juga nggak bagus buat kesehatan. Saya merasa bersalah. Mungkin mereka mewarisi gen bapaknya, yang dulu sekali makan indomie bisa habis 4 bungkus.

Note:
Alya sekarang sudah banyak ngoceh-nya: “otokotokotokotok” …ha ha ha :D

Ditulis dalam keluarga | Leave a Comment »