- Tika dan Alya nggak mau ngomong dengan saya di telpon. Mungkin itu bentuk protes mereka, karena bapaknya lebih dari seminggu belum pulang ke rumah. Ine tanya ke Tika “kenapa koq nggak mau ngobrol sama bapak ?” Jawab Tika: “Tika masih liat TV (ini kayaknya alasan saja sih)….Tika pengin diantar bapak ke sekolah”. Waduh, nduk….kasihan bener yah. Kalau dik Alya waktu dikasih HP, dia nggak mau ngomong. Pernah bilang “mooh” (^^; Alya waktu tidur sempat bilang “abak…abak” (abak = bapak ?)
- Sore ini Tika ke RS, diantar ibu dan adiknya. Di kulit dekat kelopak mata (yang bawah) ada jerawat yang cukup besar. Awalnya seperti orang yang kecapekan baca, tapi lama-lama kelihatan kalau kayak kutil. Awalnya oleh dokter lain dibilang kalau fasenya sudah terlambat, sehingga perlu dioperasi, diambil jerawatnya. Tetapi karena masih kecil, jadi menunggu sampai besar. Kemudian Tika diajak ke dokter lain, dan diberi antibiotik agar jerawat itu matang. Seminggu sesudahnya, yaitu sore ini, jerawat itu diperiksa lagi. Dokter menyatakan kalau nanti kutil itu akan mengeras dan bisa diambil dengan cara dipencet…waduuh :O Dokter kemudian memberi obat lagi antibiotik yang lebih kuat agar jerawat itu “matang”
- Di RS, Alya sangat “ramah” ke siapa saja. Semua diajak senyum. Ada seorang bapak yang sedang telpon, dipegang pantatnya …huss..nggak sopan itu nduk ! Ada seorang anak kecil yang digoda Alya, sampai nangis. Ine jadi malu.
Saya jadi bingung juga. Alya yg baru berumur 1 tahun lebih sedikit gimana koq bisa menggoda anak lain sampai nangis ?
- Alya suka main mainan es krim, mirip kakaknya.
Update:
Malam-malam saya mendengarkan lagu-lagu Rimi Natsukawa. Pertama adalah Kanayo-kanayo. Aduh, lagu ini membawa saya ke lamunan. Andai Tika dan Alya sudah besar dan hidup di kota. Kemudian suatu saat mereka bosan, jenuh, kelak akan kembali ke kami, saya dan Ine yang hidup di desa. Kehangatan keluarga akan membuat mereka tidak patah harapan, dan dapat mengarungi hidup ini dengan senyum. Ah, lamunan yang indah.
Lagu kedua adalah Nada soso. Saat saya akses ke youtube, di sana ada puisi yang ditulis seorang ayah dalam bahasa Jepang. Saya terjemahkan di sini:
Untuk putriku tersayang,
Tidak terasa telah lewat satu bulan kita tinggal terpisah
Bagaimana kabarmu anakku ? Apakah engkau selalu gembira tiap hari ?
Sudahkah engkau makan nasi sampai kenyang ?
Sudah bisakah engkau berjalan ? Sudahkah engkau bisa bicara sayang ?
Papa bukan orang yang kuat hidup terpisah, jadi tidak mungkin rasanya tinggal terpisah denganmu.
Papa ingin juga tinggal bersamamu, bersama2 melewatkan hari-hari kita
Tak terasa usiamu sudah hampir satu tahun
Pertama kali engkau akan mengalami musim sakura
Mungkinkah kita bisa bersama-sama menikmatinya ?
Waduh, mata saya basah membaca ungkapan sang ayah tsb. Mirip dengan apa yang saya rasakan saat ini.

