Dari komentar mbak Dina, saya baru tahu kalau artikel tentang budaya Jepang di blog ini dibicarakan di KokiWorld. Apa benar ya ? Saya juga belum sempat mengecek kebenaran berita itu. Prinsipnya, saya tidak keberatan (justru senang) sekiranya artikel di blog ini dijadikan referensi, dicopy, dsb. selama mencantumkan sumber aslinya, yaitu alamat artikel yang dijadikan sumber. Entar saja ah, kalau waktu sudah agak longgar, saya coba baca diskusi yang katanya sedang hangat di forum itu. Thanks informasinya, mbak Dina.
update:
Setelah saya membaca tulisan Ryu & Yuka-cha no mama (RYC), saya memang agak terkejut melihat di beberapa tempat, topik yang dibahas dalam tulisan RYC mirip dengan tulisan saya. Secara umum, memang tidak menjiplak pleg seperti yang pernah dilakukan pihak lain terhadap tulisan saya. Tetapi di beberapa sisi, banyak sekali kemiripan yang mungkin mengundang pertanyaan bagi beberapa orang.
- Alinea pertama: alasan saya menulis artikel itu, mirip dengan pembuka tulisan RYC
- Contoh2 yang ditulis oleh RYC adalah “angka 4″, “undangan”, “angka 9″, “angka 8″, “angka 7″, “cara menghitung”, “bayar-sendiri bayar sendiri”, “jangan bawa tamu tak diundang”, “telpon dulu sebelum datang/main”, “oleh-oleh”.
- Kalau dibandingkan dengan tulisan saya, yang mirip dengan uraian RYC adalah contoh no. 1, 2, 15, 17, 18.
Kesimpulan saya, walau pun tulisan saya dengan RYC banyak yang mirip, tapi saya belum cukup bukti untuk dapat menganggapnya plagiarism. Kemiripan itu bisa saja terjadi, karena tulisan saya tsb. sebelum saya muat di blog, telah saya kirim ke milis-milis lain. Bisa saja tulisan tsb. dijadikan referensi, atau point-point pentingnya dicatat/diingat, dan kemudian dikembangkan dengan gaya bahaya ybs. Kemiripan itu timbul bukan dari kesengajaan.
Tetapi kalau kemiripan itu timbul secara disengaja, misalnya tulisan saya dijadikan referensi, dan dikembangkan di sana-sini, sebenarnya sah-sah saja, asal memenuhi etika penulisan, yaitu sumber artikel (URL) harus dicantumkan sebagai referensi.
Entah yang mana yang benar, saya juga tidak tahu. Cuma awal artikel yang ditulis RYC itu yang membuat saya benar-benar takjub: satu kebetulan luar biasa. Please see below:
Tulisan saya: Dalam pergaulan di Jepang, saya sering mendapat pertanyaan : apa yang berkesan selama anda di Jepang ? Jawaban yang paling mudah adalah “di Jepang serba praktis”. Tapi lama-lama jawaban ini membosankan , dan tidak membuka bahan ngobrol baru yang menarik. Saya coba renungkan beberapa hal yang dianggap wajar di Jepang, tapi bagi orang Indonesia terasa janggal, menarik, vice versa. Ternyata tidak mudah menemukannya. Mungkin karena saya sudah lama tinggal di Jepang, jadi yang unik dan menarik lewat begitu saja di depan hidung.
Tulisan RYC no Mama: Selama tinggal di Jepang, Saya bolak balik ditanya tentang Jepang , tiap kali menjawab, ” Jepang itu serba praktis, titik ” .Mungkin karena saya sudah cukup lama tinggal di Negara Sakura , jadi sering hal-hal yang sebenarnya unik bagi orang luar ( orang Indonesia ) jadi terasa biasa buatku . Setelah di pikir – pikir lagi , sebenarnya banyak keunikan dan hal- hal yang berbeda dengan Indonesia .
Yang geli, ada komentar yang mencurigai saya membayar tinggi untuk orang yg mengkritik tulisan RYC : “sepertinya trafik blog yang anda referensikan menjadi tinggi, apakah anda dibayar untuk promosi blog tersebut? ” Hahahahaha……..ada-ada aja.
Saya taunya artikel itu dibicarakan di KoKi juga baru pagi ini. Selain itu trafik blog saya nggak tinggi, dan sekarang sudah jarang menembus top 100. Sehari paling sekitar 600 hits saja.
Salam damai & salam kenal untuk RYC no mama, Fankompas dan rekan-rekan di KoKi. Ditunggu tulisan2 hangat berikutnya yang mencerahkan kita semua.






