Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • April 2010
    S S R K J S M
    « Mar   Jun »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk April 21st, 2010

Golongan darah AB

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 21, 2010

Saat bekerja di Chukyo, teman saya seorang professor pernah menggosipkan dosen lain yang aneh tingkah lakunya. “Yoshida Sensei itu golongan darahnya AB. Kelakuannya agak aneh, suka berubah-ubah dan agak sulit komunikasinya. Sama saja dengan si Takeshi (salah seorang staf beliau). Dia kan kelakuannya aneh, sama saja seperti Yoshida sensei. Karena itu mereka berkolaborasi riset, chemistry nya cocok. Soalnya sama-sama kelakuannya aneh, To…hahahahahaha” Saya yang diajak bergosip-pun juga ketawa ngakak….tapi dalam hati ngomel-ngomel… Duuuh…sensei…tidak tahukah anda, bahwa saya ini golongan darahnya AB juga :(

Note:

  1. Golongan darah AB termasuk golongan darah yang cukup langka di dunia.
  2. Nama “Yoshida” dan “Takeshi” di atas bukan nama sebenarnya, melainkan sekedar untuk menyamarkan identitas ybs.

Ditulis dalam living in Japan | 15 Komentar »

Suatu hari di gubuk kami

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 21, 2010

  1. Tika belajar menulis sendiri. Ibu menyuruh Tika supaya menulis huruf kecil, bukan huruf kapital…tetapi ternyata Tika tetap saja menulis huruf kapital, hanya ukurannya yang dikecilkan. wkwkwkwk :)
  2. Suatu saat, kami berempat berenang berempat di Hotel Sunan. Ine belajar berenang di kedalaman 1.7m, meluncur menuju ke arahku yang berjaga di pinggir. Tika dan Alya menonton di pinggir kolam renang. Saat sampai, Ine kemudian memelukku agar tidak tenggelam. Eeh…Tika ketawa terpingkal-pingkal di pinggir “Hahahahaha…kayak suami istri…..hahahaha” ……wakakakaka…yang lucu itu kamu Nduk..Emangnya bapak ibu ini bukan suami istri ? :D
  3. Alya tadi pagi bangun, sambil garuk-garuk nyari-nyari “adekku pengin senam sama bapak anto…mana bapak anto ….?” Lantas diingatkan kalau minggu ini “bapak anto” nggak pulang ke rumah. Barangkali itu yg menyebabkan Alya nggak mau ditelpon “bapak anto” (18 April 2010)
  4. On the phone bapak ke Alya: “adik…kangen sama bapak nggak ?” Alya:”nggaak” Waaaaaa :(
  5. “….But how I miss the girl, And I’d go a million times around the world just to say, She had been mine for a day”….. (Dad’s song for Sekar & Puspa, April 16 at 8:39pm)
  6. Tika-Alya-Ine ke Jogja naik kereta prameks. Alya sibuk makan snack, Tika menghadap jendela kereta dan nyanyi “Ibu Kartini” keraas baanget (padahal di depannya ada mhswi sedang belajar). Emaknya BB-an. (April 14 at 7:32am)
  7. Bapak telpon dengan Alya, “Adek…bapak punya lagu nih” Alya: “wa alaikum salaaam” dan telpon dikasih ke ibunya. Wah…jaan..bapak nggak dikasih kesempatan. Terus minta disambungkan dengan Tika, tapi dari seberang terdengar suara “Aku baru konsentrasii” …wah…ditolak juga…..(^^;  (April 13 at 7:01pm)
  8. Masih kebayang suasana rumah: Tika asyik mewarnai, Alya belajar bernyanyi “Bulan sabit di awan, Laksana prahu emas, Berlampu bintang, Berlaut langit, Jauh di angkasa luas, Betapa senang hatiku rasanya, Menjadi nahkoda di sana”. (April 12 at 5:19am)
  9. Sabtu 10 April 2010. Saat hari sudah malam,  aku ajak anak2 tidur dg memutar lagu2 lembut. Kata ine, ternyata aku tidur duluan, sementara tika-alya habis itu turun bed & main sandiwara, lompat2, tebak2an dll sampai larut malam
  10. kami bersepeda menaiki jalan tanjakan, dia bersepeda di seberang kiri sedangkan aku di sisi kanan, aku membawa kardus untuk mengepak barang, kulambaikan tangan padanya, tapi kardus sial itu masuk ke jeruji sepeda, dan jungkir baliklah aku di jalan (Nagoya, 1999)

Ditulis dalam keluarga | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pernahkah paper anda di-reject ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 21, 2010

Dear all,
Sekedar berbagai cerita, mengenai pengalaman mengirim paper. Suatu saat saya pernah mengerjakan penelitian berkolaborasi dengan peneliti bidang medis untuk topik cancer. Setelah penelitian yang saya lakukan selesai, mitra saya sangat bersemangat untuk men-submit paper kami ke jurnal. Nggak tanggung-tanggung, jurnal yang beliau pilih adalah NatGen alias Nature Genetics (saat tahun 2001-an, Impact Factor jurnal NatGen adalah 40, lebih besar daripada IF jurnal Nature sendiri). Sebenarnya saya tidak sreg, karena apa yang saya kerjakan terasa kurang gregetnya. Juga tidak ada terobosan di sisi metode komputasi yang saya pakai, sehingga sebenarnya saya sendiri kurang puas. Terlebih lagi saat itu saya ditaruh sebagai first author, padahal jurnal Nature sangat memperhatikan siapa yang menjadi first author, second author dan last author. Karena nama-nama itu menjadi “garansi” kualitas penelitian yang dilakukan (*1) . Selain itu jurnal kelompok Nature lazimnya hanya menerima penelitian yang menghasilkan terobosan signifikan di dunia science, bukan engineering. Tapi professor yang jadi mitra tetap bersemangat untuk mencoba mengirim ke NatGen. Di antara mereka memang banyak yang sudah punya publikasi di Nature & Science, sehingga menurut pandangan mereka, tak ada salahnya dicoba dengan mengirimkan ke jurnal-jurnal itu terlebih dahulu.

Setelah dikirim, seperti saya duga, hasilnya “gatot” (=gagal total) ….rejected. Untuk mengirimkan paper ke Nature, prosesnya memang agak lain. Paper yang diterima tidak semuanya langsung diberikan ke reviewer. Melainkan akan dievaluasi oleh editor terlebih dahulu. Hanya paper yang menurut pertimbangan editor layak di review, baru akan dikirim ke reviewer. (Walau demikian, jurnal-jurnal Nature, Science dan Cell ternyata masih juga “tembus” diakali peneliti yang mengirimkan hasil penelitian yang tidak jujur. Kasus yang terkenal adalah skandal Imanishi Kari dalam paper di jurnal Cell tahun 1986 yang melibatkan seorang Nobel Lauerete: David Baltimore, professor biologi di MIT )

Paper yang direject seringkali bukan dikarenakan isinya yang tidak layak dipublikasikan, melainkan karena cara penulisannya (cara menyajikan argumen) yang tidak baik. Karena itu direject-nya sebuah paper bukan berarti penelitian kita habis riwayatnya. Walau direject sekalipun, kalau paper itu bisa diperbaiki “cara penulisan”-nya, cara menyajikan argumennya, kita tetap berhak mengirimkan lagi ke jurnal tersebut, atau bisa juga ke jurnal yang lain. Salah satu nasehat sensei saya dulu: “Untuk menulis paper, kamu harus membaca dan mengkritisi setidaknya 40 paper terbaru di bidang itu. Memahami, mengkritisi dan mencari celah originality…begitu proses yang harus ditempuh dalam “membaca” sebuah paper. Baru setelah itu, kalau kau bisa menulis sesuatu yang dihasilkan dari pencarian originality tersebut, maka papermu akan sulit untuk ditolak”.

Walaupun demikian, tetap saja sebuah paper memiliki kemungkinan untuk ditolak. Ditolaknya sebuah paper kadang membuat kita shock dan semangat langsung drop. Apa obatnya ? Di salah satu tulisan Jepang, saya temukan saran sebagai berikut: “Kalau anda merasa shock dengan ditolaknya paper anda, obat paling mujarab adalah temuilah seorang professor, atau seorang peneliti yang sangat anda hormati kredibilitasnya. Tanyakan kepada beliau, apakah beliau pernah ditolak papernya ? Sejago apapun seorang peneliti, setidaknya sekali dua kali pastilah pernah papernya di tolak.” Begitu tips-nya untuk menghibur diri, agar tidak tenggelam dalam kesedihan. Karena jangankan kita, professor atau peneliti yang sangat kita hormati pun pernah mengalaminya.

Mari kita semarakkan atmosfer sains di Indonesia dengan karya-karya yang jujur dan bermanfaat baik kepada masyarakat maupun kepada sains itu sendiri. Gambarimasho !

Anto S. Nugroho (sarapan pagi dengan roti tawar dan teh tarik)

(*1) Satu hal yang berkesan saat itu adalah kejujuran peneliti Jepang. Karena jurnal Nature sangat memperhatikan siapa yang menjadi first, second dan last author, saya sampaikan ke Professor mitra, bahwa silakan saja peneliti yang menjadi mitra kami itu untuk ditulis sebagai first author. Yaitu yang sudah punya track record di dunia kedokteran/biologi. Tetapi mitra kami menolak, dan tetap menaruh saya -yang masih mahasiswa- sebagai first author. “Anda yang paling berkontribusi dalam penelitian ini, sehingga andalah yang harus menjadi first author”. Kejujuran & sportivitas ini yang mungkin sudah mulai langka kita temukan di Indonesia.

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.