Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Agustus 2011
    S S R K J S M
    « Jul   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Agustus 6th, 2011

Genap vs Ganjil: mungkinkah rumput yang bergoyang itu dapat menjawabnya ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Agustus 6, 2011

Alkisah di suatu siang, saya pernah menguji CPNS, yang tentu saja pesertanya sudah bergelar sarjana. Teman saya yang turut menguji memberikan pertanyaan: “jelaskan algoritma sorting”, “jelaskan algoritma untuk menentukan apakah x bilangan prima atau bukan”. Peserta tsb. tidak dapat menjawab dengan baik. Akhirnya saya turunkan level kesulitan pertanyaan: “jelaskan algoritma untuk menentukan apakah x bilangan genap atau ganjil”. Ini pertanyaan “haram” untuk menguji sarjana. Tapi, peserta tsb ternyata tidak dapat menjawab juga. “Baiklah, kalau demikian, bisakah saudara jelaskan ke saya, definisi bilangan genap itu seperti apa, definisi bilangan ganjil, itu seperti apa.” Saya jadi shock, ketika peserta ujian itu tidak dapat menjelaskan, apa beda genap dan ganjil. Ya, Tuhan. Bagaimana kalau sarjana yang mau masuk jadi PNS seperti ini ? Saya tidak tahu, apa yang salah dengan pendidikan kita. Masak di era ketika anak SD sudah main facebook, seorang sarjana tidak dapat menjelaskan beda genap & ganjil. Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Dua puluh lima tahun yll. saat saya masih SMA, sering mendengar “Pak Habibie merekrut putra putri terbaik Indonesia, untuk disekolahkan ke luar negeri, sehingga kelak dapat membangun negeri ini”. Saat itu, menjadi PNS karyasiswa merupakan prestise yang diperebutkan putera-puteri terbaik di Nusantara. Di luar negeri pun, mereka mengukir prestasi gemilang, menjadi tulang punggung professor di LN dalam melakukan penelitian. Itu 25 tahun yang lalu. Tetapi sekarang jaman sudah berubah. Kalau sekarang saya tanyakan ke murid-murid saya yang cemerlang, sangat jarang dari mereka yang tertarik untuk melamar pekerjaan sebagai PNS. Rumput tetangga memang lebih hijau, dan saya memahami posisi mereka.

Tak salah kalau saya pun berangan-angan, kapankah kiranya, posisi PNS akan kembali dilirik & diperebutkan oleh anak-anak muda Indonesia yang cemerlang ? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Jaya Indonesia-ku, Jaya PNS-ku.

Ditulis dalam living in Japan | 4 Komentar »

Sahur di Stasiun Tugu

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Agustus 6, 2011

Sejak minggu kemarin, saya naik kereta Senja Utama Yogyakarta saat pulang ke Solo. Kereta Senja Utama Yogya berangkat dari St.Senen pk 19.30, lebih awal 45 menit dibandingkan kereta Senja Utama Solo yg berangkat 20.15. Walau terpaut hanya 45 menit, tapi saya bisa tiba di Solo sekitar 06.30am dengan ganti kereta Prameks sesampai nya di St Tugu. Sedangkan kalau naik Senja Utama, biasanya sampai Solo pk.7.15 atau 7.30. Bagi saya, pk 7 menjadi batas psikologis, pagi atau siang. Kereta Senja Yogya sampai di St.Tugu sekitar pk 04.30. Bahkan pagi ini sampai Yogya, pk 04.15. Karena Subuh masih sekitar 15 menit, saya masih sempat menikmati sahur dengan gudeg jogja dan teh hangat di stasiun. Masih bisa sholat Subuh di Musholla Stasiun yg bersih. Perut kenyang, ibadah tenang :) . Kalau naik Senja Utama Solo, saya harus sholat di dalam kereta, wudlu di WC yg sempit.

Kalau naik Senja Utama Yogya, sampai sekitar Wates selalu ada pengamen banci yang melagukan lagu sama “…ewer-ewer-ewer…” Begitu penggalan lagunya. Yah, anggap saja sebagai alarm, sudah sampai Wates. Harus siap-siap karena sekitar 10 menit lagi, perjalanan berakhir sampai Stasiun Tugu Yogyakarta.

Untuk meneruskan perjalanan ke Solo, cukup dengan Rp 10 ribu beli tiket Prameks (Prambanan Ekspres). Kereta Prameks pertama, berangkat pk 05.35. Dua perjalanan terakhir selalu kereta dengan warna ungu.

Yah, walaupun kenyamanannya jauh kalau dibandingkan dengan Moonlight Nagara yang dulu suka saya pakai untuk perjalanan malam Nagoya ke Tokyo, tetapi saya tidak perlu pusing cari tempat shalat di stasiun. Kalau di stasiun Tokyo, saya harus wudlu sembunyi2 di WC (agar tidak menaikkan kaki ke wastafel), mencari pojok yg tidak menyolok, mencari arah kiblat & menggelar tikar sajadah. Tetapi kalau di sini, musholla bersih sudah tersedia. Tiap perjalanan pasti ada kesan dan cerita masing-masing yah ?

Ditulis dalam living in Japan | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.