Alkisah di suatu siang, saya pernah menguji CPNS, yang tentu saja pesertanya sudah bergelar sarjana. Teman saya yang turut menguji memberikan pertanyaan: “jelaskan algoritma sorting”, “jelaskan algoritma untuk menentukan apakah x bilangan prima atau bukan”. Peserta tsb. tidak dapat menjawab dengan baik. Akhirnya saya turunkan level kesulitan pertanyaan: “jelaskan algoritma untuk menentukan apakah x bilangan genap atau ganjil”. Ini pertanyaan “haram” untuk menguji sarjana. Tapi, peserta tsb ternyata tidak dapat menjawab juga. “Baiklah, kalau demikian, bisakah saudara jelaskan ke saya, definisi bilangan genap itu seperti apa, definisi bilangan ganjil, itu seperti apa.” Saya jadi shock, ketika peserta ujian itu tidak dapat menjelaskan, apa beda genap dan ganjil. Ya, Tuhan. Bagaimana kalau sarjana yang mau masuk jadi PNS seperti ini ? Saya tidak tahu, apa yang salah dengan pendidikan kita. Masak di era ketika anak SD sudah main facebook, seorang sarjana tidak dapat menjelaskan beda genap & ganjil. Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Dua puluh lima tahun yll. saat saya masih SMA, sering mendengar “Pak Habibie merekrut putra putri terbaik Indonesia, untuk disekolahkan ke luar negeri, sehingga kelak dapat membangun negeri ini”. Saat itu, menjadi PNS karyasiswa merupakan prestise yang diperebutkan putera-puteri terbaik di Nusantara. Di luar negeri pun, mereka mengukir prestasi gemilang, menjadi tulang punggung professor di LN dalam melakukan penelitian. Itu 25 tahun yang lalu. Tetapi sekarang jaman sudah berubah. Kalau sekarang saya tanyakan ke murid-murid saya yang cemerlang, sangat jarang dari mereka yang tertarik untuk melamar pekerjaan sebagai PNS. Rumput tetangga memang lebih hijau, dan saya memahami posisi mereka.
Tak salah kalau saya pun berangan-angan, kapankah kiranya, posisi PNS akan kembali dilirik & diperebutkan oleh anak-anak muda Indonesia yang cemerlang ? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Jaya Indonesia-ku, Jaya PNS-ku.