Sahur di Stasiun Tugu
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Agustus 6, 2011
Sejak minggu kemarin, saya naik kereta Senja Utama Yogyakarta saat pulang ke Solo. Kereta Senja Utama Yogya berangkat dari St.Senen pk 19.30, lebih awal 45 menit dibandingkan kereta Senja Utama Solo yg berangkat 20.15. Walau terpaut hanya 45 menit, tapi saya bisa tiba di Solo sekitar 06.30am dengan ganti kereta Prameks sesampai nya di St Tugu. Sedangkan kalau naik Senja Utama, biasanya sampai Solo pk.7.15 atau 7.30. Bagi saya, pk 7 menjadi batas psikologis, pagi atau siang. Kereta Senja Yogya sampai di St.Tugu sekitar pk 04.30. Bahkan pagi ini sampai Yogya, pk 04.15. Karena Subuh masih sekitar 15 menit, saya masih sempat menikmati sahur dengan gudeg jogja dan teh hangat di stasiun. Masih bisa sholat Subuh di Musholla Stasiun yg bersih. Perut kenyang, ibadah tenang
. Kalau naik Senja Utama Solo, saya harus sholat di dalam kereta, wudlu di WC yg sempit.
Kalau naik Senja Utama Yogya, sampai sekitar Wates selalu ada pengamen banci yang melagukan lagu sama “…ewer-ewer-ewer…” Begitu penggalan lagunya. Yah, anggap saja sebagai alarm, sudah sampai Wates. Harus siap-siap karena sekitar 10 menit lagi, perjalanan berakhir sampai Stasiun Tugu Yogyakarta.
Untuk meneruskan perjalanan ke Solo, cukup dengan Rp 10 ribu beli tiket Prameks (Prambanan Ekspres). Kereta Prameks pertama, berangkat pk 05.35. Dua perjalanan terakhir selalu kereta dengan warna ungu.
Yah, walaupun kenyamanannya jauh kalau dibandingkan dengan Moonlight Nagara yang dulu suka saya pakai untuk perjalanan malam Nagoya ke Tokyo, tetapi saya tidak perlu pusing cari tempat shalat di stasiun. Kalau di stasiun Tokyo, saya harus wudlu sembunyi2 di WC (agar tidak menaikkan kaki ke wastafel), mencari pojok yg tidak menyolok, mencari arah kiblat & menggelar tikar sajadah. Tetapi kalau di sini, musholla bersih sudah tersedia. Tiap perjalanan pasti ada kesan dan cerita masing-masing yah ?
Asop berkata
Gimana, Mas? Indonesia tetap yang terbaik?