Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • September 2011
    S S R K J S M
    « Agu   Okt »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Kategori

  • Arsip

Catatan dari ramainya debat penentuan 1 Syawal

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada September 1, 2011

Bulan Syawal 1432H telah tiba. Di akhir Ramadlan kemarin, berlangsung diskusi yang relatif “panas” yang berawal dari perbedaan dalam penentuan 1 Syawal.  Kalangan Muhammadiyah memutuskan berlebaran 1 hari lebih awal daripada yang lain, dan kriteria wujudul hilal  yang dipakai oleh Muhammadiyah mendapat kritik keras dari Prof.Thomas Djamaluddin. Terlepas dari debat panas yang bergulir, saya terkena imbas, jadi belajar berbagai hal baru mengenai astronomi, terutama dalam kaitannya dengan penentuan awal bulan. Saya coba rangkumkan di sini, sebagai bahan belajar.  Catatan ini masih acak, belum teratur. Yang penting ada dokumentasi dan link rujukannya. Semoga kelak ada waktu untuk merapikan bahasa-nya. Di bawah ini kalau ada “[TD]” maksudnya berasal dari penjelasan Prof.Thomas Djamaluddin. Bagian yang digarisbawahi adalah dari saya sendiri.  Oh ya, catatan ini murni mengenai astronomi dan syariat Islam dalam penentuan awal bulan, dan bukan bermaksud mendiskreditkan pihak tertentu.

  1. [TD] “Mengapa banyak yang merayakan 30 Agustus? Faktor utama karena mengikuti Arab Saudi yang tidak jelas dasarnya. Mengapa Cakung berhasil melihat?” (Tuesday at 8:25pm) “Mengapa Cakung berhasil? Cakung sejak lama dikenal sebagai tempat rukyat yang dipengaruhi hisab taqribi (hisab lama berdasarkan pendekatan) Sulamun Nayyirain. Hitungannya sederhana sekali, perkiraan tinggi bulan adalah angka umur bulan dibagi 2. Karena umurnya sekitar 7 jam, maka tingginya dianggap sekitar 3,5 derajat, jadi dianggap sudah imkan rukyat. Karena sudah imkan, biasanya hampir pasti mereka melaporkan melihat hilal, walau mendung sekali pun.” (Tuesday, 8:32pm, dari diskusi di FB).
  2. [TD] Arab Saudi tidak jelas metede apa yang digunakan, walau mereka mengklaim berdasarkan rukyat, tetapi sangat tidak mungkin terjadi rukyat. Pada ketinggian yang sangat rendah, sabit hilal tidak mungkin mengalahkan cahaya syafat. Tidak ada teknologi untuk memfilter cahaya syafak agar hilal terlihat, karena sumbernya sama dari matahari dengan panjang gelombang yang sama. Soal waktu Indonesia lebih dahulu, itu pada sistem kalender matahari. Pada sistem kalender bulan, semakin ke barat bulan semakin tua, sehingga sabitnya makin besar. Itu yang menyebabkan Arab Saudi bisa saja lebih dahulu dari Indonesia, walau itu bukan untuk kasus Idul Fitri 1432 ini. (dari diskusi di FB)
  3. [TD] Sama sekali tidak ada niatan untuk mendeskriditkan Muhammadiyah. Saya menghormatinya sebagai ormas besar dengan misi tajdid yang kuat. Saya mengkritisi kriteria hisabnya yang usang yang memecah belah ummat. Ketika semua Ormas lain menerima hisab imkan rukyat (ingat ini juga hisab, tetapi bisa juga diterapkan untuk memandu rukyat), Muhammadiyah memisahkan diri dengan mengagungkan kriteria usang wujudul hilal. Kriteri hisab adalah domainnya astronomi, bukan domain fikih. Silakan pakar astronomi Muhammadiyah yang membantah bahwa wujudul hilal secara astronomi bukan usang. Silakan pakar fikih-astronomi Muhammadiyah yang membantah bahwa dalil QS 36:40 tidak tepat untuk dasar wujudul hilal, itu memaksakan dalil untuk mendukung kriteria usang tsb. Rincinya silakan baca blog saya. (dari diskusi di FB)
  4. [TD] Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal. (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/)
  5. [TD] Kita harus sadari, kriteria imkanur rukyat terkait dengan batas tanggal qamariyah (lunar date line) yang senantiasa berubah-ubah. Kita tidak mungkin mendapatkan “satu tanggal satu hari” di seluruh dunia. Jadi kita tidak mungkin untuk mendapatkan, misalnya, hari Arafah 9 Dzulhijjah seragam hari Senin di seluruh dunia, kecuali bila garis tanggalnya memungkinkan. Peluang terbesar, akan terjadi dua hari untuk tanggal hijriyah yang sama. Misalnya di wilayah Barat Senin, tetapi di wilayah Timur Selasa. Konsep “satu hari satu tanggal” yang dihendaki sebagian orang hanya dapat terjadi kalau ada  “pemaksaan”. Wilayah yang belum mengalami rukyatul hilal (berdasarkan kriteria imkanur rukyat) dipaksa untuk ikut wilayah yang sudah imkanur rukyat. Artinya, menggeser garis tanggal qamariyah menjadi sama dengan garis tanggal internasional. “Pemaksaan” hanya bisa dilakukan kalau ada otoritas tunggal secara global, sehingga berlakuknya wilayatul hukmi global. (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/)
  6. Mengapa harus rukyat ? Tidak cukupkah dengan hisab saja ? Kalau merefer penjelasan di  http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/ ada 5 dalil naqli yang dipakai, yang implikasinya awal bulan Islam adalah ditandai dengan bulan sabit. Ini berarti merujuk ke umur tertentu peredaran bulan, sedemikian hingga tampak sbg sabit. Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). “Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji. (QS 2:189).” Kalau ini ditinjau dari sisi astronomi, berarti ada threshold ukuran derajat tertentu dimana bulan mulai dapat diobservasi. Kasusnya yang kemarin, dari perhitungan astronomi, posisi masih kurang dari 2 derajat, sehingga dipastikan -dari sisi astronomi- tidak akan dapat dilihat walau sudah di atas ufuq. Di situ sebenarnya yang jadi perdebatan selama ini. Muhammadiyah menganggapnya sudah masuk hari baru, sedangkan yang lain masih belum menganggap masuk ke hari baru dengan berpegang pada dalil ayat di atas.
  7. Berapa derajat minimal agar bulan bisa terlihat ? Dari sisi astronomi dikenal Danjon limit yang mensyaratkan 7 derajat agar hilal bisa terlihat dengan mata telanjang. Kalau dengan teleskop bisa lebih rendah lagi. Sedangkan dalam tulisannya TD menyatakan “kriteria MABIMS yang selama ini digunakan oleh BHR, kriteria tinggi bulan 2o yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), kriteria wujudul hilal dengan prinsip wilayatul hukmi (setara dengan kriteria tinggi bulan 0o) yang digunakan Muhammadiyah, dan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia yang digunakan oleh Persatuan Islam (Persis).” (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulan-kriteria-tunggal-di-indonesia/). TD mengusulkan perbaikan kriteria sbb.
    1. Jarak sudut bulan-matahari > 6,4o.
    2. Beda tinggi bulan-matahari > 4o.

    Mengenai detailnya dapat dibaca di blog  http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulan-kriteria-tunggal-di-indonesia

  8. Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) mengkritik keputusan kebanyakan negara Muslim yang menyatakan bahwa 1 Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. “…The Islamic Crescent Observation Project (ICOP) appeals to the authorities of the Muslim countries to carefully and critically examine all reported sightings of the crescent on Monday Aug. 29th. Indeed, in all astronomical data recorded since the Babylonia era to our present days, no crescent has ever been sighted in similar conditions, whether by naked eyes or with the aid of a telescope. Announcing a sighting on that day is tantamount to telling the world that we have people with better eye sight (sharper and more sensitive) than the largest telescopes in the world. It would be also an invitation to the world to use these moon-sighting witnesses for all astronomical observations rather than pouring millions of dollars into observatories or even sending the telescopes like Hubble into space. Accepting such reports/ testimonies would be telling the world that we totally disrespect science and reason. …” (http://www.icoproject.org/article.aspx?id=69). Kalau melihat laporan di http://moonsighting.com/1432shw.html kebanyakan negara tersebut mengacu kepada keputusan Arab Saudi. Padahal moon sighting di Arab Saudi sendiri mendapat kritikan sebagaimana di http://www.islamicmoon.com/#Saudi_Dates_Neither_Shariah_nor_Astronomy_
  9. Pro dan kontra sebenarnya wajar saja. Sayang yang kontra terhadap keputusan pemerintah banyak yang tidak memakai argumen ilmiah, seperti membandingkan dengan 1 Syawal di negara lain, padahal dari sisi astronomi, bisa saja 1 Syawal berbeda karena posisi geografis. Di satu artikel media massa juga disebutkan bahwa Indonesia jadi bahan tertawaan karena lain sendiri keputusannya. Padahal dari sisi ilmiah, kebenaran tidak selalu ditentukan oleh mayoritas. Kalau metode ilmiahnya sudah benar, tidak perlu ragu untuk berbeda dengan pihak lain. Mungkin itu cerminan watak   bangsa kita yang terlalu lama dijajah, sehingga tidak percaya dengan kemampuan sendiri dan terlalu mudah mengekor kepada bangsa lain. Ada juga yang sudah apatis dan berfikiran negatif terhadap segala yang berbau pemerintah. Kalau sudah demikian, sebaik apapun yang diupayakan pemerintah, tidak akan dianggap berguna. Debat jadi tidak ilmiah dan rasional lagi.
  10. Ada tulisan dari Marufin Sudibyo yang menyoroti kasus Cakung dan Jepara kemarin, bisa dilihat dari http://www.facebook.com/notes/marufin-sudibyo/beda-lebaran-bukan-persoalan-hisab-vs-rukyat/10150351186909595  Saya kutip yang terkait dengan Cakung “Laporan Cakung berasal dari tim observasi ponpes al-Husiniyah di Cakung (Jakarta timur), salah satu ponpes yang menggeluti ilmu falak secara intens. Saat observasi, Cakung melaporkan telah melihat hilaal pada ketinggian lebih dari 4 derajat sejak pukul 17:40 WIB. Laporan ini ditolak sebab kredibilitasnya sangat meragukan. Pertama, laporan Cakung didasarkan pada perhitungan dengan sistem pendekatan (hisab taqriby) yang disebut hisab Sullam, yang terkenal dengan ketidakakuratannya. Hisab Sullam sendiri sebenarnya hanya menyajikan prediksi waktu terjadinya konjungsi, yang itupun bisa berselisih antara 2 hingga 3 jam terhadap hasil hisab kontemporer yang akurasinya sangat tinggi. Perumus hisab Sullam sendiri sejak awal sebenarnya sudah mewanti-wantikan potensi penyelisihan ini sehingga selalu menekankan agar hasil perhitungan dalam hisab ini untuk dibandingkan dengan fakta lapangan, yakni peristiwa gerhana. Namun untuk alasan yang belum jelas, tim Cakung tidak mengikuti anjuran perumusnya sehingga selalu mengelak untuk mengamati gerhana. Kedua, hilaal dinyatakan terlihat pada pukul 17:40 WIB adalah tidak mungkin, karena Matahari saja baru terbenam di Jakarta pada pukul 17:53 WIB sementara secara konseptual hilaal harusnya terlihat pasca terbenamnya Matahari. Dan yang ketiga, angka tinggi hilaal yang disajikan Cakung sebenarnya bukanlah hasil fakta observasi, melainkan hasil perhitungan semata, dengan cara mencari selisih antara waktu terbenamnya Matahari dengan waktu ijtima’ menurut hisab Sullam untuk kemudian dikalikan 0,5″
  11. Hoax turut meramaikan diskusi ini. Beredar pemberitaan bahwa Saudi Arabia mengklarifikasi resmi bahwa 1 Syawal adalah 31 Agustus, sebagaimana dapat dilihat di http://www.e-mailaat.com/news.php?action=show&id=5099 yang diterjemahkan dan diulas di http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/09/01/saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/  Walaupun berita ini sejalan dengan keputusan resmi pemerintah RI, tetapi tabayyun tetap harus diperlukan. Alhamdulillah sudah ada klarifikasi dari Jeddah Astronomy Society dapat dibaca di http://jasas.net/vb/showthread.php?t=4742   yang sudah diterjemahkan di http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/01/hoax_saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/   bahwa berita itu tidak benar.
  12. [TD] Bukan Menteri Agama yang mengharuskan adanya rukyat, tetapi ada kelompok masyarakat yang menghendaki adanya rukyat sebagai pelengkap hisab. Itu kenyataan di masyarakat. Mengapa kesaksian di Cakung dan Jepara ditolak? Karena sangat meragukan. Tidak mungkin hilal rencah yang sangat tipis bisa mengalahkan cahaya syafak/senja yang cukup kuat di horizon. Saksi lain di dekat lokasi tidak melihat hilal. Sumpah hanya menunjukkan saksi tidak berbohong, tetapi belum menjadi bukti bahwa yang dilihatnya benar hilal, apalagi mereka melihatnya tanpa teleskop. Jangan kita disesatkan dengan informasi yang keliru soal purnama. Purnama tidak bisa digunakan untuk mengoreksi awal bulan. Orang yang pernah belajar astronomi secara benar tidak mungkin berpendapat sepeti itu. (3 September 2011 at 23:13,

    http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/#comment-1433)

  13. Ada yang memakai bulan purnama untuk memverifikasi apakah penetapan 1 Syawal benar atau tidak.  Jawab dari Prof.Djamal: “Jangan gunakan purnama untuk mengoreksi awal bulan. Itu tidak dikenal dalam hisab rukyat dan secara astronomis juga tidak benar. Purnama itu terjadi pada hari ke 29,53/2 = 14,76 setelah ijtimak. Tanpa melakukan pengamatan pun purnama sudah bisa dihitung.” (3 September 2011 at 23:05, http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/#comment-1433).  Di komentar no.16, juga sudah saya tulis, sbb. “Purnama bisa tanggal 14, bisa juga 15, karena 1 bulan rata-rata 29.5 hari. Juga perbedaan kondisi bulan di sekitar tanggal itu tidak bisa dibedakan secara signifikan oleh mata telanjang. Misalnya kalau kita akses ke http://www.moonconnection.com/moon-september-2011.phtml jelas terlihat bahwa antara tgl.11-16 September, perbedaan fase bulan tidak bisa dilihat secara signifikan.”
  14. [TD] “Jelas kalender memerlukan hisab, tetapi lebih dari itu untuk menentukan awal bulannya harus ada kriterianya. Kuncinya pada kesamaan kriteria. Mengapa rukyat harus terkait, karena kebanyakan ummat Islam masih menghendaki rukyat sebagai konfirmasi atas hisab. Karenanya digunakan kriteria imkan rukyat. Itu langkah yang digunakan Ilyas dengan IICPnya dan Odeh dengan ICOP dan UHC-nya. Itu langkah praktisnya. Batas tanggal qamariyah ditentukan dengan kriteria tersebut sehingga diperoleh kurva-kurva visibilitas hilal yang sekaligus menjadi rujukan batas tanggal qamariyah. Tetapi itu beum bisa diberlakukan akau belum ada otoritas yang menentukan. Langsung pada otoritas global untuk saat ini nyaris mustahil. Oleh karenanya perlu dilakukan bertahap, karena otoritas sangat tergantung pada aspek sosial-politik. Mulailah dengan otoritas nasional yang ada di depan mata. Lalu bisa diperluas ke tingkat regiona setelah pola nasional mapan, lalu ke tingkat global.” (4 September 2011, diskusi di FB)
  15. [TD]
    Dua pokok kritik saya: (1) masalah dalil dan (2) kriteria wujudul hilal yang usang. Walau pun bukan an sich, tetapi tafsir QS 36:40 yang secara panjang lebar dijelaskan untuk mendukung wujudul hilal. Tafsir sangat bergantung pada logika dan wawasan penafsir. Dengan pemahaman astronomis, tafsir tersebut terkesan dipaksakan. Dalil itu saya kritik dari sudut pandang astronomis. Pak Syamsul Anwar yang pakar syariah tidak menyalahkan atau membenarkan kritik soal dalil tersebut. Justru banyak menulis soal teknis kalendernya yang sebenarnya bukan kompetensi utamanya, sehingga dari tinjauan astronomis terasa janggal. Harus diakui tinjauan pakar non-sains untuk mengkritik sains kadang terasa janggal. Masalah kriteria adalah masaah astronomis yang terus berkembang sejalan dengan kemajuan riset astronomi. Merujuk pada pendapat Ibnu Taimiyah pun tidak tepat. Ibaratnya, teori geosentris yang dulu mewarnai tafsir dan pakar astronomi lama sudah dianggap usang pada zaman ini. Gerak planet, orbit satelit, sampai manuver pesawat antariksa tentu harus menggunakan teori gravitasi yang terus disempurnakan. Mengapa orang yang bukan bidangnya menyatakan wujudul hilal itu akurat? Wujudul hilal saya sebut usang karena sudah jarang dipakai oleh komunitas astronomi. Itu adalah kriteria sederhana yang mengabaikan faktor atmosfer. Pakar hisab rukyat dulu mengabaikan kerumitan itu untuk mempercepat proses hisabnya, jadi cukup sekadar menghitung waktu terbenam matahari dan waktu terbenam bulan. Bila bulan sudah lebih lambat terbenamnya maka dianggap sudah wujud. Ya, hanya sederhana seperti itu perhitungannya. Sampai tahun 1970-an ahli hisab untuk menghitung ketinggian bulan dilakukan secara manual dengan berlembar-lembar kertas dan berhari-hari. Kadang harus mengulang karena hasil perhitungan dua orang kadanag berbeda. Saat ini dengan bantuan software astronomi, ahli hisab dengan mudah dan sekejap dapat menghitung ketinggian, jarak azimut, fraksi iluminasi, umur bulan, elongasi (jarak bulan-matahari), dan planet-planet yang berpotensi mengganggu. Pakar hisab Muhammadiyah pun sudah bisa melakukannya. Mengapa mereka masih bertahan pada kriteria lama yang usang itu? Padahal dengan pembaruan kriteria itu kita bisa bersatu, tidak perlu lagi mengdikhotomikan hisab dan rukyat.  (9 April 2011, http://www.facebook.com/thomas.djamaluddin/posts/170831826326739?notif_t=share_reply )

Beberapa link yang berkaitan dengan topik ini:

http://www.facebook.com/notes/marufin-sudibyo/beda-lebaran-bukan-persoalan-hisab-vs-rukyat/10150351186909595

http://rukyatulhilal.org/artikel/23-tahun-isbat-indonesia.html

http://moonsighting.com/1432shw.html

http://www.islamicmoon.com/#Saudi_Dates_Neither_Shariah_nor_Astronomy_

About these ads

33 Tanggapan to “Catatan dari ramainya debat penentuan 1 Syawal”

  1. Surya Sumpeno berkata

    pak Anto top deh atas ringkasannya! Point no 9 itu yg jempol!

  2. MG Amanullah berkata

    sehebat apapun argumen yang diberikan pemerintah dlm menentukan 1 syawal, faktanya jauh lebih banyak negara yg ikut saudi. silahkan lihat: http://www.moonsighting.com/1432shw.html. 50 negara lawan 20 negara. walaupun mungkin perhitungan rukyat pemerintah benar, tp kalau memang niatnya ijtihat dng melihat islam secara global mengapa kita tdk ikut yang lebih besar secara global? justru di sn letak kekolotan pemerintah sendiri dng para prof astronominya (yg wallahualam juga). memang utk saat ini blm ada negara pemersatu islam di dunia, tp setidaknya krn saudi ada ka bah, dan pusat haji hrs diakui sejujurnya dia mau tak mau yg dijadikan kiblat dlm hal ibadah islam utk sementara ini (kl tdk mau negara mana lagi???) lha untung indonesia msh ada temenya, misal cuma indonesia yg ngrayain tgl 31, semua negara tgl 30, sehebat apapun arguemen bapak di depan mereka yakin akan diketawain. atau beranikah (pemerintah dengn segudang ahli astronominya ) sekali2 lah bapak protes ke saudi yg kadang2 penentu hari ibadah haji juga.

    justru aneh, bapak bilang tdk ingin mendiskreditkan muhamadiyah tp isi ulasanya mendiskerdiktkan? memecah belah umat maksudnya gmn ini? bapak berani mempertanggunjawabkan bilang spti itu? bapak menyoroti usang atau tdk usanyanya hisab wujudul hilal? kalah ranah teknologi bikin sistem infrastruktur negara monggo. tp ini masalah ibadah lho. banyak syariat islam lain yg kalau diliat dr ms sekarang usang tp wajib dijalankan. yg harus dibahas mendalam benar tdk hisab wujudul hilal secara syariat? itu mestimya yg hrs bapak bahas. kl memang benar scra syariat meski usang bgmnpun jg tetep tak bs ditolak. bagaimanapun juga.

  3. mudflow berkata

    pak Anto, terima kasih untuk ringkasannya, kriteria Muhammadyah bukan hal yang usang kalau mengutip istilah pak TD. Sebaliknya kalau para astronom kita mampu menjelaskan dengan lebih baik kriteria 0+ dan 2 derajat itu akhirnya kita akan merujuk pada 1 referensi yang sama. Sebenarnya kan lebih mudah apabila kita memperbesar ruang observasi menjadi tanggal 27,28 dan 29 daripada terburu2 melihat bulan baru pada tanggal 29. Mungkin untuk point 9 perlu diperhatikan bahwa kita sudah merdeka 66 tahun (atau belum benar2 merdeka ya pak Anto :-). Pak TD, generasi kita dan putra2 kita sudah tidak berada di jaman penjajahan, harusnya kita mempunyai kemampuan analisis yang lebih baik. Lebih kurangnya mohon dimaafkan lahir dan bathin apabila ada kekurangan dalam penyampaian diskusi ini.

  4. MG Amanullah berkata

    kalau yg point 9 justru gk nyambung pak. di atas muhamdiyah dituduh memecah belah umat krn beda sendiri. kok pemerintah juga gk tanya dirinya sendiri mengapa dia tdk menganggap dirinya pemecah belah umat secara global krn beda sendiri?

    kenapa gk sekalian aja diteliti metode keilmiahan sholat, zakat, jilbab, dll, shg kita akan menentukan sendiri jenis sholat dll sesuai bangsa kita? shg kita tak perlu mengekor bangsa lain. skl lagi ini masalah agama. bukan budaya, teknologi dll. semakin sedunia bersatu makin baik.

  5. Tras Rustamaji berkata

    terimakasih Pak Anto rankuman dan linknya cukup membantu, mudah2an diskusinya di sini memang ilmiah dan dengan hati yang dingin. Mungkin maksud Pak Anto bukan warga Muhamadiyah yang usang tetapi para ahli hisab di Muhamadiyah?. Mertua saya dan rekan-rekan saya yang warga Muhamadiyah biasa nggak kenal tuh kriteria Wujudul Hilal dan Imkanul Rukyat taunya cuma Hisab atau Rukyat, dan begitu juga saya 12 tahun terakhir. Dan sebagai orang yg ngerti sains saya pendukung hisab dan cenderung mengikuti lebaran Muhamadiyah sejak 12 tahun lalu. Tetapi setelah belajar sedikit gara-gara polemik ini, saya jadi mengerti.mengapa para ahli hisab pemerintah punya pandangan lain tentang definisi hisab, dan saya fikir kedua-duanya punya point. Karena dua-duanya punya dasar yang kuat, kalau mau bersatu kan tinggal tentukan mau yang mana yg kita tentukan. Tidak ada yg salah dan benar untuk keduanya.

    Temen-temen saya juga banyak yang mengikuti Arab Saudi lebarannya, dengan alasan yg saya fikir temporary. karena kebetulan tanggalnya sama dengan yg ada di keinginan mereka, padahal Saudi katanya pakai rukyat? Kita tunggu, tahun nanti ketika lebaran di Saudi berbeda dengan hitungan hisab kita, apakah masih ada keinginan untuk ikut Saudi.

    O iya, nitip, kalau mau nulis ulang, tolong masukkan mengenai lunar date line, itu lho batas tanggal Qomariyah. Karena temen-temen saya kompak bingungnya kenapa cuma selisih waktu satu jam, tetapi bisa beda 1 Syawal. Kalau international date line kan jelas tuh di deket Alaska sana. Jadi kalau jam 1 pagi di Alaska orang sana mendengar tetangganya di Rusia Timur jam 12 malam sedang merayakan Tahun Baru, mereka tidak komplain, lho kok mereka udah Tahun baruan? Kan kita 1 jam di depan mereka? Alaska dapet giliran 23 jam kemudian. Kalau lunar date linenya jelas, kita bisa tentukan apakah Jakarta itu 5 jam di depan Saudi atau 19 jam di belakangnya? Seperti Alaska adalah 23 jam di belakang Rusia Timur, bukan 1 jam di Depan Rusia. cmmiw

  6. Pak Tras dll. Sepertinya ada kesalahfahaman beberapa rekan dalam memahami catatan saya. Mengenai istilah “usang”, itu adalah kutipan dari tulisan Prof.Thomas Djamaluddin. Sebagaimana di alinea pertama, saya tulis “Di bawah ini kalau ada “[TD]” maksudnya berasal dari penjelasan Prof.Thomas Djamaluddin”. Jadi no.1 s/d 5 adalah murni quote dari artikel atau tanggapan Prof.Thomas, bukan paraphrase (saya tulis dengan bahasa sendiri). Sengaja saya tulis apa adanya, disertai dengan link terkait agar mudah melacaknya.

    Mengenai international date line, terima kasih masukannya. Saya rasa bisa dibaca langsung dari tautan yang saya tulis di catatan: http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/. Selain itu banyak dibahas di blog Prof.Djamal, antara lain: http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/11/idul-adha-1417-h-mengapa-berbeda-hari-antara-indonesia-dan-arab-saudi/

  7. MG Amanullah wrote “sehebat apapun argumen yang diberikan pemerintah dlm menentukan 1 syawal, faktanya jauh lebih banyak negara yg ikut saudi. silahkan lihat: http://www.moonsighting.com/1432shw.html. 50 negara lawan 20 negara. walaupun mungkin perhitungan rukyat pemerintah benar, tp kalau memang niatnya ijtihat dng melihat islam secara global mengapa kita tdk ikut yang lebih besar secara global?”

    Logikanya salah. Saya tanya saja, deh. Kalau “3×4=” ditanyakan ke satu kelas yang terdiri dari 100 orang, satu anak menjawab 12, dan selebihnya menjawab 34, anda ikut yang 12 yang cuma dijawab satu orang (yang anda juga tahu kalau itu jawaban yang benar), atau memilih 34 demi kebersamaan ?

    Kebenaran tidak selalu berpatokan pada majority voting. Islam tidak identik dengan Arab. Islam diturunkan untuk umat seluruh dunia, baik Arab, Indonesia, Afrika, dsb. Yang terpuji di sisi Allah adalah mereka yang beriman, dan tidak harus dari Arab. Orang Arab yang ma’sum (terjaga dari kesalahan) adalah Rasulullah SAW. Orang Arab yang lain tidak ma’sum. Tidak ada dalilnya kita mengekor ke Arab.

    Yang lainnya tidak saya tanggapi.

  8. tonangardyanto berkata

    Mas Anto, saya Sholat Ied Selasa, karena ada yang berani bersumpah dan bersaksi telah melihat Hilal. Di tengah perbedatan seru, dan suasana tidak hangat di Sidang Isbat kemarin, saya memilih – minimal saat ini – kembali ke dalil bahwa ada 1 orang saja yang bersumpah, maka harus diikuti. Bahkan dalam 1 riwayat, Nabi pun mengikuti ketika ada yang berani bersumpah telah melihat hilal. Bahwa “kesaksian” itu sendiri dibantah oleh perhitungan ahli astronomi, kita bisa berdebat panjang. Tetapi bahwa sumpah itu sesuai dengan dalil eksplisitnya, itu yang saya ikuti saat ini.

    Ke depan, saya sangat berharap, ada kesamaan pandangan dan kesepakatan mengenai penanggalan ini. Kalau tidak, saya khawatir, perbedaan ini tidak lagi menjadi rahmah, tetapi menjadi musibah. Saya serius. Semoga. Amin.

  9. Terima kasih tanggapannya mas Tonang. Selama ada dalilnya, saya kira itu sudah pilihan masing-masing. Belum lama dari FB nya mas Agus Zainal Arifin, ada link yang diposting mengenai persoalan Cakung dan Jepara kemarin. Silakan cek di http://www.facebook.com/notes/marufin-sudibyo/beda-lebaran-bukan-persoalan-hisab-vs-rukyat/10150351186909595
    Kasus di dua kota tsb. diperkirakan karena salah lihat. Ada beberapa penjelasan, salah satunya “hilaal dinyatakan terlihat pada pukul 17:40 WIB adalah tidak mungkin, karena Matahari saja baru terbenam di Jakarta pada pukul 17:53 WIB sementara secara konseptual hilaal harusnya terlihat pasca terbenamnya Matahari”. Selengkapnya silakan akses ke catatan tsb.

  10. MG Amanullah berkata

    tanggapan utk mas anto satriyo nugroho. kl bgt hanji anda tak perlu mengekor ke arab. buat sj haji sendiri di kampung sendiri. pun halnya muhamdiyah tak perlu mengekor ke pemerintah yang didukung lebih banyak ormas. justru logika anda saya balik, pemerintahpun yg didukung oleh banyak oramas jg belum tentu benar. ini juga bukan masalah demokratis. sama seperti kata anda kebenaran juga tdk perlu tergantung majoritu voting. jd tdk perlu menyalahkan juga muhamadiyah. termasuk logika matematika anda pula,….3×4 bagaimana kalau pemerintah dan ormasnya jawab jawab bukan 12 dan hanya muhamadiyah yg jawab 12? jadi logika anda bisa diterapkan ke mudhamadiyah.

    sekali lg sy tegaskan sy bukan org muhamadiyah. yg sy kritisi tulisan di atas. niatnya sih mau mencerahkan tp kl org awam liaht justru lebih terbaca menyudutkan, mendiskredit, menuduh. yg kalau dikaji tuduhan itu belum tentu benar juga. coba sj tolong jelaskan istilah memecah belah umat? umat yg mana? umat islam indonesia? umat islam dunia? kenapa tdk disebut sj salah satu ormas. sy pikir itu lebih obyektif dan mencerahkan. silahkan sj diskusi dan tulis, tapi buat yg obyektif dan berimbang.

    dan sekali lgi ini masalah ritual agama. bukan masalah kehidupan budaya, teknologi, yg hrs selalu bisa dibuktikan secara empiris. yg namanya islam semakin bersatu di dunia makin baik…… (atau mungkin ada islam bergaya indonesia,…..wallahu alam)

  11. Tras Rustamaji berkata

    Mudah2an komentar saya di bawah ini bisa mencerahkan dan bukan malah membingungkan apalagi memanaskan.

    1. MG Amanullah berkata “…kl bgt hanji anda tak perlu mengekor ke arab. buat sj haji sendiri di kampung sendiri.” (mungkin hanji di sini = haji)

    Pak MG, terjadi pengambilan kesimpulan yang lompat dalam hal ini (jump to conclusion). Karena 1 syawal tidak mengikut pemerintah Arab Saudi, maka ibadah yang lain juga tidak usah? Apakah kita pergi haji ke Mekah, karena raja Arab Saudi yang memutuskan agar kita ke sana ataukah karena Al Quran dan Sunnah yang menyuruh kita? Kalau misalnya terjadi revolusi di Kerajaan Saudi Arabia (mudah2an tidak) dan kerajaan Saudi Arab terpecah menjadi 2, kemudian lahir Republik Arab di mana Mekah dan Madinah dikuasai. Apakah kita pergi haji ke Riyadh karena Raja Arab Saudi memutuskan demikian ataukah tetap ke Mekah yang ada di Republik Arab?

    Tambah Pusing? Intinya: Kita pergi haji ke Mekah bukan karena keputusan raja Arab Saudi, tetapi Quran dan Sunnah yang bilang.

    2. MG Amanullah berkata “….. justru logika anda saya balik, pemerintahpun yg didukung oleh banyak oramas jg belum tentu benar…”

    That’s the point. Itu yang dikatakan Pak Anto. Kebenaran bukan ditentukan oleh mayoritas. Bisa saja yang minoritas yang betul. Tetapi bukan pula berarti yang minoritas pasti betul! Harus dilihat dari permasalahannya, bukan jumlah suara.

    3. MG Amanullah berkata “…..dan sekali lgi ini masalah ritual agama. bukan masalah kehidupan budaya, teknologi, yg hrs selalu bisa dibuktikan secara empiris. “

    Sebaiknya pak MG membaca lebih banyak tulisan mengenai masalah hilal ini, seperti yang ada pada link di tulisan ini, Insya Allah akan lebih memahami bahwa sains di sini justru untuk membantu kita beribadah. Sains lah yang bisa membuat jadwal imsakiyah, sehingga kita tidak perlu lagi melihat matahari terbenam untuk buka puasa, atau melihat mega menghilang diufuk untuk memulai sholat Isya. Kita tinggal melihat jam saja maka kita sudah yakin waktu-waktu sholat tersebut.

    MG Amanullah berkata “…..yg namanya islam semakin bersatu di dunia makin baik…… “
    Untuk yang ini saya setuju 100% sama pak MG. Makanya perlu upaya-upaya ke arah situ. Penentuan Imkan Rukyah itu sebetulnya sebagai salah satu alat pemersatu, kalau kita mau pelajari dengan baik dengan hati terbuka.

    Demikian, mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.

  12. MG Amanullah berkata

    Tanggapan Tras Rustamaji. sebelumnya terimakasih banyak atas tanggapanya mas. di ulasan sbelmnya ada beberpa kata sy yg sy pikir salah dimengerti. baiklah di bawah sy jelaskan kembali agar tak

    Dalam hal ibadah mualamlah muasyarah yg jd rujuakan jelas nabi-lah (qur an, hadist). Itu sy pikir itu tak perlu dijelaskan. Yang sy maksud dng haji di atas adalah contoh dua hal yg mau tak mau kita hrs mengacu ke arab. tak lain krn kiblat sholat dan haji itu ada di negara yg saat ini bernama arab Saudi. Jadi sehebat apapun amal agama si muslim, utk masalah haji, kiblat sholat, ia mau tak mau hrs berhaji dan berkiblat sholat ke arab. Ini yg saya maksud. Jd tak ada sangkut paut dengan entitas negara bernama Arab Saudi. Jadi jelas bukan berarti ibadah di luar hal itu gebyah uyah ngopi semua ke negara bernama arab tsb (apalagi semua muamalah muasyarah mengikut org arab).

    Yg jd point penting adalah bukankah jauh lebih baik kalau semua muslim sedunia mengacu hari raya yg sama? (tdk mesti arab jg tak papa, tp mana?) Apa tidak malu di lihat org non muslim. Gimana mereka tdk ketawa. Menyatukan dua hari raya sj tak bs apa lagi menyatukan umat? Di sinilah ada masalah lebih besar ketimbang mati2an mempertahakan kebenaran ilmiah, yaitu: nilai ukuwah islam sedunia. Kalaupun dalam penentuan 1syawal pemerintah Saudi Arabia katakanlah ekstrimnya scra ilmiah sekalipun SALAH, sebenarnya tak ada alasan negara lain utk tdk mengikutinya. Itulah yg sy maksud mengapa kok perlu mengacu ke arab. Makanya tak heran kl banyak negara lalu tertulis “follow” ke arab dalam penentuan 1 syawal meskipun barangkali hitung2an penentuan 1 syawal di arab salah. Kl misal hari raya sama kan enak. Di mata org non muslim tdk kehilangan wibawa, sesame muslim pun tak ada masalah.

    Lha, di Indonesia lain lagi. Pemerintah Indonesia mungkin krn ahlinya sudah hebat2, gelarnya tumpuk undung tenyata bukanya mendahulukan sesuatu yg besar, melainkan malah terjebak pada terlalunya mengandalkan kebenaran ilmiah gaya penelitian iptek. Tidak hanya itu, ahli2nya masih juga turut menuduh hitungan di arab aneh, beda, dll. (yg mestinya tak perlu diungkap scr ekspilisit krn justru keliatan sok-nya. Coba apa tanggapan pada Malaysia yg merayakan hari raya 30 agt juga?) Memang penentuan di Indonesia bisa jadi scr ilmiah benar, tdk salah. Tapi kenapa tdk mau sedikit sj berendah hati melihat kemaslahatan yg lebih luas? Mengapa pemerintah Indonesia tdk bilang baiklah metode kami dan hasilnya beda dengan arab, tp demi kemaslahatan ukuwah islam sedunia kami akan ikut Saudi. Sekali lagi demi ukhuwah islamiyah sedunia. Dan agama memberi jalan keluar yaitu: ijtihat.

    Itu pertama, kedua ternyata ada masalah lain. Di saat yg sma di dalam negeri ada satu ormas yang beda dlm penentuan hari raya. Alih2 mendahulukan ukuwah islam yg lebih luas, pemerintah justru membuat kesalahan kedua: memojokkan satu ormas ini dng tuduhan negative krn hanya gara2 beda dalam metode penentuan 1 syawal. Mestinya pemerintah dan org2 di baliknya legowo dan bilang: kalau memang itu landasan kebenaran anda ya monggo. Toh ini bukan negara islam. Negara tak punya hak memaksa pelaksanaan ibadah satu orag individupun. Negara hanya bisa menyediakan pilihan, informasi. Tidak lebih dari itu. Anda bebas memilih sesuai keyakinan anda. Tapi kenyataanya tidak. Kalaupun ada statemen itu ternyata tidak tulus….. Benar2 negara (dan ahlinya) terlihat sok2an. Sudah bgt, di depan beda dng belakang. Di belakang ternyata ada statemen memecah belah umat-lah, dll. Lha terus yg memecah belah umat yg mana? Jangan 2 malah pemerintah sendiri yg justru terlalu kolot dan memaksakan kehendak? Ini sy pikir yg perlu dikoreksi. Jadi jgn melulu metode dan metode diublek2. Tantang2an metode,…..

    Berikutnya mengenai peran sains dalam kehidupan ibadah, jelas sy stuju sekali mas. Sains memudahkan kegiatan ibadah. Cuma masalahnya tdk semua perkara agama bisa di-sain-tifiakasi (br bisa dilaksanakan kl bisa dibuktikan scra sains). Kedua, jangan sampai sains karena ke-empirisanya mengalahkan prinsip2 kehidupan di agama yg justru lebih penting spt menjaga ukuwah, menghargai pendapat, tdk melukai hati sesame muslim, dll. Inilah yg saya maksud.

    mohon maaf kl ada kata2 yg kurang berkenan di hati.
    ps: sy pendukung metode penentuan syawal yg dilakukan pemerintah. cuma tdk suka dng hal yg dilakukan nya juga spt di atas.

  13. angga kelana berkata

    Untuk tahun kedepan sebaiknya penetuan tanggal 1 syawal harus diikutsertakan pula tanggal purnamanya. biar masyarakat punya hak untuk pembuktian pembenarannya.

  14. MG Amanullah berkata

    sedikit tambahan:
    Bahwa lebih banyak negara yg ikut Arab dalam penentuan 1 syawal bukan berarti mereka tidak tahu kalau penentuan di Arab ada yg keliru. Yakin mereka tahu. Di negara2 itu pasti juga terdapat banyak ahli astronomi yg canggih pula (pa lg kl cuma dibanding kelas Indonesia). Tapi negara2 itu tak berkutat pada kesalahan yg dibuat arab, melainkan lebih mendahulukan nilai yg lebih penting: persatuan dan ukuwah islamiyah-nya. Terlihat dari ket “follow” yang diambil hampir sebagian besar negara. Justru Inilah terlihat cerdasnya. Ketika ditanya umat lain, bs dijawab “di arab penentuan 1 syawal memang keliru. Namun demi persatuan dan ukuwah islamiyah kami rela mengikutinya”. Bukannya malah dikasih argument yg “banyak belum tentu benar”.

    Inilah kebalikan yg tjd di Indonesia. Keliatanya cerdas, benar, tp justru alpa memperhitungkan yg lebih prinsip: ukuwah islam. Makanya ya jangan heran kalau kita diketawain.

  15. Ini terakhir kali posting pak Amanullah saya approve. FYI, setelah ini tidak akan saya approve lagi, karena komentarnya tidak memenuhi kriteria diskusi ilmiah yang berdasarkan logika dan akal sehat. Blog ini bukan ajang orang untuk menulis pendapat secara ngawur.

  16. Mas Angga, tanggal purnama tidak bisa dijadikan ukuran. Purnama bisa tanggal 14, bisa juga 15, karena 1 bulan rata-rata 29.5 hari. Juga perbedaan kondisi bulan di sekitar tanggal itu tidak bisa dibedakan secara signifikan oleh mata telanjang. Misalnya kalau kita akses ke http://www.moonconnection.com/moon-september-2011.phtml jelas terlihat bahwa antara tgl.11-16 September, perbedaan fase bulan tidak bisa dilihat secara signifikan.

  17. Sri Bardiyati berkata

    Pak Anto: “Mungkin itu cerminan watak bangsa kita yang terlalu lama dijajah, sehingga tidak percaya dengan kemampuan sendiri dan terlalu mudah mengekor kepada bangsa lain. Ada juga yang sudah apatis dan berfikiran negatif terhadap segala yang berbau pemerintah.”

    Pak Anto, jawablah dengan jujur, dalam soal watak, siapa yang lebih sulit berubah, para birokrat atau rakyat kebanyakan? Selama ini, kepada siapa kaum birokrat mengabdi, kepada atasan mereka atau kepada rakyat yang telah menggaji mereka?
    Menurut saya, ada baiknya kaum birokrat belajar dari ormas seperti Muhammadiyyah yang sejak negeri ini masih dijajah telah berjuang menjalankan amanat rakyat.

  18. Bu Sri, kalau ditanya siapa yang lebih sulit berubah, saya tidak bisa menjawab tanpa data statistik. Memang birokrat kita juga memprihatinkan bu. Tapi tidak ada orang yang mengecilkan peranan Muhammadiyah dalam membangun bangsa. Saya pun belajar di sekolah Muhammadiyah, dan juga mengajar di Univ. Al Azhar yang banyak org Muhammadiyah-nya. Yang saya kritik di atas di no.9 itu bukan Muhammadiyah koq bu. Tapi adalah orang-orang maupun media massa yang cenderung mengesampingkan apa yang diupayakan pemerintah tanpa bersedia mengkajinya secara obyektif. Kalau ibu baca di komentar pada tulisan ini, ada juga rekan yang komentarnya mengkerdilkan kemampuan orang Indonesia. Padahal Prof.Thomas Djamaluddin itu jebolan Universitas top di Kyoto, dan kredibilitasnya diakui di international. Saya pun 15 tahun berada di Jepang dan sempat 4 tahun mengajar di perguruan tinggi di sana. Tidak semua orang pemerintahan buruk dan bodoh, bu. Masih ada juga orang pemerintahan yang berupaya ke arah yang lebih baik. Tetapi kalau dari awal sudah negative thinking, maka sebaik apapun upaya orang pemerintahan tidak akan diakui.

  19. Sri Bardiyati berkata

    Pak Anto, kalau boleh saya menilai, masyarakat sepertinya saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap birokrasi kita. Itulah sebabnya tugas para birokrat berkualitas seperti Pak Thomas dan Pak Anto dalam menjelaskan sesuatu kepada masyarakat, menjadi lebih berat. Saran saya, Bapak-bapak perlu juga mempelajari prinsip-prinsip dasar ilmu sosial yang berkaitan dengan perilaku masyarakat (psikologi, komunikasi, ekonomi, sosiologi, dll). Mungkin hal ini lebih efektif ketimbang hal yang disarankan Pak Thomas dlm wall FB beliau: “Pakar astronomi harus belajar fikih”. Salah satu yang saya pikir sulit dikuasai oleh pakar astronomi Indonesia adalah bahasa Arab dengan standar tinggi. Wong yang belasan tahun sekolah di Jepang belum tentu bisa baca-tulis-bicara bahasa Jepang, ya tho Pak?

  20. Ahmad Fauzan S berkata

    Kalau saya analisa kenapa tahun ini agak tersa panas suasana perbedaan dan terkesan adanya perpecahan pada umat Islam Indonesia di sebabkan proses pengambilan keputusan pemerintah yang kurang arif serta delegitimasi pemerintah di mata masyarakat Indonesia., kenapa saya bilang kurang arif? karena tahun ini terkesan pemerintah memaksakan kriteria Imkanurrukyatnya dengan batas visibilitas 2 derjat..sehingga apapun hasil rukyat pasti di tolak..di sini letak masalahnya, pemerintah pakai kriteia Imkanurrukyat tapi tetap melakukan Rukyat dan sidang istbat, apakah ini tidak perbuatan yang sia sia dan penghamburan anggaran negara untuk honor perukyat dan biaya sidang kalau hasilnya pasti akan di tolak juga..ternyata di cakung dan jepara ada yg mengaku melihat hilal yang menurut pemahaman penganut Rukyatulhilal seorang budak badui yg bodoh pun pada zaman rasulullah mengaku melihat hilal dan di sumpah maka besoknya sudah lebaran..kemudian untuk meyakinkan umat dengan kriteria Imkanurrukyatnya pemerintah dan BHR menyatakan bahwa negara arab saudi, malaysia, singapura, bruneiakan berhari raya juga pada hari rabu,,, tetapi kenyataannya tidak,, rakyat makin heboh… kok pemerintah terkesan membohongi rakyat..kemudian pernyataan peserta sidang istbat yang begitu keras menghujat Muhammadiyah dengan teori wujudulhilalnya dan menuduhnya usang dan memecah belah umat semakin membuat masyarakat kurang simpati, belum berhenti sampai disitu peserta sidang yang ulama dan pimpinan ormas besar (terutama ketua Falakiah NU) menyatakan bahwa perukyat yang mengaku melihat hilal di cakung tidak mau di sumpah oleh juru sumpah pengadilan agama dan pergi begitu saja setelah mengaku melihat hilal sehingga kesaksiannya dusta dan dfengan gagah berani sang kyai juga menyatakan kalau yang di cakung tidak melakukan Rukyat. pernyataan ini di bantah oleh Rais Syuriah NU jakarta,di republika online dan VOA-islam, kalau juru sumpah pengadilan/ pemerintahlah yang tidak mau menyumpah saksi setelah mengaku melihat hilal, dan petugas itu pergi begitu saja sehingga Rais Syuriah NU jakarta dan ketua FPI habib riziq lah yang menyumpah saksi..kalau dicermati pastilah ada yang berbohong diantara rais syuriah NU jakarta dan Habib Riziq versus peserta sidang Isbat..dan masyarakatpun heboh kok Ulama sudah pandai berbohong untuk menguatkan hujjahnya..kalau ulama yg berbohong pasti Allah lebih marah marah sehingga hati masyarakat Indonesia di bolak balikan oleh Allah..tak sampai di situ muncul lagi berita hoax yang menyatakan pemerintah arab saudi minta maaf krena salah menetapkan hari raya dan telah membayar kaffarat ternyata yang memposting di internet dan menyebarkannya kebanyakan adalah pendukung Djamaluddin/pemerintah,, seperti ada pendukung djamaluddin yang mem posting di dinding FB prof djamaluddin, sehingga terkesan pendukung pemerintah masih mencari celah untuk menguatkan argumennya kalau hari rabulah hari raya yg benar.. tetapi kembali kebenaran itu terkuat,, ternyata itu berita bohong,, sehingga masyarakat makin berkurang kepercayaanya sama pemerintah.. jadi menurut saya penyebab perpecahan ini adalah pemerintah bukan Muhammadiyah.. karena kalau cuma perbedaan hari raya dengan kriteria wujudulhilal dan Imkanurrukyat +rukyatulhilal dari dulu sudah sering terjadi dan tidak ada masalah karena sekarang zaman sudah serba terbuka dan masyarakat sudah bisa menilai sendiri. sekarang pemerintah menyalahkan lagi kalau penyebab perpecahan ini adalah kriteria wujudulhilal..dan ini bisa jadi boal liar baru yang makin memojokkan pemerintah dan menghilangkan legitimasi pemerintah di mata uamat.. kalau mau jujur yang berlebaran hari rabu kemaren banyak yang tidak lagi berpuasa pada hasri selasa, karena ada pemaksaan pengurus masjid untuk lebarannya hari rabu,, contoh kasus di daerah saya sendiri..mungkin bisa ini pelajaran untuk kita bersama dan intropeksi bagi Muhammadiyah dan Djamaluddiniyah.. sehingga du kelompok ini bisa merumuskan kriteria yg trbaik untuk umat ini

  21. dewi berkata

    saya share ya….

  22. Silakan mbak

  23. Sigit Suharto berkata

    mas anto, tadinya saya ingin komentar, tapi mungkin bagasan saya tidak ilmiah, karena saya hanya orang biasa. saya maklum jauh ilmu saya untuk jadi ilmiah dan setara untuk masuk fprum diskusi, setidaknya untuk menjaga ukhuwah islamiyah, menghormati orang lain dihari yang dutri dan penuh limpahan barokah sari ALLAH SWT, jika tidak ingin mendiskriditkan atau menyalahkan figak lain, mbok yao jangan disebut ceto welo welo, walaupun itu suntingan dari artikel orang lain, BIJAKSANALAH. silahkan berdiskusi diruang milik ansa yg tidak menyinggung fihak lain, bukankah forum online milik masyarakat secara terbuka ???? siapapun boleh kasih komentar baik ilmiah atau tidak, bila kurang berkenan ya baiknya semua jangan diposting, bukankah itu lebih baik..Insha Allah. Maaf bila komentar saya tidak ilmiah.
    dari Sigit Suharto

  24. Yth. Pak Sigit
    Terima kasih atas masukanya. Kalau dalam technical writing dikenal dua pendekatan “paraphrase” dan “quote”. Paraphrase adalah menulis pendapat orang lain dengan kata-kata kita sendiri. Sedangkan quote adalah mengutip apa adanya dengan menyebutkan siapa yang menyatakannya. Semua scientists yang terbiasa berkomunikasi ilmiah tertulis, mengetahui dan memakai cara-cara ini dalam menulis artikel ilmiah. Ada penjelasan mengenai hal ini, misalnya di “Writing for Computer Science, Justin Zobel, Springer, 2nd Ed., April 2004 “. Saya memakai buku ini untuk mengajar Metodologi Riset di kampus. Silakan bapak pelajari terlebih dahulu buku tsb. atau buku lain yang menjelaskan dua pendekatan di atas. Yang jelas, sudah saya sebutkan di bagian awal: “Di bawah ini kalau ada “[TD]” maksudnya berasal dari penjelasan Prof.Thomas Djamaluddin”. Pemakaian teknik ini semata-mata memenuhi kaidah penulisan, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan menjelekkan ormas tertentu. Saya tuliskan hal ini di alinea pertama.

    Justru kalau tulisan pak Djamal itu saya modifikasi wording-nya sedangkan maksud saya memakai cara quote/kutipan, maka saya yang salah dan berbohong, karena pak Djamal tidak menulis seperti itu. Dalam dunia sains, kalau hal itu saya lakukan, akan dikecam ilmuwan lain sebagai pembohong.
    Maaf kalau kurang berkenan.

  25. Sri Bardiyati berkata

    Pak Anto, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya Bapak perhatikan tanggapan Ahmad Fauzan S. Menurut saya, tanggapan tsb cukup mewakili pandangan publik terhadap isu ini. Sebagai pejabat publik, ada baiknya Pak Anto (dan juga Pak Thomas) mencermati tahap pertama dalam metodologi penelitian: “penentuan masalah”. Saya khawatir Pak Anto, Pak Thomas dan teman2 birokrat di Kemenag melihat permasalahan secara berbeda dari yang dilihat publik.

  26. Bu Sri dan Pak Ahmad Fauzan, terima kasih atas komentarnya.

    1. Concern saya dalam blog ini adalah mendokumentasikan dan mencatat hal-hal yang baru mengenai astronomi dan penentuan 1 Syawal, bukan bermaksud membela prof.Thomas. Disiplin keilmuan saya bukan astronomi, dan tidak punya kompetensi membuat statement di bidang tersebut.
    2. “karena tahun ini terkesan pemerintah memaksakan kriteria Imkanurrukyatnya dengan batas visibilitas 2 derjat..sehingga apapun hasil rukyat pasti di tolak”. Prof.T.Djamaluddin menjelaskan sebagaimana saya tulis di no.12 “Bukan Menteri Agama yang mengharuskan adanya rukyat, tetapi ada kelompok masyarakat yang menghendaki adanya rukyat sebagai pelengkap hisab. Itu kenyataan di masyarakat.” Kita ketahui kalau misalnya kalangan NU menghendaki rukyat dengan dalil naqli yang sudah di no.6.
    3. Mengenai hoax “.tak sampai di situ muncul lagi berita hoax yang menyatakan pemerintah arab saudi minta maaf krena salah menetapkan hari raya dan telah membayar kaffarat ternyata yang memposting di internet dan menyebarkannya kebanyakan adalah pendukung Djamaluddin/pemerintah,”, ini juga tidak diketahui siapa yang menyebarkannya. Sudah saya tulis juga link klarifikasinya di point 11
    4. Rukyat Cakung kenapa ditolak ? Penjelasan Prof.Djamal saya kutip di no.12. Penjelasan lain sudah saya tulis di point 10
  27. Prayogo berkata

    Point 9
    Pernyataan poin ini agak bias, karena menurut saya yang pro maupun yg kontra kebanyakan sama-sama tidak memakai argumen ilmiah. Kalau kemudian di masyarakat “terasa” banyak yang membandingkan dengan Arab Saudi, menurut saya kebanyakan justru –dengan keterbatasan informasi yg diterima– karena mereka benar benar “sedang ingin bertanya” dan bukan sedang kontra dengan keputusan pemerintah.
    Memang ada komentar masing2 supporter yg asbun, tapi saya pikir itu sama banyaknya di masing2 kubu.
    Kalau kita ingin membandingkan ya mestinya dengan yg selevel. Supporter dengan supporter, ilmuwan dengan ilmuwan :)
    Penjelasan ilmiah tentang kenapa memakai hisab /wujudul hilal sebenarnya banyak bertebaran situs-situs/forum diskusi di Internet. Salah satunya adalah penjelasan resmi dari muhammadiyah sendiri yang bisa dilihat dalam link-link di bawah:

    1. Kenapa Menggunakan Hisab? => http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-kalender-islam-falak-21.html
    2. Permasalahan Rukyat => http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-kalender-islam-falak-148.html
    3. Tanggapan atas kritik Thomas Djamaluddin => http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-kalender-islam-falak-157.html
    4. Menyatukan Sistem Penanggalan islam => http://www.muhammadiyah.or.id/id/download-kalender-islam-falak-149.html

    Yang indah dari semua publikasi muhammadiyah di atas, meskipun jelas tegas mereka pro hisab, tapi sama sekali tidak ada statement kasar, tendensius atau terkesan melecehkan penganut keyakinan lain seperti yang dipamerkan oleh Thomas Djamaluddin dalam tulisan-tulisan/ pernyataan publiknya.

  28. Ali Imron, UM. berkata

    Saya tidak tahu, apakah pandangan saya ini benar ataukah tidak. Dalam perspektif positivistik, ada tiga jenis kebenaran, ialah (1) kebenaran rasional, (2) kebenaran empiris, dan (3) kebenaran rasional-empiris. Yang ke- (3), lazim dikenal dengan kebenaran ilmiah. Kebenaran rasional umumnya diturunkan dari teori, kemudian diturunkan menjadi kerangka pikir, dan mengerucut ke perumusan hipotesis. Hipotesis telah mengandung sejumlah kebenaran, tetapi sifatknya masih dugaan. Agar hipotesis ini mempunyai derajat kebenaran yang lebih tinggi lagi (kebenaran ilmiah), maka dilakukanlah verivikasi empiris, sehingga kebenaran yang sebelumnya hanya bersifat rasional meningkat menjadi kebenaran rasional empiris. Ketika hipotesis ini telah mengalami proses verivikasi empiris, maka meningkatlah menjadi tesis. Dugaan saya (saya hanya bisa menduga, karena saya memang bukan ahli hisab dan rukyah), hisab yang memang berbasis teori itu, melahirkan kebenaran yang bersifat hipotesis. Agar kebenaran hisab tersebut meningkat menjadi tesis, maka diperlukan verivikasi empiris yang disebut rukyah.
    Berdasarkan paparan tersebut, rukyah yang tanpa dipandu dengan hisab melahirkan kebenaran empiris (belum tentu rasional). Hisab yang tanpa disertai dengan hisab melahirkan kebenaran rasional (yang belum tentu empiris). Sementara hisab yang diikuti atau memandu rukyah melahirkan kebenaran rasional-empiris (yang dalam bahasa lain disebut dengan kebenaran ilmiah). Jika hisab dan rukyah digabung (rasional-empiris), saya juga tidak tahu, apa label yang tepat untuknya: hisab imkanurrukyah atau rukyah yang berbasis hisab. Mohon maaf, ini pandangan keilmuan, yang mungkin sama sekali berbeda dengan pandangan astronomis atau pandangan fiqhiyah. Tapi, pandangan saya ini juga tidak melahirkan kebenaran yang bersifat absolut, karena kebenaran ilmiah itu relatif. Kebenaran absolut memang bersumber dari keyakinan. Itulah sebabnya, saya jadi ingatt dengan karya Hidayat Nataatmadja, bahwa paradigma itu bisa bersumber dari paradogma. Ali Imron, UM.

  29. Terima kasih masukannya pak Prayogo. Mengenai kesan bias, karena saat menulis point tersebut komentar-komentar yang saya baca (di FB dan blog Prof.Thomas Djamaluddin) banyak yang cenderung terburu-buru mencemooh dan apatis, dan membandingkan dengan Arab Saudi. Itu yang saya kritik di point 9. Yang bertanya dengan baik juga ada. Tapi, saya setuju dengan bapak, bahwa baik pro maupun kontra sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang santun.

    Terimakasih atas link mengenai penjelasan resmi Muhammadiyah. Tapi saya belum puas, karena yang memberi komentar bukan ahli astronomi/falaq Muhammadiyah. Saya pribadi lebih sreg dengan penjelasan Prof.Djamaluddin. Dukungan dalil naqly yang didukung oleh argumentasi dari sisi astronomi yang dikemukakan Prof.Djamaluddin lebih bisa saya terima.

    Dalam hal ini, agar obyektif kita kesampingkan dahulu saja, masalah style penyampaian Prof.Djamal yang terkesan arogan bagi kalangan Muhammadiyah. Lebih baik dibahas hal-hal yang substansial saja, jadi diskusi bisa lebih obyektif. Misalnya sebagai berikut

    1) http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/kalender_islam_falak/Sekali%20lagi%20Mengapa%20Hisab.pdf
    halaman 3, alinea ke-3 “Maksud beliau adalah bahwa pada zaman di mana orang belum dapat melakukan perhitungan hisab, seperti di zaman Nabi saw, maka digunakan rukyat karena itulah sarana yang tersedia dan mudah pada zaman itu.”. Statement ini tidak ada kaitannya dengan penjelasan di alinea kedua yang membahas tafsir Q. 62:2. Justru pendapat saya, alinea itu menolak ayat Al Quran “Bulan sabit itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji. (QS 2:189).” dan dalil Naqly lain yang dibahas di point 6. “bulan sabit” itu jelas-jelas merujuk ke fase tertentu dari bulan.

    2) Pembahasan di artikel-artikel situs Muhammadiyah tersebut lebih banyak menekankan masalah sosial yang terjadi jika rukyat dipakai (tidak bisa diperolehnya keseragaman tanggal Masehi untuk tanggal Hijriah yang sama di seluruh dunia). Tetapi tidak saya temukan dalil Naqly untuk wujudul Hilal. Berat bagi saya pribadi untuk mengabaikan dalil Naqly sebagaimana tersebut di point 6.

    Bagaimana pendapat bapak ?

  30. agus berkata

    Pak Anto, jadi permasalahannya kembali ke masalah penafsiran agama, bukankah begitu? Muhammadiyah telah berjihad untuk meninggalkan rukyat (dalam arti persis apa yang dilakukan di zaman Nabi), dalam penentuan bulan baru digantikan dengan sebuah kriteria yang dianggap lebih ideal (termasuk dibandingkan dengan imkanu rukyat). Jadi saya tidak melihat adanya masalah astronomi yang “kuno” dan “usang” dalam masalah ini. Atau mungkin saja hanya karena saya yang memang awam masalah astronomi?

    Mengenai “rangkuman” di atas, ada baiknya memang diupdate untuk menampilkan yang tanggapan dari Muhammadiyah. Toh isi tulisan tidak perlu sesuai dengan apa yang Pak Anto percayai, kan?

  31. Muazar Habibi berkata

    Pak Anto, sebagai seorang yg berilmu, mohon kiranya hal-hal yg berbahasa provokatif termasuk kutipan dr TDJ, mhn sedapat mungkin di eleminasi agar tdk semakin memperpanjang masalah dan justru hal-hal seperti ini yg memicu antipati antar golongan!

  32. Terima kasih masukannya, pak Muazar. Kutipan di atas adalah style yang biasa kita pakai untuk menulis kutipan, untuk mempertahankan originalitas kalimat yang dipakai pak Djamaluddin. Ini cara yang lazim dipakai dalam penulisan artikel ilmiah. Cara kutipan apa adanya ini juga dipakai oleh situs resmi Muhammadiyah, koq pak.
    Silakan bapak baca di http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/Otoritas%20dan%20sistem%20Matematis%281%29.pdf
    Halaman 1 “Diskusi mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud berpegang kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat mengatakan hal yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada rukyat atau hisab imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu). Dikatakan, “sumber masalah utama ..dst” Tentunya kalau saya tidak diperbolehkan memakai style kutipan, artikel itu maupun media massa yang lain juga tidak boleh memakai quote-style. Tentunya tidak demikian. Maaf, bukan saya bermaksud mendebat bapak. Saya faham dengan maksud baik bapak. Saya juga turut prihatin. Saran bapak saya perhatikan.

  33. Budi Anto berkata

    Pak Anto, saya sungguh2 salut dengan apa yg bapak sampaikan, terus maju pak untuk menyamoaikan kebenaran meski pahit sekalipun sehingga kami yg dianggap tdk modern dlm cara berfikir jd bs menambah ilmu pengetahuan guna mendukung keyakinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: