Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • September 2011
    S S R K J S M
    « Agu   Okt »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Kategori

  • Arsip

Lugas (dan adakalanya pedas)-nya debat sains

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada September 3, 2011

Dalam mereview paper baik di international/national journal, atau conference, lazim dipakai kata-kata tegas dan lugas. Ada kalanya saya komentari: referensi yang dipakai out of date, unreliable, dsb. ketika referensi paper yang saya review ternyata sudah lebih dari 30 tahun lebih usianya, atau memakai wikipedia sebagai referensi, situs-situs internet yang berisi pendapat pribadi, yang jelas tidak melalui peer review. Biasanya saya tambahkan komentar: “references should be chosen from journal, peer-reviewed conference proceedings. Text books should be carefully considered and normally not included as references. Wikipedia, blog, programming manuals, should not be included formally as references”, karena reviewer dan terutama editor harus berperan sebagai edukator. Tidak cukup kalau menyalahkan saja, tetapi harus memberikan argumentasi dan informasi bagaimana koreksi harus dilakukan. Karena itu mereject suatu paper sangat berat, sebenarnya. Reviewer harus menulis argumentasi mengapa dia mereject paper itu. Kalau tidak memberi argumentasi, artinya dia tidak mengerti etika dalam dunia sains. Tidak bisa memenuhi kepercayaan yang diberikan editor.

Adakalanya saya komentari “author harus memperhatikan style penulisan sebagaimana di journal-journal X”. Sebenarnya saya ingin teriak “Anda…gak pernah baca paper ya ? Koq nulisnya kayak begitu”, cuma terlalu kasar. Berani menulis paper artinya sudah harus memenuhi syarat: cukup membaca literatur. Kadangkala ada penulis yang membuat paper tapi lebih mirip ke proposal penelitian atau laporan project. Ini menunjukkan ybs. tidak pernah membaca atau memperhatikan bagaimana tradisi penulisan paper, yang berbeda dengan proposal atau laporan project.

Kalau debat secara lisan, pedas-nya lebih terasa. Saat mengikuti  ICONIP (International Conference on Neural Information Processing) di Italy th.2000 dulu juga ada yg langsung menukas “you are simply wrong !” saat satu presenter (org Belanda kalau gak salah) mengclaim kalau metodenya terbaik.  Debat lisan kadang memerahkan telinga. Saat diskusi sambil makan-makan dengan beberapa sensei, beberapa sensei ngumpul dan adu argumen. Sampai sempat berkata ke lawan debatnya, “Anda nggak konsisten dengan filosofi yang dipakai. Kalau saya ditunjuk sebagai reviewer papermu, bakal langsung kureject”. Di kalangan scientist, kata2 lugas, tidak abu-abu, dan tegas dan kadang pedas, tidak jarang dipakai. Qulil haqqa walau kaana murron (katakanlah kebenaran, walau itu pahit). Kalau dipakai dalam keseharian memang mengundang kesan yang negatif, walau kalau dalam debat saintifik, itu wajar terjadi.

About these ads

Satu Tanggapan to “Lugas (dan adakalanya pedas)-nya debat sains”

  1. pebbie berkata

    kalau mau lugas/pedas, objek orang (“Anda..”, “You are..”, “Your..”) mesti dihilangkan dari kalimat; supaya lebih objektif seperti yang dilakukan di dalam makalah; karena yang salah adalah tindakannya/tulisannya/penyampaiannya bukan orangnya. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: