Hari ini saya mempresentasikan hasil riset yang didanai oleh insentif ristek 2011: “Pengembangan Sistem Computer Aided Diagnosis berbasis Free Open Source Software (FOSS) untuk Diagnosa Dini Malaria di Indonesia dari Citra Mikroskopis Sel Darah Merah” . Seminar ini dalam rangka perayaan HUT BPPT ke 33 yang diselenggarakan di Puspiptek Serpong. Ada 3 pertanyaan:
- Bagaimana identifikasi spesies parasite dilakukan ? Karena itu sangat sulit dilakukan (Dr Astuti, dulu S3-nya mengenai Malaria juga)
- Pertanyaan kedua adalah komparasi antara Bayes yg saat ini dipakai, dg metode lain dari Pak Darma
- Pertanyaan yang lucu, adalah yang terakhir, dari seorang bapak Kolonel AL. “Pak Dokter, Saya Kolonel X dari Angkatan Laut mau bertanya. Kebanyakan angkatan kami yg dipulangkan dr Irian itu bukan krn meninggal, tetapi krn kena Malaria. Padahal org Irian tahan Malaria. Apa mungkin krn makanannya sagu ? “Pak Dokter, selama ini kita berusaha membasmi nyamuk dengan melakukan fogging. Tetapi usai fogging, nyamuk bukannya mati, tapi malah menggila. Apakah pak dokter dapat memberikan saran obat fogging yang tepat ? Atau barangkali kita perlu canangkan semacam hari fogging nasional, agar serempak melakukan fogging untuk membasmi nyamuk di seluruh wilayah”…hihihi…kayaknya saya harus pakai PhD sebagai ganti Dr agar tidak diminta resep. Tapi aturannya gelar S3 saya Dr.Eng (Jepang), bukan PhD (AS)


