Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Februari 2012
    S S R K J S M
    « Jan   Jun »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    272829  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk Februari, 2012

Kenangan dengan Bapak

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 24, 2012

Saat aku masih SMP atau SMA, bapak mengajakku boncengan naik sepeda motor ke daerah Tawangmangu (daerah Kemuning ?). Kami naik berkelok-kelok, dan akhirnya sampai di daerah atas. Di sana kami meninjau bisnis bapak bertanam bawang & sayur. Senang rasanya menghirup hawa pegunungan yg segar, dengan hamparan perkebunan yang demikian luas. Di rumah penduduk, kami dijamu makan. Tentunya makan sederhana ala desa, dengan minum teh hangat yang sepertinya daunnya asli dari kebun teh. Nikmat rasanya. I miss you Dad.

Saat aku  sudah bekerja di Jakarta, bapak kadang dinas & bermalam di hotel Pasar Baru Senen. Aku sering dipanggil dan diajak menginap bersama. Pulangnya saya diselipi uang saku, walau aku  sudah  kerja dan menerima gaji. I miss you Dad.

Waktu aku masih kecil, masih TK barangkali,  bapak mengajakku ke surabaya menjemput eyang Suryo. Malam harinya, karena tidak betah, aku merengek ingin pulang ke Solo. Bapak kemudian mendongeng, dan akhirnya akupun terlelap. I miss you Dad.

Sempat bapak mengajakku berdiskusi “apakah definisi bahagia”. Aku berpendapat spt argumen Victor Frankl, bahwa kebahagiaan itu tercapai ketika orang mampu menemukan makna hidupnya. Bapak punya pendapat yang lebih kurang mirip dengan pendapat saya, kebahagiaan tidak harus menunggu saat seseorang menjadi kaya. Bapak jelaskan kalau Bapak juga bahagia dengan segala karunia yang ada saat itu.

Oh ya…bapakku itu seram, kalau marah. Tulisanku dulu jelek sekali, dan oleh bapak dihukum menulis “rajin pangkal pandai” berlembar-lembar. Ah, seandainya bapak masih ada, aku ingin dihukum menulis halus lagi. Dan akan kupenuhi bukuku dengan tulisan “I love you Dad”. Selamat ulang tahun ke 70 Bapak tercinta. Bahagialah engkau selalu di sisi-Nya.

Ditulis dalam keluarga | 2 Komentar »

CFP: The first conference and workshop on Intelligent Systems and Business Intelligence 2012

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

URL: http://cowisbi.com/

The Conference and Workshop on Intelligent Systems and Business Intelligence (COWISBI) will be held on yearly basis. Experts from different fields will present their applications and the result obtained from their result on this confererence.  The COWISBI addresses in detail two main field of research interest: Intelligent Systems and Business Intelligence. The sub fields have been identified. However, innovative contributions that do not fit into these areas will also be considered since they might be of benefit to conference attendees.

In addition to the main sessions, the conference timetable shall be concerted with several workshops sessions in similar scopes, which will take place before, during and after the end of the COWISBI 2012. Students and new comers in the field can get a fast introduction to Intelligent Systems and Business Intelligence by taking the workhop sessions running in connection with the conference.

The COWISBI 2012 established as scientific forums that gather only quality papers and presentations that meet high scientific standards. Following the tradition, all submitted papers to COWISBI 2012 shall be carefully reviewed for possible inclusion in the Conference Proceedings. Acceptance will be based primarily on originality, significance and quality of contribution.

Main Topics

Intelligent Systems

  • Artificial Intelligence
  • Automation Systems and Control
  • Bioinformatics
  • Case-based Reasoning
  • Computational Intelligence
  • Evolutionary Computation
  • Expert Systems
  • Fuzzy Sets and Logics
  • Game Technology
  • Decision Theories
  • Machine Learning
  • Multi-Agent Systems
  • Neural Networks
  • Swarm Intelligence
  • Automated Software Engineering

 Business Intelligence

  • Data Mining and Knowledge Discovery
  • Decision Support Systems
  • Data extraction and reporting
  • Data cleaning and pre-processing
  • Reasoning under uncertainty
  • Business intelligence cycle and model
  • Web technology, mining and agents
  • Exploratory and automated data analysis
  • Knowledge-based analysis
  • Statistical pattern recognition
  • Data mining algorithms and processes
  • Classification, projection, regression, optimisation clustering
  • Information extraction and retrieval
  • Multivariate data visualisation
Full Paper Submission : April 02, 2012
Notification : April 09, 2012
Camera ready paper : : April 16, 2012
Registration : April 16 , 2012
Conference : May 05, 2012

Ditulis dalam research, talk & seminars | Tinggalkan sebuah Komentar »

Duapuluh satu djam di Djogdja

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

Sejak hari Sabtu s/d Senin yang lalu (28-30 Januari 2012), saya mengisi acara shortcourse on datamining di Universitas Islam Indonesia. Acara ini terbuka untuk umum, dan pada saat hari pelaksanaan diikuti oleh sekitar 15 orang. Acara dimulai pk. 08.30 hingga 15.30, total 7 jam selama 3 hari. Umumnya peserta adalah dosen di perguruan tinggi Yogya, Solo, dan ada juga yang dari jauh seperti Palembang. Yang membuat saya stress adalah peserta umumnya adalah dosen yang sudah mengajarkan matakuliah datamining, atau matakuliah lain yang berkaitan erat. Mau tidak mau saya harus memutar otak, agar penjelasan saya disesuaikan dengan latar belakang peserta. Lain halnya kalau pesertanya mahasiswa, sehingga saya bisa menjelaskan lebih lambat. Selama kegiatan tsb., banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan, yang saya pun belum tahu jawabannya.  Materi yang saya sajikan mengacu pada buku Introduction to Data Mining, oleh Pang-Ning Tan, Michael Steinbach, Vipin Kumar Addison Wesley, ISBN: 0-321-32136-7. Karena tidak mungkin membahas semua, saya fokuskan bahasan pada topik-topik sbb.

  1. Apakah Datamining itu ?
  2. Data
  3. Klasifikasi (k-Nearest Neighbor Classifier, Artificial Neural Network, Support Vector Machine)
  4. Feature Subset Selection
  5. Association Rules (Apriori Algorithm)
  6. Clustering (k-Means Clustering, Single Link Clustering, Complete Link Clustering, Average, Centroid, Minimum Spanning Tree, DB Scan, dsb)
  7. Self Organizing Maps
  8. Praktek memakai Weka
  9. Contoh aplikasi datamining:  analisa data meteorologi, bioinformatika, prediksi efektifitas interferon, social network, webmining, intelligent searching, computer aided diagnosis, biometrics dsb.

Tiga hari yang melelahkan, akan tetapi saya banyak belajar hal baru juga selama berinteraksi dengan teman-teman peserta. Kunjungan ke UII ini adalah yang kedua kali. Kunjungan ke UII pertama adalah Maret 2000, saat saya baru saja menikah dan bersilaturahmi dengan bapak-ibu di Magister Teknik Sipil. Karena istri saya saat itu bekerja sebagai staf honorer di program tsb. (saat itu kepala program magister masih Pak Lutfi yang kemudian menjadi rektor UII). Hal lain yang menyenangkan adalah saya berhasil membuat foto di tempat yang sama dengan 12 tahun lalu. Setelah 12 tahun menikah, ternyata ada “perkembangan” dan “kemajuan”,…kata teman saya (^^;

Ditulis dalam research | 3 Komentar »

Tulislah journal jika anda ingin meraih sarjana di Indonesia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

Judul corat-coret ini merangkumkan diskusi berkaitan dengan SK dari Ditjen Dikti yang beredar di awal Februari 2012, dan menjadi bahasan hangat di kalangan akademisi perguruan tinggi. SK tersebut dapat didownload dari situs Dikti. Dari SK tersebut dijelaskan bahwa untuk meraih gelar sarjana S1, mahasiswa harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Sedangkan untuk magister, syarat yang sama juga diterapkan, tetapi ditambahkan keterangan bahwa “jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti”. Sedangkan untuk program S3 ketentuannya “telah diterima untuk terbit pada jurnal ilmiah internasional.”. Kalimat ini mengundang berbagai pertanyaan dan pemikiran yang saya rangkumkan sbb.

  1. Syarat untuk strata S1 tersebut tidak menyebutkan ketentuan akreditasi Dikti, berarti sebarang jurnal sekalipun tidak masalah. Bisa saja jurnal yang diterbitkan oleh kampus, atau fakultas. Apakah demikian tafsirannya ?
  2. Untuk S1 dan S2 syaratnya harus terbit, sedangkan untuk S3, syaratnya cukup diterima untuk diterbitkan. Ini jelas berbeda. Pada saat seseorang mengirimkan tulisan ke jurnal ilmiah, pertama-tama setelah diterima editor akan melalui proses review. Reviewer (mitra bestari) biasanya lebih dari 1 orang. Setelah selesai direview,  akan dikembalikan ke editor. Editor akan mengirim surat pemberitahuan kepada penulis dengan salah satu dari 3 status: a) diterima, b)diterima dengan persyaratan (harus ada revisi, bisa dari cara penulisan, bisa saja dari sisi konten yang harus diperbaiki, misalnya dengan mengulang eksperimen atau menambahkan eksperimen baru) atau c) ditolak. Apabila hasilnya b), maka penulis harus memenuhi syarat yang diminta untuk kemudian dikirim ulang ke editor, dan editor akan mengirim kembali kepada reviewer untuk mengevaluasi ulang. Kalau lolos, baru akan dipublikasikan. Keseluruhan proses ini lazimnya makan waktu 6 bulan, bahkan adakalanya lebih dari 1 atau 2 tahun, tergantung tingkat kesulitan paper dan ketelitian reviewer. Hal ini untuk menjamin bahwa tulisan yang akan dipublikasikan di jurnal tersebut berkualitas tinggi dan bisa dijadikan acuan ilmiah.
  3. Tidak ada ketentuan, apakah calon sarjana S1 tersebut harus duduk sebagai penulis utama, atau tidak.
  4. Kalau berkaca dari pengalaman pribadi saya selama di Jepang, syarat untuk meraih doktor umumnya dengan publikasi di jurnal, sebagai bukti bahwa mereka memiliki kontribusi yang layak untuk diberikan gelar Doktor.  Walau demikian, tidak semua perguruan tinggi mensyaratkan hal yang sama. Syarat kelulusan tergantung dari izin sensei, atau konvensi jurusan. Ulasan meraih doktor di Jepang silakan lihat “Hakase-gou toruka ? toranai ? tettei daikenshou” (ISBN: 978-4897066493). Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan teman lama baru saja meraih doktor dari Austria. Dia  bercerita kalau di Austria justru dia tidak dituntut untuk berpacu dalam melodi publikasi. Selama pendidikan S3, dia diminta untuk menekuni satu topik secara mendalam. Setelah lulus, baru kemudian diarahkan untuk publikasi ke journal. Memang tidak seragam antara satu dan lain, tapi publikasi jurnal adalah tuntutan untuk pasca sarjana.   Journal paper adalah paparan komprehensif suatu studi yang dilakukan yang memenuhi syarat ketat, seperti novelty, misalnya. Karena itu, adakalanya dalam 1 tahun, seorang calon doktor hanya mampu menulis 1 jurnal. Itu sudah bagus. Ada yang bahkan untuk keluar satu jurnal perlu waktu lebih dari 3 tahun. Nah, di tanah air tercinta, jurnal justru jadi persyaratan kelulusan S1. Padahal masa mengerjakan tugas akhir dalam pendidikan S1 di Indonesia seringkali hanya dalam waktu yang pendek, hanya 4-6 bulan. Kebanyakan hanya satu tahun (2 semester). Dengan kemampuan yang terbata-bata, mereka dituntut untuk menulis jurnal. Ibaratnya bayi baru belajar berjalan, diajak lari sprint 100m bertanding dengan atlit profesional.
  5. Negara mana yang jadi model aturan ini ? Saya tidak tahu. Kalau tujuannya untuk memperbanyak publikasi, mestinya tanggung jawab itu dibebankan ke professor, atau calon doktor. Misalnya saja professor dan calon doktor diberikan beban untuk menjadi penulis utama jurnal ilmiah internasional dengan kuantitas tertentu.
  6. Saya khawatir, peraturan tersebut akan membuat tiap fakultas berlomba-lomba membuat jurnal sendiri, dengan proses review yang tidak seketat jurnal terakreditasi. Tujuannya agar kelulusan sarjana tidak terganjal oleh aturan keharusan publikasi tersebut. Kalau ini yang terjadi, saya khawatir hasilnya akan kontra produktif. Jurnal-jurnal itu tidak akan pernah dibaca/dijadikan referensi oleh peneliti yang lain karena kualitasnya tidak diakui dan merupakan hasil studi S1 yang tentu saja -umumnya- tidak mengandung novelty/sisi kebaruan yang signifikan. Waktu yang dimilik peneliti sangat terbatas, sehingga dia hanya fokus pada jurnal/prosiding yang utama.
  7. Pendapat saya, ketentuan itu sebaiknya jangan menjadi harga mati, syarat yang harus dipenuhi oleh calon sarjana. Lebih baik siswa diencourage dengan level yang lebih reasonable, misalnya disyaratkan untuk presentasi di seminar nasional.
  8. Last but not least, premis kebijakan tersebut terlalu naif, yaitu ketinggalan kuantitas publikasi dibandingkan dengan Malaysia. Seharusnya untuk membuat kebijakan yang sangat menentukan secara nasional seperti ini harus diadakan kajian yang serius dan mendalam, sehingga alasannya masuk akal dan smart, tidak dengan alasan karena kekalahan terhadap Malaysia sebagaimana tertulis pada surat tersebut.

Entahlah, di Indonesia begitu banyak kebijakan yang saya tidak mudah memahaminya. Benar kata Ebiet G. Ade, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Update:

Hari ini di twitter, ada penjelasan informal dari Dikti, bahwa

  1. ada 3 jenis Jurnal yg tertulis dalam SE Dirjen Dikti no.152/E/T/2012, yakni Jurnal Ilmiah, Jurnal Ilmiah Nasional dan Jurnal Internasional
  2. Jurnal Ilmiah Nasional;kriterianya: Memiliki ISSN, bertujuan menampung hasil2 penelitian ilmiah dan/konsep ilmiah dlm disiplin ilmu trtnt
  3. kriteria(lanjutan):ditujukan kpd masyrkt ilmiah/peneliti yg memlki disiplin keilmuan yg relevan,substansi satu mslh dalam satu bidang ilmu
  4. memiliki kaidah penulisan ilmiah yg utuh (rumusan masalah,pemecahan masalah,dukugan teori,kesimpulan dan daftar isi)
  5.  diterbitkan oleh badan ilmiah/organisasi/perguruan tinggi dg unit-unitnya
  6. memakai Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dg abstrak dalam bahasa Indonesia
  7. memiliki Dewan Redaksi yg terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan diedarkan secara nasional
  8. Jurnal Ilmiah:Portal Jurnal yg hanya memenuhi bbrp kriteria Jurnal Ilmiah Nas.Mislnya portal jurnal kmps yg tdk diedarkan scr nasional
  9. sementara Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi harus mengacu kepada: Permendiknas No22 thn 2011 ttg Terbitan Berkala Ilmiah
  10. dan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 49/DIKTI/Kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala bit.ly/z1Nqi8
  11. Surat Edaran Direktur Diktendik No. 1313/E5.4/LL/2011 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2011 12) dan Surat Edaran Direktur Diktendik Tanggal 10 January 2012 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2012 …dst

Pemahaman saya : berarti untuk syarat kelulusan S1, harus terbit di jurnal ilmiah yang tidak harus memenuhi seluruh kriteria jurnal nasional ( lihat point 8).  Dengan demikian, saya rasa bisa saja “jurnal” itu diterbitkan sendiri oleh kampus, dan tidak memiliki ISSN. Boleh juga tanpa proses review dari pakar eksternal. Kalau demikian, saya rasa tidak terlalu berat. Tujuannya agar budaya menulis dibiasakan di lingkungan kampus. Akar masalah selama ini sepertinya karena terminologi “jurnal ilmiah” yang dipakai oleh Dikti, lain dengan “jurnal ilmiah” dalam persepsi akademisi. Di kompas ada artikel terkait dengan kebijakan tersebut:

  1. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/09280630/Syarat.Lulus.S-1.S-2.S-3.Harus.Publikasi.Makalah
  2. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/11064313/IPB.Kaji.Surat.Edaran.Ditjen.Dikti

Ditulis dalam Indonesiaku, kuliah, research | 9 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.