Saat aku masih SMP atau SMA, bapak mengajakku boncengan naik sepeda motor ke daerah Tawangmangu (daerah Kemuning ?). Kami naik berkelok-kelok, dan akhirnya sampai di daerah atas. Di sana kami meninjau bisnis bapak bertanam bawang & sayur. Senang rasanya menghirup hawa pegunungan yg segar, dengan hamparan perkebunan yang demikian luas. Di rumah penduduk, kami dijamu makan. Tentunya makan sederhana ala desa, dengan minum teh hangat yang sepertinya daunnya asli dari kebun teh. Nikmat rasanya. I miss you Dad.
Saat aku sudah bekerja di Jakarta, bapak kadang dinas & bermalam di hotel Pasar Baru Senen. Aku sering dipanggil dan diajak menginap bersama. Pulangnya saya diselipi uang saku, walau aku sudah kerja dan menerima gaji. I miss you Dad.
Waktu aku masih kecil, masih TK barangkali, bapak mengajakku ke surabaya menjemput eyang Suryo. Malam harinya, karena tidak betah, aku merengek ingin pulang ke Solo. Bapak kemudian mendongeng, dan akhirnya akupun terlelap. I miss you Dad.
Sempat bapak mengajakku berdiskusi “apakah definisi bahagia”. Aku berpendapat spt argumen Victor Frankl, bahwa kebahagiaan itu tercapai ketika orang mampu menemukan makna hidupnya. Bapak punya pendapat yang lebih kurang mirip dengan pendapat saya, kebahagiaan tidak harus menunggu saat seseorang menjadi kaya. Bapak jelaskan kalau Bapak juga bahagia dengan segala karunia yang ada saat itu.
Oh ya…bapakku itu seram, kalau marah. Tulisanku dulu jelek sekali, dan oleh bapak dihukum menulis “rajin pangkal pandai” berlembar-lembar. Ah, seandainya bapak masih ada, aku ingin dihukum menulis halus lagi. Dan akan kupenuhi bukuku dengan tulisan “I love you Dad”. Selamat ulang tahun ke 70 Bapak tercinta. Bahagialah engkau selalu di sisi-Nya.



