Seorang teman cerita, saat ke bank X, staf yang menerima tamu tetap duduk dan melontarkan pertanyaan dengan kasar “mau apa ?”. Teman saya kaget dengan pelayanan semacam ini. Saat dijelaskan mau transfer ke mata uang asing, dijawab dengan kaku “tidak bisa”. Sampai akhirnya, petugas dari dalam keluar dan menjelaskan dengan bahasa yang ramah dan santun. Saran saya ke teman tsb. lain kali kalau ada pelayanan spt itu, tenang saja dan tanya ke ybs “Namanya siapa ? Baik. Saya akan telpon dan laporkan cara anda melayani saya seperti ini pada atasan anda !”. Syukur kalau bawa kamera, fotolah dia. Dengan gertakan semacam itu, saya kira ybs akan keder, karena nasibnya di ujung tanduk. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tidak bersyukur, bahwa dia sudah mendapat pekerjaan. Nasabah tidak memerlukan pelayanan yang lebay, tapi standar sopan santun minimal itu ada. Berdiri, tersenyumlah dan sapalah dengan baik-baik. Andaikan saya atasan si staf itu, dia akan saya suruh berdiri sampai malam, dan pasang senyum. Tiap orang masuk harus disapa dengan santun, selamat pagi, selamat siang, plus senyuman manis. Kalau tidak ada orang, dia tetap harus berdiri dan tiap 3 menit berlatih memberi salam dengan baik plus senyuman…biar kapok !
Arsip untuk ‘Indonesiaku’ Kategori
Attitude minimal kepada klien
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 29, 2013
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Naik kereta malam : antara di Indonesia vs di Jepang
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 11, 2013
Saat masih tinggal di Nagoya, kalau dinas ke Tokyo, saya lebih suka naik kereta “donko”, yg berhenti tiap stasiun. Ingin menikmati suasana kereta malam di Jepang. Kalau shinkansen cuma 1 jam 50 menit, gak bisa menikmati pemandangan di luar. Biasanya saya berangkat tengah malam, dari stasiun Chikusa ke Kanayama. Di sana ganti platform, ke arah Tokyo. Sekitar pk 23.50 an kereta berhenti dan saya naik. Nah… Begitu sampai stasiun Tokyo, biasanya sekitar 4.30am. Saya turun dan cari-cari toilet untuk wudlu. Kemudian cari pojok yang tidak menyolok, nyempil, untuk sholat Subuh. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan, naik Yamanote. Muter-muter Tokyo sampai jam 6, baru turun entah di Shibuya atau di mana saja, yang ada warung-nya.
Di Indonesia, pola hidup saya mirip-mirip juga. Jam 4 pagi kereta lewat st.Bekasi. Biasanya saat itu petugas narikin kembali bantal dan selimut sewaan, sekalian membangunkan penumpang. Saya biasanya ambil wudlu saat itu, agar sesampai di St.Senen gak perlu antre wudlu. Pk 4.30 sampai st Senen, saya masuk ke musholla, menunggu adzan Subuh. Nikmat-nya kalau di Indonesia, sholat jauh lebih mudah. Banyak musholla di sana-sini. Biasanya yg jadi imam tidak pakai doa Qunut, padahal saya biasa ber Qunut. Kadang saya mikir, perlukah saya tambah dua kali sujud sbg pengganti Qunut ya ? Entah…saya juga tidak faham fiqh-nya bagaimana.
Tadi pagi saya dapat tukang ojek yg ramah dan tidak jaim. Dia minta 25, tapi akhirnya mau dg 20 ribu, untuk ngantar ke St.Tanah Abang. Rupanya abang itu berasal dari Salatiga, dan kami pun bercakap dlm bhs Jawa, tentang perjuangan hidupnya di Jakarta. Sampai di tanah Abang, jalanan masih sepi. Loket belum buka. Petugas keamanan juga santai. Beberapa keluarga ada yg duduk di bawah, menyusui anaknya. Saya tunjukkan tiket senja utama, dan bisa langsung masuk. Tiket itu bisa dipakai naik commuter line, tanpa harus bayar lagi. Dulu saya sering pesan indomie 2 bungkus + teh hangat di sini, tapi koq masaknya kurang pandai. Pagi ini cuma beli pastel 2 + kopi hangat.
Good morning Jakarta….
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Membangun impian
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 5, 2013
Membaca wawancara Prof.Sangkot Marzuki di Kompas, saya jadi kagum betapa hebatnya seorang pemimpin seperti pak Habibie yang berhasil menarik beliau ke Indonesia. Pak Habibie menawarkan impian yang menggairahkan, memberikan tantangan yang tidak lazim, tapi kalau diperjuangkan bisa dicapai. Kepada pak Sangkot diberikan impian untuk mengaktifkan kembali lembaga Eijkman yang merupakan legenda riset jaman dulu di Indonesia, sehingga bisa menghasilkan hadiah Nobel bagi Dr.Eijkman (menemukan keterkaitan antara vit. B dan Beri-beri dari penelitian di Batavia). Kepada komunitas yang lain, Pak Habibie juga merangsang dan menginspirasi anak bangsa agar mandiri dalam teknologi dan bisa membuat pesawat. Dan berbagai impian yang lain yang kadang terdengar tidak lazim dicapai oleh bangsa Indonesia. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa membangun impian intelektual kepada anak buahnya dan mendorong mereka untuk mewujudkannya.
Ditulis dalam gado-gado, Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Kata yang tabu diucapkan di restoran Jepang
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2013
Di resto Jepang, Ine minta ke mbak yg melayani “Mbak,…minta cawan kecil dua, ya” (buat membagi2 makanan). Mbak-nya tak lama kemudian datang dan membawa “cawan”. “Wah, bukan ini, mbak. Yg saya maksud, untuk diisi makanan”, kata Ine. Mbak-nya langsung jawab “Ooh..maksudnya mangkok ya, bu ? Baik…” dan teriak dg suara keras ke dapur “Hey…mangkok-nya dua”… Hahahahahahahaha….Ine tepok jidat. *yg tidak faham bhs Jepang…mangkok itu tabu diucapkan …soalnya artinya laen *
Ditulis dalam Indonesiaku, japanology | Tinggalkan sebuah Komentar »
Satu hari hanya dua puluh empat jam
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 27, 2012
Satu hari hanya dua puluh empat jam. Kalau profesinya adalah scientist, pasti harus meluangkan waktu secara rutin untuk membaca jurnal, mengkritisi, merangkum, melakukan eksperimen, presentasi di seminar atau memenuhi undangan.
Ketika sekaligus menjadi dosen, maka sebagian waktu dialokasikan untuk mempersiapkan materi ajar, slide, mengajar, membuat soal ujian, mengkoreksi, ujian ulang, ujian lisan, membuat surat rekomendasi, membimbing skripsi, menguji siswa. Kalau mengajar lebih di satu tempat, tinggal copy-paste saja sejumlah perguruan tinggi yang diajar.
Dan jika mengajar itu adalah pekerjaan sampingan, sedangkan pekerjaan utama di BPPT, maka sebagian waktu harus dialokasikan untuk mengikuti rapat, menyelesaikan kegiatan, membuat technical notes, technical reports, technical documents, mengurus DUPAK, mengajukan nilai kredit, membuat SKI tiap bulan, melakukan self-assessment dan menyusun materi pendukungnya, sesekali dinas ke luar kota, atau luar negeri.
Apabila aktif di society, maka tugas tambahan seperti review paper, membantu penyelenggaraan seminar, mengelola komunitas, harus juga dialokasikan waktunya.
Terakhir,..apabila hidup terpaksa terpisah dengan keluarga (Jangan tanya “mengapa” ya..udah bosen menjawabnya). Maka sebagian waktu harus dialokasikan untuk berkomunikasi dengan anak istri, menempuh perjalanan 500km demi bertemu anak istri walau cuma sepertiga dari umur saja yang bisa dialokasikan, membuat planning kapan beli tiket kereta untuk pulang, mendownloadkan video cherry belle, mencarikan MP3 yang disukai anak-anak, menemani belajar lewat telpon, membuat cerita untuk anak-anak dan dibacakan lewat telpon menjelang mereka tidur. Tapi jika ketiduran habis Isya’, maka semua rencana itu batal dan siap-siap diomeli di pagi hari.
Ditulis dalam Indonesiaku, keluarga, renungan hidup, research | Tinggalkan sebuah Komentar »
Mati listrik di kereta
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 25, 2012
Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, sekitar pk.20.40 lampu gerbong Argo Dwi Pangga mati ! Akhirnya kereta berhenti di stasiun Tugu. Ternyata yang mati listriknya hanya gerbong 1 yang berada di paling depan. Gerbong pun diganti dengan yang gerbong lain. Selama proses tersebut, saya lihat petugas kereta sangat aktif membantu penumpang, menurunkan barang. Terutama kepada ibu-ibu dan yang lanjut usia. Senang melihatnya, dan pantas diapresiasi.
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tali, Peser, Ketip, Ringgit dan Rupiah
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 17, 2012
Saat menunggu kereta ke serpong, saya jadi ingat obrolan menarik ttg uang jaman dulu dg sopir yg menjemput di Bandung. Kelahiran th 70 spt saya hanya ingat dulu ada uang “seringgit” senilai Rp 2.5. Bagi yg kelahiran 60, mengalami satu ketip yg senilai Rp 0.5. Ada juga “talen”, yg mungkin jadi awal peribahasa “setali tiga uang”. Nominal paling kecil adalah “peser”, shg ada peribahasa “tidak punya sepeser uang pun”, mirip dengan “mon” di Jepang. Sehingga ungkapan “mon nashi” dipakai untuk menyatakan tidak punya uang sama sekali (nashi=tidak ada). Mata uang terkecil yg pernah saya pegang adalah Rp 5 yang diameternya cukup besar. Mungkin anak-anak sekarang tidak terbayang betapa dulu kita punya 5, 10, 25, 50. Sedangkan 100 rupiah berupa uang kertas. Orang kaya dulu disebut jutawan. Kalau sekarang mungkin milyuner..ah…sudah bergeser mungkin menjadi trillioner ? Kelak kalau angka di mata uang dipangkas tiga nol-nya, maka para miliuner akan menjadi jutawan lagi. Sedangkan saya akan meninggalkan level jutawan untuk menjadi ribuan
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Anak itu menangis ketika istriku pamit pulang
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 22, 2012
“Inai inai…baa..” Anak itu senang diajak bermain. Dan ketika istriku pamit pulang, dia menangis, menggenggam erat2 jari istriku, menarik kerudung. Masih ingin main rupanya. Kasihan dirimu, Nak, yang haus akan kasih sayang ayah dan bunda. Kemana ibumu, dan kenapa tidak menengokmu lagi ? Jangan sedih ya, Nak… (T_T)
Sabar ya Nak…Janganlah bersedih ya…..Semoga kalian tetap tegar dan tumbuh sehat, walau tidak merasakan peluk, cium sayang ayah bunda… Ingin aku ajak mereka tertawa, bernyanyi… “Bernyanyilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga… ” (T_T)

Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tulislah journal jika anda ingin meraih sarjana di Indonesia
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012
Judul corat-coret ini merangkumkan diskusi berkaitan dengan SK dari Ditjen Dikti yang beredar di awal Februari 2012, dan menjadi bahasan hangat di kalangan akademisi perguruan tinggi. SK tersebut dapat didownload dari situs Dikti. Dari SK tersebut dijelaskan bahwa untuk meraih gelar sarjana S1, mahasiswa harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Sedangkan untuk magister, syarat yang sama juga diterapkan, tetapi ditambahkan keterangan bahwa “jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti”. Sedangkan untuk program S3 ketentuannya “telah diterima untuk terbit pada jurnal ilmiah internasional.”. Kalimat ini mengundang berbagai pertanyaan dan pemikiran yang saya rangkumkan sbb.
- Syarat untuk strata S1 tersebut tidak menyebutkan ketentuan akreditasi Dikti, berarti sebarang jurnal sekalipun tidak masalah. Bisa saja jurnal yang diterbitkan oleh kampus, atau fakultas. Apakah demikian tafsirannya ?
- Untuk S1 dan S2 syaratnya harus terbit, sedangkan untuk S3, syaratnya cukup diterima untuk diterbitkan. Ini jelas berbeda. Pada saat seseorang mengirimkan tulisan ke jurnal ilmiah, pertama-tama setelah diterima editor akan melalui proses review. Reviewer (mitra bestari) biasanya lebih dari 1 orang. Setelah selesai direview, akan dikembalikan ke editor. Editor akan mengirim surat pemberitahuan kepada penulis dengan salah satu dari 3 status: a) diterima, b)diterima dengan persyaratan (harus ada revisi, bisa dari cara penulisan, bisa saja dari sisi konten yang harus diperbaiki, misalnya dengan mengulang eksperimen atau menambahkan eksperimen baru) atau c) ditolak. Apabila hasilnya b), maka penulis harus memenuhi syarat yang diminta untuk kemudian dikirim ulang ke editor, dan editor akan mengirim kembali kepada reviewer untuk mengevaluasi ulang. Kalau lolos, baru akan dipublikasikan. Keseluruhan proses ini lazimnya makan waktu 6 bulan, bahkan adakalanya lebih dari 1 atau 2 tahun, tergantung tingkat kesulitan paper dan ketelitian reviewer. Hal ini untuk menjamin bahwa tulisan yang akan dipublikasikan di jurnal tersebut berkualitas tinggi dan bisa dijadikan acuan ilmiah.
- Tidak ada ketentuan, apakah calon sarjana S1 tersebut harus duduk sebagai penulis utama, atau tidak.
- Kalau berkaca dari pengalaman pribadi saya selama di Jepang, syarat untuk meraih doktor umumnya dengan publikasi di jurnal, sebagai bukti bahwa mereka memiliki kontribusi yang layak untuk diberikan gelar Doktor. Walau demikian, tidak semua perguruan tinggi mensyaratkan hal yang sama. Syarat kelulusan tergantung dari izin sensei, atau konvensi jurusan. Ulasan meraih doktor di Jepang silakan lihat “Hakase-gou toruka ? toranai ? tettei daikenshou” (ISBN: 978-4897066493). Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan teman lama baru saja meraih doktor dari Austria. Dia bercerita kalau di Austria justru dia tidak dituntut untuk berpacu dalam melodi publikasi. Selama pendidikan S3, dia diminta untuk menekuni satu topik secara mendalam. Setelah lulus, baru kemudian diarahkan untuk publikasi ke journal. Memang tidak seragam antara satu dan lain, tapi publikasi jurnal adalah tuntutan untuk pasca sarjana. Journal paper adalah paparan komprehensif suatu studi yang dilakukan yang memenuhi syarat ketat, seperti novelty, misalnya. Karena itu, adakalanya dalam 1 tahun, seorang calon doktor hanya mampu menulis 1 jurnal. Itu sudah bagus. Ada yang bahkan untuk keluar satu jurnal perlu waktu lebih dari 3 tahun. Nah, di tanah air tercinta, jurnal justru jadi persyaratan kelulusan S1. Padahal masa mengerjakan tugas akhir dalam pendidikan S1 di Indonesia seringkali hanya dalam waktu yang pendek, hanya 4-6 bulan. Kebanyakan hanya satu tahun (2 semester). Dengan kemampuan yang terbata-bata, mereka dituntut untuk menulis jurnal. Ibaratnya bayi baru belajar berjalan, diajak lari sprint 100m bertanding dengan atlit profesional.
- Negara mana yang jadi model aturan ini ? Saya tidak tahu. Kalau tujuannya untuk memperbanyak publikasi, mestinya tanggung jawab itu dibebankan ke professor, atau calon doktor. Misalnya saja professor dan calon doktor diberikan beban untuk menjadi penulis utama jurnal ilmiah internasional dengan kuantitas tertentu.
- Saya khawatir, peraturan tersebut akan membuat tiap fakultas berlomba-lomba membuat jurnal sendiri, dengan proses review yang tidak seketat jurnal terakreditasi. Tujuannya agar kelulusan sarjana tidak terganjal oleh aturan keharusan publikasi tersebut. Kalau ini yang terjadi, saya khawatir hasilnya akan kontra produktif. Jurnal-jurnal itu tidak akan pernah dibaca/dijadikan referensi oleh peneliti yang lain karena kualitasnya tidak diakui dan merupakan hasil studi S1 yang tentu saja -umumnya- tidak mengandung novelty/sisi kebaruan yang signifikan. Waktu yang dimilik peneliti sangat terbatas, sehingga dia hanya fokus pada jurnal/prosiding yang utama.
- Pendapat saya, ketentuan itu sebaiknya jangan menjadi harga mati, syarat yang harus dipenuhi oleh calon sarjana. Lebih baik siswa diencourage dengan level yang lebih reasonable, misalnya disyaratkan untuk presentasi di seminar nasional.
- Last but not least, premis kebijakan tersebut terlalu naif, yaitu ketinggalan kuantitas publikasi dibandingkan dengan Malaysia. Seharusnya untuk membuat kebijakan yang sangat menentukan secara nasional seperti ini harus diadakan kajian yang serius dan mendalam, sehingga alasannya masuk akal dan smart, tidak dengan alasan karena kekalahan terhadap Malaysia sebagaimana tertulis pada surat tersebut.
Entahlah, di Indonesia begitu banyak kebijakan yang saya tidak mudah memahaminya. Benar kata Ebiet G. Ade, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Update:
Hari ini di twitter, ada penjelasan informal dari Dikti, bahwa
- ada 3 jenis Jurnal yg tertulis dalam SE Dirjen Dikti no.152/E/T/2012, yakni Jurnal Ilmiah, Jurnal Ilmiah Nasional dan Jurnal Internasional
- Jurnal Ilmiah Nasional;kriterianya: Memiliki ISSN, bertujuan menampung hasil2 penelitian ilmiah dan/konsep ilmiah dlm disiplin ilmu trtnt
- kriteria(lanjutan):ditujukan kpd masyrkt ilmiah/peneliti yg memlki disiplin keilmuan yg relevan,substansi satu mslh dalam satu bidang ilmu
- memiliki kaidah penulisan ilmiah yg utuh (rumusan masalah,pemecahan masalah,dukugan teori,kesimpulan dan daftar isi)
- diterbitkan oleh badan ilmiah/organisasi/perguruan tinggi dg unit-unitnya
- memakai Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dg abstrak dalam bahasa Indonesia
- memiliki Dewan Redaksi yg terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan diedarkan secara nasional
- Jurnal Ilmiah:Portal Jurnal yg hanya memenuhi bbrp kriteria Jurnal Ilmiah Nas.Mislnya portal jurnal kmps yg tdk diedarkan scr nasional
- sementara Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi harus mengacu kepada: Permendiknas No22 thn 2011 ttg Terbitan Berkala Ilmiah
- dan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 49/DIKTI/Kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala bit.ly/z1Nqi8
- Surat Edaran Direktur Diktendik No. 1313/E5.4/LL/2011 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2011 12) dan Surat Edaran Direktur Diktendik Tanggal 10 January 2012 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2012 …dst
Pemahaman saya : berarti untuk syarat kelulusan S1, harus terbit di jurnal ilmiah yang tidak harus memenuhi seluruh kriteria jurnal nasional ( lihat point 8). Dengan demikian, saya rasa bisa saja “jurnal” itu diterbitkan sendiri oleh kampus, dan tidak memiliki ISSN. Boleh juga tanpa proses review dari pakar eksternal. Kalau demikian, saya rasa tidak terlalu berat. Tujuannya agar budaya menulis dibiasakan di lingkungan kampus. Akar masalah selama ini sepertinya karena terminologi “jurnal ilmiah” yang dipakai oleh Dikti, lain dengan “jurnal ilmiah” dalam persepsi akademisi. Di kompas ada artikel terkait dengan kebijakan tersebut:
Ditulis dalam Indonesiaku, kuliah, research | 9 Komentar »
Indahnya Senja Syahdunya Maghrib di kampus kami
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 25, 2011
Kemarin sore saya selesai mengajar matakuliah Datamining di Universitas Al Azhar Indonesia sekitar saat Maghrib. Kebetulan saya berada di halaman depan masjid saat Adzan berkumandang. Sejenak saya terpana menikmati indahnya saat Maghrib tiba. Di saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, kita dipanggil untuk bersujud kepada-Nya. Hayya Alash Sholah, Hayya Alal Falah…Marilah kita sholat, Marilah kita menuju kemenangan. Makna yang indah dari sebuah adzan. Sesibuk-sibuknya kita dengan urusan dunia, entah kebahagiaan, entah kesedihan, entah kesuksesan, entah kegagalan, tapi kita diingatkan pada waktu-waktu tertentu agar kembali tersungkur dan bersujud di hadapan-Nya. Kita diingatkan bahwa ibadah itu adalah awal dan modal untuk mengarungi kehidupan. Kita diingatkan bahwa setiap kesulitan pasti ada solusinya. Allah telah memilihkan waktu-waktu yang tepat dan mengandung makna bagi kita untuk menunaikan ibadah sholat. Maka, di saat kita lelah dari bekerja, belajar, mencari nafkah, menunaikan kewajiban sehari-hari, Dia pun memberikan pemandangan yang indah. Matahari mulai tenggelam, senja pun datang, Adzan pun berkumandang. Subhanallah.
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Jadwal Prambanan Ekspress (Pramek) Solo-Jogja
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 23, 2011
Berangkat dari Solo Balapan menuju Jogjakarta (updated 22 Nov 2011)
05.30 06.30 09.10 10.00 11.30 12.30 15.10 16.10 17.41 19.35
Berangkat dari Yogyakarta (per 1 Desember 2011)
05.15 06.45 08.00 09.30 10.30 13.30 14.30 16.15 17.30 19.00
Madiun Jaya Yogyakarta-Solo
08.50 (AC Rp 20 ribu) 12.00 (AC Rp 20 ribu)
Madiun Jaya Yogyakarta-Madiun
10.10 (Rp 30 ribu) 16.05 (AC Rp 50 ribu) 18.00 (Rp 30 ribu)
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Kerbau ngambek
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 23, 2011
Hari ini ada kehebohan di kompleks rumah kami di Solo. Seekor kerbau besaaaar tiba-tiba masuk gang dimana rumah kami berada. Kerbau itu rupanya sedang ngambek. Pemiliknya kemudian menyusul pakai sepeda motor, berlari-lari bawa ranting dan berusaha membujuk-bujuk kerbaunya agar mau diajak pulang. Akhirnya si kerbau itu mau juga diajak pulang. Entah…apakah pulangnya dengan digandeng, atau diboncengkan sepeda motor.
Ditulis dalam Indonesiaku, potret Indonesiaku | 1 Komentar »
Indahnya Alam Sunda dari balik jendela kereta
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 19, 2011
Sore ini saya naik kereta dari Bandung menuju Solo, melewati ngarai, lembah nan indah. Saya ambil beberapa gambar dari balik jendela kereta. Walau kurang tajam, tapi keindahan alamnya membuat hati jadi sejuk dan temaram.
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Susahnya pulang ke rumah (^^;
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada November 11, 2011
Entah kenapa, pembelian tiket kereta bisnis Senja Utama bulan Desember sampai hari ini H-20 masih belum bisa di lakukan. Peraturannya tiket hari H bisa dibeli mulai H-30. Kereta eksekutif tidak masalah, penjualannya seperti biasa. Tetapi khusus tiket bisnis Senja Utama bulan Desember, sampai 11 November 2011 masih belum bisa dilayani, sehingga sampai hari ini saya belum bisa beli tiket untuk bulan Desember. Katanya, karena ada penjadwalan ulang. Kapan bisa beli untuk bulan Desember ? Kata petugas loket, diminta untuk menanyakannya by phone ke 121. Tapi kalau saya tanya ke 121, jawabannya sama, dan diminta untuk menanyakan ke loket. Ya, mereka bawahan sih ya, yang nggak bisa menjawab selain informasi yg diberikan ke mereka. Atau mungkin diarahkan biar tiket eksekutif habis dulu semua, baru tiket bisnis dibuka ? Adakah jalan untukku agar bisa pulang ke rumah (=Solo) hari ini ? Quo Vadis PT KAI ?
Seribu jalan menuju ke Roma, seribu cara mudik ke Solo. Berikut lima di antaranya:
- Senen-Semarang dg Gumarang, 17.30-01.30. Ganti bus Sumber Kencana jam 2am, sampai Solo jam 4 pagi.
- Senja Semarang, 19.20 dari Senen, 03.30 sampai Smg. Ikut PATAS pk 04.00, sampai Solo 05.30.
- Senja Jogja dari Senen 19.30, sampai Jogja 05.00, ganti Prameks 05.30, sampai Solo 06.40.
- Senja Utama Solo, dari Senen 20.10, sampai Solo …di atas jam 7, kadang lewat jam 8.
- Kereta Ekonomi Bengawan, dari Tanah Abang 1.30, Manggarai 19.45 dan Jatinegara 20.00. Sampai Solo sekitar 08.00 Kembali ke Jakarta sekitar 16.45 dari Solo, sampai Jatinegara kalau normal antara pk. 04.00-05.00
Bonus Foto:
Suasana di Stasiun Senen Jumat malam saat menunggu kereta yang membawa pemudik kembali ke Solo, Semarang, Yogya, dsb.
suasana di dalam kereta kalau malam. Tidur bergelimpangan di bawah. Jangan salah kira bahwa tidur di bawah ini tidak nyaman. Justru kalau naik kereta bisnis, paling nyaman itu tidur di bawah beralaskan tikar atau surat kabar. Punggung bisa lurus, dan benar-benar bisa istirahat dan tidur nyenyak. Kalau tidur sambil duduk di bangku, justru melelahkan. Cuma memang ada resiko-nya sih. Kadang ada tikus seliweran di atas kepala (tikus durhaka !!! ), atau yang paling sial kalau ketumpahan teh yang terguling gelasnya karena guncangan.
Anda bisa tebak ini dimana ? Ini di Yogyakarta. Kalau nggak percaya silakan ukur dengan cara ambil benang sepanjang 512 km tancapkan di Stasiun Senen, dan arsirlah lingkaran dengan radius tsb. Ambil benang satu lagi sepanjang 388 km, tancapkan di Surabaya dan lakukan hal yang sama. Kedua lingkaran akan bertemu di Yogyakarta.
Ditulis dalam Indonesiaku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Cirebon Eki: Perjuangan hidup tidak mengenal waktu dan tempat
Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Juli 25, 2011
Gambar di samping saya ambil dari balik jendela kereta Senja Utama saat sampai di Stasiun Cirebon, 01.35am 25 Juli 2011. Terlihat beberapa orang tidur di peron beralaskan kertas. Mungkin mereka lelah menjajakan dagangannya. Sementara yg masih “ON”, menjajakan kopi, nasi rames, nasi ayam…. Perjuangan hidup tidak mengenal waktu dan tempat.Tuhan menyediakan rezekinya bagi ummat-Nya di mana saja, tinggal ummat-Nya yang harus berjuang meraih rezeki itu. Bisa saja di gedung bertingkat, bisa saja di peron-peron kereta. Namun demikian, bisa jadi mereka memiliki keturunan yang sukses di kemudian hari.
Minggu yll. saya mendapat cerita mengharukan dari seorang teman. Teman saya bekerja sebagai dosen di salah satu PTN. Suatu hari ada seorang bapak-bapak berprofesi tukang batu yang datang menemui beliau dan menyerahkan sekedar bingkisan. Teman saya heran dan merasa nggak enak kalau menerima bingkisan tsb. Ternyata bapak tersebut ingin mengungkapkan rasa terima kasih, karena putera-nya atas bimbingan teman saya tersebut akhirnya menyelesaikan PhD nya di salah satu perguruan tinggi di Jepang. Cerita yang mengharukan. Kebahagiaan, kesuksesan milik siapa saja. Bisa saja milik saudara kita yang bekerja dengan pakaian rapi berdasi dan parfum Armani di gedung tinggi, tetapi bisa juga milik saudara kita yang menjajakan nasi bungkus di peron stasiun, meniti jalan yang sunyi. Life is beautiful.
Corat-coret lain tentang kereta
Bocornya atap gerbong kami
Diantar dengan lambaian Tika
Depok lama, Depok baru
Puntung rokok di piring
Ditulis dalam Indonesiaku | 1 Komentar »














