Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Mei 2013
    S S R K J S M
    « Apr    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk ‘persiapan pulang’ Kategori

Originality dan teamwork dalam penelitian

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada September 25, 2008

diupdate : 19.49 WIB 25 September 2008

Saat mengajar matakuliah Research Methodology, satu topik crucial yang saya sampaikan ke siswa adalah pentingnya originality dalam riset, sekalipun untuk riset level S1. Tidak cukup satu penelitian dilakukan tanpa mempertimbangkan kontribusi original terhadap sains dan iptek. Fase yang mutlak harus ditempuh adalah lewat membaca dan mengkritisi penelitian yang sudah dilakukan orang lain, lewat literature survey yang memadai. Seorang siswa saya mengeluh, karena paper tidaklah mudah dibaca dan ditelaah. Jangankan untuk mahasiswa S1, untuk mahasiswa  S2 dan S3 atau dosen sekalipun, membaca dan mengkritisi paper tidaklah mudah. Tapi mau tidak mau itu harus dilakukan agar penelitian yang dilakukan benar-benar original, bukan duplikasi dari penelitian lain orang. Bagaimana kalau sudah berusaha membaca paper tapi tidak kunjung faham dan tidak kunjung mendapat ide original ? Di situlah peranan kolega dalam sebuah laboratorium. Proses pencarian ide riset, selain harus dilakukan secara aktif oleh siswa perlu mendapat masukan dari kolega lain, terutama yang lebih senior. Saat di Jepang dulu, kami bergiliran secara rutin mempresentasikan hasil survey literatur yang dilakukan, dalam pertemuan mingguan di lab (kentokai). Siswa berusaha mengkritisi paper yang dibaca, dan kolega yang lain turut membantu upaya tsb.  Kolega yang senior biasanya lebih bisa melihat sisi mana yang lemah, dan sisi mana yang dapat diperbaiki.  Dengan rutin melakukan kegiatan seperti ini, proses pencarian tema original akan berjalan efektif. Di situlah manfaatnya team work.

Bagaimana kalau tidak punya team work, atau tidak tergabung dalam satu laboratorium ? Nah, inilah kesulitan khas di Indonesia. Sejauh ini, saya baru beberapa kali saja menemukan laboratorium yang dikelola dengan team work dan strategi riset yang bagus.  Mungkin ini yang menyebabkan di mailing list sering saya baca posting mahasiswa yang ingin dicarikan tema buat tugas akhir (kadang-kadang dengan pesan sponsor: “klo bisa jangan yang terlalu sulit soalnya deadline saya tinggal 2 bulan.” ). Hal ini terjadi karena tema penelitian di Indonesia cenderung sering dilepaskan, diserahkan kepada mahasiswa untuk mencari sendiri tanpa kontrol ketat dari dosen pembimbing, dan juga bukan bagian dari skenario besar penelitian seorang dosen peneliti. Senada dengan hal ini, di mailing list biotek, ada posting seorang anggota, yaitu Pak Khrisna P. Candra sbb.

Sistem penelitian di lembaga/pusat penelitian dan universitas negara maju sepertinya hampir sama, yaitu (1) dilakukan oleh grup peneliti yang dipimpin oleh professor dengan kewenangan dan tanggung jawab yang pimpinan yang jelas, (2) penelitiannya fokus, (3) dananya cukup, (4) jaringan peneliti di bidang yang sama kuat, (5) sumberdaya peneliti tangguh.
Keterangan:

  1. Prof di Negara maju adalah professor peneliti atau memanajemi penelitian, di kita professor adalah gelar dan berbau karir mengajar. Penelitian di Negara maju di lakukan oleh grup penelitian (Arbeitsgruppe, AG bhs jermannya), dikita masih individu, tidak ada system yang jelas dalam mengatur kewenangan, hak (gaji, tunjangan, dll) dan kewajiban seorang professor. DIKTI menetapkan beban mengajar yang terlalu berat (12 SKS per semester sama dengan 4 mata kuliah, yah karena mata kuliah di universitas kita terlalu banyak dan nggak fokus, banyak minor-minornya).
  2. Di Negara maju, penelitian dibidangnya sudah ditekuni sejak lama mula dari S1, S2, S3, sampai postdoc. Dikita tidak banyak peneliti yang menekuni bidang yang sama dalam pengalaman studinya. Adanya AG memfasilitasi sector swasta/industry lebih mudah menjalin hubungan riset.
  3. Supporting dana langsung ke AG melalui Prof., yang tentunya sudah mempunyai penelitian payung tunggal sampai masa pensiunnya. Di kita masih per individu peneliti, Prof. tidak diberdayakan atau tidak berdaya karena (lebih suka) dibenani urusan administratif.
  4. Para punggawa peneliti (Prof.) dalam satu bidang saling kenal dan terus menjalin hubungan sehingga AG-nya tidak melakukan penelitian duplikasi
  5. Penelitian S1, S2 atau S3 adalah bagian dari ide AG, bukan ide mahasiswa (baru memulai benang merah penelitian) yang tiba-tiba “nyelonong” minta dibimbing penelitiannya. Di kita syarat pembimbing penelitian bagi mahasiswa masih belum ketat. Sebuah AG mempunyai peneliti-peneliti tangguh (tentara) yang selalu fresh. Prof. dikita kesulitan untuk mendapatkan tentara-tentara itu, bagaimana mungkin kalau penelitian hanya dilakukan sendirian? Atau berempatan? Kalai berempatan adalah 1 Prof., 3 postdoc dengan masing-masing post doc mempunyai bimbingan 4, maka prof tersebut mempunyai 12 prajurit siap tempur.

Kalau kita ingin memajukan penelitian di perguruan tinggi, sistem lab. semacam ini mau tidak mau harus diadopsi, walau tentunya dengan penyesuaian di sana sini agar cocok dengan sikon di Indonesia. Seorang dosen/pembimbing penelitian haruslah memiliki long term goal penelitian yang mencerminkan ketajaman visi dan pandangannya terhadap masalah keilmuan yang digelutinya, dan mahasiswa-mahasiswa itu dikelola dalam satu team work yang baik untuk menyelesaikan short objective yang merupakan hasil break-down dari long term objective tadi. Dengan demikian penelitian yang dilakukan siswa bukan sekedar memenuhi syarat kelulusan saja, tetapi merupakan bagian dari  tema besar sang dosen dalam memberikan kontribusi riil terhadap sains dan iptek.

Diskusi

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam persiapan pulang, scheduler | 1 Komentar »

Diproteksi: Jadwal Mengajar, Presentasi & Diskusi April 2008

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 14, 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Ditulis dalam kuliah, persiapan pulang, research, scheduler | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

New page: Selected Articles

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Agustus 24, 2007

Saya menambahkan satu page baru: “Selected Articles”, sebagai quick-link ke artikel yang sering saya perlukan, atau kanseido nya tinggi. Misalnya artikel yg dipublikasikan di media massa, atau uraian yang lengkap mengenai satu tema. Kalau dicari lewat fasilitas search mungkin akan makan waktu. Kalau dikumpulkan jadi satu, akan lebih mudah diakses & dimanfaatkan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam datamining, internet, japanology, living in Japan, neuro, nihongo, persiapan pulang, research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Hari-hari terakhir di Nagoya (updated 04 Apr 2007)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 26, 2007

Minggu, 25 Maret 2007
Kemarin, hari Minggu malam, setelah beres-beres di rumah, sekitar pk.9 malam saya berangkat ke kampus Chukyo naik kereta pk. 21.13. Sebelum berangkat saya telpon ke Meitetsu Taxi Toyota -yang hanya satu-satunya cara untuk mencapai kampus- agar menjemput saya di stasiun Josui pk.21.45, karena kereta akan tiba di Josui pk.21.42. Udara dingin dan angin bertiup kencang. Malam itu memang sudah saya niatkan untuk nginap di kampus membereskan barang pindahan yang ternyata tak kunjung kelar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | 8 Komentar »

Legalisasi Ijazah (KBRI) dan Penilaian Ijazah Luar Negeri

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 24, 2007

Legalisasi dan penyetaraan ijazah adalah perlu dilakukan bagi pelajar yang telah menyelesaikan studi di LN. Hal ini diperlukan, terutama bagi PNS, dalam mengurus hal-hal administratif di tempat kerja. Untuk di Jepang, informasinya sbb.

  1. Legalisasi Ijazah oleh KBRI
    1. Untuk konfirmasi, sebaiknya informasi ini dicrosscheck dengan cara menelpon ke KBRI Tokyo
      Bagian Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo
      Pk. 09.30-11.30 / Pk. 14.00-16.00
      Phone. 03-3441-4201 – Fax. 03-3280-5609
    2. Dikutip dari http://www.asahi-net.or.jp/~mm5r-atmd/html/information.html
      Para Mahasiswa/Karyasiswa yang lulus program atau telah menyelesaikan tugas belajarnya di Jepang, diharuskan melapor di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo, dengan menyampaikan/mengisi Formulir Kelulusan/Selesai Tugas Belajar (download di sini : doc, pdf). Bagi para Mahasiswa/Karyasiswa yang akan melegalisasi ijasah/surat tanda tamat belajarnya (baik dalam bahasa Jepang atau terjemahannya), dipersilahkan datang di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo atau dikirim melalui pos, dengan persyaratan :
      1. Sudah melapor/terdaftar di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.
      2. Telah menyampaikan laporan belajar sampai periode tiga bulan terakhir.
      3. Membuat surat permohonan kepada Kepala Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo.
      4. Melampirkan Laporan Kelulusan/Selesai Tugas Belajar. (formulir ini dapat diperoleh di Bidang Dikbud KBRI Tokyo).
      4. Membawa/mengirimkan Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar dan Transcript of Record yang sudah diperbanyak/diphotocopy setiap macam sebanyak 5 lembar.
      5. Melampirkan amplop yang sudah ditulisi nama dan alamat lengkap, serta perangko secukupnya seharga berat pos yang akan dikirim.
      6. Untuk legalisasi tidak dikenakan biaya administrasi.
  2. Penilaian Ijazah Perguruan Tinggi di Luar Negeri
    1. Informasi di bawah saya kutip dari formulir saat saya mengurus persaman ijazah di tahun 2005, sehingga relatif masih baru. Tetapi mohon agar informasi ini selalu dikonfirmasikan dg versi terbaru dari Dikti
    2. Mengisi formulir (Link : http://www.dikti.org/formulir-penilaian-ijazah.pdf) disertai dengan lampiran di bawah, masing-masing rangkap satu
      1. Fotocopy ijazah terakhir di Indonesia
      2. Fotocopy ijazah yg diperoleh di Luar Negeri (Ijazah yg tidak berbahasa Inggris, Belanda, Perancis dan Jerman harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disahkan oleh Kedutaan Besar masing-masing atau penterjemah resmi)
      3. Fotocopy transcript of record selama belajar di luar negeri
      4. Salah satu dari
        1. Fotocopy surat tugas belajar dari SETKAB /Instansi yg bersangkutan (bagi penerima tugas belajar/biaya pemerintah)
        2. Fotocopy Paspor dan Visa Student selama belajar di Luar Negeri (bagi yg belajar dg biaya sendiri)
        3. Fotocopy paspor, visa student dan surat perjanjian dengan PTS/Perusahaan (bagi yg belajar dg biaya PTS/perusahaan)
      5. Buku katalog/handbook/vorlesungverzeichnis tentang kurikulum/program pendidikan yg dikeluarkan oleh perguruan tinggi dalam bahasa Inggris
      6. Thesis/Disertasi/Diplomarbeit/Abschlussarbeit, laporan tugas akhir (dipinjam selama penilaian)
      7. Pasfoto 2 (dua) lembar ukuran 4×6 terbaru
    3. Semua dokumen diminta untuk diperlihatkan aslinya
    4. Setahu saya, sidang penilaian ijazah ini dilakukan setahun 2 kali, sehingga waktu yg diperlukan untuk proses tsb. selama-lamanya sekitar 6 bulan.

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | 11 Komentar »

Pindahan barang : dari lab. ke rumah, dari rumah ke pelabuhan

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 22, 2007

Tiga hari belakangan ini saya hampir tidak sempat mengerjakan hal lain kecuali packing, packing dan packing. Mabuk rasanya melihat barang yang begitu banyak harus dikemas satu per satu, diteliti mana yang harus dibawa, mana yang harus dibuang. Setelah di-pack, di-lakban, ditali dan diberi nama dan nomer. Rasanya koq nggak selesai-selesai, padahal waktu sudah mepet. Pantas saja ada teman yg tanya ke Ine, “Mas Anto udah sampai menjerit belum ?”. Teman kami tsb. dulu pernah seperti ini juga, sampai menjerit. Bagaimana tak akan menjerit, kalau dari pagi sampai tengah malam, mengerjakan hal yang sama. Badan sakit, kepala pusing, pinggang sakit. Lengkap sudah deh, he he he. :D

Untuk mengangkut barang, bisa memakai beberapa alternatif : unsogaisha (perusahaan pengangkutan), hikkoshi gaisha (perusahaan yg mengkhususkan pada pindah rumah/kantor), takkyubin (pengiriman paket kilat), dsb. Unsogaisha biasanya hanya membantu pengangkutan barangnya saja, tetapi umumnya tidak membantu proses memasukkan barang dari dalam rumah ke mobil. Sedangkan hikkoshi gaisha, tarif yg ditetapkan sudah termasuk di dalamnya tenaga untuk memasukkan barang dari dalam rumah ke mobil mereka.

SENIN (19 Maret 2007)

Senin (19 Maret 2007) saya mengangkut barang dari lab. di kampus Chukyo di kota Toyota ke rumah (Showa-ku Nagoya) memakai jasa Akabo (Takeuchi san). Jarak kedua tempat sekitar 30 km. Pak Takeuchi datang di kampus sekitar pk.10 pagi, dan kami langsung mulai memasukkan barang ke mobil beliau. Kardusnya bervariasi, yang paling besar berukuran 49cmx45cmx35 cm. Berat rata-rata 25 kg, total 10 kotak. Saya sempat ditegur oleh pak Takeuchi, mestinya kalau bawa buku seperti ini jangan pakai kotak ukuran besar, tetapi pakailah ukuran kecil. Saya jelaskan ke beliau, kalau terpaksa saya harus pakai kardus besar, karena mengikuti petunjuk pengepakan dari perusahaan yg saya pakai untuk pengiriman barang kali ini. Menurut aturannya, kardus diusahakan agar volumenya sekitar 0.1 m3. Ternyata informasi ini kurang begitu mudah difahami oleh perusahaan pengangkutan (unsogaisha), karena mereka umumnya terbiasa membicaran ukuran kotak dari sisi volume, tetapi lebih memperhatikan panjang x lebar x tinggi-nya. Bagi unsogaisha, informasi ini sangat vital untuk menentukan berapa kardus yang bisa dimuat dalam satu kali jalan.

Foto-foto lab. saya setelah barang-barang dipindah ke Nagoya:

1. Ruang kerja saya di kampus Chukyo

2. Ruang kerja Nugroho-zemi yang sudah dikosongkan

Sesampai di rumah, rasanya lega. Tahap pertama sudah terlewati. Hanya saja rumah kami yang sempit ini jadi mirip kapal pecah. :D

SELASA (20 Maret 2007)

Hari Selasa, saya ke Sakae mentransfer pembayaran uang pengiriman barang. Di sini saya ketemu masalah juga. Ternyata untuk penarikan uang dari rekening di bank atau post office, sehari maksimal 500 ribu yen, padahal saya harus juga membayarkan untuk teman-teman yg lain, yang totalnya lebih dari jumlah tersebut. Terpaksa saya harus mengambil dari dua rekening yang berlainan. Selasa malam saya mulai me-lakban kotak, mengikat, dan memberi label nama. Wah, kasihan Tika. Berulangkali Tika saya marahi karena ikutan memeriahkan festival packing bapak-ibu nya. :D Gomen yo, nduuk. Setelah selesai sekitar 7 kotak (dari total 28), tengah malam saya ikutan tidur.

RABU (21 Maret 2007)

Hari Rabu sebenarnya hari libur nasional. Tetapi kali ini kami tidak dapat kemana-mana selain nongkrongin kardus. Saat bangun pagi, pinggang saya terasa sakit. Barangkali karena kaget, seperti orang yang tanpa pemanasan langsung marathon. Hari Rabu adalah yang paling melelahkan. Dari pagi sampai malam, kami berkutat dengan packing. Kalau saat ujian, kata pak guru “selesai nggak selesai harus disusun”, maka kasus saya “mau nggak mau harus selesai hari ini, karena besok harus disusun” :( Agar pekerjaan bisa efektif, kami bagi tugas : saya yang mengepak dan menali, sedangkan Ine yang menempel label nama dan nomer kardus. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga proses packing ini pk.23.30 malam.

Selain masalah packing, kami juga menerima kunjungan/inspeksi dari Ibu Yukie Masaki, oyasan (pemilik rumah). Setelah memeriksa kondisi rumah setelah kami tempati selama 4 tahun, beliau menginformasikan kalau tatami dan fusuma akan diganti. Dengan demikian, dari deposit yang kami bayarkan saat pertama kali masuk, akan diambil sebagian untuk perbaikan tsb. dan sisanya akan dikembalikan tgl.27 Maret, sehari sebelum check out. Ini pertama kali saya bertemu langsung dengan Bu Masaki, karena saat masuk rumah semua administrasi lewat fudosan (broker). Saya laporkan juga ke beliau beberapa masalah rumah kami, terutama berlubangnya beberapa tempat hasil karya tikus yang sejak 6 bulan yang lalu mulai berkeliaran di rumah kami.

KAMIS (22 Maret 2007)

Pagi hari saya ke seven eleven untuk memfotocopy beberapa dokumen. Pk.06.30 kawan Jepang saya datang ke rumah, untuk membantu mengangkat barang. Setelah minum teh hangat, pk. 7 pagi, kami berdua mulai menurunkan barang dari kamar saya di lantai 3 ke lantai 1, agar proses memindah barang ke mobil Akabo bisa berjalan lancar. Yang membuat pekerjaan ini jadi berat karena di rumah saya tidak ada elevator :D Sekitar pk.8 kerja kami selesai, dan kamar jadi longgar. Wah, Tika jadi senang, karena ruang bermainnya tambah luas. Pak Masuda, supir Akabo, datang sekitar pk.08.15 am. Kami mulai memasukkan barang ke mobil beliau. Total barang saya 28 kardus, 2.5 m3,kira-kira 530 kg. Untung semua barang bisa masuk ke mobil pak Masuda.

Foto kiri atas : mobil Akabo yang diparkir di depan tempat tinggal kami
Foto kanan atas : kardus Anto

Berangkat dari rumah pk.08.30, sampai di gudang pelabuhan sekitar pk.09.15 am. Barang segera diturunkan, dan kami mengambil barang teman-teman yg lain. Saat kloter kedua (terakhir) sampai di pelabuhan, waktu sudah pk.12 siang lewat sedikit. Sebenarnya saat itu sudah masuk jam istirahat siang, dan baru dibuka lagi pk.1 siang. Karena kloter terakhir, akhirnya staf gudang bersedia menerima barang kami. Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan pengiriman barang ini pk.12.30 siang. Foto di bawah adalah suasana di gudang kontainer pelabuhan Nagoya. Semoga saja barang-barang tsb. bisa terkirim dg lancar dan selamat sampai di Indonesia. Pekerjaan yang masih tersisa adalah membersihkan lab. dan rumah. Semoga saja minggu ini bisa selesai semua.

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | 4 Komentar »

Camping di Lab.

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 17, 2007

Semalam kami sekeluarga bermalam di lab saya di kampus Chukyo. Saya harus menyiapkan presentasi untuk acara PPI sabtu ini, disamping itu harus segera mengemas barang-barang lab. yang ternyata tidak kunjung selesai. Tika datang sekitar pk.4 sore, dan sangat gembira. Mungkin karena suasananya yang serba baru. Tika minta difoto di sana sini di pojok kampus. Sama saja sesampainya di ruang kerja saya. Di kampus ketemu Hasegawa sensei yang menyapa Tika “Ookiku natta ne”. Memang terakhir ke sini, Tika masih bayi. Obyek yang paling disukai Tika adalah kursi duduk yang bisa berputar-putar. Wah, rebutan sama bapaknya yang mau kerja.

Kampus Chukyo terletak di daerah yang terpencil, sepi dan sunyi, dikelilingi sawah. Jam 9 malam, kami tidurkan terlebih dulu Tika agar bisa konsentrasi ke kerja. Alhamdulillah, walaupun beralaskan sleeping bag, Tika bisa juga tidur. Saya dan Ine membereskan barang, memasukkan ke kardus. Targetnya dalam satu dua hari ini semua kardus yang akan dikirim pakai kontainer, sudah harus sampai di rumah. Ine tidur lebih duluan, sekitar pk 1 malam. Saya baru dapat tidur setelah sholat Subuh jam 5.

Saat ini kami bebenah untuk siap-siap pulang ke rumah. Lain kali pengin lagi ah….semalam camping di lab. He he :D

Ditulis dalam keluarga, persiapan pulang | 1 Komentar »

YOUKAI SHORI

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 13, 2007

Youkai shori (溶解処理) artinya proses penghancuran. Dalam hal ini saya maksudkan untuk dokumen yang konfidential. Siang ini, saya habis membuang dokumen-dokumen yang sifatnya konfidential. Seperti pada tulisan sebelumnya, di kampus kami, kertas ujian mahasiswa, notulen rapat, dan berbagai dokumen yang sifatnya rahasia atau memuat informasi pribadi, tidak boleh dibuang begitu saja. Membuang sebenarnya tidak sulit. Yang paling makan waktu dan tenaga sebenarnya memilih dokumen : mana yang dibuang, mana yang dibawa pulang, mana yang di-pdf-kan dan baru dibawa pulang. Lega rasanya setelah sebagian besar dokumen tsb. saya masukkan ke dalam kardus dan diserahkan ke jimushitsu (sekretariat jurusan) untuk disimpan di gudang khusus sebelum nantinya dihancurkan. Jumlah kardusnya tiga buah, masing-masing segede Bagong. Setelah dimasukkan, kardus harus diselotip dan di bagian luar ditulis 溶解 (baca : “youkai”). Total berat saya kira lebih dari 100 kg. Rasanya malam ini saya harus makan banyak, nih.
Tugas berikutnya :
1. Menseleksi jurnal : antara yg di-pdf-kan dan dibuang
2. Memeriksa isi masing-masing DVD, CD. Yang tidak penting dibuang, setelah dirusak dg cara digores permukaannya
3. Membuat data buku dalam masing-masing kardus yg dikirim ke Indonesia (pff….sempat nggak ya ?)

Ditulis dalam persiapan pulang | 2 Komentar »

Hal-hal yang harus dilakukan saat akan pulang ke tanah air

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 12, 2007

  1. Urusan kerja
    1. pamit ke sensei & teman-teman
    2. mengembalikan buku ke perpustakaan
    3. mengambil kembali simpanan awal coop
    4. mengurus legalisasi ijazah ke KBRI
    5. membuat backup data kerja. Paling bagus DVD-RAM.
    6. Kalau sempat membuat kartu nama beralamatkan Indonesia
    7. Memasang auto-forward di account kampus (kalau di Unix file “.forward”), agar email yg dialamatkan ke kampus diforward otomatis ke alamat email di Indonesia
    8. Mengurus fasilitas langganan jurnal/majalah/buku terbitan Jepang untuk periode tertentu (fasilitas ini sekarang masih ada nggak ya ?)
    9. Follow Up Research Fellowship (tips dari Ardiansyah Michwan)
    10. Follow Up Research Guidance (tips dari Ardiansyah Michwan)
    11. Langganan email magazine (tips dari Ardiansyah Michwan)
    12. Menyiapkan diri untuk berkontribusi ke masyarakat luas sekembalinya di tanah air
  2. Urusan pribadi
    1. Menyelesaikan pengurusan surat kenal lahir dari KBRI (jika belum selesai)
    2. Minta ke kuyakusho agar diterbitkan surat kelahiran (shussei todoke) beberapa buah, untuk jaga-jaga kalau diperlukan kelak di Indonesia (mengurus akta kelahiran dsb)
    3. Sebelum pulang, diusahakan imunisasi yang dijalani anak sudah lengkap. Sehingga nanti di Indonesia tinggal imunisasi tambahannya
    4. Memperpanjang visa agar pada saat pulang tetap valid. Walau kasus ini langka, tetapi dulu pernah ada kasus teman yg visa salah satu anggota keluarganya sudah habis, tetapi tidak diurus. Saya lupa cerita detailnya, tetapi kalau tidak salah saat mau pulang, di airport tidak diperbolehkan terbang, sampai urusan visa selesai.
    5. Mengurus penghentian pemakaian kartu kredit
    6. Pesan tiket jauh hari sebelumnya (dua, tiga bulan sebelumnya), karena bulan Maret peak season.
    7. Packing barang dan mengurus perizinan bawa barang pulang ke Indonesia
    8. Kaiyaku/memutuskan gas, listrik dan air
    9. Kaiyaku/memutuskan telpon & internet
    10. Mengurus pengembalian nenkin (pensiun) kalau di Jepang bekerja
    11. Mengembalikan kartu hoken ke kuyakusho
    12. Lapor ke oyasan sebulan sebelum check out
    13. Souji rumah agar tetap bersih, syukur dapat pengambilan sebagian dari deposit
    14. menjual barang ke recycle shop
    15. Membuang barang. sodai gomi perlu waktu, jadi harus direncanakan jauh sebelumnya (Misalnya untuk Showa-ku, pembuangan sodai gomi Maret ini adalah tgl. 28 Maret 2007. Kira-kira sejak sebulan sebelumnya perlu kontak dulu, agar mendapat nomer. Kalau terlambat, urutan pembuangannya bisa jadi mundur ke bulan berikutnya
    16. Beli stabilizer, step down trafo, steker untuk konversi model Jepang ke Indonesia, dan power-tap. Tips dari Nugroho Hananto : Bisa juga beli di Indonesia. Merk yg cukup recomended dan relatif mudah dicari di Indonesia: Stavol & APC ( bisa merangkap juga sebagai uninterruptible power supply). Informasi dari Yond Rizal : barang-barang ini dijual di satu counter Pasaraya (Jakarta) Lt.7. Trafo 1000 watt harganya sekitar 350-400 ribu rupiah.
    17. Menimbang barang bawaan. Overweight tarif per kilo -nya kalau tidak salah sekitar 2000 yen. Saya sedang mencari informasinya, tetapi belum ketemu
    18. Mengembalikan KTP di Imigrasi Bandara (nanti akan diminta)

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | 8 Komentar »

Kaiyaku : menghentikan langganan (listrik, gas)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 12, 2007

Senin pagi udara dingin sekali. Di beberapa tempat di Nagoya turun salju. Pagi ini saya telpon ke Chubu Denryoku (PLN-nya Jepang Tengah) dan Toho-Gas untuk menghentikan langganan listrik/gas, saat check out apartemen 28 Maret yad . “Menghentikan kontrak” dalam bahasa Jepang disebut “KAIYAKU” (解約). Urutannya sbb.

  1. Siapkan tagihan (請求書 baca : “seikyuu-sho”) yang memuat kode identitas pelanggan (お客様番号 baca: “okyakusama bango”).
  2. Biasanya di tagihan tsb. tertulis nomer telpon yang harus dihubungi untuk proses kaiyaku
  3. Kontak ke nomer tsb. Misalnya dengan kalimat sbb. “Moshi-moshi. Watashi wa Nagoya-shi Showa-ku ni sunde orimashite, Anto to moushimasu. Kongetsu matsu ni kikoku itashimasu node, denki (atau diganti dg gas jika akan menghentikan gas) no haishi, oyobi kaiyaku no tetudzuki wo onegai shitai no-desuga“.
  4. Setelah itu kita akan ditanya kode identitas pelanggan, alamat rumah, dan nama. Saat menyebutkan nama, biasanya akan ditanya apakah yang telpon ini anda sendiri ataukah orang lain ? Kalau yang telpon kita sendiri (sesuai nama yang tertera di tagihan), kita jawab “Hon nin desu“.
  5. Pertanyaan berikutnya adalah kapan aliran gas/listrik itu akan distop
  6. Untuk gas dan listrik, karena saya akan check out dari apartemen tanggal 28 Maret yad., saya minta agar gas dan listrik dihentikan hari itu juga dan pembayaran dilangsungkan di apartemen. Jadi teknisnya, staf dari gas dan listrik akan datang ke apartemen selanjutnya kita diberitahu besarnya tagihan sampai saat itu, dan uang dibayar di tempat. Dengan demikian, kita tidak akan merepotkan orang lain karena pembayaran bisa diselesaikan sendiri.
  7. Kalimat yg dipakai untuk minta agar pembayaran dilangsungkan saat itu juga : “3 gatsu 28 nichi toujitsu made no shiyou ryoukin wo seisan shite itadaki, kite itadaku sutafu ni shiharai shimasu“.

Keywords:

  1. KAIYAKU (解約) : menghentikan kontrak/langganan
  2. HAISHI (廃止) : menghentikan (aliran listrik, gas, dsb)
  3. SEISAN (精算) : menghitung berapa besar bayaran
  4. HON-NIN (本人) : orang itu sendiri, bukan orang lain

Ditulis dalam living in Japan, nihongo, persiapan pulang | 2 Komentar »

Membuang dokumen yang sifatnya rahasia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 6, 2007

Selasa pagi, cuaca di Nagoya cerah, tapi angin dingin bertiup cukup kencang. Suhu hari ini sekitar 5 s/d 13 C. Saya berangkat agak siang ke kampus setelah membalas beberapa email berkaitan dengan koordinasi pengiriman barang. Berangkat dari Gokiso Station di kota Nagoya pk.10.35 am, saya tiba di Josui Station di kota Toyota pk.11.04 (waktu tempuh Gokiso St.-Josui St. sekitar 29 menit). Karena saat ini kampus sedang liburan musim semi, school bus mengikuti jadwal libur “kyuukou daiyaru” dimana dalam satu jam cuma ada dua kali saja: 11.24 dan 11.54. Saat menunggu, Prof. Teruo Fukumura datang dan mengajak saya berangkat ke kampus pakai taxi, karena kalau menunggu di stasiun, anginnya terlalu dingin. Wah, asyik juga bisa cepat sampai ke kampus & nggak perlu kedinginan, walau agak sungkan juga. Prof.Fukumura dulunya daisensei di Nagoya University (sekarang jadi Prof. Emeritus), dan saat ini juga sesepuh di kampus. Usia beliau sudah sekitar 80 tahun, tetapi masih semangat dan kalau ceramah nggak kalah dengan yang muda.

Di perjalanan, saya minta maaf ke Fukumura sensei karena tidak dapat lebih lama membantu beliau di Chukyo University disebabkan sudah dipanggil pulang ke Indonesia. Beliau menanyakan apa yang saya kerjakan kalau sudah pulang, apakah saya kelak akan mengajar atau diminta mengajar di satu perguruan tinggi ? Saya jawab kalau di Indonesia saya akan kembali bekerja sebagai peneliti di BPPT, semacam Kagakugijutsu-chou kalau di Jepang. Saya pengin juga kelak bisa mengajar di perguruan tinggi, agar bisa mengamalkan ilmu saya dan kebetulan saya sudah terlanjur senang dengan atmosfer akademik di kampus. (Note : Kagakugijutsu-chou sejak tahun 2001 dimerger dengan Monbushou menjadi Monbukagakushou) . Sekitar 8 menit kemudian kami tiba di kampus. Taxi dari Josui St. sampai ke kampus Chukyo sekitar 1200 yen.

Sampai di kampus, saya ketemu Ando-san, staff di sekretariat jurusan, dan menanyakan prosedur membuang dokumen rahasia (Pak Budi Raharjo pernah menulis hal ini di blog-nya). Ringkasnya begini :

  1. Dokumen yang sifatnya rahasia tidak boleh dibuang di sebarang tempat. Termasuk di dalamnya notulen rapat, kertas yang berisi daftar alamat, gakusei meibo (daftar nama dan alamat mahasiswa), kertas ujian, PR dsb. yang memuat nama siswa dan nilainya. (Padahal saya tiap kali masuk selalu ngasih PR dan latihan yang harus disusun siswa dalam bentuk kertas, bukan electronic files).
  2. Dosen harus bertanggung jawab jika ada informasi pribadi yang bocor karena keteledorannya dalam membuang dokumen yang sifatnya pribadi.
  3. Dokumen itu -by default- harus dihancurkan memakai shuredda (shredder). Di lantai saya sebenarnya ada shredder yang cukup bagus “Fellowes 120C-2″.
  4. Tetapi jika terlalu banyak, maka dokumen tsb. setelah dikumpulkan diserahkan ke sekretariat jurusan pada tanggal tertentu (bulan ini tgl.12-16 Maret 2007), untuk nanti secara kolektif akan dihancurkan oleh pihak yang ditugaskan. Proses penghancuran ini disebut youkai-shori (溶解処理).
  5. Clip harus dilepas dari berkas dan tidak diikutsertakan, karena tidak dapat diproses, tetapi kalau hochikisu (staple) tidak perlu dibuang.

Wah, saya lega. Informasi ini sangat membantu, karena saya masih menyimpan buanyak banget kertas tugas, laporan dan kertas ujian mahasiswa. Kalau saya harus menghancurkan satu persatu ke shredder bakalan makan waktu lama, karena sekali masuk maksimal sekitar 17 lembar.

Tapi tugas saya belum selesai. Masih banyak dokumen-dokumen yang masuk kategori rahasia dan harus dihancurkan sebelum saya berangkat meninggalkan kampus Chukyo, seperti rekaman rapat, file pdf hasil scanning dokumen-dokumen yang sifatnya rahasia, CDROM, DVD dsb. yang memuat data-data konfidential. Repotnya saya tidak punya list dimana saja file-file itu tersimpan sehingga harus akses satu per satu. Pff…. Ini gara-gara saya teledor dalam memanage data. Banyak file yang tidak teratur rapi, sehingga lebih tepat dikatakan gomi (sampah). Data yang tidak diatur rapi dan dimanage dengan baik bukanlah informasi, tetapi gomi ! Cita-cita saya sih data itu didaftar dan dilist apik, sehingga bisa random access ke informasi yang dibutuhkan. Barangkali kelak saya perlu membagi data bukan semata berdasarkan kontennya, tetapi juga sifat kerahasiaannya. Curse of being digital ! he he :D

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | 1 Komentar »

Membuang Sodai Gomi (sampah besar)

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 6, 2007

Membuang sampah besar di Jepang harus dirancang jauh sebelumnya. Jadwal pembuangan sampah besar di tempat saya adalah Rabu minggu ke empat tiap bulan, berarti untuk bulan ini tiba pada 28 Maret 2007. Menurut aturan, mereka yang akan membuang sampah besar harus telpon selambat-lambatnya 7 hari sebelum hari pembuangan. Tetapi dari pengalaman sebelumnya, saat telpon sekitar 7 hari sebelumnya, kami tidak mendapat jatah untuk bulan tsb. melainkan harus menunggu giliran satu bulan berikutnya.

Belajar dari pengalaman itu, dan juga karena kami sudah harus berangkat dari Jepang, maka pagi ini saya telpon ke pusat pembuangan sampah besar (Sodai Gomi Uketsuke). Barang yang dibuang adalah kasur+selimut dan kursi. Futon (kasur) dan kakefuton (selimut futon) ternyata dihitung sebagai 1 unit, dan harus diikat jadi satu. Tarif membuang futon @250 yen, sedangkan kursi 250 yen. Jadi total 750 yen. Stiker pembuangan sampah dapat dibeli di convenient store dan harus ditempelkan di barang yang akan dibuang. Pada stiker tsb. harus dituliskan nomer kode yang diberikan oleh staf. Pada hari pembuangan, sampah-sampah ini diletakkan ditempat pembuangan. Untuk apartemen yang saya tinggali, tempat pembuangannya berada di sisi utara, di depan bangunan. Saat mencari tiket pesawat kemarin, jadwal pembuangan sodai gomi ini termasuk salah satu faktor yg saya pertimbangkan. Alhamdulillah bisa mendapat tiket sesuai keinginan (30 Maret 2007). Hari ini rencananya saya akan meneruskan packing di kampus , mengurus penghentian kartu kredit (JCB) dan akses internet (KDDI).

Ditulis dalam living in Japan, persiapan pulang | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pusing di hari Rabu

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Maret 1, 2007

Hari Rabu kemarin saya tidak ke kampus Toyota, karena mengikuti zemi di kampus Meikodai. Selesai zemi pk.12 siang saya pulang ke rumah, dan mengerjakan kompilasi file pengiriman kontainer. Tahun ini saya dapat tugas sbg. koordinator untuk group Nagoya, dan Rabu ini adalah batas waktu penyusunan file-file dari anggota yg lain. Sulit sekali melakukan packing, karena ruangannya terbatas. Ruangan saya untuk sebuah keluarga, relatif sangat sempit (2 kamar tidur masing-masing sekitar 5 jo) yang sudah diisi dengan futon, komputer, heater dsb. Tidak cukup leluasa untuk menaruh kotak packing, sehingga sebagian saya taruh di kampus (1 jam dari rumah ..hiks :( ).

Semalam saya pusing kepala agak berat, sehingga tidur duluan. Bangun sekitar pk.12.45 tengah malam, Ine sedang bersih-bersih ruangan, sedangkan Tika seperti biasa menggoda emaknya. Kal ini Tika jogging memakai sepatu di dalam kamar dan lari-lari ke futon. Waah….kena marah berapa kali tuh sama emaknya. he he he.

Tengah malam saya telpon ke beberapa teman untuk memastikan beberapa hal berkaitan dengan pengurusan kontainer. Sepertinya teman-teman yg lain belum tidur dan kami masih saling berkomunikasi lewat milis. Setelah itu saya lanjutkan kompilasi data dan selesai sekitar pk. 4 pagi. Heran saya. Mestinya kepala tambah sakit, tapi alhamdulillah koq sudah hilang. Tahu-tahu dari sebelah kamar, Tika merengek-rengek. Saya tengok, ternyata posisi tidurnya terbalik, sehingga saat terbangun dia bingung koq emaknya nggak kelihatan. :D

Sebenarnya 2 hari yll. saya sudah merampungkan merakit Tribot, tetapi belum sempat mengutak-atik programnya. Program yg ingin saya buat adalah agar Tribot ini mencari dimana letak suatu object (kaleng), dan kemudian mengambil object tersebut. Kalau nanti sudah selesai, Insya Allah saya upload videonya. Kemarin saat saya jalankan ke arah Tika, dia lari-lari ketakutan. Barangkali karena wajah Tribot ini mirip serangga atau kepiting yah, sehingga Tika ketakutan melihat “kepiting” itu mlayu-mlayu mengejarnya. :D

Kamis ini rencananya melanjutkan koordinasi pengiriman barang, dan juga menyiapkan kata-kata singkat. Saat kyoujukai besok (Jumat) beberapa sensei yang akan berhenti kerja diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata perpisahan. Kyoujukai besok adalah yang terakhir untuk tahun akademik Heisei 18-nendo (th. ajaran 2006/2007), dan juga kyoujukai terakhir untuk saya selama bekerja di Chukyo University sebelum pulang ke tanah air akhir Maret yad.

Ditulis dalam gado-gado, persiapan pulang | Tinggalkan sebuah Komentar »

Membawa pulang buku ke tanah air

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 23, 2007

Jumat ini saya sampai di kampus agak siang, sekitar 14.50, karena sholat Jumat dulu di Nagoya University (Meidai). Setelah sholat Jumat dan makan siang dengan Roni-san, saya berangkat ke kampus. Dari kampus Meidai sampai kampus Chukyo naik kereta dua kali, pindah jalur (norikae) di stasiun Yagoto. Kira-kira makan waktu 30 menit sampai Josui station, tepat dengan jadwal bus kampus 14.40. Dari stasiun Josui sampai kampus Chukyo di kota Toyota makan waktu 9 menit.

Sesuai rencana, hari ini saya kontak ke library, mengurus perijinan mengalihkan hak milik buku. Buku-buku yang saya beli dengan “dana riset pribadi” dari kampus (kojinkenkyuhi), by default, kepemilikannya adalah pada perpustakaan kampus. Jadi jika seorang sensei telah selesai tugas, atau akan berhenti dari pekerjaannya, buku itu harus diberikan ke perpustakaan kampus. Tetapi bisa saja buku itu diurus agar menjadi hak milik pribadi, dengan mengajukan permohonan ke perpustakaan. Dua orang staff akhirnya datang dan mereka memberikan stempel di buku-buku yang akan saya bawa pulang. Cukup banyak buku yang saya bawa pulang, karena saya hobby beli buku. Kemarin saya upload list nya di sini. Sejak dulu saya punya impian, agar kelak saya punya satu ruang yang berfungsi sebagai tempat kerja dan perpustakaan pribadi di rumah. Ruangan itu cukup kecil saja, tetapi penuh dengan buku-buku bagus. Saya pernah diundang Ibu Prof. Yasuko Kobayashi (Dosen di Nanzan University) ke ruang kerja pribadinya yang penuh dengan buku-buku ke-Indonesia-an, karena memang senmon beliau adalah masalah Islam di Indonesia. Buku-buku itu tertata dengan apik, berderet-deret di almari beliau satu ruang penuh. Suasana ini membuat orang betah dan asyik membaca.Perpustakaan seperti itulah yang saya inginkan. Alhamdulillah, saya sebagian cita-cita itu pernah terpenuhi. Selama bekerja di Chukyo University, saya memiliki laboratorium pribadi, yang cukup memuat buku-buku koleksi saya. Tetapi karena saya harus pulang ke tanah air, terpaksa impian itu diputus dulu, untuk dilanjutkan di Indonesia. Untung buku-buku itu boleh saya bawa pulang. Masalah yang tersisa tinggal dua : “tempat untuk menyimpan di Indonesia” dan “waktu untuk membacanya”….ha ha ha. :D

Ditulis dalam keluarga, persiapan pulang | Tinggalkan sebuah Komentar »

Sabtu ini agendanya packing barang !

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 17, 2007

Sabtu ini kami prei JJS (jalan-jalan sabtu). Sejak pagi kami melanjutkan packing barang kontainer untuk dikirim ke Indonesia. Targetnya tanggal 21 yad. draft list sudah jadi agar punya bayangan berapa banyak yang dikirim pulang. Awalnya kami perkirakan total 2 meter kubik, tapi sepertinya lebih sedikit. Kebanyakan isinya adalah buku-buku yang sayang untuk tidak dibawa pulang. Dua gambar pertama adalah lab. saya yang seperti kapal pecah. he he :D Gambar ketiga adalah satu sudut di rumah. Kalau sekarang, mungkin gambar ini tidak berkesan. Mungkin 5 atau 10 tahun lagi, foto-foto ini akan berkesan bagi saya sekeluarga. Foto itu kayak tempe, makin tua makin enak dan makin berharga (wah..ini sih peribahasa ngawur). Terutama Tika. Terlihat di satu sudut gambar uutan, fuuka dan wang-wang (ketiganya adalah karakter NHK) favorit Tika. Sepuluh tahun lagi, Insya Allah Tika akan berusia 12 atau 13 tahun, dan mungkin sudah kelas 1 SMP. Entah apa yang akan teringat di benak Tika kalau melihat foto ini kelak ya ? Tika ingat nggak ya, kalau saat di Nagoya demikian senangnya dengan si uutan, sampai dibilang oleh Asa-chan “uutan no Tika“. :D Wah…10 tahun lagi ? Usia saya udah hampir 50 tahun …siap-siap pensiun kayaknya…..hehe :D



Ditulis dalam keluarga, persiapan pulang | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.