Corat-coret Anto S. Nugroho

Catatan kehidupan

  • Corat-coret Terbaru

  • Mei 2013
    S S R K J S M
    « Apr    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Kategori

  • Arsip

Arsip untuk ‘research’ Kategori

Press Conference Teknologi e-KTP

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Mei 15, 2013

15 Mei 2013 diselenggarakan press conference teknologi e-KTP di BPPT yang dihadiri sekitar 37 wartawan mass media cetak dalam negeri. Dalam kesempatan ini disosialisasikan hal-hal teknis terkait e-KTP yang terdiri dari 6 hal: (1) teknologi e-KTP, (2) pemanfaatan e-KTP memakai e-KTP reader, (3) Card Reader e-KTP, (4) Manfaat e-KTP bagi masyarakat, (5) pemanfaatan e-KTP masa depan: e-KTP multifungsi, (6) BPPT dalam program penerapan dan pemanfaatan e-KTP nasional. Detail dari press release dapat dilihat di http://www.bppt.go.id/index.php/berita/press-release/press-release-2013/1664-press-release-pusat-teknologi-informasi-dan-komunikasi-bppt

Dalam kesempatan ini, selain dibahas secara detail berbagai aspek teknologi dalam e-KTP, juga didemonstrasikan prototipe e-KTP reader. Kepada para hadirin dipersilakan untuk mencoba membaca chip e-KTPnya. Beberapa wartawan/wati yang e-KTP nya sudah berulangkali difotocopy juga dipersilakan untuk menguji kualitas e-KTP dengan membacanya lewat e-KTP reader. Untuk dapat menampilkan data dalam chip, harus melewati pemadanan sidik jari yang bersangkutan. Pengenalan sidik jari ini sekaligus memastikan bahwa e-KTP tersebut dibawa oleh penduduk yang identitasnya tercantum pada kartu. Dalam percobaan ini, semua e-KTP berhasil dibaca dengan baik.
1

Left to right: Dr. Husni Fahmi (ketua Tim Teknis e-KTP), Dr. Marzan Azis Iskandar (Ka.BPPT), Dr. Hammam Riza (Direktur Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi BPPT), Dr. Muh. Mustafa Sarinanto (Kepala Bidang Sistem Elektronika, PTIK BPPT)

2

Left to right: Ir. Gembong S. Wibowanto, M.Sc. (Kepala Program Rekomendasi Teknologi e-KTP BPPT), Dr. Anto S. Nugroho (Chief Engineer), Dipl.Ing.Meidy Layooari (Group Leader Teknologi Biometrics )

3a

Menjelaskan cara e-KTP reader membaca data pada chip e-KTP

Liputan Media massa:

  1. kompas.com “e-KTP: Apa saja teknologi di dalamnya ?”
  2. detik.com: “Perhatikan! Ini Cara Membaca Data e-KTP di Card Reader”
  3. Detik: “BPPT: e-KTP Tak Rusak Meski Difotocopy dan Dibengkokkan 3.000 Kali”
  4. Antara News: “BPPT kaji e-KTP generasi kedua”
  5. Kompas: “e-KTP dimana sih cip-nya ?”
  6. Kompas: “Difotokopi atau “Kecemplung” ke Air, E-KTP Takkan Rusak”
  7. Viva News: BPPT: e-KTP Indonesia Lebih Canggih dari Malaysia
  8. Viva News: Pelayanan Publik Wajib Sediakan Card Reader e-KTP
  9. Situs BPPT: BPPT Dorong Industri Dalam Negeri Produksi Card Reader e-KTP (1)
  10. Situs BPPT: BPPT Dorong Industri Dalam Negeri Produksi Card Reader e-KTP (2)
  11. Liputan 6 pagi, 16 Mei 2013

catatan: urutan penulisan link adalah berdasarkan urutan saya menemukan berita tsb.

Video saat mendemokan Card Reader e-KTP (sayang, karena kesalahan teknis, videonya terotasikan.

Ditulis dalam bppt, research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Teknologi apa saja yang berada dalam kartu kecil “e-KTP” ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Mei 12, 2013

e-KTP bukan semata kartu penduduk dengan smart card berisi data nama, foto, dan data kependudukan lainnya. Komponen teknologinya tidak hanya teknologi chip dan smart card. Itu baru satu sisi saja. Tetapi di sisi lain, ada teknologi biometrics yang mampu membersihkan database kependudukan, sedemikian hingga data yang direkam di dalam chip tersebut adalah tunggal. Apakah ini saja cukup ? Masih belum. Apa gunanya data penduduk yang valid direkam dalam chip kalau masih bisa dihack. Karena itu ada teknologi security yang melindungi data tersebut. Masih banyak sisi teknologi canggih yang lain yang berada di balik sebuah kartu e-KTP di genggaman tangan kita. Kecanggihan teknologi itu baru bisa dinikmati melalui alat baca yang tepat, dan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan demi kemaslahatan masyarakat. Bantuan bagi rakyat miskin bisa disampaikan dengan efektif dan mengurangi/menghilangkan penyalahgunaan identitas, perbankan bisa memanfaatkannya untuk verifikasi calon nasabah atau pengajuan kredit, pemilu bisa berjalan lebih jujur dan adil karena data kependudukan sudah valid, dan berbagai manfaat yang lain.

Untuk mencoba keunggulan teknologi biometrics ini pada tanggal 30 Juli 2012, saya mencoba menemukan data saya lewat sidik jari kanan, di Data Center e-KTP Kementrian Dalam Negeri. Gambar pertama di bawah adalah saat saya melakukan perekaman di Kecamatan Colomadu tanggal 21 Juli 2012. Gambar berikutnya adalah saat saya mengecek data saya di Data Center. Dari tampilan yang lebih jelas di gambar ketiga, status data saya adalah “PRINT_READY_RECORD”. Artinya telah teridentifikasi tunggal, sehingga saat itu berada di antrian untuk dicetak. Dari proses tersebut dapat diketahui, bahwa identitas seseorang bisa secara lengkap di-retrieve dari database, lewat sebuah jari dengan memanfaatkan teknologi biometrics. Kebetulan saja saat itu saya memakai baju batik yang sama dengan saat enrollment. Demonstrasi ini yang dilakukan oleh tim teknis Kementrian Dalam Negeri ke berbagai pihak untuk mendiseminasikan keunggulan teknologi biometrics di balik proses penerbitan sebuah kartu kecil e-KTP.

enrollment

Gambar 1  Saat melakukan enrollment e-KTP di Kecamatan Colomadu Karanganyar, 21 Juli 2012

found1

 

Gambar 2  Berhasil menemukan data identitas, hanya dengan men-scan dan melakukan matching sebuah sidik jari terhadap puluhan juta data sidik jari penduduk di Data Center e-KTP Kementrian Dalam Negeri

found2

 

Gambar 3  Tampilan yang lebih besar, dengan alamat dan tanggal lahir disensor

Ditulis dalam research | 2 Komentar »

Diskusi seputar Smart Card e-KTP

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Mei 12, 2013

Saya kutipkan di sini diskusi seputar smartcard e-KTP, dari diskusi Dr.M.Mustafa Sarinanto (Kepala Bidang Sistem Elektronika, Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi BPPT)  dengan komunitas maya. Diskusi ini berasal dari https://plus.google.com/100962982694612785370/posts/AUFaS4Zk73v

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam research | 1 Komentar »

Membedah teknologi e-KTP

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Mei 10, 2013

Disclaimer :

Tulisan ini sifatnya pribadi, dan bukan dimaksudkan sebagai penjelasan resmi dari institusi tempat saya bekerja. Tujuan saya adalah merangkum tulisan-tulisan mengenai e-KTP agar bisa tersampaikan dengan benar.

DAFTAR ISI

  1. Informasi dari tweet e_KTPKemendagri  yang dikelola oleh tim teknis e-KTP Kementrian Dalam Negeri
  2. “Kemendagri tidak larang warga fotokopi e-KTP”, Kilas Politik & Hukum, Harian Kompas halaman 2, 13 Mei 2013
  3. Penjelasan Kemendagri: Larangan Fotocopy e-KTP Hanya untuk Instansi (source : http://news.detik.com/read/2013/05/13/174937/2244637/10/penjelasan-kemendagri-larangan-fotocopy-e-ktp-hanya-untuk-instansi?991101mainnews)
  4. Resume Hasil Seminar Pemanfaatan e-KTP dan Card Reader 2 Mei 2013 di Ruang Komisi Utama Gedung II BPPT Jl.Thamrin 8 Jakarta
  5. Academic paper:  ”Rancangan TIK untuk Penerapan KTP Elektronik secara Nasional”, H.Fahmi, H Riza, Gembong S.Wibowanto, A.S. Nugroho, Proc. of  e-Indonesia Initiatives (eII) Forum ke VII, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 13 Juni 2011
  6. Pemanfaatan e-KTP untuk Pelayanan Publik #1 (http://www.bppt.go.id/index.php/teknologi-informasi-energi-dan-material/1648-pemanfaatan-e-ktp-untuk-peningkatan-pelayanan-publik-1)
  7. Pemanfaatan e-KTP untuk Pelayanan Publik #2 ( http://www.bppt.go.id/index.php/teknologi-informasi-energi-dan-material/1649-pemanfaatan-e-ktp-untuk-peningkatan-pelayanan-publik-2 )
  8. Inovasi untuk Kemandirian Bangsa di Bidang Teknologi Biometrik (http://www.bppt.go.id/index.php/teknologi-informasi-energi-dan-material/1645-inovasi-untuk-kemandirian-bangsa-di-bidang-teknologi-biometrik)
  9. NXP Security Technology at the Core of One of the World’s Biggest eID Programs (http://www.jp.nxp.com/news/press-releases/2013/04/nxp-security-technology-at-the-core-of-one-of-the-worlds-biggest-eid-programs.html)
  10. Dengan e-KTP Indonesia selangkah lebih maju dari Jepang http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/05/11/dengan-e-ktp-indonesia-selangkah-lebih-maju-dari-jepang-558949.html
  11. Teknologi Biometrics dalam e-KTP (http://asnugroho.wordpress.com/2012/06/22/teknologi-biometrics-dalam-e-ktp/), Abstrak pidato untuk disampaikan dalam acara Wisuda STMIK JIBES Kelapa Gading, 25 Juni 2012
  12. Teknologi Biometrics hentikan pencurian ID, Suara Merdeka 10 September 2012 (http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=198227)
  13. Academic paper:  ”Iris Localization using Circular Hough Transform and Horizontal Projection Folding”, C. Valentina, R.N. Hartono, T.V. Tjahja, A.S. Nugroho, Proc. of International Conference on Information Technology and Applied Mathematics 2012, pp.64-68, 6 September 2012, September 6-7, 2012, Jakarta Indonesia
  14. Academic paper: ”Evaluation of Fingerprint Orientation Field Correction Methods”, A.A. K. Surya, A.S. Nugroho, and C. Lim, Proc. of International Conference on Advanced Computer Science and Information System 2011, pp.353-358, Jakarta, Indonesia, 17-18 December 2011 (http://ieeexplore.ieee.org/xpls/abs_all.jsp?arnumber=6140757)
  15. Student from IT Faculty Wins Second Place in Tokyo Tech Indonesian Committee Award, Source:  http://fit.sgu.ac.id/blog/student-from-it-faculty-wins-second-place-in-tokyo-tech-indonesian-committee-award/

Link ke tulisan di blog ini yang berkaitan dengan kegiatan e-KTP maupun biometrics

  1. Diskusi seputar Smart Card e-KTP
  2. Teknologi apa saja yang berada di dalam kartu kecil e-KTP ?
  3. Gagal absen setelah mesin absensi diganti
  4. Catatan Kunjungan Kerja ke Unique Identification Authority of India (UIDAI)
  5. Teknologi Biometrics dalam e-KTP
  6. Sekilas mengenai biometrics
  7. Our new Laboratory at Puspiptek Serpong dedicated to Image Processing & Computer Vision

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam research | 13 Komentar »

Ristek sudah tidak langganan IEEE lagi ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada April 22, 2013

Di http://pustaka.ristek.go.id/main/home tidak ada lagi link untuk ke IEEE. Tapi kalau saya klik http://pustaka.ristek.go.id/main/about di sana masih ada link ke IEEE (http://pustaka.ristek.go.id/ieee/) Saat saya coba download salah satu artikel di IEEE Transaction on Pattern Analysis & Machine Intelligence, ternyata tidak berhasil. Padahal bulan-bulan yang lalu tidak masalah. Apakah memang sekarang ristek sudah tidak berlangganan jurnal-jurnal IEEE lagi ? Sayang sekali, kalau subscription ke IEEE tidak dilanjutkan. Padahal saya sudah berharap, setelah sciencedirect, IEEE, dll, kelak akan dilanjutkan ke jurnal-jurnal di group Nature, Science, dst.

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Naluri menyusui pada hamster dan long term memory

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 3, 2013

menyusui

 

Setelah sekian lama tidak dikaruniai keturunan, akhirnya sang ibu mendapatkan apa yang dia harapkan. Sekali lahir langsung tujuh bayi. Mungkin penantian yang demikian lama itu berdampak pada timbulnya naluri keibuan yang demikian mesra dan mengharukan. Ketujuh bayi dipeluk saat tidur, disusui dengan sabar, tidak ada yang dimakan…..semoga anak2mu menjadi anak yang berbakti ya…Chipchip

Foto di kanan ini memperlihatkan Chipchip sedang khusyuk menyusui ketujuh anaknya. ASI eksklusif tidak hanya dimonopoli oleh ibu manusia. ASI eksklusif kalau manusia sekitar 6 bulan. Kalau hamster berapa lama ya ?

Satu hal yang menarik untuk dicermati, darimana chipchipmemperoleh pengetahuan bahwa anak harus disusui ? Satu-satunya pengalaman menyusui, adalah saat chipchip masih bayi. Sesudah bisa lepas dari fase menyusui, chipchip dipisahkan dari orang tuanya dan tinggal di rumah kami. Chipchip terisolasi dari pergaulan dengan sesama komunitas hamster yang lain. Jadi tidak ada pengetahuan eksternal yang diterima mengenai menyusui. Apakah pengetahuan tentang menyusui itu kemudian terekam dalam long-term memory-nya (LTM) ? LTM manusia terdiri dari dua: declarative memory & procedural memory. “menyusui” sepertinya tergolong procedural memory yang di-encode di cerebellum dan striatum. Itu kalau manusia. Bagaimana kalau hamster/tikus ?

Ditulis dalam dunia chip-chup-chop, neuro, research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Scientific Adventures in 2013 are waiting !

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Januari 2, 2013

adv

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Our new Laboratory at Puspiptek Serpong dedicated to Image Processing & Computer Vision

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 29, 2012

This year, finally we have a laboratory with research activities focused on image processing. Research topics in this laboratory are:

  1. ICT for Tropical Disease: Computer Aided Diagnosis for Malaria Status Identification based on Thin Blood Smears Microphotograph
  2. Multimodal biometrics for next generation of Indonesian e-ID

The research is supported by one grant in 2012 and two grants in 2013:

  1. Research Grant from Indonesian Ministry of Research & Technology, 2012, “Pengembangan Sistem Computer Aided Diagnosis berbasis Free Open Source Software (FOSS) untuk Diagnosa Dini Malaria dari Citra Mikroskopis Sel Darah Merah” (Development of Computer Aided Diagnosis based on Free Open Source Software from Microscopic Images Obtained from Malaria Thin Blood Smears), RT-2012-121.  This grant is continuation of the previous year:  RT-2011-2013.  My role is as Principal Investigator of both.
  2. Research Grant “SINAS” from Indonesian Ministry of Research & Technology, for financial year 2013, RT-2013-1098, Pengembangan “Portable Malaria Detector” : Instrumentasi Medis untuk Diagnosa Dini Malaria  (Development of Portable Malaria Detector: Medical Instrumentation for early diagnosis of Malaria), Principal Investigator ( announced: 13 Desember 2012 )
  3. Research Grant “SINAS” from Indonesian Ministry of Research & Technology, for financial year 2013, RT-2013-0880 Pengembangan Sistem Identifikasi berbasis Multimodal Biometrics untuk e-KTP Generasi Kedua  (Development of Multimodal Biometrics Identification System for Indonesian e-ID), team member

148924_10151289992814477_861015680_n
14509_10151272889719477_1093263315_n

We also have lab. model of Automated Fingerprint Identification System (AFIS) and Key Management System (KMS), in front of the Image Processing Laboratory. Both of them are in the second floor. In the first floor, we have Smart Card Laboratory. Laboratory for AFIS & KMS, and Laboratory for Smart Card are laboratorium models of Indonesian national project e-KTP. Many scientific adventures are waiting in 2013.


229825_10151289991984477_1965754535_n533536_10151289990424477_1265691283_nlabmodelektp1labmodelektp2

Ditulis dalam catatan kerja, research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Satu hari hanya dua puluh empat jam

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 27, 2012

Satu hari hanya dua puluh empat jam. Kalau profesinya adalah scientist, pasti harus meluangkan waktu secara rutin untuk membaca jurnal, mengkritisi, merangkum, melakukan eksperimen, presentasi di seminar atau memenuhi undangan.

Ketika sekaligus menjadi dosen, maka sebagian waktu dialokasikan untuk mempersiapkan materi ajar, slide, mengajar, membuat soal ujian, mengkoreksi, ujian ulang, ujian lisan, membuat surat rekomendasi, membimbing skripsi, menguji siswa. Kalau mengajar lebih di satu tempat, tinggal copy-paste saja sejumlah perguruan tinggi yang diajar.

Dan jika mengajar itu adalah pekerjaan sampingan, sedangkan pekerjaan utama di BPPT, maka sebagian waktu harus dialokasikan untuk mengikuti rapat, menyelesaikan kegiatan, membuat technical notes, technical reports, technical documents, mengurus DUPAK, mengajukan nilai kredit, membuat SKI tiap bulan, melakukan self-assessment dan menyusun materi pendukungnya, sesekali dinas ke luar kota, atau luar negeri.

Apabila aktif di society, maka tugas tambahan seperti review paper, membantu penyelenggaraan seminar, mengelola komunitas, harus juga dialokasikan waktunya.

Terakhir,..apabila hidup terpaksa terpisah dengan keluarga (Jangan tanya “mengapa” ya..udah bosen menjawabnya). Maka sebagian waktu harus dialokasikan untuk berkomunikasi dengan anak istri, menempuh perjalanan 500km demi bertemu anak istri walau cuma sepertiga dari umur saja yang bisa dialokasikan, membuat planning kapan beli tiket kereta untuk pulang, mendownloadkan video cherry belle, mencarikan MP3 yang disukai anak-anak, menemani belajar lewat telpon, membuat cerita untuk anak-anak dan dibacakan lewat telpon menjelang mereka tidur. Tapi jika ketiduran habis Isya’, maka semua rencana itu batal dan siap-siap diomeli di pagi hari.

Ditulis dalam Indonesiaku, keluarga, renungan hidup, research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mendapat Insentif Riset KNRT

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 13, 2012

Setelah beberapa bulan terakhir selalu mengklik situs ristek, Alhamdulillah hari ini akhirnya keluar juga pengumuman insentif riset yang  mendapat pendanaan dari KNRT di tahun 2013.  Dari dua proposal yang saya terlibat di dalamnya, alhamdulillah berhasil lolos untuk didanai.

  • Pengembangan Portable Malaria Detector : Instrumentasi Medis untuk Diagnosa Dini Malaria ( RT-2013-1098, dengan saya sebagai Peneliti Utama )
  • Pengembangan Sistem Identifikasi berbasis Multimodal Biometrics untuk e-KTP Generasi Kedua (RT-2013-0880, bergabung dg tim dengan Peneliti Utama Dr.Teduh Mohammad Teduh Uliniansyah )

 

Ditulis dalam research | 3 Komentar »

Mengarahkan cara belajar dari sidik jari ?

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Desember 9, 2012

Siang ini kami ke toko buku di Solo. Di sana Tika mengikuti lomba mewarnai. Salah satu yang dipromosikan dalam acara tsb. adalah kesempatan untuk mengarahkan cara belajar lewat sidik jari.  Saya tidak percaya dengan hal-hal seperti ini.  Pola sidik jari itu random chaotic morphogenesis. Tidak ada penetrasi genetik dalam pembentukannya, sama halnya dg pola iris. Karena itu Iridology yg mengaitkan pola iris dg status kesehatan sudah disimpulkan sbg medical fraud di jurnal2 medis, th 85. Sidik jari pun idem ditto. Sidik jari kembar identik pun berbeda. Sidik jari kiri vs kanan dari satu orang yg sama (DNA nya sama persis) pun akan berbeda.  Bagaimana, keterkaitan antara pola sidik jari dg bakat ? Bakat adalah sesuatu yg sifatnya diturunkan, sedangkan pola sidik jari sifatnya random chaotic. Tidak ada keterkaitan hereditas di situ. Saya belum lama ini mereject paper berkaitan dg hal sejenis, tapi memakai pola iris. Langsung strong reject, dan saya tuliskan bhw di kedokteran itu sudah diketahui sbg medical fraud. Beberapa jurnal yg menyimpulkan hal tsb saya tulis sbg alasan mereject. Memang banyak pseudoscience di sekitar kita. Ada yang mengatakan bahwa analisa itu diajarkan di fakultas psikologi. Tapi dari informasi teman di psikologi UI, hal seperti itu tidak diajarkan.  Teman saya di UI, Pak Donny Hendrawan mengomentari status saya di FB sbb. “Kami di UI tdk mengajarkannya. Setuju dgn mas Anto, finger print test, brain gym, midbrain activation training, pelatihan otak kiri dan kanan, dll lemah akan pijakan ilmiah dan dianggap pseudoscience. Sayangnya produk2 tsb justru booming di Indonesia dan didukung sebagian org yg berlatar belakang neuroscience, psikologi, psikiatri, dll.”  Pak Sarlito pernah menanggapi juga dan dapat dibaca di http://news.okezone.com/read/2011/05/15/58/457267/sidik-jari

Ditulis dalam research | Tinggalkan sebuah Komentar »

Teknologi Biometrics dalam e-KTP

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Juni 22, 2012

*Abstrak pidato untuk disampaikan dalam acara Wisuda STMIK JIBES Kelapa Gading, 25 Juni 2012 *

Sejak tahun 2011, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Dalam Negeri telah mulai menjalankan Program Penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomer Induk Kependudukan (NIK) secara nasional bagi 172 juta penduduk wajib KTP pada tahun 2011.  Pada tahun 2011 ditargetkan 197 Kabupaten/Kota dan pada tahun 2012 ditargetkan 300 Kabupaten/Kota di Indonesia telah dilakukan pendataan dan penerbitan e-KTP.  Dengan e-KTP diharapkan dapat diwujudkan dokumen identitas penduduk yang tunggal dan absah melalui proses identifikasi ketunggalan sidik jari secara terpusat (nasional). Identitas ketunggalan ini sangat penting, karena banyak sekali kasus kriminalitas yang memanfaatkan KTP palsu. Misalnya serangan teroris terhadap hotel JW Marriott pada tanggal 17 Juli 2009, dan penjebolan rekening bank 25 Juli 2009 yang memakai kartu identitas palsu.  Diberitakan juga bahwa sepanjang tahun 2008, di DKI Jakarta telah disita  88.000 KTP palsu. Selama ini pembuatan KTP palsu sangat mudah, karena tidak ada sarana untuk memastikan keunikan pemohon.  Dengan e-KTP, hal ini tidak mungkin terjadi lagi karena setiap penerbitan e-KTP akan melalui proses identifikasi ketunggalan dengan dukungan teknologi biometrics.  Hanya penduduk yang lolos uji identifikasi ketunggalan saja yang akan menerima e-KTP.

Teknologi biometrics didefinisikan sebagai metode otomatis untuk melakukan verifikasi ataupun mengenali identitas seseorang yang masih hidup berdasarkan karakteristik fisiologi ataupun perilaku ybs.  Dalam penerbitan e-KTP, 3 informasi biometrics direkam dari tiap penduduk, yaitu sidik jari, iris dan wajah.   Sidik jari memiliki 3 level informasi, dimana informasi keunikan tiap individul direpresentasikan pada level kedua, yaitu sebagai titik-titik minutiae.  Titik minutiae adalah titik dimana ridge terputus. FBI menetapkan model koordinat minutiae berdasarkan termination dan bifurcations, yaitu tiap minutia dinotasikasikan berdasarkan class, koordinat x dan y, dan sudut yang dibentuk oleh garis ridge dan sumbu horizontal pada titik minutia tersebut. Dalam proses matching, untuk menyatakan bahwa dua buah sidik jari berasal dari jari yang sama harus dipenuhi beberapa syarat, antara lain kesesuaian konfigurasi pola global antara kedua buah sidik jari, kesesuaian kualitatif (qualitative concordance), yaitu minutiae yang bersesuaian harus identik, faktor kuantitatif, yaitu banyaknya minutiae bersesuaian yang ditemukan harus memenuhi syarat minimal (guideline forensik di AS mensyaratkan minimal 12 minutiae),  detail minutiae yang bersesuaian harus identik.

Selain sidik jari, iris dimanfaatkan sebagai modality biometrics e-KTP.  Tekstur iris manusia berasal dari proses chaotic morphogenetic selama perkembangan embrio, dan memiliki ciri yang mampu dipakai untuk identifikasi seseorang.  Untuk mengekstrak karakteristik iris, dilakukan serangkaian proses yang meliputi lokalisasi dan segmentasi iris untuk memisahkan informasi pupil dan sclera, iris unwrapping, ekstraksi fitur dan matching.  Salah satu teknik yang sangat populer dipakai dikembangkan oleh Daugman. Iris yang berbentuk donat ini kemudian dibuka dan diubah bentuknya menjadi segi empat memakai teknik rubber-sheet model yang dikembangkan oleh Daugman, dan dilakukan 2D Gabor filtering untuk menghasilkan iris code yang merupakan hasil demodulasi citra yang dihasilkan. Teknologi pengenalan iris ini masih relatif baru dibandingkan teknologi pengenalan sidik jari. Akan tetapi potensinya sangat besar, dan memiliki berbagai kelebihan di bandingkan sidik jari. Antara lain keutuhan informasi pada iris lebih baik dibandingkan sidik jari, karena pola ridge sidik jari dapat rusak karena terkikis dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.  Menurut Daugman, dalam area 1 mm2 dapat diekstrak informasi setidaknya 3.2 bit, yang dapat diinterpretasikan sebagai 266 spot unik dari sebuah iris. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan biometrics yang lain, yang berkisar 15-30 spot. Fakta ini mengindikasikan bahwa iris sangat bagus dipakai untuk identifikasi keunikan dan ketunggalan seorang individu dibandingkan dengan biometrics yang lain. Biometrics yang direkam dalam e-KTP relatif lengkap, dan saling melengkapi satu dengan yang lain untuk mengidentifikasikan ketunggalan penduduk. Dari sisi skala populasinya, maka proyek biometrics ini merupakan terbesar kedua di dunia setelah India.

Setelah e-KTP berhasil diwujudkan, database yang terintegrasi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai  layanan bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya untuk pemilu, layanan perbankan, layanan kesehatan, lamaran kerja, penerbangan, penginapan karena tiap individu dapat dipastikan identitasnya.  Namun demikian, pemanfaatan dan pengelolaan data-data e-KTP ini memerlukan dukungan jangka panjang dari seluruh komponen pelaku teknologi di Indonesia. Akademisi dapat berpartisipasi dalam riset terkait teknologi e-KTP, misalnya biometrics, chip, dan sisi sekuriti. Kalangan industri pun akan dapat ikut meraih manfaatnya, dengan pengembangan berbagai teknologi yang mendukung dan memanfaatkan e-KTP seperti misalnya Card Reader.  Diharapkan program ini dapat menjadi landasan kegiatan R&D jangka panjang, baik di perguruan tinggi maupun industri untuk mengoptimalkan manfaat yang dapat diperoleh dari e-KTP.

Ditulis dalam research | 3 Komentar »

CFP: The first conference and workshop on Intelligent Systems and Business Intelligence 2012

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

URL: http://cowisbi.com/

The Conference and Workshop on Intelligent Systems and Business Intelligence (COWISBI) will be held on yearly basis. Experts from different fields will present their applications and the result obtained from their result on this confererence.  The COWISBI addresses in detail two main field of research interest: Intelligent Systems and Business Intelligence. The sub fields have been identified. However, innovative contributions that do not fit into these areas will also be considered since they might be of benefit to conference attendees.

In addition to the main sessions, the conference timetable shall be concerted with several workshops sessions in similar scopes, which will take place before, during and after the end of the COWISBI 2012. Students and new comers in the field can get a fast introduction to Intelligent Systems and Business Intelligence by taking the workhop sessions running in connection with the conference.

The COWISBI 2012 established as scientific forums that gather only quality papers and presentations that meet high scientific standards. Following the tradition, all submitted papers to COWISBI 2012 shall be carefully reviewed for possible inclusion in the Conference Proceedings. Acceptance will be based primarily on originality, significance and quality of contribution.

Main Topics

Intelligent Systems

  • Artificial Intelligence
  • Automation Systems and Control
  • Bioinformatics
  • Case-based Reasoning
  • Computational Intelligence
  • Evolutionary Computation
  • Expert Systems
  • Fuzzy Sets and Logics
  • Game Technology
  • Decision Theories
  • Machine Learning
  • Multi-Agent Systems
  • Neural Networks
  • Swarm Intelligence
  • Automated Software Engineering

 Business Intelligence

  • Data Mining and Knowledge Discovery
  • Decision Support Systems
  • Data extraction and reporting
  • Data cleaning and pre-processing
  • Reasoning under uncertainty
  • Business intelligence cycle and model
  • Web technology, mining and agents
  • Exploratory and automated data analysis
  • Knowledge-based analysis
  • Statistical pattern recognition
  • Data mining algorithms and processes
  • Classification, projection, regression, optimisation clustering
  • Information extraction and retrieval
  • Multivariate data visualisation
Full Paper Submission : April 02, 2012
Notification : April 09, 2012
Camera ready paper : : April 16, 2012
Registration : April 16 , 2012
Conference : May 05, 2012

Ditulis dalam research, talk & seminars | Tinggalkan sebuah Komentar »

Duapuluh satu djam di Djogdja

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

Sejak hari Sabtu s/d Senin yang lalu (28-30 Januari 2012), saya mengisi acara shortcourse on datamining di Universitas Islam Indonesia. Acara ini terbuka untuk umum, dan pada saat hari pelaksanaan diikuti oleh sekitar 15 orang. Acara dimulai pk. 08.30 hingga 15.30, total 7 jam selama 3 hari. Umumnya peserta adalah dosen di perguruan tinggi Yogya, Solo, dan ada juga yang dari jauh seperti Palembang. Yang membuat saya stress adalah peserta umumnya adalah dosen yang sudah mengajarkan matakuliah datamining, atau matakuliah lain yang berkaitan erat. Mau tidak mau saya harus memutar otak, agar penjelasan saya disesuaikan dengan latar belakang peserta. Lain halnya kalau pesertanya mahasiswa, sehingga saya bisa menjelaskan lebih lambat. Selama kegiatan tsb., banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan, yang saya pun belum tahu jawabannya.  Materi yang saya sajikan mengacu pada buku Introduction to Data Mining, oleh Pang-Ning Tan, Michael Steinbach, Vipin Kumar Addison Wesley, ISBN: 0-321-32136-7. Karena tidak mungkin membahas semua, saya fokuskan bahasan pada topik-topik sbb.

  1. Apakah Datamining itu ?
  2. Data
  3. Klasifikasi (k-Nearest Neighbor Classifier, Artificial Neural Network, Support Vector Machine)
  4. Feature Subset Selection
  5. Association Rules (Apriori Algorithm)
  6. Clustering (k-Means Clustering, Single Link Clustering, Complete Link Clustering, Average, Centroid, Minimum Spanning Tree, DB Scan, dsb)
  7. Self Organizing Maps
  8. Praktek memakai Weka
  9. Contoh aplikasi datamining:  analisa data meteorologi, bioinformatika, prediksi efektifitas interferon, social network, webmining, intelligent searching, computer aided diagnosis, biometrics dsb.

Tiga hari yang melelahkan, akan tetapi saya banyak belajar hal baru juga selama berinteraksi dengan teman-teman peserta. Kunjungan ke UII ini adalah yang kedua kali. Kunjungan ke UII pertama adalah Maret 2000, saat saya baru saja menikah dan bersilaturahmi dengan bapak-ibu di Magister Teknik Sipil. Karena istri saya saat itu bekerja sebagai staf honorer di program tsb. (saat itu kepala program magister masih Pak Lutfi yang kemudian menjadi rektor UII). Hal lain yang menyenangkan adalah saya berhasil membuat foto di tempat yang sama dengan 12 tahun lalu. Setelah 12 tahun menikah, ternyata ada “perkembangan” dan “kemajuan”,…kata teman saya (^^;

Ditulis dalam research | 3 Komentar »

Tulislah journal jika anda ingin meraih sarjana di Indonesia

Posted by Anto Satriyo Nugroho pada Februari 2, 2012

Judul corat-coret ini merangkumkan diskusi berkaitan dengan SK dari Ditjen Dikti yang beredar di awal Februari 2012, dan menjadi bahasan hangat di kalangan akademisi perguruan tinggi. SK tersebut dapat didownload dari situs Dikti. Dari SK tersebut dijelaskan bahwa untuk meraih gelar sarjana S1, mahasiswa harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Sedangkan untuk magister, syarat yang sama juga diterapkan, tetapi ditambahkan keterangan bahwa “jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti”. Sedangkan untuk program S3 ketentuannya “telah diterima untuk terbit pada jurnal ilmiah internasional.”. Kalimat ini mengundang berbagai pertanyaan dan pemikiran yang saya rangkumkan sbb.

  1. Syarat untuk strata S1 tersebut tidak menyebutkan ketentuan akreditasi Dikti, berarti sebarang jurnal sekalipun tidak masalah. Bisa saja jurnal yang diterbitkan oleh kampus, atau fakultas. Apakah demikian tafsirannya ?
  2. Untuk S1 dan S2 syaratnya harus terbit, sedangkan untuk S3, syaratnya cukup diterima untuk diterbitkan. Ini jelas berbeda. Pada saat seseorang mengirimkan tulisan ke jurnal ilmiah, pertama-tama setelah diterima editor akan melalui proses review. Reviewer (mitra bestari) biasanya lebih dari 1 orang. Setelah selesai direview,  akan dikembalikan ke editor. Editor akan mengirim surat pemberitahuan kepada penulis dengan salah satu dari 3 status: a) diterima, b)diterima dengan persyaratan (harus ada revisi, bisa dari cara penulisan, bisa saja dari sisi konten yang harus diperbaiki, misalnya dengan mengulang eksperimen atau menambahkan eksperimen baru) atau c) ditolak. Apabila hasilnya b), maka penulis harus memenuhi syarat yang diminta untuk kemudian dikirim ulang ke editor, dan editor akan mengirim kembali kepada reviewer untuk mengevaluasi ulang. Kalau lolos, baru akan dipublikasikan. Keseluruhan proses ini lazimnya makan waktu 6 bulan, bahkan adakalanya lebih dari 1 atau 2 tahun, tergantung tingkat kesulitan paper dan ketelitian reviewer. Hal ini untuk menjamin bahwa tulisan yang akan dipublikasikan di jurnal tersebut berkualitas tinggi dan bisa dijadikan acuan ilmiah.
  3. Tidak ada ketentuan, apakah calon sarjana S1 tersebut harus duduk sebagai penulis utama, atau tidak.
  4. Kalau berkaca dari pengalaman pribadi saya selama di Jepang, syarat untuk meraih doktor umumnya dengan publikasi di jurnal, sebagai bukti bahwa mereka memiliki kontribusi yang layak untuk diberikan gelar Doktor.  Walau demikian, tidak semua perguruan tinggi mensyaratkan hal yang sama. Syarat kelulusan tergantung dari izin sensei, atau konvensi jurusan. Ulasan meraih doktor di Jepang silakan lihat “Hakase-gou toruka ? toranai ? tettei daikenshou” (ISBN: 978-4897066493). Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan teman lama baru saja meraih doktor dari Austria. Dia  bercerita kalau di Austria justru dia tidak dituntut untuk berpacu dalam melodi publikasi. Selama pendidikan S3, dia diminta untuk menekuni satu topik secara mendalam. Setelah lulus, baru kemudian diarahkan untuk publikasi ke journal. Memang tidak seragam antara satu dan lain, tapi publikasi jurnal adalah tuntutan untuk pasca sarjana.   Journal paper adalah paparan komprehensif suatu studi yang dilakukan yang memenuhi syarat ketat, seperti novelty, misalnya. Karena itu, adakalanya dalam 1 tahun, seorang calon doktor hanya mampu menulis 1 jurnal. Itu sudah bagus. Ada yang bahkan untuk keluar satu jurnal perlu waktu lebih dari 3 tahun. Nah, di tanah air tercinta, jurnal justru jadi persyaratan kelulusan S1. Padahal masa mengerjakan tugas akhir dalam pendidikan S1 di Indonesia seringkali hanya dalam waktu yang pendek, hanya 4-6 bulan. Kebanyakan hanya satu tahun (2 semester). Dengan kemampuan yang terbata-bata, mereka dituntut untuk menulis jurnal. Ibaratnya bayi baru belajar berjalan, diajak lari sprint 100m bertanding dengan atlit profesional.
  5. Negara mana yang jadi model aturan ini ? Saya tidak tahu. Kalau tujuannya untuk memperbanyak publikasi, mestinya tanggung jawab itu dibebankan ke professor, atau calon doktor. Misalnya saja professor dan calon doktor diberikan beban untuk menjadi penulis utama jurnal ilmiah internasional dengan kuantitas tertentu.
  6. Saya khawatir, peraturan tersebut akan membuat tiap fakultas berlomba-lomba membuat jurnal sendiri, dengan proses review yang tidak seketat jurnal terakreditasi. Tujuannya agar kelulusan sarjana tidak terganjal oleh aturan keharusan publikasi tersebut. Kalau ini yang terjadi, saya khawatir hasilnya akan kontra produktif. Jurnal-jurnal itu tidak akan pernah dibaca/dijadikan referensi oleh peneliti yang lain karena kualitasnya tidak diakui dan merupakan hasil studi S1 yang tentu saja -umumnya- tidak mengandung novelty/sisi kebaruan yang signifikan. Waktu yang dimilik peneliti sangat terbatas, sehingga dia hanya fokus pada jurnal/prosiding yang utama.
  7. Pendapat saya, ketentuan itu sebaiknya jangan menjadi harga mati, syarat yang harus dipenuhi oleh calon sarjana. Lebih baik siswa diencourage dengan level yang lebih reasonable, misalnya disyaratkan untuk presentasi di seminar nasional.
  8. Last but not least, premis kebijakan tersebut terlalu naif, yaitu ketinggalan kuantitas publikasi dibandingkan dengan Malaysia. Seharusnya untuk membuat kebijakan yang sangat menentukan secara nasional seperti ini harus diadakan kajian yang serius dan mendalam, sehingga alasannya masuk akal dan smart, tidak dengan alasan karena kekalahan terhadap Malaysia sebagaimana tertulis pada surat tersebut.

Entahlah, di Indonesia begitu banyak kebijakan yang saya tidak mudah memahaminya. Benar kata Ebiet G. Ade, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Update:

Hari ini di twitter, ada penjelasan informal dari Dikti, bahwa

  1. ada 3 jenis Jurnal yg tertulis dalam SE Dirjen Dikti no.152/E/T/2012, yakni Jurnal Ilmiah, Jurnal Ilmiah Nasional dan Jurnal Internasional
  2. Jurnal Ilmiah Nasional;kriterianya: Memiliki ISSN, bertujuan menampung hasil2 penelitian ilmiah dan/konsep ilmiah dlm disiplin ilmu trtnt
  3. kriteria(lanjutan):ditujukan kpd masyrkt ilmiah/peneliti yg memlki disiplin keilmuan yg relevan,substansi satu mslh dalam satu bidang ilmu
  4. memiliki kaidah penulisan ilmiah yg utuh (rumusan masalah,pemecahan masalah,dukugan teori,kesimpulan dan daftar isi)
  5.  diterbitkan oleh badan ilmiah/organisasi/perguruan tinggi dg unit-unitnya
  6. memakai Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dg abstrak dalam bahasa Indonesia
  7. memiliki Dewan Redaksi yg terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan diedarkan secara nasional
  8. Jurnal Ilmiah:Portal Jurnal yg hanya memenuhi bbrp kriteria Jurnal Ilmiah Nas.Mislnya portal jurnal kmps yg tdk diedarkan scr nasional
  9. sementara Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi harus mengacu kepada: Permendiknas No22 thn 2011 ttg Terbitan Berkala Ilmiah
  10. dan Peraturan Dirjen Dikti Nomor 49/DIKTI/Kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala bit.ly/z1Nqi8
  11. Surat Edaran Direktur Diktendik No. 1313/E5.4/LL/2011 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2011 12) dan Surat Edaran Direktur Diktendik Tanggal 10 January 2012 tentang Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2012 …dst

Pemahaman saya : berarti untuk syarat kelulusan S1, harus terbit di jurnal ilmiah yang tidak harus memenuhi seluruh kriteria jurnal nasional ( lihat point 8).  Dengan demikian, saya rasa bisa saja “jurnal” itu diterbitkan sendiri oleh kampus, dan tidak memiliki ISSN. Boleh juga tanpa proses review dari pakar eksternal. Kalau demikian, saya rasa tidak terlalu berat. Tujuannya agar budaya menulis dibiasakan di lingkungan kampus. Akar masalah selama ini sepertinya karena terminologi “jurnal ilmiah” yang dipakai oleh Dikti, lain dengan “jurnal ilmiah” dalam persepsi akademisi. Di kompas ada artikel terkait dengan kebijakan tersebut:

  1. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/09280630/Syarat.Lulus.S-1.S-2.S-3.Harus.Publikasi.Makalah
  2. http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/03/11064313/IPB.Kaji.Surat.Edaran.Ditjen.Dikti

Ditulis dalam Indonesiaku, kuliah, research | 9 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.