Kenangan Nagoya : 1991, 1995, 2000, 2005

Tulisan ini pindahan dari blog lama  http://asnugroho.blogspot.com/2006/04/kenangan-nagoya-1991-1995-2000-2005.html 

1991

  1. Sehari-hari
    • 1 yen sekitar 11 rupiah
    • consumption tax (shouhizei) : 3%
    • Baito yang populer adalah mengajar bahasa Indonesia. Baito cuci piring belum populer
    • Tiket pulang (Garuda) ke Indonesia masih mahal, belum ada tiket PPI.
    • Mencari bahan makan Indonesia masih sangat susah. Sun Lemon baru ada sekitar tahun 93 atau 94.
    • Sebulan sekali terima kliping berita tanah air dari KBRI. Hanya itu satu-satunya berita tentang tanah air yang bisa diperoleh di Jepang. Saat masih tinggal di Tokyo, kalau ingin membaca majalah Tempo, pergi ke Asian Bunka Senta
    • Kartu telpon yang dijual nilainya 500 yen, 1000 yen, 3000 yen dan 5000 yen
    • Telpon ke Indonesia selama 30 menit sekitar 5000 yen
    • Kalau mau pasang telpon di rumah paling murah lewat seikyo (sekitar 70 ribu yen !). Kalau pesan langsung lewat NTT langsung lebih mahal.
    • Restoran Indonesia di Nagoya hanya 1 : Kemala (Imaike)
    • Kalau naik chikatetsu, tiket tidak dimasukkan ke jidokaisatsu (ticket barrier/wicket), tetapi dikasihkan ke petugas untuk dicap (atau dilubangi ya ? lupa)
    • Sampah (gomi) hanya dibagi 3 : terbakar, tak terbakar dan besar (sodaigomi). Tiap bulan sekali ada jadwal pembuangan barang-barang besar (almari es, sepeda, sofa, dsb.). Saat itu pembuangan sodai gomi masih free of charge. Kami sering berburu sodai gomi. Kalau untung, bisa dapat TV, wordprocessor, almari es, sofa bed, yang masih bagus. PPI sempat diplesetkan jadi Persatuan Pemulung Indonesia 😀
  2. PPI
    • anggota PPI Nagoya hampir 100, kebanyakan mahasiswa kiriman program OFP, STMDP dan STAID. Selain Nagoya, mahasiswa Indonesia di Jepang Tengah masih sedikit. PPI Korda Jepang Tengah = PPI Nagoya.
    • Festival malam Indonesia diselenggarakan tiap tahun, di International Center dan Kokaido Tsurumai
    • Rapat PPI dan seminar sering dilakukan di Minato-ku kaikan. Undangan dalam bentuk tercetak, dikirim per pos. Tiap pertemuan ditarik iuran sekitar 500 yen, untuk ganti ongkos makan dsb.
  3. KMI
    • Pengajian KMI biasanya diselenggarakan hari Minggu, ba’da Maghrib, selesai jam 8 malam. Tempat berpindah dari rumah satu rekan ke yang lain.
    • Masjid belum ada. Sebagai gantinya menyewa apato di belakang meidai, untuk sholat Jumat dll. Sholat Ied pernah dilakukan di lobby international residence. Patung-patung yang ada di ruangan tsb. saat itu ditutup dengan kain. 🙂

1995

    • 1 yen : sekitar 20 rupiah
    • consumption tax (shouhizei) : 3%
    • Mulai banyak rekan-rekan yg pakai beasiswa sendiri, sehingga bursa baito pun mulai ramai
    • Bahan makan Indonesia sudah lebih mudah diperoleh. Sun Lemon mulai populer. Alternatif lain adalah mengkoordinir pemesanan kecap, indomie, dsb. ke Pak Lemana Kobe. Anto jualan indomie.
    • Beberapa rekan meikodai langganan tempo dari Indonesia, dan ditaruh di perpustakaan meikodai.
    • Kartu telpon yang dijual nilainya 500, 1000 dan 3000 yen. Kartu palsu mulai populer.
    • Yang terkenal jualan kartu palsu ini adalah orang Iran, di sekitar Nagoya eki dan Sakae
    • Keitai denwa mulai muncul, tapi baru level sensei saja yang punya
    • Pentium I muncul
    • Laptop dengan layar berwarna mulai muncul di pasaran
    • Restoran Indonesia di Nagoya ada dua : Kemala (Imaike) dan Bagus (Sakae)
    • Chikatetsu Sakura dori line mulai jalan
    • Jido kaisatsu sudah populer
    • Di pojok motoyama masih ada Pizza Hut. Dulu sering karaoke-an di do-re-mi-fa dekat
    • perempatan motoyama

    • GSID Nagoya University berdiri. Beberapa tokoh Indonesia jadi dosen tamu di Meidai a.l. Abdurrahman Suryomiharjo alm., Yahya Muhaimin, Ibrahim Alfian, dsb.

    • anggota PPI Nagoya masih cukup banyak
    • festival malam Indonesia diselenggarakan di Kanayama
    • Arisan, kegiatan PPI sering dilakukan di gedung Coop Motoyama
    • Tiket Garuda (PPI) mulai ada sekitar tahun 94. Satu-satunya yang menjual tiket
    • murah adalah PPI Nagoya, untuk keberangkatan di seluruh Jepang. Baru kemudian disusul oleh PPI Pusat, dan yang komsat/korda yang lain

    • Sholat Jumat diselenggarakan di masjid menyewa tempat di perempatan Ikeshita
    • Pengajian KMI biasanya diselenggarakan hari Minggu siang di Meikodai
  1. Sehari-hari
  2. Sehari-hari
  3. KMI

2000

    • 1 yen : sekitar 70 rupiah (sempat lewat 100 saat krismon)
    • Toko 100 yen sudah populer
    • consumption tax (shouhizei) masih 3%, dan label harga barang yang dijual belum memperhitungkan pajak-nya
    • Sun Lemon sudah kalah populer oleh World Food. Bahan makan Asia sudah mudah untuk diperoleh
    • Sebelum populer ADSL, koneksi lewat internet memakai dial up. Agar murah, ikut langganan telehodai NTT. Satu bulan sekitar 1800 yen untuk mendaftarkan 2 nomer lokal yang bisa dipakai sepuasnya sejak jam 11 malam s/d 8 pagi
    • Kartu telpon yg dijual nilainya 500 dan 1000 yen. Telpon murah ke Indonesia bisa pakai kartu brastel –> kontak ke Oom Gun
    • Keitai denwa sudah populer
    • Restoran Indonesia di Nagoya hanya 1 : Kemala (Imaike). Restoran Bagus sudah jadi restoran/bar Brazil
    • Pizza Hut di Motoyama sudah nggak ada lagi
    • Sizzler Nagoya letaknya di perempatan Sakae

    • Anggota PPI Nagoya lebih sedikit dari sebelumnya, tetapi Gifu, Toyohashi dan Fukui sudah ramai mahasiswanya
    • Email, homepage sudah populer. Undangan rapat PPI sudah biasa dikirim lewat email.
    • Arisan, kegiatan PPI dan KMI dilakukan di meikodai, pagi/siang hari.
    • Tiap tahun ada PPIJT Match (tahun 95 belum ada)
    • Masjid sudah pindah ke honjin, sejak sekitar tahun 98. Sholat Ied rutin dilakukan di Kanayama atau Nagoya-Port (Port Messe).
  1. Sehari-hari
  2. PPI
  3. KMI

2005

Hampir sama dengan tahun 2000. Beberapa hal yang berbeda a.l.

    • Kompetisi ADSL sudah ramai (YahooBB, KDDI, dsb.)
    • consumption tax (shouhizei) sudah berubah jadi 5%.
    • Label harga barang yang dijual sudah harus memasukkan tax-nya
    • Nama “100 yen shop” kurang tepat, berubah jadi toko 105 yen
    • Toko 99 yen mulai populer
    • Bahan makan Asia sudah jauh lebih mudah diperoleh. Beberapa rekan juga menjual indomie, kecap dsb.
    • Restoran Indonesia di Nagoya bertambah satu : “Sama-sama” (Sakae). Saya nggak tahu, apakah restoran Kemala masih ada atau tidak
    • Line telpon tidak bisa dijual balik ke NTT
    • Chikatetsu sudah lewat Nagoya daigaku mae
    • Sizzler Nagoya sudah tutup
    • Membuang sampah sudah mulai rumit. Ada pemisahan antara terbakar, recycle, cans, bin, sodaigomi. Pembuangan barang sodaigomi (TV, sepeda, almari es, dsb) sudah tidak gratis lagi.

    • PPI Nagoya sudah berbentuk Komisariat, di bawah Korda Jepang Tengah, bersama Komsat Gifu, Toyohashi dan Mie

    • Pengajian KMI rata-rata sebulan 2 kali (minggu kedua : pengajian keluarga, minggu keempat : pengajian umum)
    • Sholat Jumat diadakan juga di Meidai
  1. Sehari-hari
  2. PPI
  3. KMI

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kenangan Nagoya : 1991, 1995, 2000, 2005

  1. Abel berkata:

    Mas Anto,

    Corat-coret Anda sangat menarik dan informatif. Saya suka membacanya meski tidak semua materi saya baca.

    Sayang sekali jika pengalaman, renungan, dan opini Anda ‘cuma’ ada di halaman siber ini. Apa tidak sebaiknya corat-coret Anda dibukukan saja dengan judul yang sama? Tidak perlu tematik karena namanya juga corat-coret.

    Saya pikir, bahan-bahannya sudah cukup. Mungkin tinggal menambah bahan-bahan yang diperlukan dan relevan dengan materi, sebagai rujukan.

    Begitu usul saya.

    Salam erat,

    Abel

  2. Siska emilia berkata:

    pak Anto…

    Mungkin bapak tidak mengenal saya.

    Tapi, saya hanya ingin bertanya buat bapak yang sudah pernah ke Jepang dan mungkin bolak-balik Indonesia-Jepang.

    Apa bapak tahu berapa harga perbandingan yen dan jepang tahun 2008 ini??

    Saya pikir bapak dapat berbaik hati memberitahu saya ke mail saya…

    Saya sudah cari tentang perbandingan harga dimana-mana, namun tak ada.

    Jadi saya pikir bapak dapat membantu saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s