Masalah Pendidikan di SMA Jepang (1)

Di TV, sejak kemarin (25 Oktober) ramai diberitakan kasus banyaknya SMA yang tidak mengajarkan secara lengkap mata pelajaran ke siswanya yang mempengaruhi kelulusan mereka. Tiga mata pelajaran yang disorot : sejarah dunia (“sekai-shi”), sejarah nasional (“nihon-shi”) dan geografi (“chiri”). Tercatat lebih dari 60 SMA di 11 propinsi di Jepang yang tidak mengajarkan 世界史 (“sekai-shi”, sejarah dunia), padahal ini mata pelajaran wajib. Menurut aturan Monbukagakusho, sekai-shi adalah mata pelajaran wajib SMA yang harus diikuti siswa. Sedangkan 地理 (“chiri”: geografi) dan 日本史 (“nihon-shi” : sejarah nasional Jepang) adalah mata pelajaran pilihan, yang siswa harus mengikuti satu diantara keduanya. Alasan pihak sekolah adalah menyajikan ramuan mata pelajaran yang sesuai dengan yang diujikan saat masuk ke perguruan tinggi (大学受験対策). Bahkan di salah satu SMA, sejak 3 tahun lalu tidak mengajarkan secara lengkap ketiga mata pelajaran itu, karena adanya permintaan dari siswa agar pelajaran dikonsentrasikan pada materi yang diujikan di ujian masuk perguruan tinggi. Senta-shiken (National Center Test for University Admissions) memang hanya mensyaratkan satu pilihan saja diantara sejarah nasional, sejarah dunia dan geografi. Disamping itu, hanya 2 university yang mengujikan mata pelajaran sekai-shi di ujian masuk, yaitu Todai dan Kyodai. Padahal bagi pihak SMA, masuknya siswanya ke sekolah yang bagus merupakan faktor penting untuk mengangkat gengsi SMA tersebut. Semakin banyak siswa yang masuk ke perguruan tinggi terkenal, tanda bahwa mutu pendidikan di SMA itu sangat bagus. Hal ini yang menyebabkan beberapa SMA di Jepang tidak mengajarkan mata pelajaran yang diwajibkan oleh Monbukagakusho itu, dan berkonsentrasi pada mata pelajaran yang diujikan saja.

Menurut satu pengamat, diperkirakan ada dua penyebab kasus ini :

  1. Gap antara materi yang harus diajarkan di SMA dan mata pelajaran yang diujikan saat masuk university.
  2. Kanzengakkoshuitsukasei (学校完全週5日制) yang dijalankan di SMA Jepang sejak tahun 2002, yaitu pendidikan formal hanya dilangsungkan selama 5 hari (Senin-Jumat). Sebenarnya niat pemerintah dengan menyelenggarakan sistem ini bagus. Tujuannya agar anak tidak hanya dikurung di sekolah, tetapi memiliki waktu lebih banyak untuk mengembangkan potensi diri, lewat interaksi dengan keluarga & masyarakat. Tetapi di sisi lain, singkatnya waktu belajar di sekolah ini membuat beban guru menjadi berat untuk mengejar prestasi sekolah yang ditargetkan.

Catatan Tambahan & Komentar

1. Komentar dari Murni Ramli, Doctoral Student di Nagoya University (ppichubu-nagoya:#6232)

Assalamu alaikum wr.wb

Wah, Pak Anto ternyata mengikuti berita ini juga.
Kami membahasnya hari ini di kelas `kyouiku gyousei`. Sangat menarik memang karena dampak decentralisasi yang didengungkan pasca WWII, ide hak otonomi sekolah pun semakin kuat pendukungnya. Beberapa prefecture memang sudah sedikit-sedikit memberikan otonomi kepada sekolah, tapi ada beberapa masalah yang samapai dibawa ke pengadilan, seperti kasus perlu tidaknya menyanyikan lagu Kimi ga yo dan mengibarkan hi no maru pada saat upacara kelulusan. Beberapa waktu yg lalu ada sebuah SMA di Tokyo yang gurunya dituduh tidak mau mengajarkan dan menganjurkan siswa u melakukan prosedur ini, hingga dibawa ke pengadilan. Alhasil kasus ini mencuatkan kembali ide perlu tidaknya mempelajari sejarah Jepang, yang kita tahu di buku2 sejarah yang diajarkan di SD, sebagian kisah perang atau kisah yang berkaitan dg tenno dihapus (diblok hitam). Atau mencuat pula ide perlu tidaknya mendidik siswa ttg konsep ai koku (cinta negara).

Berdasarkan `gakusyuushidouryouyou` (petunjuk pelaksanaan kurikulum sekolah) yang dikeluarkan monbukagakusyo memang pelajaran ini adalah hissyuu kamoku (pelajaran wajib), tetapi beberapa sekolah menjadikannya `sentaku kamoku` (pelajaran pilihan). Saya tidak melihat ketiga mata ajaran ini ada kaitannya dengan kelulusan siswa di SMA, karena menurut penjelasan beberapa kepala sekolah yang saya wawancarai sewaktu program Teacher Training, SMA di Jepang tidak mengadakan ujian akhir kelulusan. Memang ada ulangan setiap akhir semester tp itu bukan u kriteria kelulusan. Yang menjadi alasan utama mereka menolak mengajarkan ketiga atau salah satu mata pelajaran itu, berdasarkan diskusi di kelas hari ini adalah

  1. seperti kata Pak Anto, terdapat gap antara ujian masuk PT dg materi ajar SMA. Dg kata lain terdapat ketidaksinambungan antara sistem nyuugaku shiken senta dan gakushyuushidouryouyou.
  2. Waktu belajar yang 5 hari menjadikan guru sangat kekurangan waktu jika ketiga pelajaran itu dijadikan wajib, sedangkan mereka lebih cenderung menyiapkan siswa u lulus nyuugaku shiken.
  3. Karena banyak yang dimanipulasi dalam nihon shi, atau banyak yang tidak boleh dipelajari oleh siswa terutama ttg tabiat leluhurnya ketika perang dulu atau pengabdian kpd tennou, maka apa artinya dipelajari ? Apatah lagi sejarah dunia ? Sejarah negeri sendiri saja tidak jelas, kenapa harus buang waktu belajar sejarah dunia ? (begitu kata salah seorang guru SMA dari Gifu yang ikut hadir di kelas).

Menurut saya, alasan ke-1 sesuatu yang terjadi di negara manapun yang menerapkan sistem ujian masuk PT. Hak dan kewajiban pengelolaan pendidikan dasar dan menengah ada di tangan Ministry of Education, tetapi hak pengelolaan PT walaupun ada di bawah MOE, namun PT mempunyai authority/autonomy yang lebih besar. Kurikulumnya saja tdk ada yang distandarkan oleh MOE. Mereka bebas membuat core baru, bahkan dosen pun bebas mengajarkan ilmunya tanpa ada standar baku dari MOE. Tidak seperti SD,SMP, dan SMA, sylabus memang dibuat oleh guru, tetapi berdasarkan materi pelajaran yang sudah dibakukan secara nasional. Guru mengajar bab sekian hingga sekian untuk satu semester, semuanya sudah ditetapkan. Walaupun penyelenggara nyuugaku shiken di bawah MOE, tetapi penyusun soalnya adalah para dosen PT (salah satu membernya adalah Prof Murakami, tahun lalu dekan Fak. Pendidikan, Meidai). Jadi jelas terjadi gap antara pendidikan tinggi dan pendidikan menengah.

Alasan kedua, dilema juga. Tujuan pendidikan adalah membina otak, tubuh dan watak (teorinya katanya begitu). Nilai yang bagus di ujian bukan tujuan utama, tetapi pribadi yang unggul (ini definisinya susah…) adalah yang lebih penting. Jadi diubahlah sistem sekolah menjadi 5 hari. Masalahnya prestasi otak siswa2 Jepang menurun sejak TIMMS 1995 (waktu itu mereka the best, tahun belakangan ini kalah dg Finlandia, Korsel), sehingga pemerintah meniupkan kembali kebijakan lama : `gakuryoku testo`, semacam ujian nasional. Tugas guru tambah berat, sementara waktu belajar di sekolah berkurang ! Lalu bertambah stress lagi karena status SMA-SMA di bebrap prefecture diranking berdasarkan banyak tidaknya lulusan yg masuk Todai, Kyoudai, Meidai, atau PT beken lainnya (di Aichi yg jadi the best adalah SMA Asahigaoka). Jadi serba bingung memang bapak-ibu guru di Jepang. Antara meningkatkan posisinya di masyarakat atau mengemban misi pendidikan yang ideal. Memang kalau bisa dua-duanya sangatlah OK, tetapi bagaimanapun ini susah karena input siswa yang masuk tidak sama otak/daya tangkap dan nalarnya.
Kalau saya yang disuruh memilih, saya lebih cenderung mengarahkan siswa yang memang encer otaknya dan berminat, untuk meneruskan ke PT (bidang akademik), sedangkan bagi yang agak lambat cara berfikirnya lebih baik diarahkan untuk menekuni bidang keprofesionalan (nulisnya bener ga ya ?), kalau si anak kurang secara akademik, tetapi punya kemauan besar, lebih baik diarahkan u mencoba masuk PT, karena ada beberapa kasus yang ternyata buruk di SMA tapi top di PT. Tapi lagi2 guru harus berhadapan dg ortu yang membiayai anak sekolah. Kebanyakan ortu menghendaki anak masuk PT, jadi mahasiswa lebih keren daripada langsung bekerja ! Atau jadi mahasiswa PT lebih keren daripada masuk Balai Pelatihan Kerja (politeknik). Ya, jadi dilema lagi !
Paradoksnya adalah sekolah mengikuti kemauan pasar (ortu dan siswa). Misi dan visinya mesti disangkutin ke keinginan konsumen.

Alasan ke-3, wah ini pernah saya tulis juga di blog, tapi lupa di blog yang mana. Memang sepet juga mempelajari kisah perang yang pelakunya notabene nenek moyang kita sebagai penjajahnya. Mestinya ini dipkirkan oleh bangsa yang suka memicu peperangan atau mengadu bangsa2 u berperang supaya jangan /ga ada sebab nyerang negara lain, sebab malu nyeritainnya ke anak cucu kelak.
Wallahu a`lam bi shawab.

Maaf, kepanjangan komentarnya, Pak.
Sekali lagi terima kasih atas share infonya
Wassalamu alaikum wrwb

PS.
(saya ada copy artikel dari Asahi shinbun, jika berminat)

**************************************************

Murni Ramli
Graduate School of Education and Human Development
Educational Management Course
Nagoya University
blog: http://murniramli.wordpress.com/
http://belajarmurniramli.blogspot.com/
http://uniramliberislam.wordpress.com/

 

2. Komentar dari Nasution, Doctoral Student di Hyogo University of Teacher Education (ppichubu-nagoya:#6260)

Sebelumnya saya mohon maaf kalau agak terlambat dalam menanggapi masalah pendidikan Sejarah di Jepang, karena harus mempersiapkan diri dalam acara hapyo pada gakkai di Fukui Daigaku (28-29 Okt). Saya mohon maaf pula pada teman-teman karena tidak dapat pula hadir dalam acara halal bihalal, dan dengan ini pula, saya menyampaikan ucapan “selamat hariraya idul fitri”, mohon maaf lahir dan bathin.
Apa yang dilansir oleh pak Anto, memang itulah issue yang sekarang lagi hangat-hangatnya dibicarakan. Dikalangan guru-guru Sejarah SMA di Jepang sendiri, terutama teman-teman satu kenkyusitsu, merasa lega karena sekolah mereka tidak termasuk dalam kategori yang masuk dalam Koran.
Tetapi dalam diskusi di milis ini, saya melihat pembicaraan yang lebih melebar sebagaimana dilansir oleh bu Murni, yakni, tentang masalah lagu kebangsaan “Kimigayo” dan pengibaran bendera “Hinomaru”, Ide PM Nakasone tentang pemberlakuan system kompetisi pada semua jenjang pendidikan di Jepang, sampai pada masalah sensor (blok hitam) atau dalam bahasa Jepangnya Suminori (墨塗り) buku teks, pada saat setelah Jepang kalah dalam PD II.
Berbicara masalah pendidikan saat ini di Jepang, akan terdapat pemahaman yang terpotong apabila tidak mengetahui latar belakang perubahan politik pada saat setelah kalah dalam PD II. Saya sendiri merasa bingung harus kumulai dari mana agar bisa menerangkan secara singkat tapi jelas kepada saudara-saudara.
Sampai saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa kekalahan Jepang adalah karena 2 bom atom. Coba anda pahami, pada saat itu Amerika Cuma punya 2 bom atom. Dua bom atom itu sudah dijatuhkan pada tgl. 7 dan 9 Agustus di Hirosima dan Nagasaki. Tetapi menyerahkah Jepang?.
Sebelum dijatuhkannya dua bom atom itu sebenarnya dihampir semua penjuru kota di Jepang sudah dijatuhi oleh puluhan ribu Bom, Tokyo luluh lumat, Okinawa hampir semua penduduknya mati karena perang atau lebih baik bunuh diri dari pada menyerah, begitu pula kota Nagoya. Semua hewan dalam Kebon Binatang diperintahkan untuk dimusnahkan. Hampir di seluruh penjuru Jepang menaati perintah ini kecuali pelanggaran yang dilakukan oleh penjaga Higasiyama Bonbin yang siap menerima hukuman apabila dianggap tidak mematuhi perintah, dengan menyisakan 2 gajah. Cerita tentang ini dibukukan untuk bacaan anak-anak dengan judul Zoo Ressya oleh Koide Takeshi.
Meskipun buku bergambar ini terutama ditujukan sebagai buku bacaan untuk usia anak-anak SD kelas 3-5, tetapi banyak mendapat penghargaan. Termasuk diambil dan dimodifikasi dalam ceritera Doraemon, dan di angkat dalam sebuah drama di TV. Pengarangnya pada saat jatuhnya ribuan bom di Nagoya, masih usia SD dan ikut lari terpontang panting dan terpisah dari ibunya, tak ubahnya seperti dalam cerita kiamat.
Pengarangnya sekarang adalah teman saya, mantan kepala sekolah di sebuah SD di Nagoya, meskipun usianya sudah 70 tahun lebih, tetapi badannya masih kekar, masih sanggup untuk bercocok tanam, sebagai dosen luar biasa di Aichi University of Education, dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan maupun volunteer. Orang ini adalah salah satu contoh dari orang yang anti terhadap “Tenno” beserta orang-orang yang rela mengorbankan ribuan bahkan jutaan rakyatnya, hanya dengan alasan untuk melindungi kaesar. Inilah mungkin salah satu jawaban mengapa lagu kebangsaan Kimigayo ada orang yang tidak mau menyanyikannya. Karena Kimi dalam hal ini sebagai kata ganti dari kata Tenno. Begitu pula dengan bendera Hinomaru yang dianggap sebagai lambang agresi dan penyebab kesengsaraan rakyat Jepang.
Dari data-data ini saya memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa menyerahnya Jepang adalah karena adanya jaminan bahwa Sekutu tidak akan “mengapa-apakan” kaesar Jepang.
Setelah kalah dalam PD II, Jepang diduduki oleh Sekutu (Amerika), dan di sinilah awal perubahan besar-besaran Jepang, setelah restorasi Meiji. Tenno diperintahkan unutk mengumumkan diri sebagai manusia (ninggen senggen), Hal-hal yang berbau Militerisme, Nasionalisme, Shintoism dilarang, jadilah Jepang sebagai negeri sekuler seperti saat ini. Mengenai buku Suminori, ini terjadi ketika buku baru belum bisa diterbitkan, maka sekutu menyetujui untuk memakai buku lama, dengan cara memblok hitam hal-hal yang dilarang diatas. Termasuk gambar tenno pun di blok.
Boleh jadi Amerika beranggapan, sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri Eropa, atau negara lain, bahwa rakyatnyalah yang akan mengadili sendiri pemimpinnya, seperti di Iraq, tetapi Jepang bukanlah seperti itu.
Mengenai buku teks untuk sekolah, setelah PD II, pemerintah tidak lagi punya wewenang untuk memonopoli, melainkan hanya sebagai pemberi lisensi saja mengenai layak tidaknya untuk terbit.
Jadi pasca PD II, simpelnya, kondisi politik tetap dikuasai oleh orang-orang pro kaesar dan dalam bidang pendidikan dikuasai oleh ornag-orang yang pro reformasi.
Mengenai keadaan pendidikan di Jepang. Perlu anda ketahui bahwa Metode Proses Belajar Mengajar di Jepang saat ini berkembang dengan sangat pesat. Para guru saya anggap sangat bisa menyerap apa-apa yang berkembang di Eropa dan Amerika, bisa meniru dan mengembangkan dengan baik.
Mengenai system kompetisi sebelum PD II, di Jepang system kompetisi hampir 0. Setelah PD II, Amerika sebenarnya bermaksud untuk menciptakan satu system kompetisi di semua jenjang sekolah, tetapi ada beberapa kelompok yang berkeberatan sehingga diberlakukan hanya mulai jenjang SMA. Jadi anak usia TK, SD, SMP masuk sesuai dengan tempat tinggal yang terdekat, dan negara-pun menciptakan satu sarana dan prasarana yang sama.
Penilaian saya, ditingkat pre School, SD, dan SMP, pengajaran mereka boleh dapat dikatakan ideal. Tetapi di tingkat SMA, tidak sehebat ditingkat itu . Di tingkat usia SMP sebenarnya kenakalan anak sudah mulai terlihat, tetapi perhatian terhadap keseluruhan mata pelajaran masih tinggi, sebab ujian masuk SMA antara lain juga mempertimbangkan ranking selama mengikuti pendidikan di SMP.
Hal ini berbeda dengan penerapan ujian untuk masuk PT. Pada tingkat SMA ukuran favorit tidaknya, jelas orang awam di Jepang akan melihat seberapa banyak lulusannya yang terserap di PT ternama. Padahal untuk tes masuk PT tidak memperhatikan sama sekali ranking selama belajar di tingkat SMA. Mungkin system inilah yang menyebabkan banyak SMA yang menyeleweng dari ketentuan.
Cuman enaknya sekolah di Jepang ini, apa-apa sudah di set tepat waktu. SD ya 6 tahun tidak ada yang 7 atau lebih tahun, begitu pula SMP, SMA masing masing 3 tahun. Jadi meskipun ada gonjang ganjing ancaman tidak lulus, tidak akan menjadi kasus seperti yang terjadi di Indonesia, yang buanyak tidak meluluskan sekolah. Cara pemecahannya sudah jelas, yakni dengan jalan mencarikan jam tambahan, itu saja.
Begitulah saudara-saudara belajar dari diskusi ini, kalau kelak saudara-saudara kebetulan ada yang menjabat sebagai pembuat kebijakan dalam pendidikan, mungkin bu Murni.atau yang lain, kelemahan dan kelebihan sistem di Jepang ini kiranya dapat dijadikan sebagai acuan.

Wassalam
Nasution

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di living in Japan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Masalah Pendidikan di SMA Jepang (1)

  1. andre berkata:

    pendidikan di indonesia sangat mahal orang miiskibn ga bisa sekoklah pemerintah ga bisa kerja cuma pengen duit aja pikirin rakyat miskin donk

  2. evi berkata:

    heehehehe..
    aQ jg suka b.jepang lho…hix..

  3. Iwan Saputra berkata:

    Pak, mau tanya nih, perbedaan sekolah di Jepang dengan di Indonesia dari segi materi pelajaran.

  4. ritchuu berkata:

    aq sk jepang,pgn th byk lg..

  5. muhammad johan berkata:

    pak apa kendala di inidonesi hingga pendidikan di indonesia kurang bermutun?kenapa jepang, produknya disukai oleh dunia.kenapa di indonesia penduduknya aja kurang disukai!apa alasannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s