Thesis di Jepang vs Thesis di Indonesia

Di milis ppi-jepang ada tanggapan dari mas Nur Kumamoto terhadap tulisan saya sebelumya sbb.

Ternyata tesis S2 di Jepang itu hanya beberapa halaman ya kayak laporan tugas kuliah. Menurut saya lebih berat S2 di Indonesia (misal ITB) yang tesisnya benar2 tesis. Maksudnya isinya komplit, merupakan penjabaran dari riset, sehingga bisa tebal, apalagi kalau ada lampiran data atau list programnya.

Tanggapan saya sbb:

Terima kasih mas Nur. Saya kira di sini latar belakangnya lebih ke arah perbedaan budaya. Kesan saya, thesis di Jepang itu lebih dekat ke syarat formal. Ujian riil yang menentukan apakah ybs. lulus atau tidak sebenarnya berlangsung tiap pekan saat meeting mingguan (ini kalau di tempat saya). Thesis di Jepang saya lihat cenderung membahas kontribusi orisinal siswa itu saja, dan konsep dasar minimal yang diperlukan untuk menjelaskan inti masalah yang disampaikan. Sedangkan untuk detailnya, cukup diberikan pointer ke literatur terkait di bagian referensi. Untuk penulisan referensi ini juga saya dulu diarahkan sensei agar memprioritaskan pada jurnal dan conference, bukan buku text. Maksudnya agar informasi yg dijadikan referensi itu segar dan baru. Buku text yang dipakai sebagai referensi adalah yang memang benar-benar jadi sumber informasi vital & fundamental. Kalau di Neural Network misalnya buku PDP nya Rumelhart, atau bukunya Bishop, bisa ditulis sbg. referensi.

Di Jepang saya melihat adanya kecenderungan untuk menulis sesuatu secara ringkas dan to the point. Kalau kita bandingkan buku teks berbahasa Jepang dan berbahasa Inggris, akan jelas nampak bedanya. Misalnya buku kalkulus yang berbahasa Inggris biasanya sangat tebal, dan dijelaskan dengan contoh-contoh yang detail dan gamblang. Tetapi, buku calculus bahasa Jepang relatif sangat tipis, tapi mencakup konsep-konsep penting yang harus difahami. Sedangkan untuk exercise-nya, ada buku tersendiri/terpisah.

Ini tidak lepas dari karakteristik bangsa Jepang itu sendiri, yang dituliskan oleh Prof. Kanatani: 面と向かって離せば、互いの動機や関心や背景知識を詳しく言わなくても了解できることが多い (baca: men to mukkatte hanaseba, tagaino douki ya kanshin ya haikeichishiki wo kuwashiku iwanakutemo ryoukai dekiru koto ga ooi -> saya kira ada kesalahan kanji pada tulisan beliau. Mestinya yang benar ditulis 話せば yang berarti “berbicara”, bukannya 離せば yang berarti “berpisah”) . Terjemahan bebasnya: “sering terjadi di Jepang, kalau udah bertemu muka dan bicara langsung, kedua pihak akan saling mengerti apa yang menjadi motivasi, minat maupun latar belakang lawan bicaranya, walaupun hal-hal itu tidak diucapkan secara eksplisit.” Menurut Kanatani sensei, hal ini menyebabkan banyak artikel Jepang yang tidak mengulas bagian-bagian yang sekiranya by default dianggap faham [1]. Saya kira budaya ini juga yang terlihat pada penulisan thesis di Jepang.

Apakah ada yang punya pendapat lain ?

Catatan Tambahan:

  1. Mengenai program yang dibuat di lab. saya dulu tidak lazim untuk dicantumkan sebagai lampiran ke thesis S1/S2 apalagi S3, melainkan disimpan di server lab. dan harus diberi penjelasan selengkap mungkin. Tujuannya agar mahasiswa yad. bisa mereproduksi ulang hasil eksperimen yang dilakukan seniornya.
  2. Di kampus saya, thesis S1 tidak disimpan di library kampus. Setelah disusun ke komite, akan dikembalikan ke laboratory masing-masing untuk disimpan. Thesis S2 akan disimpan di library kampus beberapa tahun dan kemudian dikembalikan ke lab. Disertasi S3 disimpan permanen di library kampus dan perpustakaan nasional. Disertasi ini dapat dicari dari sini. Misalnya disertasi saya tercatat di sini. Saya tidak tahu bagaimana aturan di kampus lain di Jepang. Mungkin saja tiap kampus punya aturan yang berlainan.

Referensi

  1. Kenichi Kanatani, Kenkyu seika wo sekai ni hiromeyou, buletin Information Society, IEICE, Vol.11, No.3 (2006-11), pp.20. dapat didownload dari http://www.suri.it.okayama-u.ac.jp/~kanatani/data/jarticle.html

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado, japanology. Tandai permalink.

2 Balasan ke Thesis di Jepang vs Thesis di Indonesia

  1. Tri berkata:

    Mas Anto ini bener-bener ruaaarrrrrrrr biasa …
    Prestasi hebat, rajin, sholeh, sayang keluarga, jenius, baik hati, banyak teman, dll, dsb, dst pokoknya yg hebat-hebat, hehe …
    Semua orang pasti pingin seperti mas Anto, utuh dan paripurna, luar dalam …
    Selamat mas Anto, lanjutkan dan kokohkan terus pengabdian untuk semua …

  2. Ossy berkata:

    Mr. Anto…. saya abis kirim email mau sedikit minta tolong… sdh-kah dibaca??? Thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s