Mengapa kecelakaan pesawat sering terjadi pada saat landing ?

Pagi ini saat siap-siap berangkat zemi ke kampus, Ine memberitahu kabar mengagetkan kalau sekitar 30 menit sebelumnya ada kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto. Kontan kami mencari-cari berita di detik.com. Prihatin sekali rasanya, karena hari-hari ini banyak musibah yang terjadi di Indonesia. Pagi ini di tengah zemi, Shimada san- teman Jepang saya- juga menanyakan kondisi keluarga kami, berkenaan dengan terjadinya gempa di Padang. Rupanya dia belum tahu kecelakaan pesawat yg terjadi Rabu pagi. Dari berita di detik.com yang saya baca pk.14.56 JST (12.56 WIB) ditemukan korban yang meninggal. Kami turut berduka cita atas musibah ini. Semoga arwah mereka yg meninggal diterima di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran menghadapinya.

Kecelakaan pesawat kali ini terjadi saat landing. Saya pernah mendapat cerita dari pak Bambang Rianto, beliau dulu salah seorang Manager Garuda di Nagoya sekitar tahun ’94-’98 an, bahwa saat-saat kritis pada penerbangan terutama sekali pada saat landing. Resiko terjadi kecelakaan pada saat landing, lebih besar daripada saat take-off.

Penjelasan dari sisi matematika (Aljabar Linear) baru-baru ini saya baca dari buku tulisan Kawakubo sensei. Judul buku tsb. “Nattoku suru gyouretsu-bekutoru”, terbitan Kodansha, th.1999. Dalam satu column-nya di halaman 155, beliau mengupas topik, mengapa kecelakaan pesawat sering terjadi saat landing, ditinjau dari kacamata aljabar. Kecelakaan pesawat bisa terjadi saat terbang di udara, saat tinggal landas dan pendaratan. Kecelakaan saat terbang di udara relatif sangat jarang terjadi. Kalau pun terjadi biasanya disebabkan kerusakan mesin, atau karena gesekan/tumbukan.

Kecelakaan yang paling mudah terjadi adalah saat tinggal landas dan landing. Jalur yang ditempuh saat pesawat akan lepas landas berupa garis, yang artinya, ruang berdimensi 1. Tetapi setelah berada di udara, pesawat bergerak pada ruang berdimensi 3. Untuk berpindah dari ruang dimensi 1 ke ruang dimensi 3, pesawat tinggal dilajukan agar memperoleh kecepatan yang cukup tinggi agar diperoleh daya apung di udara. Walaupun demikian, kecelakaan saat tinggal landas terjadi juga seperti di Fukuoka. Kecelakaan di Fukuoka itu terjadi karena kerusakan mekanik yang ditemukan di saat pesawat akan tinggal landas, padahal sudah melaju dengan kecepatan yang tidak dapat/tidak boleh dihentikan. Akibatnya pesawat overrun sehingga badannya terbakar dan mengakibatkan banyaknya korban yang meninggal. Alasan pilot membuat keputusan mengerem saat itu adalah untuk menghindari jatuhnya pesawat bila terlanjur tinggal landas (akibat kerusakan mekanik tadi), yang diperkirakannya akan mengakibatkan lebih banyak jatuh korban.

Dibandingkan saat tinggal landas, proses landing jauh lebih sulit karena pesawat harus berpindah ruang dari dimensi 3 (angkasa) ke dimensi 1 di darat. Ruang satu dimensi tentu saja jauh lebih terbatas daripada 3 dimensi, sehingga banyak upaya yang harus dilakukan, agar proses perpindahan ruang itu berjalan lancar. Yang paling sulit adalah jika angin kencang bertiup dari arah samping kanan atau kiri jalur pendaratan. Saat-saat sebelum mendarat, ujung badan pesawat harus dimiringkan melawan arah bertiupnya angin (dengan demikian badan pesawat membuat sudut tertentu terhadap garis pendaratan), sedemikian hingga saat mendarat arah badan pesawat itu dibelokkan oleh angin menjadi tepat searah dengan garis pendaratan. Tugas inilah yang sangat sulit : membelokkan pesawat pada sudut tertentu dalam waktu singkat, dengan estimasi setelah mendarat badan pesawat dibelokkan angin ke arah yang seharusnya. Andai saja jalur pendaratan pesawat itu tidak satu dimensi, melainkan boleh dalam dua dimensi (jadi pesawat saat landing boleh belok kanan belok kiri), tentunya masalah landing menjadi jauh lebih mudah, karena kemana badan pesawat harus diarahkan pada detik-detik pendaratan tidak perlu dipermasalahkan.

Saat ini penyebab terjadinya kecelakaan Garuda di Yogyakarta tsb. masih diselidiki. Semoga saja penyebabnya bisa segera ditemukan. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Referensi :

  1. Katsuo Kawakubo, Nattoku suru Gyouretsu Bekutoru, Koudansha, 1999

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado, research. Tandai permalink.

10 Balasan ke Mengapa kecelakaan pesawat sering terjadi pada saat landing ?

  1. arul berkata:

    o…. ternyata begitu yah…

  2. cidh berkata:

    juga kemampuan pilot sebenarnya benar-benar dipakai pada saat pesawat landing dan take off..

  3. Heri Heryadi berkata:

    Jadi nyadar kalo yg ada di film-film itu bener2 boong besar. Pesawat terbang emang sistem yg kompleks. saya maen fligt simulator aja sampe kini belum bisa take off, pesawatnya hancur mulu. Semoga yg kena musibah dapet ketabahan, dan yg ga kena musibah bisa lebih berempati

  4. daeng berkata:

    Kalau di medis, tinggal landas dan landing seperti saat membius dan membangunkan dari bius saat operasi..

  5. Ardy berkata:

    masalah lain adalah kontur wilayah Indonesia yang terdiri banyak banyak pulau yang dikelilingi lautan.. tingginya penguapan air laut berefek pada kontur dan jenis awan yang menutupi daratan Indonesia.. awannya cenderung lebih tebal karena dekat dengan area penguapan (laut), disamping itu kondisi cuaca juga dapat cepat berubah.. sebenernya kalau ada yang bilang pilot2 Indonesia kurang berkualitas sangat bertolak belakang dengan kondisi yang seperti ini, karena dengan faktor topografi Indonesia yang berbukit2 dan berupa daerah kepulauan, diperlukan skill yang penerbangan yang benar2 tajam untuk menerbangkan pesawat di daerah seperti Indonesia.. kalo ngga ngapain tahun 90-an dulu banyak pilot2 malaysia yang dikirim ke Indo buat belajar..

    jadi kalo tanpa pengetahuan yang cukup tentang kondisi udara Indo trus tiba2 ngomong pilot Indo bego2, sebenernya siapa yang bego?

  6. Lt. Roal berkata:

    pilot indonesia bukan orang yang sembarangan, mereka dipilih karena memenuhi kriteria, sedangkan faktor lain yang menyebabkan kecelakaan bukan hanya manusianya saja, bisa saja masalah alam, kekuatan alam tidak bisa di duga dan kembali lagi pada Tuhan yang menggariskan takdir kita……SALUT UNTUK PILOT INDONESIA MEREKA ORANG YANG TANGGUH

  7. Oeky berkata:

    Tulisan Sdr Anto sangat menarik. Menurut pengakuan seorang pilot senior di negeri kita, pilot itu digaji hanya untuk take off – landing. Selebihnya setelah ngapung di udara , ya cuma kontrol speed, altitude, heading dsb.

    Saya sangat setuju tentang analogi dimensi yang disampaikan dalam tulisan ini. Bahwa saat landing, pesawat hanya memiliki 1 demensi ( sekali lagi dari kaca mata aljabar lho). Namun secara perspektif mata manusia, hakekatnya tetap 3 demensi. Sehingga pilot bisa menghitung jarak dan ketinggian beberapa detik sebelum touchdown.

    Bila sdr Heri Heryadi bercerita sulit landing dengan menggunakan flight simulator, itu karena perspektifnya cuma 2 dimensi saja, yakni layar monitor komputer. Artinya dia/kita tidak bisa menghitung tinggi rendah pesawat yang sebenarnya. Sehingga benar apa yang sering dikatakan para pilot, bahwa menerbangkan pesawat di flight simulator, jauh lebih sulit bila dibanding dengan menerbangkan pesawat yang sesungguhnya.

  8. dharmo gandul berkata:

    oeky ini pilot benran kayak nya hahaha

  9. Brian berkata:

    Jadi ingat seperti tulisannya Bang Anto tentang Support Vector Machine yang mengubah dimensi data ke dimensi yang lebih tinggi agar lebih mudah menempatkan hyperplane secara linear. Kalau itu dibalik sepertinya jadi lebih susah. Apa seperti itu ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s