JJS: Soubetsukai-shokuji (Farewell Lunch)

“Farewell lunch” entah bahasa Inggris ini benar atau nggak. Dalam bahasa Jepang disebut soubetsukai-shokuji. Soubetsukai : perpisahan, shokuji: makan. Demikian kata kunci JJS pekan ini (JJS : Jalan-Jalan Sabtu). Sabtu ini kami diundang Bapak dan Ibu Ezaki untuk makan siang bersama, sebelum kembali ke tanah air. Saya terharu juga, pak Ezaki yang sudah lanjut usia sengaja datang dari Tokyo ke Nagoya naik mobil berdua dengan istrinya khusus untuk makan siang bersama kami sekeluarga. Mereka bermalam di Nagoya Tokyu Hotel, di daerah Sakae (semacam “Blok-M” nya Nagoya). Kalau nggak salah hotel ini juga yang dulu dipakai oleh Pak SBY saat bermalam di Nagoya.

Sekitar jam 10 pagi kami tiba di hotel, dan beramah tamah sebentar. Sudah agak lama saya tidak bertemu pak Ezaki. Beliau banyak bercerita tentang pengalaman saat ke Bali beberapa saat yll. Sekitar pk.11 kami berangkat ke rumah makan Ume no Hana. Saya agak heran. Beliau tinggal di Tokyo, tapi koq beliau bisa tahu ada rumah makan ini ya ? Saya tahu pasti, beliau tidak begitu faham internet, bahkan agak benci hal-hal yang bersifat elektronik 😀 Terus darimana kira-kira tahunya ya ? Ataukah karena tuntutan pekerjaan, sehingga seseorang bisa tahu rumah makan tertentu yang dipandang enak ?

Dari Tokyo Hotel sampai ke Ume no Hana kira-kira 1 km lebih sedikit, dan kami jalan kaki saja sambil menikmati udara pagi Sakae. Restoran Ume no Hana terkesan sangat kental Jepang-nya. Dekorasi interior-nya sangat cantik dan aroma tradisional terasa pekat. Kami masuk ke ruang privat, yang hanya kami pakai berlima. Tempat duduknya di bawah.

Tak lama kemudian makan siang datang. Ternyata Pak Ezaki memesankan menu tahu, yang sekiranya dapat dimakan oleh muslim. Saya tidak tahu nama menunya, tetapi kalau melihat fotonya di sini sepertinya “Hana no Zen”. Masakan yang dihidangkan menurut cerita Ibu Ezaki, adalah makanan asli tradisional Jepang. Salah satu menu yg unik adalah yang terbuat dari “bibit tahu”. Entah penyebutan ini benar atau tidak. Tetapi dalam loyang yang dipanaskan ada bahan dasar yang biasa dipakai untuk membuat tahu. Saat dipanaskan, sedikit demi sedikit kembang tahu terbentuk. Kembang tahu itulah yang diambil dan dimakan sedikit demi sedikit dengan saus. Hebat juga kreatifitas nya.

Masakan dihidangkan secara bertahap, dengan berbagai warna dan cita rasa. Tetapi hampir semuanya dibuat dari tahu. Kalau bagi lidah Indonesia, mungkin banyak yang rasanya tawar dan tipis. Memang demikianlah rasa tradisional Jepang. Orang Jepang sangat menyukai rasa yang alami. Bertolak belakang dengan masakan Cina, yang bumbunya kental. Kalau kata Ine sih, menu siang tadi enak banget. Ah…kalau istri saya memang apa-apa dibilang enak…hi hi. Apalagi Ine memang sudah lama ingin diajak makan ke restoran tahu. Salah satu menu yang penyajiannya menarik, dimasukkan ke dalam laci-laci kecil. Koq ya ada aja kreatifitasnya, ya ?

Dari kacamata “Nihon-gaku” (Japanology), yang saya catat dari makanan siang tadi adalah

  1. Makanan tradisional di rumah tangga Jepang biasanya tidak satu menu, tetapi berbagai menu dihidangkan dan diambil sedikit-sedikit. Agak berbeda dengan Indonesia (tepatnya keluarga saya, he he he) yang biasanya menunya cukup satu atau dua, tetapi porsi besar.
  2. Bangsa Jepang sangat menjaga kelestarian budaya aslinya, termasuk makanan-makanan tradisional yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun
  3. Cita rasa makanan asli Jepang bagi lidah Indonesia biasanya cenderung tawar, bertolak belakang dengan masakan Cina yang “berani bumbu”. “Enak” menurut Jepang sepertinya adalah yang mendekati rasa alami / rasa asli bahan dasarnya (“shizen no aji”). Citarasa pokok bumbu dapur Jepang biasanya dirangkum dalam istilah : “SA-SHI-SU-SE-SO”. SAto (gula), SHIo (garam), SU (cuka), SEuyu (secara gramatikal, merupakan kyouyokanadzukai dari Shoyu atau kecap) dan SO (miSO, atau sari kedelai)
  4. Paduan warna dan tata cara penyajian merupakan faktor penting dalam menyajikan masakan Jepang. Kata Pak Ezaki, dalam budaya Jepang, faktor tersebut merupakan salah satu komponen penting untuk menyatakan satu masakan enak atau tidak. Jadi “enak” menurut Jepang, bukan semata-mata rasanya. Tetapi cara penyajian, paduan warnanya turut menentukan. Ini tercermin bukan dalam makanan saja. Tetapi dalam membungkus barang, Jepang memiliki budaya yang sangat tinggi. Kata teman saya, makanan Jepang itu prakarya (kerajinan tangan). Kalau kita amati, makanan atau kue sesederhana apa pun, selalu dibungkus rapi dan cantik
  5. Satu hal yang saya tanyakan ke bu Ezaki adalah sopan santun menaruh sumpit. Merupakan pantangan jika ditengah-tengah makan, sumpit ditusukkan ke nasi, karena akan mengambil sesuatu menu yang lain. Sumpit yang ditusukkan ke nasi, dalam adat Jepang adalah tata cara yang dipakai untuk persembahan untuk arwah yang telah meninggal. Selama ini saya hanya dengar sepintas dari teman, tapi baru hari ini dapat penjelasan detailnya. Jadi kalau sedang makan dan ingin meletakkan sumpit, sebaiknya pada tempat yang disediakan.

Yang terfikir di benak saya, kalau orang Jepang masih rajin mempertahankan budaya tradisional makan, kenapa hal ini tidak ditiru di Indonesia ? Saya rasa kita kaya akan ragam cita rasa kue dan masakan tradisional. Alangkah indahnya jika kue dan masakan tradisional seperti klepon, rujak cingur, pecel, gado-gado, serabi, cucur, jadah bakar, sate gembus, jenang gendul, angsle, es puter, kue leker, pukis, empek-empek, kolak, ampyang, bisa dikemas cantik (Maaf, listnya sengaja saya panjangkan, memenuhi kerinduan akan masakan tanah air…hehehe). Dari segi rasa, pendapat saya banyak makanan kita yang enak. Tinggal cara kemasan dan penyajian. Saya rasa, kalau dikemas cantik, kue-kue itu akan laku untuk komoditi pariwisata.

Sebenarnya saya ingin mengambil gambar berbagai sisi menarik dari restoran tsb. yang nuansa Jepang-nya sangat kental. Tapi sayang waktunya terbatas. Satu sisi yang berhasil saya foto adalah pintu masuk dan jendela seperti gambar di atas. Pintu masuk dan jendela itu terbuat dari kayu dan kertas. Kata Pak Ezaki, pintu semacam ini sudah sangat jarang terdapat di Jepang. Yang unik dari pintu tersebut adalah lubangnya terletak di bawah. Lubang itu berfungsi untuk melihat salju dari dalam kamar. Jadi sambil makan, karena tradisi Jepang adalah duduk di bawah, mereka bisa melihat salju yang turun. Adapun jendelanya, curtain yang terbuat dari kayu dan kertas itu dapat ditarik hingga tertutup atau terbuka.

Singkat cerita, kami berpamitan kepada Bapak dan Ibu Ezaki, dan berharap untuk kelak bisa selalu menulis surat kepada beliau berdua. Di sini saya ingin mengulas sedikit gurauan diantara teman-teman, saat kami masih belajar bahasa Jepang di Tokyo dahulu. Ada quiz yang diajukan seorang kawan: “Apa beda orang Jepang dan orang Indonesia ?” Tentunya jawabnya banyak, ya. Tapi yang dimaksud oleh kawan tadi adalah dari sisi “per-teman-an”. Kata kawan tsb. “Sangat sulit untuk bisa memperoleh teman (lebih tepat disebut sahabat) orang Jepang . Tetapi sekali bisa punya teman orang Jepang, dia akan membantu dan membela kita mati-matian. Dia akan selalu menjaga hubungan pertemanan itu. Adapun orang Indonesia, memang ramah sekali. Mudah sekali bagi orang asing untuk mendapatkan teman orang Indonesia. Tetapi mudah juga berpisah, atau terlupakan.” Saat itu kami tertawa saja. Tetapi kalau difikir ada benarnya. Tidak mudah bagi saya untuk mendapatkan teman orang Jepang. Tetapi di antara teman-teman tsb. mereka selalu berusaha menjaga kontak. Entah dengan telpon, atau pun sekedar nengajo (kartu tahun baru). Bagaimanakah dengan karakter orang Indonesia ? Apakah kita mudah melupakan sebuah persahabatan ? Insya Allah akan saya buktikan ” Tidak !”. Setidaknya saya mulai dengan berusaha tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga pak Ezaki dan teman-teman Jepang yang lain, setelah kembali ke tanah air.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di japanology, keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s