Libur panjang

Liburan kali ini agak panjang, sejak tgl.17 s/d 20 Mei 2007. Alhamdulillah, banyak waktu yg bisa saya habiskan untuk berkumpul kembali dg keluarga. Berikut catatannya:

  1. Susahnya mencari tiket mudik
    Seminggu sebelum pulang, saya ke stasiun pasar senen mencari tiket pulang ke Yogya, karena Ine dan Tika sedang liburan di Yogya. Sampai di pasar Senen, ternyata tiket sudah habis ! Wah, saya salah strategi. Rupanya penjualan tiket dibuka sejak 30 hari sebelumnya. Jika ada liburan panjang seperti kemarin, atau lebaran, sudah pasti orang-orang akan memesan jauh hari sebelumnya, nggak seminggu sebelumnya seperti saya. Tiket eksekutif juga sudah habis. Lemes juga. Mau naik pesawat tiketnya mahal. Untung sebelum keluar, mbak penjualnya bilang “Kalau seorang saja, sepertinya masih ada tiket ke Yogya, Pak. Tapi kereta eksekutif Taksaka”. Wah, kontan saya iyakan. Mahal nggak apalah (T_T) Asal bisa pulang saja. Harga tiketnya 210 ribu rupiah. Dua kali lipat dari tiket bisnis Senja Utama yang 100 ribu rupiah.
  2. Yogya : pameran buku di UNY & Carrefour
    Pulang ke Yogya 16 Mei 2007, naik Taksaka. Keretanya sih bersih, sayangnya toiletnya kurang nyaman. Mestinya sih sampai di Yogya sekitar pk. 6.45 pagi. Tapi keretanya terlambat, dan sampai di stasiun Tugu Yogya satu jam kemudian, sekitar pk.8 pagi. Naik ojek ke Pengok, rumah Papa (ayah Ine), dan kemudian diantar ke rumah Mbak Rita oleh mas Indra. Sampai di rumah mbak Rita, Tika senang banget dan langsung minta gendong terus. he he he.
    Siangnya kami jalan-jalan ke festival buku di Universitas Negeri Yogyakarta (dulunya IKIP Yogya). Stand bukunya cukup banyak. Tetapi sayangnya di lokasi yang sama digelar juga atraksi anak-anak muda (mahasiswa/i) yang berjoget diiringi dg musik yang keras. Duuuuh..nggak match banget. Suasananya nggak mendukung untuk melihat-lihat buku, tapi jadi diarahkan melihat penari-penari yg berpakaian sexy. Mestinya tempat mereka harus dipisahkan. Melihat-lihat stand buku memerlukan suasana yang tenang, agar bisa menyimak isinya. Untung Papa nggak ikut ke UNY. Bisa-bisa protesnya dari Sabang sampai Merauke. Ha ha ha. Soalnya beliau kan pengajar di UNY juga.
    Dari UNY, kami bertaxi ria ke Carrefour. Carrefour memang mentereng dan membuat orang betah belanja di situ. Tapi yang paling saya sukai adalah toiletnya yang gratis, bersih dan sangat bagus terawat. Bikin betah aja..hehehe.
  3. Membongkar barang-barang kontainer
    17 Mei 2007 sore kami pulang ke Solo naik travel. Ongkos pulang bertiga Rp 90 ribu. Travel sepertinya sekarang tidak sejaya dulu lagi. Kemarin saat pulang ke Solo hanya kami bertiga penumpangnya. Mungkin orang sudah beralih untuk memakai Prameks (Prambanan Ekspress) yang lebih cepat (1 jam dari Yogya ke Solo) dan murah (wah..lupa nih tarifnya. Kalau nggak salah Rp 9 ribu). Sampai di Solo, disambut oleh bapak, ibu dan dik Nang. Tika biasanya lengket banget dengan Oom Nang, tapi karena Oom Nang pakai kacamata wajahnya jadi agak berubah. Tika jadi menunduuk teruuus, nggak mau melihat dan bicara. Ha ha ha. Rumah kami alhamdulillah terawat. Ibu rajin menyiram rumput di halaman belakang, sehingga nggak mati karena ditinggal Ine ke Yogya selama 4 hari. Ruang tamu kami penuh dengan barang kontainer yang baru datang dari Jepang. Kami mulai buka satu per satu. Saya mencari buku-buku yang urgen untuk bekerja di Jakarta. Selain itu juga alat-alat rumah tangga lain, dan terutama mainan Tika. Wah…Tika kelihatan takjub melihat kembali mainan-mainannya.
  4. Tensi naik !
    Sebenarnya liburan kali ini kami berencana pergi ke Tawang Mangu diajak oleh mas Andut-Rusma, mas Pete sekeluarga dll. bertepatan dg ulang tahunnya mas Andut. Tetapi terpaksa kami tidak dapat ikut pergi karena dua hal. Pertama kami takziah ke tetangga depan rumah yg sedang mendapat musibah. Puteranya wafat dalam kecelakaan dg truk, padahal akan melangsungkan pernikahan pada bulan Agustus yad. Duuh, rasanya kami turut sedih mendengarnya. Yang kedua adalah tensi saya naik. Dulu di Jepang setiap ada kenkoshindan, hasil periksanya menunjukkan kalau kesehatan saya selalu bagus. Tekanan darah juga normal. Tetapi akhir-akhir ini saya sering pusing kepala, dan pernah juga sampai muntah2. Oleh dokter saya diberi beberapa obat, a.l. neuralgin. Sebenarnya saya tidak menyukai obat dan lebih menyukai pengobatan alami lewat perbaikan pola hidup/makan. Tapi apa boleh buat, kepala yg pusing ini sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Akhirnya saya curiga dg tekanan darah saya. Saat diperiksa dokter, tensinya cukup tinggi. Diastolic sempat di atas 100, walau setelah diukur ulang di bawah 100. Tapi ini sangat tidak lazim bagi saya. Saat tiba di Yogya saya ukur dengan tensi meter Papa, ternyata diastolicnya sekitar 110. Mungkin tidak akurat. Tetapi ini lampu merah buat saya. Beberapa kali saya minta dipijat bagian bahu yg keras, katakori dalam bahasa Jepang. Dulu di Jepang saya pernah pusing kepala sampai oleh dokter diperiksa lewat CT scan, ternyata penyebabnya adalah katakori. Saat itu diberi koyo, dan sim salabim pusingpun hilang. Demikian juga sekarang. Saya fikir pusing saya berasal dari katakori. Tapi sudah dipijat sekalipun nggak hilang. Saya fikir ini ada keterkaitannya dengan tensi yang tinggi. Saya ukur lagi di Solo, ternyata tekanan darah saya sekitar 160/105. Oleh dokter teman saya, dianjurkan untuk mengkonsumsi Captopril 12.5 mg dan banyak istirahat. Waduuuh…padahal kontainernya belum selesai dibongkar. Tapi terpaksa saya istirahat. Saya harus sehat. Jangan sampai tensi naik, berakibat stroke & kelumpuhan. Saya harus sembuh agar bisa kembali kerja untuk keluarga. Saya cari keterangan di buku byoukino chizu, salah satu penyebabnya adalah banyaknya mengkonsumsi makanan berlemak dan kurang olah raga. Iya ya..saya fikir ini penyebabnya. Kalau di Jepang dulu saya normal dan dalam 2 bulan langsung sakit, berarti ada yang berubah dari pola hidup saya. Pertama mungkin saya terlalu banyak mengkonsumsi makanan yg berlemak (gorengan dua potong tiap makan, kadang makan sup kambing, sate kambing, hi hi hi 🙂 ). Yang kedua adalah kurang olah raga. Selama tinggal di “Apartemen jalan Thamrin”, saya tidak pernah olah raga. Dua ini saya kira perbedaannya dengan saat saya tinggal di Jepang. Dulu saya jarang mengkonsumsi gorengan, dan kalau pun makan gorengan, minyaknya dari nabati. Selain itu, saat tinggal di Nagoya, tiap hari saya jalan kaki minimal 30 menit, selain sering naik sepeda dsb. Dua hal ini yang saya kira menyebabkan tensi saya naik. Jadi mulai sekarang saya harus banyak olah raga dan mengurangi atau menghindari gorengan…hiks
  5. Jam dinding yang bikin masalah
    Minggu 20 Mei 2007 saya berangkat ke Jakarta naik kereta Senja Utama. Sebenarnya saya sudah niat berpamitan ke Tika saat mau berangkat, agar dia tidak merasa dibohongi : bangun tidur bapak udah nggak ada. Tetapi kemarin sejak pagi sampai siang Tika nggak mau tidur, dan mengajak saya main-main terus. Wah…anakku pancen energik deh ! Padahal emaknya sudah tidur siang. Sore harinya Tika diajak pengajian ke tetangga, dan benar saja…nggak berapa lama di sana langsung tertidur. Sehingga kali ini terpaksa saya berangkat ke Jakarta saat Tika masih tertidur. Kucium dahinya. Selamat tidur sayang. Jangan menangis ya…entar kalau bangun bapak nggak ada di sisimu. Entar kita main lagi ya…dua minggu lagi, Insya Allah. Tika bangun sekitar saat Maghrib dan sempat mencari saya sebentar. Tapi nggak terlalu heboh. Kehebohan justru berasal dari jam dinding. Lhoh ? Jam dinding yang baru saya pasang berasal dari salah satu kotak kontainer. Jam tsb. punya salah satu fungsi mensinkronkan secara otomatis dengan server lewat pancaran gelombang elektromagnetik. Dulu biasa saya pakai di lab. di Jepang. Naaah…kemarin malam itu, sekitar pk.9 malam WIB, saat Ine sedang bercanda ria dengan Tika, dia menengok jam dinding itu sudah menunjukkan pukul 11 malam….waaaks. Langsung deh, buru-buru membereskan tempat, mengajak Tika gosok gigi, cuci kaki tangan dan siap-siap tidur. Tika nangis bombay. Nggak mau..nggak mau…pokoknya nggak mau diajak tidur. Kan baru bangun 3 jam buu…..Tapi Tika dipaksa-paksa Ine siap-siap bobok, karena malam sudah larut. Nah, waktu semua lampu sudah dimatikan, dan Tika sudah berhasil diajak berbaring di tempat tidur, Ine nyari HP dan ngecek jam. Eeeits…ternyata koq baru hampir pk.11 malam WIB. Setelah difikir-fikir, ternyata jam dindingnya sudah maju 2 jam, menyesuaikan dengan waktu Jepang. Tika sampai nangis-nangis….gara-gara fasilitas wave-synchronize yang kelewat canggih. Huh 😦 … Nggak apa ya Nduk: early to bed and early to rise, makes you healthy, wealthy, and wise….hi hi hi 😀

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

6 Balasan ke Libur panjang

  1. Bunda Azka berkata:

    Tika,…kompor-komporan yang suaranya ribut banget dibawa ke Solo ngga? saking ributnya sampe-sampe pas Ibu sama bunda Athif belajr nihon go kompor itu diamankan sama Ibunya Tika 🙂
    Salam buat Ibu ya….

  2. Tante Nunun,
    Kompornya itulah yg kemarin jadi primadona di rumah. Dari pagi sampai malam, masak teruuus 😀
    Tengkyu salamnya. Salam balik juga dan “salam Athif” dari Tika dan Ibu.

  3. arul berkata:

    liburan itu dinikmati po’o… 🙂

  4. murniramli berkata:

    Tika…gatelnya dah sembuh ? (^_^)

  5. Ibu Guru Murni,
    Aduuh..terima kasih ya. Kiriman salepnya sangat membantu.
    Gatalnya Tika yang dulu sudah sembuh.
    Kapan-kapan kalau ke Indonesia, Tika dioleh-olehi donat yaaa. 😀

    Tika,

  6. bimoseptyop berkata:

    pusing, kebanyakan belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s