Membangun Komunikasi & Sinergi antar Peneliti di Indonesia

Salah satu kekurangan yang terasa di Indonesia adalah komunikasi ilmiah antar peneliti yang kurang terjalin dengan baik. Komunikasi disini tidak senantiasa yang bersifat lisan, tetapi juga tertulis seperti misalnnya publikasi di seminar dan jurnal ilmiah. Penelitian yang dipublikasikan di seminar Indonesia, jarang dijadikan referensi oleh peneliti yang lain, karena keberadaannya tidak diketahui. Jurnal penelitian berbahasa Indonesia di bidang komputasi kurang terasa efektifitasnya Padahal jurnal merupakan media formal untuk mengkomunikasikan ide sebuah penelitian ke dunia akademik maupun industri. Akibatnya kalangan industri di Indonesia tidak mengetahui riset apa saja, dan potensi apa saja yang dimiliki oleh peneliti Indonesia, karena hal tsb. tidak terkomunikasikan. Kerjasama antara kalangan akademik dengan dunia industri pun akhirnya kurang terbina. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan upaya-upaya untuk menjalin komunikasi antara kalangan akademik, lembaga penelitian, kalangan industri dan masyarakat, agar riset yang dilakukan cepat terdiseminasikan. Sebaliknya, jika komunikasi itu terbina dengan baik, hal ini juga akan membantu kalangan peneliti untuk dapat secara cepat mengetahui dan memformulasikan masalah apa yang tengah dihadapi di dunia industri, ataupun di kalangan masyarakat.

Setidaknya ada empat hal yang perlu diupayakan untuk membangun komunikasi peer yang lebih efektif di Indonesia

  1. Memfasilitasi forum komunikasi antar peminat, peneliti dan praktisi
    Salah satu media komunikasi informal antara praktisi, peminat dan peneliti Indonesia di bidang Soft Computing adalah milis sc-ina@yahoogroups.com yang berdiri sejak tahun 2002. Berawal dari sekitar 20 anggota, saat ini anggota milis sc-ina berkembang hingga lebih dari 420 orang (per 23 Juni 2007), tersebar di berbagai universitas maupun lembaga penelitian di dalam dan luar negeri. Sebagian besar anggota berasal dari kalangan mahasiswa yang tengah menyelesaikan studinya (baik S1, S2 dan S3), kalangan akademisi, praktisi, dengan latar belakang disiplin keilmuan yang beragam.Selain diskusi dan konsultasi ilmiah, salah satu kegiatan yang dirintis adalah e-kolokium. Dalam e-kolokium, dipresentasikan hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh anggota milis, baik yang telah dipublikasikan di jurnal, conference, maupun yang sifatnya trip report saat melakukan penelitian di lapangan. Pada tahun 2006, e-kolokium berlangsung 15 kali, dan dua diantaranya diselenggarakan bekerja sama dengan komunitas datamining Indonesia (http://datamining.japati.net/). Web komunitas softcomputing beralamatkan di http://soft-computing.org sedangkan blog-nya yang beralamatkan di http://softcomputing.wordpress.com mendokumentasikan point-point penting diskusi yang berlangsung di milis dalam seminggu. Dengan demikian, anggota yang baru bergabung dapat secara cepat memperoleh gambaran dari diskusi yang telah berlangsung selama ini.Awalnya komunitas ini bersifat informal. Akan tetapi kebutuhan akan organisasi yang bersifat formal menjadi terasa, saat melakukan kontak dan komunikasi dengan organisasi sejenis ilmiah internasional, misalnya dalam melakukan komunikasi dengan IFSA (International Fuzzy System Association). Sejak bulan Juni 2007, telah dirintis upaya formalisasi komunitas ini menjadi sebuah organisasi yang sifatnya resmi, sehingga komunikasi formal dengan dunia internasional dapat dilakukan. Diharapkan di masa depan, komunitas ini dapat berkembang pesat dan dapat lebih bermanfaat langsung bagi kalangan peneliti dan praktisi soft computing di Indonesia.
  2. Meng-online-kan publikasi hasil penelitian
    Disamping upaya di atas, meng-online-kan publikasi satu penelitian turut membantu perkembangan iptek. Steve Lawrence melaporkan bahwa artikel yang dimuat online memiliki frekuensi rujukan yang lebih tinggi daripada informasi yang dimuat offline. Penelitian yang dimuat dalam majalah ilmiah terkemuka, Nature tahun 2001 (Vol.411, No.6837, halaman 5221), mengamati frekuensi rujukan terhadap sekitar 120 ribu paper ilmiah di bidang komputer, yang dipublikasikan secara offline (versi cetak), maupun yang dapat diakses secara online. Pengamatan yang dilakukan pada publikasi paper ilmiah dalam interval 10 tahun, dari 1989-2000 ini berkesimpulan bahwa paper yang dapat diakses secara online memiliki frekuensi rujukan lebih dari dua kali lipat paper yang tidak dapat diakses secara online. Hal ini berimplikasi, artikel yang dipublikasikan secara online memiliki potensi lebih besar untuk mewarnai perkembangan iptek, karena temuan yang tertulis pada paper tersebut dapat diakses oleh siapa saja. Sebaliknya, sebuah ide yang cemerlang, apabila tidak dapat diakses dengan mudah, akan lebih sedikit mendapat perhatian dari komunitasnya. Sehingga kontribusinya terhadap dunia iptek mungkin kurang dapat dirasakan.Hal ini yang melatar belakangi, dewasa ini banyak peneliti yang memuat publikasinya di situs pribadi, agar dapat dibaca oleh peneliti yang lain. Disamping situs pribadi, ada juga situs yang khusus menerima deposito artikel, misalnya http://citeseer.ist.psu.edu/ yang menerima tulisan di bidang komputer dalam format elektronik (pdf). Situs semacam ini bertujuan untuk meningkatkan diseminasi literatur iptek, sehingga dapat membuat proses pencarian sumber ilmiah berlangsung lebih mudah dan efisien.Hal ini yang diharapkan akan dapat diwujudkan juga di Indonesia. Dengan membuat sumber ilmiah di Indonesia dapat diakses online, diharapkan berbagai penemuan yang dokumentasinya selama ini tersebar di berbagai publikasi Indonesia, dapat diintegrasikan ke dalam sebuah portal online yang dapat diakses dan dimanfaatkan siapa saja.
    Salah satu contoh adalah upaya CSE group Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi BPPTeknologi yang membuat agar proseding seminar SEMILOKA dapat diakses online secara gratis. Situs tsb. dapat diakses dari http://komputasi.inn.bppt.go.id/. Diharapkan hal serupa dapat diwujudkan juga untuk seminar-seminar dalam negeri yang lain, sehingga hasil riset yang dilakukan dapat diakses mudah oleh peneliti yang lain, maupun kalangan industri di Indonesia.
  3. Pendataan Peneliti dan karya ilmiahnya
    Peneliti di Jepang setiap tahun diminta untuk mengupdate profil peneliti, hasil riset dan core competence-nya, yang dimuat di web ReaD (URL: http://read.jst.go.jp/index_e.html). Situs yang dibuat sejak tahun 1998 ini memberikan informasi akademik yang komprehensif, dan bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi antar peneliti di Jepang.Upaya serupa telah dilakukan oleh ISTECS dengan membuat CSPI (Center for Scientific Papers of Indonesia) yang bertujuan serupa. Alamat situs CSPI: http://cspi.istecs.org/.
  4. Repository yg mudah diakses dari dalam negeri
    Keberadaan data merupakan syarat mutlak yang diperlukan seorang peneliti. Contoh situs-situs itu misalnya situs Particle Data Group dan Spires SLAC bagi peneliti fisika, situs GenBank dan Protein Data Bank (PDB) bagi biologi molekuler, dsb. Keberadaan internet membuat database itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Sayangnya, situs-situs ini berada di luar negeri, sehingga menyulitkan bagi peneliti Indonesia yang bandwithnya sempit. Untuk mengatasi hal tsb. tim mirror LIPI merintis pembuatan mirror scientific database yang beralamatkan di http://arsip.lipi.go.id/ Diharapkan keberadaan situs ini akan membuat akses ke data penelitian menjadi lebih mudah bagi peneliti yang berdomisili di Indonesia.

 

Catatan :

Tulisan ini berasal dari makalah “Menggairahkan Riset Soft-Computing di Indonesia”, yang dipresentasikan sbg. makalah kunci pada Seminar Nasional Riset Informasi Teknologi di STMIK-AKAKOM (7 Juli 2007).

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado, Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Membangun Komunikasi & Sinergi antar Peneliti di Indonesia

  1. murniramli berkata:

    Tulisan ini lebih detil kepda upaya perwujudan ide di tulisan saya, ya Pak.
    Matur nuwun, Pak Anto.

    Isu yang diangkat dalam konggres PPI Jepang dan Pemiranya adalah isu membangun kembali link penelitian. Semoga bisa tercipta kerjasama yang baik di masa mendatang

  2. axireaxi berkata:

    mm.., kalo para penelitinya masih enggan berbagi ide gimana pak?

  3. Kang Tutur berkata:

    Salam kenal…(Indonesia)
    Numpang promosi nih!
    Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
    Main ke blog kampusku – Makasih ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s