Kereta Bisnis & Kereta Eksekutif (2)

Kalau kemarin saya menulis ttg. AC di kereta bisnis & eksekutif (thanks atas tanggapan yg diberikan), kali ini saya ingin ceritakan kesan yang lain. Tentunya cerita ini sama sekali bukan menggambarkan stereotype dari penumpang di dua buah jenis kereta itu, tetapi sekedar pengalaman pribadi saja.

Pertama saat naik kereta eksekutif. Beberapa waktu lalu saat menunggu kereta Bima masuk, saya sempat ngobrol lama dengan seorang ibu. Usianya mungkin sekitar 45 tahun. Di tengah percakapan, saya cerita kalau saya hidup terpisah dari keluarga, istri-anak di Solo, sedangkan saya bekerja di Jakarta. Beliau menyarankan agar saya jangan hidup terpisah, karena hal itu beresiko menimbulkan keretakan rumah tangga. Ibu tsb. mengambil contoh rumah tangganya sendiri. Karena tuntutan pekerjaan, terpaksa kehidupan mereka terpisah, dan akhirnya sang suami berselingkuh (Huh ! I hate this word) . Rumah tangga mereka tak dapat dipertahankan. Yang jadi korban adalah anak-nya. Untung sang ibu dapat mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Karirnya cukup sukses, punya rumah di beberapa tempat, terbang ke sana ke mari mengurus bisnisnya di salah satu perusahaan asuransi ternama. Sebenarnya ceritanya mengesankan dan ibu itu cukup ramah. Yang membuat saya agak kurang enak dan merasa sebal adalah kesan yang timbul dari cerita beliau, kalau kesuksesan itu diukur dengan uang. Orang yg sukses adalah orang yang memiliki penghasilan besar, dsb. “Untuk tinggal di Jakarta, setidaknya perlu penghasilan 15 juta per bulan. Di bawah itu jangan coba-coba deh”, begitu ujar beliau. Wah, telinga PNS saya rasanya panas mendengar kalimat itu. he he he. Rasanya pembicaraan seperti ini umum di Indonesia. Di sini uang, di sana uang, dimana-mana uang yang dibicarakan. Rasanya jarang sekali ketemu orang yang asyik berbicara tentang profesi yang dilakoni-nya. Memang sih, semua orang perlu uang. Tetapi rasanya hidup ini kurang indah kalau tiap kali yang dibicarakan adalah uang melulu.

Sekarang tentang kereta bisnis. Akhir pekan kemarin saya kembali ke Solo, naik kereta bisnis dari stasiun Pasar Senen. Di kereta itu, kehangatan keluarga terlihat di mana-mana. Saat mau naik kereta banyak terlihat seorang anak mencium tangan ibu dan ayahnya. Seorang istri yang mau berangkat mencium tangan suaminya. Suaminya tak lupa berbasa-basi menitipkan istrinya ke penumpang yang duduk di sebelahnya. Dada saya terasa hangat, dan senang sekali melihat kehangatan keluarga seperti ini. Tapi ada juga pemandangan yang membuat hati iba. Seorang ibu berangkat ke Solo membawa anaknya, perempuan yang masih kecil, usia 4 atau 5 tahun, dan sang nenek yang sudah lanjut usia. Karena musim liburan, mereka tidak memperoleh tempat duduk dan terpaksa duduk di bawah. Suasana dalam kereta berdesak-desakan. Ketiga penumpang itu kemudian menggelar kertas koran dan tidur di lantai. Kalau yang tidur itu dewasa, itu wajar-wajar saja. Tetapi yang membuat hati iba, sang anak yang masih berusia TK itu tidur kalau nggak dipangku sang ibu, ya melintang di bawah begitu saja. Ah, kasihan rasanya. Di kursi yang lain, seorang ibu disertai tiga orang anaknya. Yang pertama sudah besar, mungkin sekitar kelas 5 atau 6 SD. Dua anak yang lain masih balita, bahkan seorang masih bayi. Saat tiba waktunya tidur, anak yang masih bayi ditidurkan di bawah dengan kakaknya. Ibunya duduk di kursi. Padahal perjalanan saat itu cukup panjang. Kereta berangkat dari Stasiun Senin sekitar pk.21.30, dan baru tiba di Solo sekitar pk. 9 pagi. Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Saat kembali ke Jakarta kemarin, di belakang saya ada keluarga yang membawa anaknya masih bayi. Sepanjang malam, ibu itu sibuk berdiri berjalan-jalan untuk menidurkan bayinya, yang berulang kali terbangun dan menangis. Ah, kasih sayang seorang ibu memang terlalu indah untuk dilukiskan. Hal yang paling saya tidak sukai kalau naik kereta bisnis adalah asap rokok yang banyak gentayangan di gerbong. Pertama, karena saya tidak tahan dengan asap rokok itu, dan yang kedua kasihan mereka yang membawa anak-anak & bayi atau penderita asma. Mengapa tidak terpikir bagi mereka untuk mengisap rokok di tempat yang terisolir dekat pintu keluar, agar tidak mengganggu penumpang yang lain ?

Sejak kembali ke tanah air Maret kemarin, saya belum sempat naik kereta ekonomi ke Solo. Katanya sih tarifnya jauh lebih murah. Kalau eksekutif rata-rata 200 ribu, bisnis 100 ribu, maka kereta ekonomi 50 ribu. Pengin juga suatu saat mencoba naik kereta ekonomi. Mungkin suasananya nggak beda jauh dengan kereta bisnis, tapi satu yg mengkhawatirkan : copet.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City.Since 2015, I was appointed as Program Director of R&D activities in Intelligent Computing Laboratory (former name: Digital Signal Processing Laboratory). The activities in the laboratory are organized into three groups : (i) Natural Language Processing (ii) Multimodal biometrics Identification (iii) ICT solution for Tropical Disease. I also enjoy to teach the students, as a part time lecturer in Swiss German University Serpong & UNS Sebelas Maret Surakarta. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, potret Indonesiaku, trip report. Tandai permalink.

11 Balasan ke Kereta Bisnis & Kereta Eksekutif (2)

  1. weti berkata:

    Mau coba naik yang ekonomi? Jangan yang jauh-jauh dulu deh, coba naik kereta ke rangkasbitung aja. Naik bisa dari statsiun Kota atau Tanah Abang, dijamin seru…
    Melihat perjuangan para pedagang asongan yang jumlahnya bisa melebihi penumpang. Tapi jangan heran kalau ayam ikut menumpang, he he…

  2. He he he.
    Kalau ke rangkasbitung sayabelum pernah, mbak. Tetapi kemarin sudah mencoba naik kereta ekonomi dari GondangDia ke stasiun UI di Depok. Penuh memang, dan berjejal di sana sini. Kalau pedagang asongan sih, nggak aneh mbak. Yang “baru” buat saya adalah satu group pengamen, yang membawa perangkat band lengkap: ada gitar, drum, dsb. Suara mereka bagus lagi. Layak rekaman deh. Jadi walaupun keretanya ekonomi, tapi hiburannya kelas eksekutif…he he he.

  3. 9uBr4K5 berkata:

    awas coped ! πŸ˜€

    *salam kenal*

  4. mybenjeng berkata:

    ya emang itu kenyataannya, saya gak terlalu khawatir ama copet…
    eits, saya bukan copetnya lho bang….! πŸ™‚

  5. ina berkata:

    Assalamu`alaikum…
    Hajimemashite, ina desu.
    watashi no mae wa Kanagawa-Ken ni sundeimasu…douzo yoroshiku…^ ^
    Salam kenal ya pak…
    Ceritanya menarik…daisuki desu…^ ^

    Wassalamu`alaikum…

  6. andr10 berkata:

    hai salam kenal
    bagus juga buat tambahan
    trim’s

  7. yulianti dwi astuti berkata:

    Assalamualaikum…
    Seneng deh bisa baca cerita-cerita mas Anto dan keluarga. Saya gak heran dengan kesuksesan mas Anto, karena saya termasuk adik kelas di SMAN 1 yang dulu sering minta diajarin PR matematika…he he.
    Naik angkutan umum di Indonesia memang perlu perjuangan, tapi menurut saya itulah salah satu hal yang membuat kita lebih tahan banting atau lebih tabah menghadapi kesulitan.

  8. Halo dik Yulianti.
    Wa alaikum salam Wr Wb.
    Senang ketemu lagi. Sekarang bekerja di mana ?

  9. yulianti dwi astuti berkata:

    Saya ngajar di fak Psikologi Universitas Islam Indonesia mas (karena matematika saya sampai sekarang masih tetap payah je, he he). Tapi sekarang ini saya sedang sekolah lagi di Universiti Kebangsaan Malaysia. Salam kenal buat anak dan isteri mas Anto ya. Kalo ke Jogja mampir ya ke rumah saya…nanti Tika bisa main di sawah sama anak-anak saya.

  10. nining berkata:

    Mas Anto
    waktu saya pulang penelitian Juli kemaren, saya langsung maen ke Solo. Saya bingung mau naek apa kan waktu itu? hehe tp berhubung info tiket pesawat dari mas Anto gak muat utk kantong saya hehe, akhirnya sy pesan tiket kereta yang paling mahal sekalian, dan ternyata hanya 160 rb an.

    Tapi itu loh, Toilet nya ya Ampunnnnn….saya sulit menceritakan pokoknya 8 jam saya nahan nggak ke toilet, bahkan tawaran makan siang gratis pun saya tolak, karena aroma toilet kadang semiliwir kebawa ke gerbong saya yang super dingin, boro boro sejuk mas, pokoke daku terchyikchaaa…kata Cinta Laura mah Haha..

    Akhirnya saya telpon ponakan yang beliin Tiket;
    “Echi…beneran nih kereta paling bagus??”
    “Emang ko itu yang termahal dari Bandung ke Solo”
    “Tapi masa sih toiletnya bau biangettt???…mungkin ini bukan yang termahal kali?”, krn saya pikir bagus identik dengan bersih dan mahal
    “Wah gampang aja, bi Nining kasih tips aja supir kereta nya, pasti jadi mahal dech!! HEheh” goda ponakan saya

    Grrttttt…….malah becanda dia. Pokoknya pas pulang saya akan prepare macem2, mulai masker, obat mules, minyak gosok, tisu basah..wah harus itu!

    Sementara Kirei dan Kaka menggigil kedinginan karena AC yang bocor. Juga kekhawatiran melihat kaca kereta yang retak memanjang, sampai2 yang biasanya berebut duduk dekat jendela, berganti jadi ingin duduk dibagian sisi lain.

    Tapi, Alhamdulillah…pas pulang, karena tujuan ke Jakarta, saya diyakinkan oleh suami bahwa toiletnya bersih. lalu Kaka dan Kirei pun ikut ikutan meyakinkan saya ketika mereka beres buang air kecil.

    Fuihhh….ngkali kudu sampe bayar 2oo rb lebih, kayak kereta ke Jakarta ini, baru deh toiletnya Aman..

    Ck..ck…tapi kali emang bener kata Ine, “Teteh belon biasa kalee….” Hehehh

  11. Teh Nining,
    Welcome to this beautiful country. πŸ˜€
    Memang begitulah teh, kondisi kereta eksekutif kita. Aneh memang. Kita hidup di negeri tropis, tapi naik kereta eksekutif harus pakai jaket rapat-rapat. Toilet memang spt itu teh. Yang lebih parah, kalau di kereta bisnis, sering lampu toiletnya mati dan airnya juga nggak mengalir. Jangan dibayangin waktu buka puasa yah…. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s