Orang Indonesia (ternyata) suka hal-hal yang detail

Pada posting sebelumnya, sempat saya bahas karakter orang Indonesia yang tidak terbiasa memberikan informasi secara detail. Tetapi ternyata hari ini pendapat saya dibantah oleh mas Andut dengan mengirimkan gambar buktinya. Wah, sepertinya pendapat saya harus diralat…he he he

Komentar Andut:

spt yg pernah saya katakan..bahwa kalo menurut mas anto orang indo tdk suka detail adalah kliru..berdasar rambu2 ini.. saya sendiri juga heran..apa maksud memasang tanda/ rambu ini..mungkin ada beberapa kemungkinan:

  1. mengingatkan anak2 sekolah mengenai salah satu rumus fisika dan cara penggunaanya…
  2. memang merupakan jawaban/ kisi2 dari soal UMPTN yang akan diumumkan..
  3. atau..utk mematahkan kesimpulan mas anto..bahwa orang indonesia tdk suka detail…lha ini malah super detail…..

(Klik-lah gambar untuk memperbesar)

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Orang Indonesia (ternyata) suka hal-hal yang detail

  1. julfan berkata:

    salut saya mas.
    interaktif sekali. berarti orang indonesia suka yang detail.

  2. rickisaputra berkata:

    kekekeke..

    aneh juga sih. emangnya yang driver masih punya waktu gitu untuk ngitung2 gitu2an.. meski hanya perhitungan sederhana, tapi tetap ajah kurang kerjaan.. alias gak penting.. ckckckc… πŸ™‚ πŸ˜€

    regards,

  3. hani berkata:

    bukan ga penting mas..mungkin itu dalam rangka transfer informasi ilmiah.. entar.. kalo udah pada ngitung nya bener..rumusnya diganti pake rumus gerak berubah beraturan.. percepatan dan kecepatan awal diperhitungkan..heheheh..siap siap bawa kalkulator sama kotrettan…^-^dijamin jalanan tambah macet deh..soalnya driver nya pada sibuk ngitung deh..

  4. bakazero berkata:

    saya ga begitu suka yang detail…
    pengennya langsung intinya dan manfaatnya apa…
    males kali ya.. hehe

  5. js22 berkata:

    iya…ya…ingat lagi masa SLTP dulu

  6. Paijo berkata:

    No comment soal itu, yang jelas saya termasuk yang suka detail. Repotnya, saya gak bisa nulis surat/e-mail pendek, rasanya tidak afdol kalau tidak detail. Hal itu juga sering membuat beberapa kolega saya tidak mau membaca / membalas detail dari e-mail saya. Saya sering kecewa juga. Positifnya, saya telaten dan teliti mengerjakan bagian-bagian kecil dari percobaan-percobaan saya sebagai eksperimenter. Terimakasih dan salam eksperimen.

  7. chielicious berkata:

    Heheh ada ya yang kayak gitu ^^

  8. Lho, belum tahu ya ? Teori bisa berkata begitu, tapi dalam realita boleh dilebihkan atau dikurangi sedikit – sedikit… :mrgreen:

  9. nailah zhufairah berkata:

    entu indonesia yang mana ya? he…he… πŸ™‚

  10. Persiapan berkata:

    “Baik atau Buruk” is my Country 😎

  11. murniramli berkata:

    hehehe…ini kerjasama yg bagus antara Kepolisian dan sekolah πŸ˜€

  12. suatuhari berkata:

    mungkin nanti akan ada papan yang menjelaskan rumus kecepatan dan kekuatan cahaya, untuk menentukan kapan boleh atau kapan harus pake lampu dim πŸ˜€

  13. Anto Niappa berkata:

    Yang jelas detail itu tidak banyak berguna bagi pengendara. Ditinjau dari fungsi desain, dengan kecepatan 80 km/jam orang hanya bisa melihat lambang propinsi di kiri atas.
    Kalo pun toh ada yang pake sepeda pancal, dia bisa aja baca beberapa baris. Selebihnya kemungkinan akan nabrak tiang rambunya πŸ™‚
    Jadi kalo mau baca harus berhenti dulu, dan hasilnya jalan jadi macet πŸ™‚

  14. sibona berkata:

    Supaya lebih sempurny, perhitungannya itu mestinya ditambahi penjelasan tentang asumsi yang dipakai yaitu “Gerak Lurus Beraturan” (GLB). Padahal dalam kenyataanya GLB ini tidak eksis, terutama jika kita bicara soal berkendara di jalan raya.

    Perlu dipertimbangkan mengenai adanya akselerasi (a) dan dekselerasi (-a), baik yang disengaja maupun tidak disengaja oleh pengemudi. Dan ada pula gaya gesek (f=u.W) yang diakibatkan koefisien gesek (u) antara ban kendaraan dengan permukaan jalan yang dilalui, yang tentunya merupakan perkalian dari gaya berat (W=m.g) kendaraan. Serta banyak faktor lain yang mengakibatkan asumsi GLB yang dipakai menjadi sangat-sangat tidak valid.

    Oleh karena itu kecepatan (v) yang dimaksudkan di sini tentunya adalah kecepatan rata-rata (v-bar), yang secara matematis dirumuskan sebagai v-bar = 1/t integral v(t) dt, dengan batasan integrasi t=0 sampai t.

    Demikian komentar saya, untuk melengkapi informasi ini supaya sedikit lebih detail. Untuk membahas secara lebih lanjut, silahkan merujuk kepada literatur yang membahas topik-topik mekanika klasik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s