Memory Tika

Mengamati perkembangan anak dari hari ke hari, memang mengasyikkan. Ine menceritakan bagaimana Tika mengingat satu hal, dan mengaitkannya dengan hal yang lain. Kadang-kadang menakjubkan, kadang-kadang menggelikan.

Misalnya tadi sore, saat diajak ibunya jalan-jalan  ke Solo Square, Tika melihat kendaraan yang unik : bajaj.  Tika langsung bilang “itu bajaj!”. Kontan, Ine kaget, karena di Solo tidak ada bajaj, sehingga Tika tidak pernah diajarkan mengenal bajaj. Darimana Tika mengetahui kata itu ? Setelah diingat-ingat, kemungkinan besar Tika mengenal “bajaj” itu saat melihat TV acara “Bajaj Bajuri”. Saat kendaraan itu muncul di TV, Ine bilang: “Itu bajaj namanya, Nduk”. Tapi itu kejadian lama, hanya satu kali itu saja, dan setelah itu tidak pernah disinggung lagi. Rupanya tanpa setahu Ine, konsep “bajaj” itu menempel di memory Tika.

Kejadian kedua, saat melihat acara tentang dunia fauna di TV, ada adegan  harimau yang memangsa zebra. Si harimau kelihatan garang, dan mulutnya merah karena berlumuran darah zebra. Tika bilang ke ibunya “Bu, itu macan-nya marah karena pedas ya”.   ha ha ha 😀 Rupanya dalam benak Tika, “merah” itu langsung dikaitkan ke sambal yang rasanya pedas, sehingga menurut Tika, karena kepedasan itulah sang macan marah. 😀

Mungkin karena hal di atas, maka orang tua harus hati-hati bersikap, berucap dan bertindak di depan anak. Ingatan anak masih polos. Apa yang dilihat, kesan yang dirasakan akan membekas. Kalau tidak hati-hati akan berpengaruh tidak baik bagi perkembangan kejiwaan si anak.

Catatan Tika yg lain:

  1. Tika dan Ibu berdua di Solo, sedang bapak di Jakarta. Tika minta ibu agar dibuatkan kentang goreng kesukaannya. Kata ibu: “Ka, kentangnya tinggal ini lo. Udah habis“. Jawab Tika: “Ya. Matur wanwan ya. Wan-waaaan…kentangnya habiiis ! Besok kentang lagi yaaa!”  😀  (PS: wanwan maksudnya bapaknya Tika. Ini gara-gara acara okaasan to issho di NHK, sehingga di rumah, kami sering berperan sbg trio karakter di cerita tsb., dimana Tika sbg. Uutan, ibu-nya sebagai Fuuka, dan saya sbg. Wan-wan  yg dalam bahasa Jepang sebenarnya berarti anjing. Dalam acara itu memang wanwan jadi tokoh sentral).
  2. Jumat kemarin Tika membuat koinobori-koinobori-an. Koinobori : layang-layang berbentuk ikan. Saat di okaasan to issho ada lagu koinobori, Tika berkata: “Ibu…diambil ikan bori-nya“. 😀  Terus nyanyi koinobori sambil membawa hasil karyanya itu.
  3. Tika  sering mengingatkan ibunya untuk minum obat: “Ibu..eh Fuuka, belum minum obat besar lho“. Tapi satu saat Tika pernah kelupaan mengingatkan. Ine : “Ka, Tika belum ngingetin ibu lo. Hayoo“. Jawabnya: “Mmm…..ibu jangan lupa tidur lo !“, padahal maksudnya Ine agar Tika ngingatin ibunya untuk minum obat…eee..koq malah disuruh tidur. 😀
Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di keluarga. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Memory Tika

  1. weti berkata:

    Menurut Pak Piaget dalam “The Origin of Intelegence” ada 4 tahap perkembangan anak:
    1. Sensori Motor, segala sesuatu dipelajari dengan mengindera (0-2th)
    2. Pra-operasional, mengasosiasikan objek dengan label seperti yang digunakan orang dewasa. Belajar difasilitasi dengan kemampuan bahasa, sehingga anak banyak bertanya (3-6th)
    3. Operasional kongkrit, anak sudah berkembang logikanya dan mulai bisa berpikir abstrak serta berpikir relasional (7-11)
    4. Operasional formal, anak berpikirnya sudah seperti orang dewasa, sudah lengkap (12th dst)
    Katanya kecepatan perkembangan setiap anak gak sama, batasan umur di atas cuma pendekatan. Tapi semua tahap itu akan dilewati oleh setiap anak.
    Mempelajari perkembangan berpikir anak memang seru lho…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s