Terlalu tua untuk belajar ?

Sering saya dengar ucapan “Saya sudah terlalu tua untuk belajar itu, dik”. Saya tidak setuju dengan pendapat ini. Belajar tidak ada hubungannya dengan usia.

Saat mengajar bahasa Indonesia di kelompok peminat bahasa Indonesia Kinjo Gakuin University (94-95), murid saya sekitar 7 orang. Rata-rata mereka berusia 20 tahun, kecuali seorang ibu yang usianya sekitar 60 an tahun. Ibu Higuchi, demikian nama beliau, bercerita ke saya, kalau dulu setelah lulus SMA tidak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Beliau menikah dan menekuni profesi beliau sebagai ibu rumah tangga (ibu rumah tangga itu profesi juga lho !). Setelah usia lanjut, memiliki putera dan cucu, beliau akhirnya berkesempatan lagi untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, bersaing dengan anak-anak SMA Jepang yang lain. Beliau sangat menyukai proses belajar itu, walaupun katanya untuk bisa memahami sesuatu konsep, perlu membaca berulang-ulang kali materi yang diajarkan. Hebatnya, di antara murid-murid saya, ternyata ibu Higuchi lah yang paling cepat menguasai materi bahasa Indonesia yang saya ajarkan. Saya mendapat bukti yang mengesankan, bahwa “gambareba nanto ka naru”, asal kita berikhtiar pasti bisa, walau sudah lanjut usia sekalipun.

1997, saat saya kembali ke Jepang lagi, diajak makan bersama dengan kolega Prof.Yamamoto. Dua di antara ex-murid bahasa Indonesia saya hadir pada kesempatan tsb.: Risa Watanabe & Ibu Higuchi. Ibu Higuchi ternyata masih berstatus student, tetapi level S2. Ternyata beliau tidak cukup puas dengan menyelesaikan studi S1. Beliau ikut bersaing dengan yang muda-muda untuk memperebutkan kursi kelas pasca sarjana. Seingat saya saat itu beliau tengah berada di program master. Bukan main ibu satu ini. Semangat belajarnya bisa dijadikan suri tauladan. Saya tidak lagi berkesempatan bertemu beliau, setelah itu. Dugaan saya, kalau selesai S2, kemungkinan besar bu Higuchi akan terus ke S3.

Satu contoh lagi, adalah cerita dari sensei saya. Dalam satu kesempatan gakkai (conference), sensei sempat bertemu dengan Prof. Kunihiko Fukushima. Bagi mereka yang pernah belajar neural network, pasti akan ketemu nama beliau, karena karyanya : neocognitron merupakan satu tonggak penting riset neural network di era 70-an. Dalam gakkai tsb. Fukushima sensei mempresentasikan riset terbarunya. Saat istirahat, sensei saya iseng tanya ke beliau: program itu apakah sensei sendiri yang membuat ? Jawab Fukushima sensei : iya ! Saya sendiri yang membuatnya. Wuaaah…..atama sagemashita (kepala saya tundukkan merasa salut), kata sensei saya. Orang seusia dan selevel Fukushima sensei, masih rajin & menyempatkan diri terjun ke level coding. Jarang sekali saya temukan ada professor yang masih sempat coding sendiri programnya, dan mempresentasikannya sendiri di conference.

Dua di atas adalah contoh bagus bahwa tidak ada kaitannya antara usia dan belajar. Mari kita hapuskan “terlalu tua untuk belajar” dari kamus bahasa Indonesia.

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di gado-gado. Tandai permalink.

3 Balasan ke Terlalu tua untuk belajar ?

  1. wawanjus berkata:

    mas anto, kalau saya sering dengernya: “Tidak ada kata terlalu tua untuk kawin lagi, dik”. hehehehehe…

  2. mathematicse berkata:

    Kalau saya sering dengernya, “tak ada kata terlambat untuk belajar”

  3. Deni Triwardana berkata:

    Bener Mas, Bukan kah belajar Sepanjang Hayat ?
    Karena kalau sudah Is Dead Yah Wiis habis gak bisa belajar lagi ya Kan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s