Mengapa sebuah riset tidak menarik ?

Malam ini saya membaca paper-paper yang termuat dalam sebuah proceeding. Banyak diantaranya yang tidak menarik, sehingga malas rasanya meneruskan membaca paper tsb. karena akan membuang waktu. Mengapa sebuah paper tidak menarik untuk dibaca ?

  1. Formulasi masalah tidak jelas. Kadang saya baca sebuah paper menawarkan metode yang sepintas advanced dan rumit. Tetapi kalau diteliti lebih lanjut, ternyata formulasi masalahnya tidak jelas. Bahkan ada kalanya masalah itu seharusnya bisa diselesaikan dengan metode lebih sederhana, tetapi author memilih metode yang lebih kompleks. Jelas ini salah ! Selama sebuah masalah bisa dipecahkan dengan cara yang sederhana, tidak ada manfaatnya memakai sebuah metode yang kompleks. Kecuali, kalau tujuannya untuk menganalisa sebuah metode, bisa jadi masalah yang sederhana dipilih untuk menganalisa behaviour metode tersebut sebelum diterapkan pada kasus yang lebih kompleks.
  2. Sisi originality-nya kurang jelas. Author tidak membahas “posisi” riset itu dalam perkembangan bidang tsb.
  3. Author kurang membahas seberapa penting masalah yang sedang dipecahkan (terutama pada kategori applied research). Akibatnya orang yang tidak mendalami kasus tsb. kurang mendapatkan kesan bahwa penelitian itu adalah sesuatu yang layak diperhatikan. Yang agak sulit adalah untuk riset dasar, karena kadang manfaatnya tidak diketahui saat itu atau tidak mudah difahami lain orang.
  4. Daftar referensi terlalu “tua” (walau “tua” ini relatif), menandakan bahwa penelitinya tidak memperhatikan perkembangan terbaru di kasus yang dibahasnya. Apalagi kalau kebanyakan referensinya berupa buku teks 😦 Kecuali kalau buku teks itu memang “bible”-nya bidang tersebut yang cukup berharga dipakai sebagai referensi pendapat yang dicantumkan (Misalnya Vision-nya David Marr, PDP-nya Rumelhart, Pattern Classification-nya Duda-Hart, atau Fukunaga, dsb). Urutan prioritas referensi: journal (peer-reviewed), conference proceeding baru buku. Untuk bidang sosial, saya rasa kasusnya akan berlainan. Cara peneliti bidang sosial mengkomunikasikan penelitiannya agak berlainan dengan peneliti di bidang teknik. Sepertinya, buku merupakan media komunikasi formal yang umum dicantumkan di daftar referensi.
  5. Terlalu banyak membahas dasar-dasar teori, yang semestinya bisa dibuat concised dan mencantumkan referensi. Original paper mengasumsikan reader sudah menguasai konsep dasar metode yang dipakai, sehingga yang disajikan dalam paper tsb. cukup sari-nya saja dan selebihnya diarahkan ke referensi.
  6. Diskusi yang dibangun, maupun desain eksperimen tidak konvergen dengan masalah yang ingin diselesaikan.
  7. Konklusi tidak menjawab masalah yang diformulasikan pada bab pendahuluan
Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

5 Balasan ke Mengapa sebuah riset tidak menarik ?

  1. yudi berkata:

    menarik. input buat sy. kali2 research sy memang membosankan. yang sulit ya point no.2, gimana bikin research yang simpel dan orginal. tapi kadang2 diposisi (“diatas”) sebagai reviewer memang lebih enak. hihihi.

  2. saniroy berkata:

    Paper yang tengah dibaca ternyata bukan paper bidang yang dikuasainya, jadi nggak dong Mas, he..he.. Jan ini tambahan ngawur :-D. Pripun Mas sudah sehat lagi?

  3. Sawali Tuhusetya berkata:

    Biasa bergelut dengan riset dan penelitian ternyata melelahkan juga, ya, Pak Anto, apalagi kalau harus membaca makalah atau proposal penelitian karya guru seperti saya. Melirik pun mungkin ogah, ya, Pak, he-he-he.

  4. #Yudi
    Mas Yudi. Mempoisisikan diri sbg. reviewer penting juga mas, untuk mengoreksi tulisan kita sendiri yang akan disubmit. Dan ternyata membuat tulisan yang memuaskan diri sendiri itu pun sangat sulit…hehehe 🙂

    #Sawali
    Nggak juga pak Sawali. Tulisan saya di atas dimaksudkan untuk paper yang masuk kategori original research, yg dimuat di jurnal. Tentunya lain halnya kalau paper itu tutorial, atau project proposal. Cara penulisannya berlainan.

  5. tanikads berkata:

    Pak Anto.. mohon ijin saya copy paste ke blog saya,
    dengan mencantumkan alamat blog bapak ini..
    Terima kasih pak Anto, info ini sangat membantu saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s